Pendekar Sakti Jilid 34

COA TOK LO ONG cepat menyingkir dan sebentar saja Jeng-kin-jiu yang mengamuk seperti singa gila itu telah dikurung oleh Hek-i Hui-mo dan lain-lain. Bahkan kini para perwira ikut pula mengepungnya. Akan tetapi ternyata mereka ini mengantar nyawa secara sia-sia saja karena hanya dalam sekejap mata tangan Jeng-kin-jiu telah menghancurkan kepala beberapa orang pengeroyok.

“Mundur semua…!” berseru Kiam Ki Sianjin yang kini ikut mengepung pula. “Biarkan para cianpwe yang membunuh anjing gila ini!”

Akan tetapi semua keributan ini sebetulnya tak ada gunanya. Pada saat dia mengamuk, terpaksa untuk menyalurkan tenaga lweekang pada gerakan-gerakannya, kadang kala Jeng-kin-jiu harus melepaskan Ilmu Pi-khi Koan-hiat sehingga racun itu mulai menjalar di tubuhnya.

Maka tiba-tiba dia merasa kedua matanya gelap. Sambil meramkan mata, hwesio yang kosen ini masih saja mengamuk terus, dan dia hanya melindungi tubuh dan melakukan serangan semata-mata menurutkan pendengaran telinganya saja.

Akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Racun telah sampai di jantungnya dan tanpa mengeluarkan keluhan sedikit pun, Jeng-kin-jiu lalu roboh dan tewas dengan toya masih berada dalam genggaman tangannya! Melihat hal ini, semua orang tertegun dan untuk beberapa lama keadaan menjadi sunyi.

“Inilah orang yang benar-benar gagah perkasa, patut ditiru oleh kita semua. Demikianlah hendaknya sikap seorang gagah dan namanya takkan terlupa oleh keturunan kita!” kata Kwa Ok Sin sambil menarik napas panjang berulang-ulang.

Pada saat pertempuran tadi terjadi, Sui Ceng telah menghampiri gurunya dan berlutut di depan tubuh gurunya dengan muka sedih. Demikian pula Kun Beng dan Swi Kiat telah berlutut di depan Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Dua tokoh besar ini sudah siuman dari pingsannya dan kini mereka hanya memandang murid-murid mereka dengan senyum tawar. Mereka tak berdaya, dan meski pun mereka dengan bantuan murid-murid mereka dapat duduk, akan tetapi kedua pundak mereka tak dapat digerakkan lagi sehingga tak mungkin mereka sanggup menghadapi lawan dalam pertempuran.

“Sekarang boleh dilakukan hukuman terhadap Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian yang telah membunuh murid-murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai!” Coa-tok Lo-ong berkata nyaring tanpa mengenal malu sambil memandang pada dua orang ketua partai Bu-tong-pai dan Kim-san-pai.

“Asal mereka telah mengaku dan memberi tahu kenapa mereka melakukan pembunuhan secara curang terhadap muridku, pinto sudah puas dan bersedia memaafkan mereka,” kata Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai. Mendengar ucapan ini, Bian Kim Hosiang juga mengangguk-anggukkan kepalanya.

Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang mendengar omongan itu lalu tertawa bergelak. Biar pun kedua pundak dan lengannya tidak dapat digerakkan lagi, namun tubuhnya masih kuat dan sekali menggerakkan kaki, dia sudah melompat berdiri, kedua muridnya berdiri di kanan-kirinya. Sikapnya masih gagah, hanya kedua lengannya saja yang tergantung tak berdaya.

“Kedua orang Ciangbunjin dari Bu-tong serta Kim-san agaknya sudah gila, buta atau memang sudah kembali menjadi anak-anak kecil. Aku Siangkoan Hai, selama hidup tidak pernah berbuat curang, sungguh pun sudah berkali-kali aku dicurangi orang seperti yang baru saja kualami ini. Maka dua orang Ciangbunjin harap membuka mata lebar-lebar dan mempergunakan pula otaknya!”

“Benar, kalian sudah ditipu oleh jahanam-jahanam tak tahu malu seperti Coa-tok Lo-ong, tapi masih keenakan saja, mana orang-orang macam kalian ini pantas menjadi ketua dari partai-partai besar?” kata Kiu-bwe Coa-li yang juga sudah berdiri.

Sui Ceng berdiri di sebelahnya dan kini cambuk berekor sembilan itu dipegang oleh Sui Ceng. Biar pun gadis ini masih agak lemah dan pundaknya masih terasa sakit, ia dengan gagah berdiri di samping gurunya, siap membelanya mati-matian.

Mendengar kata-kata Kiu-bwe Coa-li yang tanpa disengaja mendakwa kepada Coa-tok Lo-tong, sute dari Hek-i Hui-mo ini berubah mukanya. Akan tetapi Kiam Ki Sianjin yang mendalangi semua itu, menjadi khawatir sekali. Tokoh-tokoh besar yang pro rakyat kini sudah tidak berdaya, tidak membasmi mereka sekarang mau tunggu kapan lagi? Kalau mereka ini sudah tewas, berapa besar kekuatan pemberontak?

“Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li, biar pun kalian sekarang sudah dikalahkan, aku masih membuka kesempatan bagimu. Apa bila kalian suka tunduk dan berjanji akan membantu kami atau akan membujuk agar supaya para pemimpin pemberontak mengundurkan diri, kami akan memberi ampun kepada kalian dan murid-murid serta kawan-kawanmu.”

“Bangsat tua, siapa sudi mendengar omongan-omonganmu? Mau bunuh lekas bunuh, habis perkara!” kata Kiu-bwe Coa-li dan biar pun kedua lengannya sudah lumpuh dan tak dapat digerakkan lagi, namun sepasang matanya mengeluarkan cahaya berkilat, ada pun sepasang kakinya siap pula untuk mengirim tendangan maut.

“Kiam Ki Sianjin, anjing penjilat belang! Apa sih sayangnya kalau tulang-tulangku yang keropos ini dihancurkan? Aku akan mati sebagai seorang gagah, bukan seperti kau yang kelak mampus seperti anjing penjilat kelaparan yang tidak dipakai lagi oleh majikanmu, penjajah asing!” Pak-lo-sian Siangkoan Hai mencaci.

Mendengar ini, naik darah Kiam Ki Sianjin dan dia lalu mencabut pedangnya. Dia adalah seorang tokoh besar yang berjulukan Pak-kek Sian-ong, bagaimana dia dapat menelan mentah-mentah hinaan ini?

