Pendekar Sakti Jilid 33

KUN BENG menundukkan mukanya yang menjadi sedih luar biasa. Pak-lo-sian maklum akan kedukaan hati muridnya ini, maka dia menghibur, “Lihat, petani muda ini agaknya hendak berusaha mengobatinya.”

Memang benar, Kwan Cu telah menempelkan bibirnya pada luka di pundak Sui Ceng. la membuka mulutnya lalu menggunakan giginya menggigit kulit di sekitar luka! la menggigit keras-keras, kemudian mengumpulkan pil putih yang telah dihancurkannya dengan ludah dan dikumpulkan di ujung lidah, lalu sambil mengerahkan lweekang-nya, dia meniupkan hancuran obat itu ke dalam luka!

Hal ini tentu saja tak terlihat oleh siapa pun juga, bahkan Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai saling pandang lalu mengangkat pundak. Dalam pandangan kedua orang ini, pemuda petani yang aneh ini hanya menggigit pundak itu saja!

“Eh, apa yang kau lakukan itu?” Kembali Kun Beng bertanya sebab pemuda itu tidak kuat melihat si muka merah seakan-akan mencumbu kekasihnya dan menciumi pundaknya!

Kwan Cu mengangkat mukanya. Dengan muka yang merah ketololan itu dia tersenyum menyeringai. Orang-orang melihat betapa gigi dan bibir pemuda ini berlepotan darah!

“Aku sudah usir setannya, sudah usir setannya!”

Kun Beng tak dapat menahan sabarnya lagi. Ia mengira bahwa pemuda muka merah ini gila dan dalam gilanya telah menggigit dan bahkan minum darah dari Sui Ceng. Dengan pengerahan tenaga sekuatnya dia lalu menendang pantat Kwan Cu yang masih duduk berjongkok. Tubuh Kwan Cu bagaikan sebuah bal karet lalu melayang kembali ke tengah lapangan di mana Toat-beng Hui-houw masih berdiri memandang semua itu.

Tubuh Kwan Cu yang melayang-layang tadi kini turun dan seperti yang tidak disengaja, tubuh pemuda muka merah ini melayang turun tepat di atas kepala Toat-beng Hui-houw. Sebetulnya kakek bermuka harimau ini mendongkol sekali dan jika menurutkan hatinya, sekali pukul saja dia dapat menghancurkan tubuh pemuda yang dianggapnya tolol itu.

Akan tetapi tadi dia sudah mendengar celaan dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai ketika dia melukai pemuda muka merah itu, maka kini dia tidak mau melanjutkan perbuatannya. Lagi pula dia memang melihat sendiri betapa pemuda tani ini terlempar kepadanya bukan karena kehendak sendiri, melainkan karena ditendang oleh pemuda murid Pak-lo-sian itu.

Maka dia lalu mengulurkan tangan. Sekali sambar dia sudah memegang leher baju Kwan Cu dan melontarkan tubuh pemuda itu ke tempatnya yang tadi, yakni di dekat Yok-ong, juga dekat Kwa Ok Sin, Jeng-kin-jiu, dan Liok-te Mo-li.

Sambil berteriak-teriak ketakutan tubuh Kwan Cu terputar-putar di udara dan meluncur ke dekat Liok-te Mo-li. Nenek ini mengulur tangan dan menangkapnya, lalu melepaskannya di dekat Yok-ong sambil berkata,

“Orang muda, kau bersemangat besar. Aku kagum sekali!”

Kwan Cu tidak banyak cakap, segera duduk di dekat Yok-ong, diam-diam menerima obat pemunah bisa dan menelannya menurut petunjuk Yok-ong.

“Kau lancang sekali, hampir-hampir terbuka rahasia kita,” kata Yok-ong.

“Teecu tidak bisa membiarkan Sui Ceng tewas,” jawab Kwan Cu.

Sementara itu, Pak-lo-sian menegur muridnya. “Kun Beng kau benar-benar tidak tahu budi. Lihat, nona Bun tertolong nyawanya karena perbuatan pemuda muka merah tadi, dan kau bahkan menendangnya. Sungguh sangat memalukan aku yang menjadi gurumu!”

Kun Beng terkejut dan ketika dia melihat, benar saja, Sui Ceng telah siuman kembali dan warna biru hitam pada pundaknya telah lenyap! Kiu-bwe Coa-li sedang memeriksa jalan darah muridnya dan dia pun mengangguk puas.

“Aneh sekali, nyawamu tertolong oleh suatu keajaiban, Sui Ceng.” kata nenek ini sambil memandang ke arah Kwan Cu yang masih duduk merengut.

Kun Beng menjadi girang dan juga amat malu. Ia lalu melompat ke tengah lapangan dan menghadapi Toat-beng Hui-houw.

“Sahabatku kalah olehmu, marilah kau coba mengalahkan aku!”

Pak-lo-sian mengomel, “Kun Beng benar-benar berani mati dan gegabah sekali. Mana dia bisa menangkan siluman itu? Swi Kiat, suruh dia kembali!”

Gouw Swi Kiat cepat mentaati perintah suhu-nya dan sekali tubuhnya bergerak, dia telah meloncat di sebelah Kun Beng. Akan tetapi sebelum dia sempat menyampaikan pesan suhu-nya, Toat-beng Hui-houw yang menyangka bahwa dia hendak dikeroyok dua, telah tertawa bergelak dan siap untuk menyerang. Dia tidak gentar menghadapi kedua orang pemuda ini dan dia dapat menduga bahwa mereka ini adalah murid-murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

“Toat-beng Hui-houw, kau mundurlah. Jasamu sudah cukup. Karena sekarang yang maju adalah murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai, biarkan pinceng yang menghadapinya.” Yang berkata demikian ini adalah Bian Kim Hosiang, ketua Bu-tong-pai.

Kata-kata ini sungguh sangat mengherankan oleh karena biasanya, seorang ciangbunjin (ketua partai) tidak mau turun tangan dengan begitu mudahnya, apa lagi menghadapi seorang anak murid partai lain, kecuali kalau menghadapi ketua lain partai.

Akan tetapi dalam hal ini, tindakan Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong pai ini dapat pula dimengerti. Ia merasa sakit hati sekali terhadap Pak-lo-sian Siang-koan Hai dan Kiu-bwe Coa-li yang disangka membunuh sute-nya secara pengecut sekali. Maka kini dia hendak membalas dendam, hendak mengalahkan murid Pak-lo-sian dan kemudian sesudah itu, kalau Pak-lo-sian merasa sakit hati baru dia akan melayani Dewa Utara itu.

“Benar, pinto juga ingin merasai kelihaian murid Pak-lo-sian!” kata Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai.

Seperti halnya Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai, juga ketua Kim-san-pai ini berpikiran sama. Melihat bahwa yang maju adalah dua orang murid Pak-lo-sian, maka dia juga ikut maju untuk memberi hajaran sebagai pembalasan.