“Kalau begitu mampuslah kalian!” bentaknya.

Akan tetapi tiba-tiba Seng Thian Siansu melompat dan pedangnya menangkis pedang di tangan Kiam Ki Sianjin.

“Nanti dulu, Kiam Ki Sianjin. Biar pun kawan-kawanku telah kalah oleh akal busuk, akan tetapi di fihakku masih ada aku orang tua. Kalau aku sudah kalah, boleh kalian berbuat sesuka hatimu terhadap kami. Hayo, majulah, aku menyediakan selembar nyawaku yang tidak berharga!”

Walau pun sudah sangat tua dan lemah, ketua Kun-lun-pai ini berdiri dengan gagahnya. Pedangnya sudah siap di tangan, melakukan gerakan Sian-jin Tit-louw (Dewa Menunjuk Jalan), membuka kuda-kudanya dengan tenang sekali.

Seng Thian Siansu adalah ketua Kun-lun-pai, yaitu seorang tua yang banyak dikenal dan disegani orang. Sebagai seorang ciangbunjin dari partai yang amat besar, dia dihormati sekali dan karenanya kali ini setelah dia yang maju, dari fihak Kiam Ki Sianjin tidak ada yang berani mengeroyok.

Akan tetapi mereka ini tidak menjadi gentar, karena para tokoh ini maklum bahwa Seng Thian Siansu yang sekarang berbeda dengan Seng Thian Siansu sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Kakek ini sudah terlalu tua dan kabarnya sudah beberapa kali menderita sakit tua sehingga amat lemah dan tidak memiliki tenaga besar lagi.

Toat-beng Hui-houw hendak mencari jasa, maka sambil tertawa-tawa dia melompat maju menghadapi Seng Thian Siansu.

“Aku mohon pengajaran dari Siansu yang namanya tersohor di kolong langit,” katanya sambil menyeringai dan menggerakkan kedua tangan sehingga sepuluh kukunya terulur panjang.

Kemudian dengan gerakan cepat sekali dia maju menyerang dengan kedua tangannya yang digerakkan seperti seekor harimau mencakar. Tak ketinggalan pula kedua kakinya mengirim tendangan bertubi-tubi sehingga dia betul-betul terlihat seperti seekor harimau menyerang.

Seng Thian Siansu adalah seorang ketua dari partai besar, tentu saja kepandaiannya amat tinggi. Dia adalah ahli waris dari ilmu silat Kun-lun-pai dan tentang kepandaian, dia jauh lebih menang dari pada Toat-beng Hui-houw. Akan tetapi sayang sekali, sudah ada belasan tahun dia termakan oleh usia tua sehingga tenaganya sebagian lenyap dan juga kegesitannya berkurang banyak. Bagaikan sebatang pedang pusaka yang ampuh, apa dayanya kalau sudah dimakan karat?

Maka begitu pedangnya yang menangkis serangan Toat-beng Hui-houw terbentur oleh kuku tangan kakek seperti siluman ini, dia lantas merasa telapak tangannya tergetar dan pedangnya terpental. Dengan cepat Seng Thian Siansu terkurung dan terdesak hebat oleh Toat-beng Hui-houw yang menyerang sambil tertawa-tawa mengejek.

Akan tetapi dia salah kira kalau dapat dengan mudah mengalahkan kakek yang usianya sudah tinggi sekali itu. Ilmu pedang dari Seng Thian Siansu sudah mencapai tingkat yang mendekati kesempurnaan, maka daya tahannya juga sangat luar biasa.

Sayang sekali, seperti sudah dituturkan di atas, tenaga kakek ini sudah amat terbatas, demikian pula kecepatannya. Sebentar saja dia sudah mulai terengah-engah, akan tetapi dengan semangat penuh dia masih terus mempertahankan diri.

Kwan Cu sudah bergerak hendak melompat, akan tetapi kembali Yok-ong mencegahnya.

“Bagaimana kita bisa membantu kalau mereka bertempur satu lawan satu?” katanya.

Kwan Cu menjadi bingung. Semenjak tadi dia hendak membantu fihak Pak-lo-sian, akan tetapi kesempatan baik belum ada. Tentu saja dia pun harus tunduk pada Yok-ong yang mengemukakan alasan-alasan kuat. Sebagai orang gagah dia pun harus bisa memegang aturan.

Sekarang Seng Thian Siansu benar-benar terdesak hebat. Pada suatu saat, Toat-beng Hui-houw yang merasa penasaran sekali mengapa sebegitu lama belum juga dia mampu mengalahkan kakek tua renta itu, membentak keras dan tahu-tahu kedua tangannya bisa menangkap tangan ketua Kun-lun-pai itu yang memegang pedang.

Seng Thian Siansu merasa tangan kanannya sakit sekali bagaikan terjepit oleh jepitan baja. Kuku-kuku kedua tangan Toat-beng Hui-houw amblas ke dalam tangannya dan menghancurkan tangan itu. Akan tetapi, sambil menahan sakit, ketua Kun-lun-pai ini lalu menggunakan tangan kirinya untuk memukul sambil mengerahkan seluruh sisa tenaga terakhir ke arah dada Toat-beng Hui-houw.

“Blekkk!”

Toat-beng Hui-houw mengeluarkan gerengan seperti seekor macan terpukul. Tubuhnya terhuyung dan dia muntahkan darah segar. Biar pun tenaga kakek Kun-lun-pai itu tidak begitu besar, akan tetapi karena rasa sakit pada tangan kanannya, tenaganya bertambah dan pukulan itu hebat sekali.

Akan tetapi, dia sendiri terpaksa harus melepaskan pedangnya dan tangan kanannya sudah bukan berupa tangan lagi. Jari-jemarinya putus dan tangan itu hancur! Seng Thian Siansu maklum bahwa selain tangan kanannya hancur, juga darahnya telah kemasukan racun yang keluar dari kuku-kuku tangan Toat-beng Hui-houw, karena itu dia lalu duduk bersila meramkan mata, menanti datangnya maut dengan tenang.

Sebaliknya, Toat-beng Hui-houw akhirnya roboh pingsan. Pada saat semua orang masih bengong melihat pertempuran yang berakibat hebat itu, mendadak Sui Ceng melompat, menyambar pedang Seng Thian Siansu yang jatuh di atas tanah dan sebelum ada orang yang dapat mencegahnya, gadis ini mengayun pedang itu dan putuslah leher Toat-beng Hui-houw!

Sesaat semua orang terkesima, akan tetapi segera gegerlah orang-orang yang berada di fihak Kiam Ki Sianjin. Beberapa orang melompat maju, bahkan Kiam Ki Sianjin sendiri berseru,

“Curang sekali…!”

Setelah memenggal kepala Toat-beng Hui-houw, Bun Sui Ceng lalu tertawa nyaring dan berkata, “Ibu, terbalaslah sudah dendam hatimu terhadap siluman ini!” Kemudian dengan air mata mengucur gadis ini berdiri dengan gagahnya menghadapi Kiam Ki Sianjin dan kawan-kawannya.

“Bukan Seng Thian Siansu yang curang, akan tetapi aku sendiri, Bun Sui Ceng, yang sengaja memenggal kepala siluman ini untuk membalas sakit hati ibuku yang dulu tewas di tangannya. Siapa yang tidak terima, boleh maju! Untuk perbuatanku tadi, aku sanggup menghadapi segala akibatnya!”

“Tangkap dia!”

“Bunuh dia!”

“Basmi semua pemberontak!”

Teriakan-teriakan ini terdengar saling susul dan semua orang yang berada di fihak Kiam Ki Sianjin, kecuali orang-orang Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, serentak bergerak hendak menggempur Sui Ceng dan yang lain-lain.

“Tahan dulu…!”

Tiba-tiba ada bayangan yang melayang dan menyambar-nyambar amat cepatnya, diikuti oleh bayangan lain yang juga amat gesitnya. Bayangan pertama adalah Kwan Cu yang tidak dapat menahan hatinya lagi, apa lagi ketika melihat betapa Sui Ceng berada dalam bahaya hendak dikeroyok.

Begitu tiba di tempat itu, Kwan Cu segera menggerakkan kedua tangannya ke arah para pengeroyok. Dengan amat cepat, tanpa dapat terlihat oleh lain orang, dia telah memukul mundur semua orang dengan pukulan-pukulan Pek-in Hoat-sut.

Kiam Ki Sianjin beserta kawan-kawannya hanya merasa adanya angin yang kuat sekali mendorong mereka mundur beberapa tindak dan ternyata tahu-tahu pemuda dusun yang tadi dianggap tolol telah berdiri menghadapi mereka sambil bertolak pinggang.

Ada pun bayangan kedua adalah Hang-houw-siauw Yok-ong. Berbeda dengan Kwan Cu, raja tabib ini dengan cepat luar biasa bagaikan burung menyambar-nyambar, telah dapat menyambar tubuh Thian Seng Siansu, kemudian berturut-turut ia juga menyambar tubuh Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Kiu-bwe Coa-li, dibawa ke belakang, kemudian tanpa mempedulikan sesuatu dia mengobati tokoh-tokoh yang terluka ini.

Pertama-tama dia mempergunakan obat untuk mengobati luka pada tangan Seng Thian Siansu karena keadaan kakek ini yang paling hebat. Sesudah menotok beberapa jalan darah, Yok-ong cepat memberi obat pada tangan yang rusak itu dan memasukkan pil ke dalam mulut kakek ini yang memandangnya dengan penuh keheranan dan kekaguman.

Setelah itu, barulah Yok-ong memeriksa pundak Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li. Karena dia sangat lihai dalam ilmu pengobatan, tulang pundak yang sudah terlepas dan kalau menurut ahli pengobatan lainnya baru akan sembuh sedikitnya dua pekan, sebentar saja Yok-ong sudah dapat menyambungnya dengan baik!

“Sayang masih tidak boleh mengerahkan tenaga lweekang di kedua lengan pada hari ini, harus menanti sampai dua hari,” kata Yok-ong kepada dua orang tokoh itu.

“Ehh, muka hitam! siapakah kau yang sudah berpura-pura dungu dan bodoh, menyamar sebagai petani ini?” tanya Kiu-bwe Coa-li dengan heran sekali.

Pak-lo-sian tertawa. “Ha-ha-ha, di dunia ini yang sanggup mengobati orang dengan cara seperti ini hanyalah Hang-houw-siauw Yok-ong. Bukankah kau Yok-ong?”

Akan tetapi Yok-ong tak menjawab, hanya menudingkan telunjuk ke depan dan mukanya berubah terheran-heran sehingga dia menjadi bengong. Pak-lo-sian serta Kiu-bwe Coa-li juga memandang ke depan. Mereka melihat betapa Sui Ceng sudah mundur, juga kini Sui Ceng, Kun Beng, Swi Kiat dan dua orang anak murid Kun-lun-pai, juga memandang dengan bengong ke tengah lapangan adu silat tadi. Memang apa yang mereka lihat amat mengherankan hati mereka.

Kwan Cu dengan tangan bertolak pinggang sedang menghadapi Kiam Ki Sianjin beserta kawan-kawannya. Pemuda ini kelihatan marah sekali, akan tetapi mukanya terlihat amat lucu karena muka yang berwarna merah seperti udang direbus itu tidak dapat digerakkan sehingga seperti topeng saja.

“Kalian ini para pengkhianat bangsa dan anjing-anjing penjilat selalu memutar balikkan duduknya perkara. Diri sendiri pengecut dan curang mengatakan orang lain yang curang. Sungguh tak tahu malu!”

Karena Kwan Cu sengaja mengubah suaranya, Kiam Ki Sianjin tidak mengenalnya. Akan tetapi karena melihat betapa pukulan anak muda ini benar-benar lihai, dia berlaku sangat hati-hati dan menjawab,

“Bocah dusun! Bagaimana kau dapat berkata begitu? Memang fihak Pak-lo-sian curang sekali, jika tidak curang, kenapa gadis itu membunuh Toat-beng Hui-houw yang sedang tak berdaya?”

“Nona itu membunuh siluman Toat-beng Hui-houw bukan untuk mengeroyok dan bukan untuk berlaku curang. Kalian sudah mendengar sendiri bahwa ibunya dulu terbunuh oleh Toat-beng Hui-houw! Pembalasan dendam tidak boleh dicampur-aduk dengan perbuatan curang. Andai kata kalian menganggapnya mengeroyok, biarlah hal itu dianggap sebagai pembalasan pula karena bukankah kalian tadi juga mengeroyok ketika kedua locianpwe Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian maju?”