Swi Kiat menjadi bingung ketika tiba-tiba dua orang pendeta dari fihak lawan itu tiba-tiba melayang dan menghadapi dia serta sute-nya. Dia tidak keburu menyampaikan pesanan suhu-nya, karena kalau fihak lawan sudah keluar dan dia bersama sute-nya kembali, hal itu akan mendatangkan rasa malu yang luar biasa. Tentu saja dia dan sute-nya dianggap takut dan melarikan diri dari dua orang pendeta ini.

Swi Kiat yang menjadi bingung itu melirik ke arah suhu-nya dan Pak-lo-sian mengerti akan kebingungan hati muridnya. Kakek ini belum tahu duduknya perkara. Biar pun tadi beberapa kali dua orang ketua dari Bu-tong dan Kim-san itu menyindir dan memakinya, namun dia tidak sekali-kali mengira bahwa dia disangka membunuh murid-murid mereka secara curang. Dia sudah kenal kepada dua orang ketua ini dan tahu bahwa mereka bukanlah orang-orang jahat dan kejam. Maka dia lalu berkata sambil tersenyum.

“Anak-anak bodoh! Ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai hendak memberi pelajaran pada kalian, mengapa tidak lekas-lekas menerimanya?”

Mendengar ini, Swi Kiat lenyap keraguannya dan dia lalu siap sedia dengan senjatanya yang lihai, yaitu sepasang kipas yang disebut Im-yang Siang-san. Murid pertama dari Pak-lo-sian ini memang sudah mewarisi keahlian bersilat kipas dengan Ilmu Silat Im-yang San-hoat yang amat lihai. Ada pun Kun Beng memang sejak tadi sudah mengeluarkan tombaknya.

Bian Kim Hosiang tertawa mengejek. “Biar pun murid-murid kami terbunuh secara curang mempergunakan ilmu kotor atau ilmu siluman, akan tetapi kami tidak serendah itu dan kami akan merobohkan kalian secara jujur.”

Sambil berkata demikian, ketua Bu-tong-pai ini mengeluarkan sehelai sapu tangan yang panjang. Ia menggulung-gulung sapu tangan itu menjadi gulungan kain, kemudian sekali dia menggerakkan tangan, gulungan kain itu menjadi kaku seperti sebatang toya!

Benar-benar seperti Kauw-ce-thian (raja monyet dalam dongeng kuno yang mempunyai wasiat tongkat kim-kauw-pang) memainkan tongkat wasiatnya! Dengan senjata buatan sendiri ini, ternyata bahwa Bian Kim Hosiang tidak saja telah memandang ringan kepada lawannya, juga dia telah memperlihatkan bahwa tenaga lweekang-nya besar bukan main. Sambil memutar toya kain ini Bian Kim Hosiang menghadapi Kun Beng yang bersenjata tombak.

Sedangkan Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai, orangnya lebih sabar dari pada ketua Bu-tong-pai, juga kepandaiannya tidak kalah. Bin Kong Siansu terkenal sebagai tokoh besar yang telah memperkembangkan dan memperbaiki Ilmu Pedang Kim-san Kiam-hoat yang sudah tersohor lihai itu sehingga sekarang Ilmu Pedang Kim-san Kiam-hoat boleh direndengkan dengan ilmu-ilmu pedang dari partai-partai besar, bahkan ada pula yang menyatakan bahwa ilmu pedang ini satu sumber dengan ilmu pedang dari Thian-san-pai yang banyak dikagumi orang. Tosu ini lantas menghadapi Swi Kiat dan mengulur tangan mencabut keluar sebatang pedang tipis.

“Orang muda, majulah untuk menerima hukuman dari dosa yang diperbuat oleh gurumu,” katanya perlahan.

Swi Kiat tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan kata-kata ini, akan tetapi melihat betapa Kun Beng sudah mulai bertanding melawan Bian Kim Hosiang, dia pun menjura kepada ketua Kim-san-pai itu, lalu dengan sepasang kipasnya dia melakukan serangan hebat.

Bin Kong Siansu menggerakkan pedangnya dan sekali saja pedangnya itu bergerak, dua sinar berkelebat ke arah sepasang kipas di tangan Swi Kiat. Tentu saja pemuda ini amat terkejut dan tidak membiarkan kipasnya rusak dalam segebrakan saja.

Sebagai seorang pemuda yang tinggi ilmu silatnya, dia pun sudah dapat melihat bahwa pedang lawannya tadi melakukan semacam gerak tipu yang mirip Goat-kan Ji-jit (Bulan Mengejar Dua Matahari) dan hendak menusuk bolong sepasang kipasnya. Maka cepat dia mengelak dan kini sepasang kipasnya mulai digerakkan dalam permaianan silat kipas yang amat lihai dari suhu-nya, yakni Im-yang San-hoat.

Sepasang kipas ini dimainkan dengan gerakan yang saling bertentangan, misalnya kalau kipas kanan menyambar dari kanan, maka kipas kiri menyambar dari kiri, atau kalau yang pertama menyambar dari atas, yang ke dua menyusul dengan serangan dari bawah dan sebagainya. Yang amat menyulitkan adalah betapa lawan tidak dapat menduganya, yang kanan ataukah yang kiri yang menjadi penyerang sesungguhnya dan mana pula yang hanya pancingan belaka.

Namun Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Tingkatnya masih melebihi Swi Kiat, demikian pula ginkang serta lweekang-nya. Oleh karena itu, dengan pedangnya yang digerakkan secara cepat dan kuat, dia dapat menggagalkan semua serangan balasan dari pemuda itu, bahkan sebaliknya dia segera menggencet lawannya.

Bagaimana dengan Kun Beng? Sama saja keadaannya dengan suheng-nya. Kepandaian ketua Bu-tong-pai sudah sejajar dengan kepandaian tokoh-tokoh besar lainnya. Biar pun Bian Kim Hosiang hanya mempergunakan toya terbuat dari pada kain, akan tetapi setiap kali tombak di tangan pemuda itu terpukul oleh senjata yang aneh ini, Kun Beng merasa telapak tangannya sakit-sakit.

Pak-lo-sian Siangkoan Hai tahu benar bahwa kedua orang muridnya tidak akan sanggup mencapai kemenangan. Hal ini pun tidak dianggap memalukan, karena dia sudah tahu bahwa dia sendiri kiranya tidak akan mudah mengalahkan ketua-ketua dari Kiam-san-pai dan Bu-tong-pai itu, apa lagi kedua muridnya itu boleh dibilang sudah patut dipuji, karena menghadapi dua orang ciangbunjin itu mereka masih dapat mempertahankan diri sampai lima puluh jurus!