“Setan kecil! Apa bila kau memang murid seorang pandai dan mengaku sebagai seorang gagah atau pendamai, ternyata kau berat sebelah! Mungkin sekali Toat-beng Hui-houw membunuh ibu gadis itu, namun siapa tahu kalau memang ibu gadis itu ternyata adalah penjahat besar?”

Kwan Cu tertawa dan dia menjura kepada Kiam Ki Sianjin dengan penghormatan yang sifatnya mengejek.

“Harap Locianpwe suka mendengarkan dongenganku sebentar. Toat-beng Hui-houw itu adalah suheng dari Tauw-cai-houw, saikong yang berwatak keji dan suka makan daging anak-anak kecil. Maka, pada suatu hari pendekar wanita Pek-cilan Thio Loan Eng yang namanya sudah tersohor di seluruh penjuru dunia, menewaskan bangsat keji itu dengan pedangnya. Bukankah hal itu telah cukup adil? Lalu siluman tua ini, Toat-beng Hui-houw, melakukan pembalasan terhadap Pek-cilan Lihiap. Ini pun boleh-boleh saja karena dia memang suheng dari Tauw-cai-houw. Akan tetapi tahukah Locianpwe bagaimana cara Toat-beng Hui-houw membalas dendam? la menawan Pek-cilan Lihiap, kemudian selagi pendekar wanita itu masih hidup, dia menggigit lehernya dan mengisap darahnya sampai habis!”

Terdengar seruan-seruan kaget. Dua orang ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai beserta anak murid mereka bergidik mendengar perbuatan yang sangat keji dan di luar batas peri kemanusiaan ini! Bun Sui Ceng menjadi pucat dan dia mengeluarkan pertanyaan tanpa disadarinya.

“Siapa dia yang mengerti semua peristiwa itu?”

Pertanyaan ini terdengar pula oleh Kiam Ki Sianjin yang juga menjadi penasaran, maka tanyanya.

“Orang muda, siapakah namamu dan apa kehendakmu sekarang?”

“Namaku? Namaku ialah Ang-bin Siauw-bu-beng (Si Kecil Tak Bernama Yang Bermuka Merah). Dan kehendakku? Tak lain kedatanganku ini untuk mendongeng!”

Semua orang, baik dari fihak Kiam Ki Sianjin mau pun dari fihak Pak-lo-sian Siang-koan Hai, tak ada seorang pun yang pernah mendengar nama julukan Ang-bin Siauw-bu-beng, maka mereka memandang dengan heran. Apa lagi ketika Kwan Cu menyatakan bahwa kedatangannya untuk mendongeng!

Sui Ceng hampir tak dapat menahan ketawanya karena ia merasa amat lucu. Bagaimana bisa di tengah-tengah medan pertandingan mati-matian yang telah mengorbankan begitu banyak nyawa orang, pemuda muka merah yang buruk rupa ini bahkan datang hendak mendongeng? Sungguh menggelikan.

Akan tetapi Kiam Ki Sianjin marah bukan main. Dia adalah seorang ahli silat kelas satu, masa sekarang dia boleh dipermainkan begitu saja oleh seorang badut muda?

“Jangan kau main-main, lekas pergi kalau kau tidak ingin remuk tulang-tulangmu. Siapa sudi mendengar ocehan dan dongenganmu?”

Sambil berkata demikian, dia mendorong dengan kedua tangannya dengan sikap seperti orang mau mengusir. Akan tetapi, sebenarnya dalam dorongannya ini dia mengerahkan tenaga Jian-mo-kang yang luar biasa dahsyatnya.

Kwan Cu hanya merendahkan sedikit tubuhnya dan dari bawah kedua tangannya lantas diangkat seperti orang yang mencegah orang lain hendak memukulnya.

Kiam Ki Sianjin terkejut bukan main. Tadi dia mengerahkan tenaga Jian-mo-kang dan dia tahu bahwa jangankan pemuda aneh ini, walau pun batu yang beratnya beribu kati akan terguling bila terkena dorongannya ini. Baru angin dorongannya saja sudah mengandung tenaga sedikitnya tiga ratus kati.

Akan tetapi, pemuda itu dengan merendahkan tubuh sambil mengangkat kedua tangan, ternyata dari angkatan tangan ini keluar sebuah tenaga tersembunyi yang dari bawah mendorong tangan Kiam Ki Sianjin ke atas sehingga dorongan tenaga Jian-mo-kang lewat di atas kepala Kwan Cu mengenai angin kosong! Daun-daun pohon yang berada di sebelah belakang Kwan Cu seperti tertiup angin pada waktu terkena sambaran tenaga Jian-mo-kang yang menyeleweng ke atas ini sehingga rontoklah banyak daun pohon itu!

“Locianpwe, ampunkan selembar nyawaku. Jangan bunuh aku dahulu sebelum boanpwe (aku yang rendah) selesai mendongeng,” kata Kwan Cu sambil tersenyum. “Tadi sudah kuceritakan dongeng mengenai Toat-beng Hui-houw sehingga kita semua kini tahu akan macam orang itu dan kiranya sudah sepatutnya kalau nona yang lihai itu membunuhnya. Sebelum mendongeng mengenai para locianpwe yang kini masih hidup, aku akan mulai dengan yang sudah tewas, yakni Jeng-kin-jiu Locianpwe. Dia itu sekarang memang telah tewas sebagai seorang gagah, akan tetapi sangat disayangkan bahwa kematiannya itu merupakan penebusan dosa dari penyelewengan hidupnya. Sungguh amat disayangkan. Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu merupakan seorang tokoh besar dari selatan yang biar pun amat aneh akan tetapi belum pernah berlaku curang dan jahat. Akan tetapi, seperti yang dikatakan oleh guru besar Khong Cu, musuh manusia yang paling berbahaya adalah diri sendiri! Melihat kehidupan mulia dan enak, Jeng-kin-jiu sudah kena dibujuk dan menjadi kaki tangan An Lu Shan, bahkan mengajar para pangeran, sama sekali tak peduli bahwa majikannya itu adalah penindas bangsanya. Kemudian, lebih celaka lagi, dengan kawan-kawannya yang sama-sama menyeleweng batinnya, dia melakukan pengeroyokan dan membunuh seorang pendekar besar yang namanya akan tetap wangi selama dunia ini berkembang, yaitu Ang-bin Sin-kai Lu Sin! Ada pun Liok-te Mo-li nenek yang aneh itu, memang dia gagah perkasa dan lihai sekali, juga di waktu lampau dia selalu membasmi orang-orang jahat. Sayang dia terlalu ganas dan kejam, menyebar maut seenaknya saja, maka akhirnya ia pun tewas akibat kecurangan orang-orang jahat pula!”