Lagi pula, semenjak tadi sebagai guru, Pak-lo-sian memperhatikan semua gerakan ilmu silat dua muridnya dan dia tidak melihat adanya kesalahan-kesalahan. Mereka terdesak bukan karena kalah lihai ilmu silat yang mereka pelajari, hanya karena tingkat mereka masih kalah tinggi, baik dalam hal tenaga dalam mau pun kecepatan atau pengalaman bertempur.

Ia pun tidak gelisah ketika pada saat hampir yang bersamaan pundak Swi Kiat tersabet pedang sehingga pemuda ini terhuyung-huyung lalu roboh mandi darah dan Kun Beng mengeluh kesakitan ketika pangkal pahanya terpukul oleh toya kain yang kadang-kadang keras seperti baja itu sehingga pemuda ini pun roboh. Pak-lo-sian dapat melihat bahwa luka-luka yang diderita oleh dua orang muridnya itu tidak berbahaya.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia melihat dua orang pendeta itu memburu maju sambil mengangkat senjata untuk membinasakan kedua orang muridnya. Pucatlah wajah Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Dia adalah seorang tokoh besar yang tak mau berlaku curang atau menyalahi peraturan. Meski pun kedua orang muridnya terancam bahaya maut, akan tetapi baginya lebih baik kematian dua orang muridnya atau walau pun dia sendiri akan mati, dia tidak nanti akan melanggar peraturan yang jujur.

Kwan Cu melihat kedua orang pemuda itu menghadapi bahaya maut, otomatis hendak bergerak. Akan tetapi dia kalah dulu oleh Liok-te Mo-li, wanita seperti setan yang pernah dijumpainya, yakni ibu dari Kong Hoat, nelayan muda yang ‘cengeng’ itu.

Nenek ini melompat dan ginkang-nya memang amat hebat sehingga sekali melompat dia telah berada di tengah lapangan.

“Traaang!”

Pedang di tangan Bin Kong Siansu sampai mengeluarkan bunga api ketika terbentur oleh tongkat hitam yang dipegang Liok-te Mo-li ketika nenek ini menangkis tusukan pedang ketua Kim-san-pai yang diarahkan ke tenggorokan Swi Kiat, sedangkan tongkat itu lantas bergerak lagi amat cepatnya menangkis toya kain di tangan Bian Kim Hosiang!

Ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai terkejut sekali. Tenaga nenek ini ternyata bukan main hebatnya dan melihat wajah nenek ini, mereka merasa bulu tengkuk mereka berdiri.

Memang Liok-te Mo-li berwajah menyeramkan, apa lagi pada saat itu ia sedang marah, maka wajahnya menjadi lebih hebat lagi. Kedua orang tokoh besar dunia kang-ouw itu terheran-heran karena selamanya mereka belum pernah melihat nenek aneh ini.

“Siapakah kau dan kenapa kau mencampuri urusan pertandingan yang dilakukan secara jujur?” membentak Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai dengan marah.

Liok-te Mo-li tertawa. Suara tawanya juga amat menyeramkan, karena biar pun perlahan saja namun amat menusuk anak telinga.

“Hi-hi-hi! Aku mendengar bahwa kalian adalah ketua-ketua partai besar Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, mengapa seganas itu hatimu? Aku tidak peduli tentang pertempuran antara kedua fihak dan kedatanganku ini adalah karena undangan dari Kiam Ki Sianjin. Akan tetapi, biar pun di dalam undangan disebutkan akan diadakan musyawarah besar, namun kenyataan apa yang kulihat? Pertandingan-pertandingan yang berat sebelah! Tadi kulihat kakek seperti siluman yang kukunya panjang itu menghina seorang nona muda, dan kini kulihat pula dua ekor monyet tua menghina dua orang muda dan hendak membunuhnya! Aku tidak memihak kepada siapa pun, akan tetapi melihat orang-orang muda dihina oleh orang-orang tua bangka, aku Liok-te Mo-li tidak nanti tinggal diam saja!”

Dua orang ketua partai ini terkejutlah mendengar nama ini. Nama ini sudah amat terkenal sebagai nama yang amat menakutkan karena sepak terjang Liok-te Mo-li memang aneh dan kadang-kadang mendirikan bulu roma saking hebatnya.

Sebelum mereka sempat membuka mulut, mendadak dari rombongan Kiam Ki Sian-jin melompat dua orang, yakni Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong. Dua orang kakak beradik seperguruan dari Tibet ini memandang dengan marah. Terdengar suara Kiam Ki Sianjin yang memang menyuruh dua orang kawannya ini maju.

“Ji-wi Bengcu (dua ketua) dari Bu-tong-pai dan Kim-san-pai harap mengundurkan diri dan biarkan Hek-i Hui-mo dan sute-nya menghadapi nenek yang usil tangan dan gatal mulut ini!”

Karena kedatangan ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai ke tempat itu memang hanyalah bertujuan membalaskan sakit hati mereka atas kematian murid mereka dan mereka tidak ingin melibatkan diri dalam permusuhan dengan golongan atau orang-orang lain, maka keduanya lalu mengangkat pundak dan mengundurkan diri.

Ada pun Pak-lo-sian Siangkoan Hai mempergunakan kesempatan itu untuk melompat ke depan dan menyambar tubuh dua orang muridnya yang terluka untuk dirawat.

Hek-i Hui-mo sudah pernah bertemu dengan Liok-te Mo-li, bahkan dulu dia juga pernah bertempur dengan nenek ini pada saat Liok-te Mo-li membasmi gerombolan perampok di daerah Tibet dan karena kepala perampok itu terhitung ‘anak buah’ dari Hek-i Hui-mo maka terjadi bentrok di antara mereka. Namun pertempuran itu masih belum diketahui mana yang kalah dan siapa yang menang karena Liok-te Mo-li sudah keburu melarikan diri setelah melihat fihak Hek-i Hui-mo mengerahkan seluruh anak buahnya untuk maju mengeroyoknya.

“Hemm, Hek-i Hui-mo, siluman jahat! Dengan adanya kau di sini, mudah sekali diambil kesimpulan fihak mana yang tidak benar! Manusia macam kau tentu selalu membantu yang jahat,” kata Liok-te Mo-li. “Kau hendak mengeroyokku seperti dulu? Kau sekarang sudah mengekor kepada bala tentara kerajaan? Nah, terimalah hadiahku ini!”

Sambil berkata demikian, Liok-te Mo-li yang tiba-tiba naik darahnya melihat Hek-i Hui-mo, menggerakkan kedua tangannya sambil mengempit tongkatnya. Sinar lembut melayang dari kedua tangannya dan langsung menyerang Hek-i Hui-mo, Coa-tok Lo-ong dan para kawan mereka yang berdiri di rombongan Kiam Ki Sianjin.

Hek-i Hui-mo, Coa-tok Lo-ong, dan para tokoh besar seperti Kiam Ki Sian-jin dan lain-lain cepat mengebutkan ujung lengan baju dan ada yang mengelak ketika jarum-jarum halus itu menyambar. Akan tetapi ada beberapa orang yang kurang tinggi kepandaiannya tidak sempat lagi menghindarkan diri.

Tiga orang perwira pengikut Kiam Ki Sianjin menjerit dan roboh dengan muka berubah pucat. Nyawa mereka sukar ditolong karena jarum-jarum ini sudah memasuki tubuh dan bergerak melalui jalan darah, langsung menyerang urat-urat nadi yang berbahaya!

“Aduh celaka, Liok-te Mo-li tidak dapat menahan nafsu dan membuat gara-gara!” kata Kwa Ok Sin sambil berdiri dan membanting-banting kakinya.

Jeng-kin-jiu juga menggeleng-gelengkan kepala, akan tetapi tidak dapat berbuat sesuatu karena hal itu sudah terjadi tanpa dapat dicegah lagi.

“Tiga orang itu takkan dapat diselamatkan lagi,” kata Yok-ong perlahan kepada Kwan Cu.

Pemuda ini sudah hendak bangun dan membantu Liok-te Mo-li ketika melihat nenek ini dikeroyok oleh Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong, akan tetapi tiba-tiba pundaknya sudah dipegang oleh Yok-ong yang berbisik,

“Kau jangan bergerak. Mereka itu terlalu lihai, aku sendiri pun tidak berani sembarangan bergerak. Liok-te Mo-li mencari penyakit sendiri dan memperbesar permusuhan. Kita lihat saja bagaimana perkembangannya nanti.”

Walau pun Kwan Cu tidak takut sedikit pun juga menghadapi tokoh-tokoh besar di fihak Kiam Ki Sianjin, akan tetapi dia pikir bahwa omongan Yok-ong ini benar juga, maka dia berdiam diri saja. Betapa pun juga, sepak terjang Liok-te Mo-li tidak dia setujui, biar pun nenek ini membela keadilan, akan tetapi dia terlalu ganas sehingga sekali turun tangan ia telah menewaskan tiga orang perwira yang sebetulnya tidak tahu apa-apa.

Sementara itu, Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong telah maju dan ikut mengeroyok Liok-te Mo-li. Tentu saja nenek ini menjadi sibuk sekali. Memang kepandaiannya sudah tinggi, akan tetapi kepandaian Hek-i Hui-mo juga tidak boleh dibuat main-main. Apa lagi selama beberapa tahun ini kepandaian Hek-i Hui-mo sudah meningkat tinggi sekali, setelah dia mempelajari ilmu silat aneh dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu seperti yang dia dengar dibacakan oleh pujangga Tu Fu.

Selain itu, dia dibantu oleh Coa-tok Lo-ong yang tingkat kepandaiannya juga tidak lebih rendah dari pada suheng-nya dan Liok-te Mo-li. Kalau hanya menghadapi salah seorang di antara dua tokoh Tibet ini, agaknya pertandingan akan berjalan lebih seimbang dan ramai, akan tetapi dikeroyok dua seperti itu, Liok-te Mo-li benar-benar amat terjepit dan terdesak.

Sepasang senjata Hek-i Hui-mo amat berbahaya, yakni seuntai tasbih di tangan kiri dan sebatang Liong-thouw-tung (Tongkat Kepala Naga) di tangan kanan. Dia lalu melakukan serangan bertubi-tubi dengan kedua senjatanya, dan setiap serangan cukup keras untuk menghancurkan batu karang.

Ada pun Coa-tok Lo-ong mainkan senjatanya yang mengerikan, yakni sebatang tongkat yang sebetulnya adalah seekor ular berbisa yang masih hidup! Ular hidup ini tadinya dia simpan di dalam saku bajunya yang lebar dan ular itu tak bisa bergerak karena memang pusat tulang belakangnya sudah ditekan sebelum digulung dan dikantongi.

Sekarang dia buka totokan pada tubuh ular itu dan dengan memegangi ekornya dia lalu memainkan ular itu dengan hebatnya! Dapat dibayangkan sendiri betapa berbahayanya senjata seperti ini karena selain dikerahkan dengan penyaluran tenaga lweekang hingga dapat dipakai untuk memukul serta menotok, juga ular itu sendiri bergerak-gerak sambil mengeluarkan semburan bisa sehingga sukar sekali dihadapi.

Baiknya tenaga Liok-te Mo-li amat besar sehingga ketika dia memutar tongkatnya, angin menderu dan debu beterbangan, tubuhnya terbungkus oleh sinar tongkat dan debu. Akan tetapi dia sudah amat tua, keuletan tenaganya terbatas dan sebentar saja setelah dapat mempertahankan diri selama delapan puluh jurus, ia mulai terengah-engah.

Liok-te Mo-li terkejut menghadapi kenyataan betapa majunya kepandaian Hek-i Hui-mo dan bahwa sute dari pendeta Tibet ini pun lihai sekali. Ia maklum bahwa akhirnya ia akan kalah dan roboh juga, maka diam-diam ia mengeluarkan sesuatu dari saku jubahnya.

Tanpa terasa lagi Kwan Cu memegangi tangan Yok-ong yang dekat dengan lengannya. Kwan Cu memandang ke arah Liok-te Mo-li dengan wajah ngeri, sebaliknya Yok-ong terkejut bukan kepalang ketika merasa betapa tangannya diremas oleh tangan Kwan Cu.

Ia merasa betapa tulang-tulang tangannya seperti akan remuk. Dari tangan pemuda itu keluar hawa yang luar biasa sekali sehingga raja tabib ini merasa seluruh lengannya lumpuh, sebentar panas sekali dan sebentar pula dingin bukan main.

Dia melongo dan memandang kepada Kwan Cu, lalu dia mencoba mengerahkan seluruh hawa murni dan tenaga lweekang dari tubuhnya untuk melawan tenaga yang keluar dari tangan Kwan Cu. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika lweekang-nya tidak kuat menghadapi tekanan itu!

Akan tetapi perlawanannya menginsyafkan Kwan Cu bahwa tanpa disengaja dia sudah memijit tangan Yok-ong dengan pengerahan tenaga sakti Im-yang Bu-tek Sinkang yang dia pelajari dari kitab rahasia itu, maka cepat-cepat dia melepaskan pegangannya. Untuk mengalihkan perhatian Yok-ong, dia segera berbisik,

“Locianpwe, apakah yang dikeluarkan oleh Liok-te Mo-li itu?”

Sebenarnya dia sudah melihat nyata bahwa nenek itu mengeluarkan daun Liong-cu-hio, daun aneh yang amat mengerikan itu, daun yang mengandung bisa luar biasa sekali dan boleh disebut raja dari sekalian bisa!

Benar saja, perhatian Yok-ong tertuju kepada nenek itu dan sekali pandang saja muka Yok-ong menjadi pucat.