Mendengar ucapan-ucapan Kwan Cu semakin mengacau, apa lagi melihat betapa kedua musuh besarnya, yakni Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian telah tertolong dan telah diobati oleh seorang kakek muka hitam yang aneh, Bian Kim Ho siang dan Bin Kong Siansu menjadi marah dan keduanya melompat maju.

“Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian, dua manusia durhaka! Jangan kalian bersembunyi di balik kegilaan badut kecil ini. Kalian sudah sembuh? Hayo kita bertanding lagi sampai salah seorang di antara kita mampus!” bentak Bian Kim Hosiang.

“Fihak Pak-lo-sian sudah kalah semua, di sana tidak ada jagonya lagi. Menurut perjanjian mereka harus mengaku kalah kemudian mentaati perintah dan kehendak kami!” Kiam Ki Sianjin berkata keras, tanpa mempedulikan lagi kepada pemuda muka merah itu.

Pak-lo-sian dan Seng Thian Siansu saling pandang, lalu tersenyum pahit.

“Kiam Ki Sianjin, kami adalah orang-orang gagah yang sekali mengeluarkan ludah takkan dijilat lagi!”

Seng Thian Siansu mengangguk-anggukkan kepalanya yang semua rambutnya sudah putih. Mereka memang sudah tidak berdaya.

Kiu-bwe Coa-li sudah tak dapat menggerakkan dua lengannya, demikian pula Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Seng Thian Siansu sendiri tangannya sudah remuk, tak mungkin mampu berkelahi lagi. Murid-murid Pak-lo-sian juga terluka, demikian pula Sui Ceng murid dari Kiu-bwe Coa-li. Ada pun dua orang murid Kun-lun-pai kepandaiannya masih sangat jauh di bawah tingkat lawan. Mereka terpaksa harus mengaku kalah.

“Jadi kau sudah mengaku bahwa fihakmu kalah, Pak-lo-sian?” Kiam Ki Sianjin bertanya dengan muka kegirangan.

“Memang… kami…”

Tiba-tiba Kwan Cu melanjutkan kata-kata Pak-lo-sian ini dengan cepat.

“Kami belum lagi kalah! Aku Ang-bin Siauw-bu-beng mewakili fihak Pak-lo-sian Cianpwe menjadi jagonya!”

Mendadak Yok-ong melompat di dekat Kwan Cu. Semua orang lagi-lagi tertegun karena gerakan kakek muka hitam itu sedemikian cepatnya sehingga sekali melihat saja tahulah semua orang bahwa kakek ini memiliki kepandaian yang amat tinggi.

“Siauw-bu-beng, tak boleh kau meninggalkan Lohu! Kalau kau yang muda berani maju, mengapa aku tidak?”

Yok-ong adalah seorang ahli silat yang kepandaiannya sudah hampir sempurna, maka tentu saja dia pun dihinggapi penyakit ‘gatal tangan’ seperti ahli-ahli silat lainnya apa bila melihat adu kepandaian, apa lagi menghadapi begitu banyak jago-jago silat. Maka dia tak dapat menahan hatinya untuk ‘main-main’ sebentar, dan di samping ini dia juga merasa khawatir melihat Kwan Cu menghadapi para tokoh besar itu. Dia tahu bahwa Kwan Cu memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi berapa tinggikah kepandaian seorang bocah yang masih belum matang?

Yok-ong lalu menjura kepada Kiam Ki Sianjin setelah mengejapkan mata kepada Kwan Cu.

“Kiam Ki Sianjin, sudah lama sekali aku mendengar namamu yang menjulang setinggi awan. Sekarang, sungguh amat menyenangkan bertemu dengan kau yang hadir sebagai kaki tangan kaisar. Aku tak akan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ini, dan mohon petunjukmu dalam ilmu pukulan.”

Kwan Cu maklum akan ‘penyakit’ ahli silat yang menghinggapi diri Yok-ong, maka sambil memainkan mata kepada dua orang ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, dia berkata,

“Ji-wi Locianpwe harap mundur dulu, nanti saja kalau tiba giliran kita, Ji-wi maju lagi!”

Kata-kata ini memanaskan perut Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai. Kalau saja yang mengeluarkan kata-kata main-main ini bukan seorang bocah, tentu dia sudah mengirim serangan. Akan tetapi Bin Kong Siansu sudah menarik tangannya diajak mundur.

Kwan Cu juga mundur. Akan tetapi dia berdiri tidak jauh di belakang Yok-ong, karena dia merasa curiga dan khawatir kalau-kalau Yok-ong akan dicurangi pula.

Walau pun Kiam Ki Sianjin dapat menduga bahwa kakek muka hitam ini lihai, akan tetapi sebagai seorang tokoh besar dia tidak sudi bertanding melawan orang yang tak terkenal, maka dia lalu menjura dan berkata,

“Sahabat telah mengetahui namaku yang rendah, tapi sebaliknya aku belum tahu dengan siapa aku berhadapan. Ini tidak adil sekali.”

Yok-ong tertawa, suara ketawanya halus dan merdu seperti ketawa seorang yang amat sopan.

“Kiam Ki Sianjin, yang akan bergerak adalah tangan kaki kita, perlu apa memperkenalkan nama? Akan tetapi karena kau mendesak, baiklah. Namaku adalah Hek-bin Lo-bu-beng (Si Tua Tak Bernama Yang Bermuka Hitam)!”

Kwan Cu tertawa geli. Kiranya kakek Raja Tabib ini meniru dia, menambah kata-kata Muka Hitam di depan nama julukan baru, yakni Lo-bu-beng.

Kiam Ki Sianjin menjadi merah mukanya. “Hemm, kau dan bocah itu sengaja tidak mau memperkenalkan nama. Akan tetapi tak apalah. Apakah kau maju sebagai jago dari fihak pemberontak?”

“Sesukamu, boleh saja kau menganggap begitu. Akan tetapi sebetulnya lebih tepat kalau dikatakan bahwa aku maju sebagai wakil dari mereka yang tertindas. Kiam Ki Sianjin, keluarkanlah pedangmu, aku sudah lama mendengar bahwa kau adalah seorang ahli pedang yang jempolan!”

Kiam Ki Sianjin diam-diam berpikir dan mencari akal. Kalau orang ini sudah tahu bahwa dia pandai main pedang, tentulah orang ini sudah bersedia terlebih dahulu menghadapi pedangnya, dan boleh dipastikan bahwa kakek muka hitam ini tentulah seorang ahli pula dalam penggunaan senjata pula.

“Tak perlu menggunakan senjata,” katanya, “mari kita mengadu tenaga lweekang saja. Apakah kau berani menerima?”

Kiam Ki Sianjin adalah seorang yang semenjak muda meyakinkan ilmu lweekang sampai tingkat tinggi dan dalam hal kepandaian ini, kiranya dia tidak usah kalah oleh lima tokoh besar, yakni Pak-lo-sian, Jeng-kin-jiu, Ang-bin Sin-kai, Hek-i Hui-mo, dan Kiu-bwe Coa-li. Karena itu, mengira bahwa Si Muka Hitam ini ahli senjata, dia lalu memilih adu tenaga lweekang supaya mendapat kemenangan dengan mudah.

Yok-ong pura-pura terkejut dan menggeleng-geleng kepalanya.

“Ayaaa… mengapa kau mengajak yang aneh-aneh?”

“Berani tidak?” tanya Kiam Ki Sianjin mendesak.

Kiam Ki Sianjin merasa girang karena melihat si muka hitam kelihatannya ragu-ragu dan terkejut. Jika si muka hitam menolak, berarti orang itu mengaku kalah dan boleh dihukum menurut sesuka hati yang menang.

“Apa boleh buat, kau tuan rumah dan aku tamu yang harus menghormati kehendak tuan rumah. Dengan cara bagaimana kau hendak mengajakku mengadu kekuatan itu?” tanya Yok-ong.

“Tidak berbahaya, sama sekali tidak berbahaya! Kita mengadu telapak tangan dan saling mendorong, siapa yang jatuh di atas tanah dia yang kalah!” kata Kiam Ki Sianjin sambil tertawa-tawa.

Semua orang terkejut. Memang ada banyak cara mengadu lweekang, akan tetapi yang paling berbahaya adalah adu lweekang dengan menempelkan telapak tangan dan saling mendorong. Dalam adu lweekang semacam ini, sembilan bagian orang yang kalah akan tewas atau setidaknya menderita luka dalam yang hebat sekali. Akan tetapi anehnya, si muka hitam agaknya tidak mengerti akan bahaya itu dan dengan tertawa-tawa dia berkata,

“Aha, tidak tahunya kau akan mengajak aku main-main seperti anak kecil saja. Baiklah, memang aku pun tidak mempunyai niat buruk di dalam hatiku. Kalau menang baik, kalau kalah paling-paling hanya terdorong jatuh, apa susahnya?”

“Sahabat Lo-bu-beng, hati-hatilah! Dia memiliki tenaga Jian-mo-kang!” kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang juga merasa khawatir kalau-kalau si muka hitam yang amat pandai mengobati itu akan binasa di bawah tangan Kiam Ki Sianjin yang lihai.

Yok-ong menoleh dan tersenyum kepada jago tua dari utara itu. “Biarlah, kami hanya bermain-main dan saling dorong saja, bukan saling pukul. Apa sih bahayanya?”

Akan tetapi pada waktu dia menoleh, Kiam Ki Sianjin sudah mengerahkan tenaga dan meluruskan kedua lengan ke depan, lalu membentak, “Lo-bu-beng, bersiaplah!”

Yok-ong memutar tubuhnya dan bukan hanya dia, juga tokoh-tokoh lain yang hadir di situ maklum bahwa kembali Kiam Ki Sianjin sudah menggunakan kesempatan untuk mencari kedudukan yang lebih menguntungkan.

Dalam adu tenaga seperti ini, siapa yang mengerahkan tenaga dan meluruskan lengan terlebih dulu, dia berada dalam kedudukan menyerang, sedangkan yang menempelkan tangan dan meluruskan lengan terakhir berada dalam kedudukan menahan.

Akan tetapi agaknya si muka hitam ini tidak tahu akan hal ini, bahkan tanpa menarik napas panjang seperti orang yang hendak mengumpulkan tenaga lweekang, akan tetapi sambil tertawa-tawa dia lantas memasang kuda-kuda dengan tumit diangkat, kemudian meluruskan tangan menempelkan telapak tangan ke telapak tangan Kiam Ki Sianjin.

Begitu kedua telapak tangan menempel, Kiam Ki Sianjin lalu mengempos semangat dan napasnya, segera mendorong sambil mengerahkan tenaga Jian-mo-kang yang dahsyat. Tadi sudah dituturkan mengenai kehebatan tenaga Jian-mo-kang ini, yang hanya angin pukulannya saja sudah cukup untuk menggulingkan batu seberat tiga ratus kati dan kalau tangan itu menempel pada batu yang beratnya seribu kati, batu itu akan terdorong roboh.

Akan tetapi, pada saat tangannya menempel pada telapak tangan Yok-ong, dia merasa betapa telapak tangan si muka hitam itu lunak dan halus sekali seperti kapas! Ia terkejut dan tahu bahwa lawannya menggunakan Bian-ciang-kang (Telapak Tangan Kapas) yang menggunakan tenaga ‘lemas’ untuk menghadapi tenaga ‘keras’.

Menghadapi tenaga ini, Kiam Ki Sianjin kehilangan kekuasaan tenaganya, seakan-akan semua tenaga Jian-mo-kang yang dikerahkan itu ‘amblas’ dalam telapak tangan lawan, atau seperti sepotong besi yang berat masuk ke dalam air!

Cepat dia hendak menarik kembali telapak tangannya untuk mengubah gencetan dari arah lain. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika telapak tangannya itu telah ‘menempel’ pada telapak tangan si muka hitam, tidak dapat ditarik lepas! Telapak tangan lawannya itu seakan-akan mengeluarkan daya luar biasa yang menyedot kulit telapak tangannya sendiri.

Sebagai seorang ahli silat dan ahli lweekeh, Kiam Ki Sianjin maklum bahwa lawannya adalah seorang ahli dalam menggunakan tenaga ‘Im-kang’, maka kalau dia melanjutkan usahanya menarik kembali tangannya, dia malah akan kehilangan keseimbangan tenaga dalamnya.

Dengan nekat dia kemudian mendorong lagi. Kini dia mengimbangi kekuatan lawan, jika lawan menggunakan tenaga Yang-kang, dia pun mengerahkan tenaga Yang-kang, kalau tenaga Im-kang, dia pun mengerahkan lweekang mempergunakan tenaga Im-kang.