“Ahhh, mungkinkah dia memegang Liong-cu-hio? Celaka sekali…!”

Dia hendak melompat dan mencegah nenek itu mempergunakan daun itu, namun sudah terlambat. Sambil tertawa-tawa aneh Liok-te Mo-li tiba-tiba melontarkan belasan helai daun itu ke arah lawannya dan orang-orang yang berdiri di rombongan Kiam Ki Sianjin!

Coa-tok Lo-ong dan Hek-i Hui-mo adalah tokoh-tokoh kenamaan yang sudah tidak asing lagi dengan segala macam bisa, maka mencium bau aneh dari daun-daun itu, mereka cepat melompat tinggi untuk menghindarkan diri. Kemudian, dengan tongkatnya, Hek-i Hui-mo mengemplang dari atas, tepat mengenai pergelangan tangan kiri nenek itu.

“Krakk!” remuklah pergelangan lengan itu sedangkan ular di tangan Coa-tok Lo-ong juga berhasil memagut leher nenek itu.

Liok-te Mo-li menjerit dan terhuyung mundur, akan tetapi jeritnya lalu disusul oleh suara ketawanya yang mendirikan bulu roma dan tiba-tiba saja tangan kanannya menyebarkan beberapa helai daun lagi sambil menggigit tongkatnya! Lalu, dibarengi suara ketawanya yang menyayat hati, sebelum dua orang lawannya sempat menyerang, secepat kilat dia mengemplang kepalanya sendiri dengan tongkat yang dipegangnya. Dia roboh dengan kepala pecah dan tidak bernyawa lagi.

Akan tetapi, akibat dari penyebaran daun-daun itu hebat bukan main. Teriakan-teriakan ngeri terdengar ramai sekali di rombongan Kiam Ki Sianjin. Belasan orang perwira serta anak murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai roboh dengan tubuh hangus!

Sekali terkena sambitan daun itu, hanguslah bagian tubuh yang terkena dan sebentar kemudian seluruh tubuh menjadi hangus bagaikan terbakar! Yang hebat lagi, orang lain yang hendak menolong, baru saja menjamah tubuh kawan yang hangus itu, menjerit dan tangannya menjadi hangus pula!

Tentu saja para tokoh yang berkepandaian tinggi, dapat menyelamatkan diri dan dapat mengelak dari sambaran daun-daun itu, akan tetapi kali ini kerugian mereka benar-benar hebat sekali sehingga di fihak Kiam Ki Sianjin menjadi gempar. Kiam Ki Sianjin sendiri marah bukan main. Ia menantang pihak Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

“Pak-lo-sian jangan enak-enakan mengandalkan campur tangan dari luar! Hayo lekas keluarkan lagi jago-jagomu!”

Coa-tok Lo-ong kemudian mempergunakan sebatang pisau kecil untuk menusuk-nusuk daun-daun Liong-cu-hio itu, lalu daun-daun itu dibungkus dengan hati-hati dan disimpan dalam saku baju. Ia kelihatan girang sekali mendapatkan daun-daun yang berbahaya ini.

“Lebih celaka lagi kalau daun-daun itu disimpan oleh manusia seperti itu,” kata Yok-ong perlahan. Wajah orang tua ini kelihatan gelisah sekali melihat akibat pertempuran yang demikian mengerikan.

Pak-lo-sian sudah menanggalkan baju luarnya. Dia melihat betapa dua orang muridnya telah terluka. Sui Ceng sudah terluka pula. Dua orang murid Kun-lun-pai yang masih ada tidak boleh diandalkan, maka dia hendak maju sendiri.

“Nanti dulu, Pak-lo-sian. Ingat bahwa kau adalah wakil kami, sebab itu kau harus maju terakhir. Biarkan pinto maju lebih dulu untuk membalas kematian murid-murid pinto,” kata Seng Thian Siansu.

Pak-lo-sian menggeleng kepalanya. “Tidak bisa, Siansu. Kau adalah orang tertua, maka berilah kesempatan kepadaku yang lebih muda.”

“Omongan apa yang kalian keluarkan ini? Akulah yang akan maju lebih dahulu,” berkata Kiu-bwe Coa-li.

“Tidak bisa!” bantah Pak-lo-sian.

“Tar! Tar! Tarrr!” Cambuk Kiu-bwe Coa-li berbunyi.

“Aku maju lebih dulu dan habis perkara!” Kata-katanya ini disusul oleh gerakannya yang amat cepat dan tahu-tahu ia telah berada di tengah lapangan.

Melihat majunya Kiu-bwe Coa-li yang dianggap sebagai pembunuh murid mereka, naik darah Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu dan serentak mereka maju lagi sebelum didahului oleh orang lain. Hal ini amat menggirangkan hati Kiam Ki Sianjin sehingga dia memberi isyarat mencegah Hek-i Hui-mo yang hendak maju. Memang inilah maksud dari Kiam Ki Sianjin, yakni hendak mengadukan mereka. Ia tahu betul akan kelihaian Kiu-bwe Coa-li.

“Bagus, sekarang kami mendapat kesempatan membalas kematian murid-murid kami!” seru Bian Kim Hosiang yang cepat menyerang.

Kini Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai ini tidak lagi menggunakan toya yang dibuatnya dari kain, melainkan dia menyambar sebuah toya kuningan yang asli, yakni senjatanya yang sejak tadi dibawa-bawa oleh seorang muridnya. Serangan toyanya amat hebat dan sambaran senjatanya ini mendatangkan angin yang berbunyi mengaung.

Namun Kiu-bwe Coa-li tidak menjadi gentar, bahkan sambil mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya, dia mengelak dan membalas. Sembilan ekor cambuknya menari-nari di udara, masing-masing mengeluarkan suara yang nyaring dan mengurung tubuh ketua Bu-tong-pai itu dari segala jurusan dengan totokan-totokan mautnya! Sebentar saja dua orang tokoh besar itu sudah saling menyerang sambil mengerahkan seluruh tenaga dan mempergunakan semua kepandaian mereka yang amat tinggi.

Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai juga amat benci pada Kiu-bwe Coa-li yang dianggap membunuh sute-nya secara curang, karena itu dia pun lantas menggerakkan pedangnya mengeroyok.

Perlu diketahui bahwa dua orang pendeta yang tewas secara aneh, yakni Bin Hong Siansu adalah sute dari Bin Kong Siansu, sedangkan yang kedua, yakni Bian Ti Hosiang adalah murid kepala dari Bian Kim Hosiang. Mereka merupakan orang-orang penting dari kedua partai persilatan itu, karena itu kematian mereka mendatangkan kegemparan dan dendam yang hebat.

Sejak tadi, Pak-lo-sian sudah beberapa kali mendengar ucapan kedua orang ketua partai persilatan itu, maka diam-diam dia merasa sangat heran dan tidak mengerti mengapa mereka menyebut dia dan Kiu-bwe Coa-li sebagai pernbunuh-pembunuh curang. Kini dia melihat Kiu-bwe Coa-li dikeroyok dua orang, maka dia menjadi penasaran dan cepat dia melompat ke dalam gelanggang pertempuran, menggunakan kipasnya untuk menangkis pedang di tangan Bin Kong Siansu sambil berseru.

“Bin Kong Siansu, tahan dulu!”

Bin Kong Siansu menjadi makin marah melihat majunya Pak-lo-sian. Memang Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian yang dicari-carinya maka dia bersama ketua Bu-tong-pai datang di situ.

“Kebetulan sekali, kau harus mampus bersama siluman wanita itu!” bentaknya sambil menyerang.

“Nanti dulu, Siansu. Kau dan Bian Kim Hosiang agaknya amat membenci kami berdua, ada apakah?”

“Masih berpura-pura? Benar-benar tua bangka jahanam tak tahu malu. Kau dan Kiu-bwe Coa-li secara curang dan tak bermalu sudah membunuh sute-ku dan murid kepala dari Bu-tong-pai, sekarang masih pura-pura bertanya lagi?” jawab ketua Kim-san-pai sambil menyerang terus.

“Ehh, ehh, omongan kosong apa yang kau keluarkan ini?” tanya Pak-lo-sian dan lagi-lagi dia menangkis.

“Kami ada bukti dan saksi, tak perlu banyak mulut lagi. Kalau kau berani, terimalah ini!” Bin Kong Siansu menyerang untuk ketiga kalinya dan kali ini serangannya sangat hebat sehingga terpaksa Pak-lo-sian melayaninya.

“Kalau kau menyerangku sebagai seorang yang berfihak kepada penjilat kaisar, aku akan mengadu nyawa denganmu. Akan tetapi kau menyerangku karena salah sangka, aku tak mau melayanimu.” Sambil berkata begitu, Pak-lo-sian hendak meninggalkan lawannya.

“Pengecut tua bangka, kau hendak mempermainkan orang dengan siasatmu! Bin Kong Siansu, jangan percaya mulut tua bangka yang memang ahli siasat dan akal bulus ini!” tiba-tiba terdengar suara yang amat tinggi dan tahu-tahu seekor ular melayang langsung menyerang ke arah kepala Pak-lo-sian.

Tokoh utara ini cepat mengebut dengan kipasnya sehingga kepala ular itu terdorong oleh angin kipas dan dia cepat melanjutkan dengan menotokkan ujung gagang kipas ke arah penyerangnya. Coa-tok Lo-ong, penyerang itu, cepat mengelak karena dia maklum akan kelihaian lawannya.

Bin Kong Siansu tadinya juga merasa heran mendengar penyangkalan Pak-lo-sian. Akan tetapi ucapan dari Coa-tok Lo-ong ini membuat dia tidak ragu-ragu lagi dan segera dia membantu Coa-tok Lo-ong, memutar pedang kemudian menyerang Pak-lo-sian. Dengan demikian, Siangkoan Hai dikeroyok dua!

Bagaimana Bin Kong Siansu bisa ragu-ragu lagi? Surat peninggalan yang ditandatangani oleh sute-nya dan murid kepala Bu-tong-pai sudah menjadi bukti yang nyata, apa lagi masih ada saksi hidup yang kini pun berada dan hadir di tempat itu, yakni Siok Tek Tojin. Maka dia percaya penuh akan kata-kata Coa-tok Lo-ong dan menganggap bahwa orang yang begitu curang membunuh sute-nya, tentu takkan segan-segan untuk menggunakan siasat guna mencoba menyangkal perbuatannya itu.

Melihat Pak-lo-sian telah dikeroyok dua oleh Bin Kong Siansu dan Coa-tok Lo-ong, Hek-i Hui-mo lalu melompat pula dan membantu Bian Kim Hosiang ikut mengeroyok Kiu-bwe Coa-li. Pertempuran menjadi makin ramai dan hebat dengan masuknya Hek-i Hui-mo ini.

“Tidak adil…! Sungguh tak adil…!” bentak Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu yang cepat-cepat ‘menggelundung’ naik dan menyerbu ke tempat pertempuran. “Adu kepandaian macam apa ini? Sungguh tak tahu malu, kiranya hanya main keroyokan saja.”

“Ehh, Jeng-kin-jiu, kau mau apakah?” tiba-tiba berkelebat bayangan dan di hadapannya sudah menghadang Kiam Ki Sianjin dan Toat-beng Hui-houw. “Apa kau mau membantu fihak pemberontak yang mengacaukan negara?”

“Aku tidak membantu mana-mana! Aku hanya menghendaki agar supaya pertempuran-pertempuran yang berat sebelah ini dihentikan! Aku sudah menyesal sekali dahulu dapat diperkuda oleh An Lu Shan sehingga aku kesalahan tangan membunuh Ang-bin Sin-kai sahabat baikku. Sekarang ini, kalian tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, yang mewakili semua orang gagah di dunia, yang katanya memiliki kedudukan batin lebih tinggi dari pada orang biasa, apakah hanya untuk seorang raja saja kalian sampai mengadu nyawa mati-matian?”

“Habis apa kehendakmu?” tanya Kiam Ki Sianjin sambil tersenyum mengejek.

“Kiam Ki Sianjin, pada saat kau masih mengeram di dalam goa di gunungmu, aku sudah berada di istana. Akan tetapi kau sekarang bersikap seakan-akan engkau sudah menjadi seorang jenderal! Alangkah sombongmu. Dengarlah baik-baik, jika memang kau seorang yang menjunjung tinggi kegagahan. Kalau saja pibu (adu kepandaian) ini memang akan diteruskan, berlakulah jujur dan tidak secara pengecut. Biarkan seorang lawan seorang, jangan main keroyokan. Aku sudah ribuan kali bertempur dan ratusan kali menghadapi pibu, akan tetapi selama hidupku baru kali ini menyaksikan pibu yang demikian tidak tahu malu!”

“Jeng-kin-jiu, kau adalah orang luar. Walau pun aku sudah memanggilmu ke sini, akan tetapi ternyata kau menarik diri sendiri dan menjadi penonton dan orang luar. Kau peduli apa? Kau lihat sendiri, mereka bertempur atas kehendak mereka, tidak ada orang yang memaksa. Kalau mereka memang suka berdamai, mengapa mereka memaksa hendak mengadakan adu kepandaian? Sudahlah, kami juga tidak mau menyeret engkau dalam pertandingan ini, lebih baik kau keluar dan turun dari gunung ini.”

“Tak mungkin! Aku bisa membiarkan kalian bertanding kalau memang adil, akan tetapi aku paling benci kecurangan dan ketidak adilan. Tidak boleh aku berpeluk tangan saja melihat hal ini terjadi di depan mataku!” Sambil berkata demikian, Jeng-kin-jiu siap untuk menyerang dan membantu Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian yang dikeroyok dan didesak hebat oleh para pengeroyoknya.