Sebaliknya, diam-diam Yok-ong juga memuji bahwa tenaga lweekang dari lawannya itu benar-benar hebat dan sudah tinggi sekali, tidak kalah jauh oleh tenaganya sendiri. Maka dia segera mengerahkan tenaganya dan menggunakan tenaga yang mendorong lawan.

Kini tenaga Yang dari kedua fihak bertanding hebat, disalurkan melalui lengan tangan, terus ke telapak tangan sehingga dari keempat telapak tangan yang beradu itu mengepul uap putih, sedangkan masing-masing merasa betapa telapak tangan mereka menjadi panas sekali!

Keringat dingin memenuhi dahi Kiam Ki Sianjin, sedangkan Yok-ong hanya merah saja wajahnya. Dari sini saja sudah dapat dilihat bahwa tenaga si muka hitam itu sudah lebih tinggi. Apa lagi kalau orang lain yang melihatnya, karena wajah Yok-ong yang tertutup warna hitam itu tidak berubah sama sekali!

Memang, Kiam Ki Sianjin sudah merasa betapa telapak tangannya seakan-akan terbakar dan kalau dia teruskan, tentu kedua telapak tangannya akan hangus. Akan tetapi, untuk menarik mundur sudah tidak ada waktu lagi, maka dia berlaku nekat dan mengerahkan seluruh tenaga Jian-mo-kang.

Hek-i Hui-mo melihat keadaan Kiam Ki Sianjin, menjadi gelisah sekali. Ia lalu melangkah maju kemudian dengan tangan kirinya dia mendorong punggung Kiam Ki Sianjin. Dengan perbuatannya ini, biar pun dia membantu, namun dia sama sekali tidak menyentuh lawan atau si muka hitam, sehingga dia tidak akan disebut curang.

Akan tetapi, bantuannya ini bagi orang lain akan kelihatan aneh dan bahkan merugikan Kiam Ki Sianjin, namun sesungguhnya dari telapak tangannya yang menempel punggung Kiam Ki Sianjin, dia menyalurkan tenaga lweekang-nya yang setingkat dengan Kiam Ki Sianjin, membantu orang tua ini menghadapi si muka hitam.

Akibat bantuan ini segera kelihatan. Tubuh Yok-ong terdorong ke belakang seperti sudah terdorong oleh tenaga raksasa! Juga dia merasa telapak tangannya panas sekali.

Ada pun Kiam Ki Sianjin menjadi lega sekali karena rasa panas di tangannya berkurang banyak. Tentu saja Yok-ong tidak kuat menahan serangan dua tenaga ahli lweekeh yang dipersatukan atau disambung ini dan dia tahu bahwa dia akan kalah.

Kwan Cu menjadi mendongkol dan merasa marah sekali. Ia melangkah maju dan hendak mendorong punggung Yok-ong seperti yang sudah dilakukan oleh Hek-i Hui-mo, namun Yok-ong menggerakkan kepalanya, digelengkan berkali-kali sehingga Kwan Cu terpaksa mundur kembali.

Tiba-tiba saja terdengar Yok-ong berseru keras dan nyaring sekali. Dengan pengerahan tenaga seadanya, dalam sedetik ia dapat mendorong tangan Kiam Sianjin.

Memang hebat sekali tenaga lweekang dari raja tabib ini, karena biar pun yang menahan di depannya ada dua orang, akan tetapi pengerahan seluruh tenaganya ini untuk sesaat dapat membuat Kiam Ki Sianjin dan Hek-i Hui-mo terdorong ke belakang! Sesungguhnya hal ini adalah berkat obat-obat penguat tubuh yang diminum oleh raja tabib ini, sehingga dia memang mempunyai kekuatan tubuh luar biasa sekali.

Akan tetapi, pengerahan tenaga tadi hanyalah siasat belaka dari Yok-ong karena dia pun maklum bahwa kalau terus dilanjutkan, akhirnya dia akan kalah juga. Setelah dia berhasil mendorongkan kedudukan lawan dan kini kedua lawannya mengerahkan seluruh tenaga, tiba-tiba dia mengarahkan kedua tangan ke bawah lalu melepaskan tempelan tangannya dan tubuhnya mengelak ke bawah terus ke kanan.

Hebat luar biasa akibat akal ini. Kiam Ki Sianjin sudah mengerahkan tenaga sebesarnya, dibantu pula oleh Hek-i Hui-mo yang mendorong punggungnya. Sekarang dilepas secara tiba-tiba, tak dapat dicegah lagi dia terdorong ke depan. Apa lagi masih ada Hek-i Hui-mo yang mendorong punggungnya, maka di lain saat kedua orang tokoh besar ini terjungkal ke depan, jatuh bangun dan saling tindih!

Baiknya mereka adalah ahli-ahli yang berkepandaian tinggi, maka cepat mereka dapat menarik kembali tenaga mereka dan hanya mengalami benjut-benjut saja. Namun semua batu yang tertimpa tangan mereka pada remuk!

Kwan Cu bertepuk tangan gembira dan sebentar saja Pak-lo-sian juga terkekeh-kekeh, diikuti pujian dari semua orang di fihaknya.

“Kiam Ki Sianjin sudah kalah…!” Kwan Cu berseru berulang-ulang sambil bertepuk-tepuk tangan.

Dengan muka merah sekali Kiam Ki Sianjin dan Hek-i Hui-mo bangun berdiri mengibas-ngibaskan pakaian mereka yang terkena debu, untuk beberapa lama tak mampu bicara. Kemudian Hek-i Hui-mo melangkah maju dan dengan alis berdiri dia menudingkan jari telunjuknya kepada Yok-ong.

“Siluman muka hitam! Tidak bisa kau dibilang menang, karena kemenanganmu itu hanya karena siasat busukmu belaka!”

Yok-ong tidak meladeninya karena raja tabib ini adalah seorang yang sangat berhati-hati menjaga kesehatannya. Setelah mengalami adu tenaga yang sedemikian hebatnya, dia tidak mau banyak bicara, hanya berdiri diam dan mengatur pernapasan mengumpulkan kembali tenaganya.

Melihat ini, Kwan Cu maklum bahwa kakek sakti ini perlu diberi waktu untuk beristirahat lebih dulu karena fihak lawan masih amat kuat. Ia yang segera maju dan mencela Hek-i Hui-mo.