Akan tetapi, pada saat itu pula terdengar dua kali ledakan dan asap tebal sekali berwarna hitam campur putih segera memenuhi tempat itu.

Jeng-kin-jiu yang berada agak jauh dari ledakan ini, kaget dan cepat melompat mundur ke dekat Kwa Ok Sin kembali karena mencium bau yang amat keras. Akan tetapi semua orang yang berada di dekat gelanggang pertempuran, kecuali Coa-tok Lo-ong dan Hek-i Hui-mo, menjadi terhuyung-huyung dan bernapas terengah-engah lantas roboh terguling! Mereka yang roboh adalah Kiu-bwe Coa-li, Pak-lo-sian Siangkoan Hai, Kiam Ki Sianjin, Toat-beng Hui-houw, Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu!

Apakah yang terjadi? Tidak seorang pun mengetahuinya, bahkan Yok-ong hanya berseru perlahan kepada Kwan Cu. “Itulah asap berbisa obat pembius yang sering dipergunakan oleh penjahat dari See-than (negeri barat)! Heran, dari mana datangnya asap itu?”

Akan tetapi meski pun Kwan Cu juga tidak melihat siapa yang mempergunakannya, dia telah tahu dengan baik bahwa yang mengeluarkan obat bius itu tentulah Coa-tok Lo-ong, sute dari Hek-i Hui-mo sebab dulu di kuil tempat tinggal Siok Tek Tojin, dia sudah pernah mencium bau asap itu.

Hek-i Hui-mo tertawa bergelak ada pun Coa-tok Lo-ong cepat menciumkan obat penawar di depan hidung Kiam Ki Sianjin, Toat-beng Hui-houw, Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu. Dalam beberapa detik saja mereka ini telah siuman kembali dan menjadi amat terheran-heran.

Akan tetapi, Hek-i Hui-mo cepat menghampiri tubuh Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li, lalu menotok mereka sehingga sebelum orang lain bisa mencegahnya, kedua tulang pundak Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li sudah terlepas sambungannya! Mereka untuk beberapa lama tidak akan dapat bersilat sebelum tulang itu disambung kembali!

“Ji-wi Pai-cu dari Bu-tong dan Kim-san, sekarang musuh-musuh besar Ji-wi sudah roboh. Tidak membalas dendam sekarang, Ji-wi mau tunggu kapan lagi?” kata Kiam Ki Sianjin kepada ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai.

Akan tetapi kedua orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam partai mereka ini, tentu saja merasa malu untuk membinasakan lawan yang sudah roboh karena pengaruh obat bius. Melakukan hal itu dianggap amat rendah. Akan tetapi jika tidak membunuh mereka sekarang, bukanlah hal yang mudah untuk merobohkan dua orang tokoh besar itu selagi mereka sadar. Karenanya, dua orang ketua partai ini menjadi ragu-ragu dan bersangsi.

“Kalau Ji-wi tidak tega, biarlah aku yang membunuh mereka!” Coa-tok Lo-tong berkata sambil melompat maju ke arah Kiu-bwe Coa-li dan serentak dia menggerakkan ularnya ke arah tenggorokan Kiu-bwe Coa-li!

“Bangsat rendah, pergilah kau!”

Tiba-tiba Coa-tok Lo-ong merasa ada sambaran angin yang dahsyat sekali dari samping. Karena dia tidak dapat mengelak lagi, dia membatalkan serangannya terhadap Kiu-bwe Coa-li dan mempergunakan tangan kirinya untuk menangkis.

“Dukkk!”

Dua tangan beradu dan Coa-tok Lo-ong terlempar sampai dua tombak lebih, akan tetapi Jeng-kin-jiu yang menyerangnya juga terpental ke belakang sampai empat kaki! Ternyata bahwa kehebatan tenaga dua orang tokoh ini hampir sama, akan tetapi ternyata bahwa tenaga raksasa dari Jeng-kin-jiu masih lebih unggul. Berkat tingginya lweekang mereka, adu tenaga tadi tidak mendatangkan luka di dalam tubuh.

“Jeng-kin-jiu, kau bukan orang luar lagi sekarang, akan tetapi pembantu pemberontak!” bentak Hek-i Hui-mo yang segera mengayun tongkat kepala naga dan menyerang kepala Jeng-kin-jiu.

“Bangsat Hek-i Hui-mo, apakah kau lupa akan perundingan kita dulu?” seru Jeng-kin-jiu sambil menangkis ayunan tongkat itu dengan toyanya.

Pertemuan tongkat dan toya yang digerakkan dengan tenaga raksasa ini menimbulkan suara keras hingga orang-orang yang berada di dekat situ merasai getaran yang hebat.

Seperti diketahui, dulu memang Hek-i Hui-mo dan Jeng-kin-jiu keduanya membantu An Lu Shan. Bahkan ketika tokoh-tokoh besar yang berjiwa patriot seperti Ang-bin Sin-kai, Pak-lo-sian dan yang lain-lain datang menyerbu istana, mereka inilah yang melindungi An Lu Shan dan menyelamatkan nyawa kepala pemberontak itu.

Akan tetapi kemudian, melihat betapa rakyat Han berjuang terus, bahkan dipimpin oleh orang-orang pandai, mata Jeng-kin-jiu baru terbuka bahwa hal yang ia lakukan bukanlah main-main belaka. Ia boleh disuruh menghadapi tokoh-tokoh kang-ouw yang bagaimana pandai pun, akan tetapi menghadapi gelombang perjuangan rakyat bangsanya sendiri, dia bergidik dan merasa ngeri.

Oleh karena ini dia lalu mengadakan perundingan dengan kawan-kawannya, yakni Hek-i Hui-mo, Toat-beng Hui-houw serta yang lain-lain, menyatakan kekhawatirannya karena ternyata bahwa yang mereka lindungi adalah musuh rakyat jelata, bukan musuh Kaisar Tang sebagaimana yang tadinya mereka kira.

Jeng-kin-jiu semenjak itu lalu mengasingkan diri di atas gunung, menyesali perbuatannya yang sudah membikin banyak orang gagah gugur termasuk Ang-bin Sin-kai. Sebaliknya, Hek-i Hui-mo, Toat-beng Hui-houw dan yang lain-lain kembali kena dibujuk oleh Kiam Ki Sianjin sehingga mereka kini kembali membantu kaisar asing. Hal ini adalah karena Hek-i Hui-mo memang berdarah Tibet, maka dia tidak peduli akan perjuangan bangsa Han.

Kini dua orang tokoh besar yang sama gemuknya dan sama pula lihainya itu bertanding. Jika tadinya Kwan Cu sudah mau melompat maju melihat Coa-tok Lo-ong menggunakan asap obat bius, kini dia mengurungkan niatnya lagi. Kejadian itu semua terjadi demikian cepat dan kini pundak Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian telah tertotok, menggeletak dalam keadaan masih pingsan.

Melihat betapa fihak Pak-lo-sian kini tinggal Seng Thian Siansu ketua Kun-lun-pai yang amat tua itu, Kwan Cu sudah ingin sekali membantu mereka, akan tetapi kembali niatnya ini terpaksa dia tunda karena kini dia asyik menyaksikan pertarungan antara Jeng-kin-jiu dan Hek-i Hui-mo. Hatinya berdebar tegang.

Dua orang ini juga termasuk pengeroyok-pengeroyok dan pembunuh-pembunuh Ang-bin Sin-kai. Apa lagi dia masih ingat betul bagaimana ketika dia masih kecil, dua orang tokoh besar ini pun pernah menawan dan ikut menyiksanya saat mereka memperebutkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Akan tetapi tiba-tiba terasa olehnya semacam perasaan yang aneh. Walau pun dia akui bahwa dua orang yang bertempur itu adalah musuh-musuh dan pembunuh gurunya, jadi keduanya juga musuh yang harus dia balas, namun melihat mereka berdua saling serang itu hati Kwan Cu condong kepada Jeng-kin-jiu dan dia mengharapkan kemenangan bagi Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu!

Hal ini sebetulnya tidak mengherankan bagi kita, karena ketika pertama kali muncul di dunia ramai, memang anak ini ditemukan oleh Jeng-kin-jiu dan Ang-bin Sin-kai, sebagai satu-satunya orang yang selamat dari kapal yang tenggelam oleh badai dan ombak. Lalu, bahkan Jeng-kin-jiu yang memberi nama Kwan Cu padanya sedangkan Ang-bin Sin-kai yang memberi nama keturunan Lu.

Biar pun tokoh-tokoh aneh itu tidak menyatakan, akan tetapi setidaknya Jeng-kin-jiu dan Ang-bin Sin-kai adalah seperti ‘ayah-ayah angkat’ bagi Kwan Cu. Tentu saja dia lebih sayang kepada Ang-bin Sin-kai karena pengemis sakti ini selain menjadi gurunya, juga sikapnya lebih baik terhadapnya.

Pada waktu Kwan Cu memperhatikan jalannya pertempuran, ternyata bahwa betapa pun lihainya Jeng-kin-jiu dengan toyanya, akan tetapi tongkat dan tasbih Hek-i Hui-mo masih lebih lihai lagi. Memang, dulu ketika mereka masih memperebutkan Kwan Cu dan rahasia kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, tingkat atau ketangguhan ilmu silat mereka seimbang.

Akan tetapi, semenjak mendengar isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng salinan yang dibaca oleh pujangga Tu Fu, Hek-I Hui-mo lalu mendapat kemajuan yang hebat dan juga aneh, seperti halnya Kiu-bwe Coa-li yang juga ikut mendengarkan. Tadi ketika dikeroyok kalau saja tidak keburu Coa-tok Lo-ong melepaskan asap berbisa yang amat ampuh, agaknya tidak akan ada yang sanggup mengalahkan atau merobohkan Kiu-bwe Coa-li.

Kwan Cu yang melihat betapa Jeng-kin-jiu ternyata masih kalah setingkat, menjadi ikut penasaran. Dalam hal tenaga, agaknya Jeng-kin-jiu tidak kalah, akan tetapi ilmu tongkat dari Hek-i Hui-mo benar-benar aneh dan ditambah pula dengan tasbihnya yang laksana tangan maut menyambar-nyambar, keadaan Jeng-kin-jiu menjadi amat terdesak.

Tiba-tiba Kwan Cu mengeluarkan seruan tertahan, seruan yang mengandung kemarahan besar. Akan tetapi dia tidak berbuat sesuatu, karena kesadarannya mengingatkan bahwa yang bertempur adalah musuh-musuh besar gurunya.

Dia mengeluarkan seruan ketika melihat kecurangan yang terjadi dalam pertempuran itu. Tanpa disangka-sangka, Coa-tok Lo-ong menyerang Jeng-kin-jiu dengan senjata rahasia yang amat halus dan tidak dapat dilihat oleh mata.

“Itu jarum-jarum Coa-tok-ciam…,” Yok-ong juga berseru perlahan.

Jeng-kin-jiu bukanlah seorang yang disebut tokoh nomor satu di selatan kalau dia tidak tahu akan serangan gelap ini. Biar pun jarum-jarum itu sangat halus dan tidak kelihatan oleh mata, akan tetapi dia masih dapat mendengar suara angin senjata rahasia ini dan cepat-cepat dia mengebutkan tangan baju sebelah kiri. Ia tidak dapat berbuat lain karena pada saat itu, Hek-i Hui-mo sedang melakukan serangan yang hebat dan mendesaknya, tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menyingkirkan diri.

Oleh karena ini, biar pun dia dapat mempergunakan ujung lengan baju menyampok jatuh banyak jarum-jarum Coa-tok-ciam (Jarum Racun Ular) tetapi sama sekali dia tidak dapat membebaskan diri dari ancaman jarum-jarum yang dilontarkan dalam gelombang ke dua. Tiga batang jarum hitam yang amat halus sudah mengenai tubuhnya, sebatang di paha, sebatang di pundak dan sebatang lagi merasuki punggungnya.

Kalau orang lain yang terkena jarum-jarum ini, tentu akan roboh pada saat itu juga. Akan tetapi Jeng-kin-jiu adalah seorang yang tubuhnya sudah dipenuhi oleh hawa murni dan tenaga lweekang-nya sudah dapat dia salurkan sampai ke ujung-ujung kuku. Karena itu, begitu merasa tiga bagian tubuhnya itu gatal-gatal dan sakit, dia cepat mempergunakan Ilmu Pi-khi Koan-hiat (Menutup Hawa Menghentikan Jalan Darah) sehingga racun dari Coa-tok-ciam yang memasuki tubuhnya tidak dapat menjalar, namun hanya mengeram di sekitar jarum itu saja.

Sambil mengeluarkan gerengan seperti seekor singa terkurung, Jeng-kin-jiu lalu memutar toyanya dengan tenaga raksasa, segera maju dan menyerang membabi-buta. Terutama sekali dia mengejar Coa-tok Lo-ong yang sudah melukainya dengan cara sangat curang itu.

Coa-tok Lo-ong terkejut sekali karena tahu-tahu hwesio gemuk bundar itu sudah tiba di depannya dan memukul dengan kerasnya. Dia mengelak dan berbareng dari samping menyabetkan ularnya ke arah dada Jeng-kin-jiu.

Akan tetapi, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu mengulur tangan kiri, menangkap kepala ular itu dan sekali remas saja, hancurlah kepala ular itu! Berbareng dengan itu, kembali dia mengirim serangan dengan toyanya.

You may also like...