“Locianpwe, kau disebut ahli silat nomor satu dari barat, akan tetapi mengapa kau tadi membantu Kiam Ki Sianjin dan sekarang bahkan menyalahkan kakekku? Sudahlah, nanti akan datang giliranmu, sekarang lebih baik kau tiru perbuatan kakekku, mengumpulkan tenaga untuk pertandingan selanjutnya. Sekarang aku akan melanjutkan pembicaraanku dengan kedua ciangbunjin (ketua) dari Bu-tong-pai dan Kim-san-pai.”

Hek-i Hui-mo sudah mengertak gigi dan hendak menyerang Kwan Cu, akan tetapi kedua orang ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai sudah melompat maju dan berkata kepada Hek-i Hui-mo,

“Memang benar apa yang dikatakan oleh Siauw-ang-mo (Setan Kecil Merah) ini. Biarkan kami berdua mendengarkan kata-katanya lebih lanjut,” kata Bin Kong Siansu. Kemudian dia menghadapi Kwan Cu dan berkata,

“Anak muda, kau tadi bilang mewakili Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian musuh besar kami, sebenarnya bagaimana maksudmu? Kami jauh-jauh datang sengaja hendak memberi hukuman kepada mereka yang secara curang dan terlalu telah membunuh dan menghina orang dari partai kami, apakah kau hendak menghalangi?”

Kwan Cu tersenyum dan menjura dengan hormat. “Mana berani boanpwe menghalangi niat dari Ji-wi Ciangbun yang lihai? Boanpwe sekali-kali tak akan merintangi apa bila Ji-wi hendak membunuh atau membalas dendam kepada Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian dua Cianpwe itu. Hanya saja, hukuman itu hendaknya dilaksanakan setelah boanpwe selesai mendongeng.”

“Keparat! Kau berhadapan dengan ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, tapi masih berani melawak dan hendak mempermainkan kami?” bentak Bian Kim Hosiang yang adatnya memang keras.

“Sama sekali tidak melawak apa lagi mempermainkan, akan tetapi dengarlah saja, Ji-wi Locianpwe tentu akan suka mendengar dongeng ini.” Sebelum orang membantah pula, Kwan Cu cepat melanjutkan omongannya,

“Kurang lebih sebulan yang lalu, di sebuah kuil di selatan kota raja terjadi hal yang amat aneh. Kuil itu dijaga oleh seorang tojin yang bernama Siok Tek Tojin, dan pada hari itu di dalam kuil datanglah seorang hwesio pendek bundar membawa pedang beserta seorang tosu. Mereka bermalam di kuil itu.”

“Dia adalah Bian Ti Hosiang murid kepala Bu-tong-pai!” seru Bian Kim Hosiang.

“Tosu itu tentulah sute-ku Bin Hong Siansu!” Bin Kong Siansu juga berseru.

“Kebetulan sekali terkaan Ji-wi Locianpwe memang sangat tepat,” Kwan Cu melanjutkan kata-katanya sambil tersenyum. “Pada malam hari, dua orang pendeta itu terbunuh orang di dalam kamarnya.”

“Benar! Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Kiu-bwe Coa-li yang membunuh mereka secara pengecut!” teriak Bian Kim Hosiang dengan mata merah memandang kepada dua orang tokoh besar itu.

Kwan Cu tersenyum dan mengangguk-angguk. “Memang pembunuhnya mengaku bahwa mereka adalah Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li.”

Kiu-bwe Coa-li melompat dengan marah. “Buang kentut busuk! Kalau kedua tanganku dapat digerakkan, kepala kalian sudah hancur!”

Juga Pak-lo-sian melompat dan berkata marah, “Bohong sama sekali!”

Kwan Cu menengok dan berkata, “Sabar… sabar… boanpwe belum lagi habis bercerita. Memang pembunuh-pembunuh keji itu telah mengaku bernama Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li. Mereka membunuh secara curang sekali, dan menggunakan obat bius sehingga dua orang pendeta itu pingsan lalu mereka dibunuh. Kebetulan sekali, pembunuh yang aslinya melarikan diri di dalam gelap dan kehilangan sepotong jubah hitamnya! Ada pun orang kedua adalah Siok Tek Tojin yang bersekongkol dengan penjahat jubah hitam itu.”

Terdengar seruan kaget di antara orang-orang yang berdiri dekat Kiam Ki Sianjin. Siok Tek Tojin melompat maju dengan golok di tangan.

“Jahanam kau! Kau berani membawa-bawa nama pinto dengan obrolan kosong itu?”

Tanpa menanti apa-apa lagi Siok Tek Tojin menusukkan goloknya ke arah dada Kwan Cu. Tusukan ini cepat sekali dan kuat. Akan tetapi Kwan Cu tidak mengelak mau pun menangkis, hanya memandang dengan mulut tersenyum bodoh.

Semua orang di fihak Pak-lo-sian terkejut, bahkan Sui Ceng mengeluarkan jerit tertahan karena disangkanya bahwa pemuda muka merah yang membantu fihaknya itu pasti akan terkena tusukan. Jangankan Sui Ceng, bahkan Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li sendiri menyangka bahwa pemuda aneh itu tentu akan tertusuk golok.

Siok Tek Tojin sudah gembira sekali. Apa lagi melihat pemuda itu menoleh kepada Sui Ceng sambil berbareng mengeluarkan kata didahului dengan bentakan,

“Aha! Nona, kau baik sekali mengkhawatirkan keselamatanku!”

Kalau dibicarakan memang sungguh aneh sekali dan semua orang yang berada di situ tentu tidak akan percaya kalau tidak melihat dengan mata mereka sendiri. Pemuda itu tidak mengelak, bahkan kini kepalanya menengok ke belakang dan dadanya terbentang tanpa perlindungan menerima tusukan golok.

Yok-ong makin membelalakkan matanya dan menahan napas. Akan tetapi, setelah ujung golok dekat dengan dada Kwan Cu, tiba-tiba berbareng dengan bentakan.

“Aha!” tadi, dan golok itu lalu menyeleweng ke pinggir seolah-olah terdorong oleh tenaga tidak kelihatan yang menyampoknya dari samping!

Siok Tek Tojin merasa heran bukan main dan dia juga penasaran. Apakah dia diserang penyakit demam sehingga tangannya lemah dan menggigil? Sekarang dia menyerang lagi, bukan menusuk, bahkan membacokkan goloknya yang menyeleweng tadi ke arah leher Kwan Cu.

You may also like...