Pendekar Sakti Jilid 36

LUI KONG NIKOUW mengeluarkan, suara jengekan. “Huhh, siapa percaya mulut laki-laki? Mengganggu atau tidak, kau sudah mengalahkan muridku yang berarti penghinaan besar bagi nama Thian-san-pai, maka sekarang pinni sengaja menunggumu di sini untuk minta pengajaran darimu.”

“Nanti dulu, Lui Kong Nikouw!” kata Bu Kek Sian, “Pertandinganmu melawan Lu-taihiap mempunyai dasar permusuhan, maka harus dilakukan nanti sesudah aku mencoba dulu kepandaiannya. Jauh-jauh aku datang dari Go-bi karena tertarik mendengar kegagahan Lu-taihiap, maka biarlah aku yang hendak minta petunjuk lebih dulu.”

“Betul! Demikian pula pinceng, karena murid Siauw-lim-pai tidak akan dapat melewatkan kesempatan bagus menerima petunjuk dari orang pandai!” menyambung Kong Seng Kak Hwesio.

Sambil tersenyum Kwan Cu menoleh kepada Lai Siang Pok dan berkata, “Dan Lai-enghiong ini tentunya hendak membalaskan kematian gurunya, bukan?”

Dengan muka kemalu-maluan pemuda itu menjawab. “Sudah menjadi kewajiban seorang murid untuk berusaha membalas pembunuh gurunya. Akan tetapi karena kepandaianku sangat terbatas, biarlah siauwte minta pengajaran paling akhir saja.”

Bu Kek Sian si kakek kecil bongkok tertawa terkekeh-kekeh dan melompat maju. Tangan kanannya telah mengeluarkan sebuah rantai baja yang panjang, lebih panjang dari pada tinggi tubuhnya.

“Lu-taihiap, harap kau tidak terlalu pelit untuk menunjukkan beberapa jurus ilmu silatmu yang lihai agar lebih terbuka mataku yang sudah agak lamur,” sambil tertawa-tawa kakek bongkok itu berkata.

Walau pun dia kelihatan lucu dan bicara merendah, akan tetapi di dalam kata-katanya itu terkandung nada yang sombong. Melihat gerak-gerik orang ini, Kwan Cu merasa bahwa Sui Ceng saja akan dapat menandinginya.

Semua orang ini tidak memandang mata kepada Sui Ceng, kecuali Lai Siang Pok, maka diam-diam Kwan Cu merasa tidak puas. Melihat diri sendiri dipuji-puji dan orang-orang itu mengesampingkan Sui Ceng, dia merasa bahwa hal ini amat merendahkan derajat gadis itu. Sambil tersenyum, dia melirik ke arah Sui Ceng dan berkata,

“Sui Ceng, Lo-enghiong dari Go-bi ini pandai menggunakan sabuknya dan melihat sabuk yang hebat ini hatiku sudah gentar sekali. Kau pernah mempelajari ilmu mainkan sabuk, sukakah kau sedikit mengeluarkan tenaga membagi tugas yang berat menghadapi para orang gagah ini?”

Kwan Cu sengaja hendak memberi kesempatan kepada Sui Ceng untuk memperlihatkan kepandaiannya menghadapi orang sombong ini, karena memang rantai panjang itu tadi dilibatkan di pinggangnya seperti sabuk.

Sui Ceng mengerti kehendak Kwan Cu. Memang nona ini sudah merasa dongkol sekali. Ia diperkenalkan sebagai murid Kiu-bwe Coa-li, akan tetapi orang-orang itu kecuali Siang Pok, tidak mempedulikannya. Bukankah itu sama halnya dengan tidak memandang mata kepada gurunya?

Sebenarnya bukan demikian. Orang-orang ini tentu saja sudah mendengar nama besar Kiu-bwe Coa-li sebagai tokoh yang mempunyai kepandaian mengagumkan. Akan tetapi kejadian di puncak Tai-hang-san itu telah terdengar oleh mereka dan mereka tahu bahwa Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian sudah kalah oleh fihak Kiam Ki Sianjin, maka mereka tak begitu menaruh perhatian lagi.

“Kalau saja tokoh besar yang perkasa dari Go-bi-pai ini tidak menganggap terlalu rendah untuk menghadapiku, tentu saja aku mau mewakili kau,” jawab Sui Ceng.

Kwan Cu menghadapi Bu Kek Sian dan berkata, “Bu Kek Sian Lo-enghiong. Pihak yang hendak mengujiku ada empat orang dan kalau aku hanya maju seorang diri, itu tidak adil namanya. Juga kurang memandang mata kepada nona ini sebagai murid Kiu-bwe Coa-li. Hanya yang meragukan hatiku, apakah ada yang berani menghadapi murid dari Kiu-bwe Coa-li?”

Bu Kek Sian terkekeh. “Siapakah yang belum mendengar nama besar Kiu-bwe Coa-li? Tentu saja aku tidak berani memandang rendah, akan tetapi setelah aku melayani nona ini beberapa jurus, aku masih mengharapkan sedikit petunjuk darimu.”

Kata-kata ini saja telah menunjukkan kesombongan Bu Kek Sian, sebab dengan ucapan ini seakan-akan dia mau menyatakan bahwa dalam beberapa jurus saja dia pasti akan dapat mengalahkan nona muda ini. Kalau dia menganggap bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan dan sebaliknya dia yang akan kalah, tentu saja orang yang sudah kalah tidak berani maju lagi!

Sui Ceng menjadi panas perutnya. Tangannya bergerak cepat dan tahu-tahu sinar merah berkelebat pada waktu dia sudah meloloskan ang-kin (sabuk merah) yang melibat pada pinggangnya.

“Bu Kek Sian Lo-sicu, marilah kita mengadu senjata,” tantangnya.

Bu Kek Sian terkejut dan heran sekali. Benar-benarkah nona ini akan menghadapi rantai bajanya dengan sehelai sabuk sutera? Akan tetapi dia pun bukanlah seorang yang tidak dapat mempergunakan pikirannya. Kalau seorang lawan sudah berani berlaku demikian berani, tentulah lawan itu memiliki kepandaian yang tinggi. Pula, nona ini menggunakan sabuk sutera atas kehendaknya sendiri, maka sangat kebetulan sehingga dia tidak usah terlalu banyak mengeluarkan tenaga.

“Baiklah, kau sambut seranganku, Nona!”

Bu Kek Sian lalu menggerakkan tangannya. Rantai baja itu meluncur dengan lengkungan lebar menyerang kepala Sui Ceng. Gadis ini merendahkan tubuhnya kemudian mengelak ke kiri karena ia tahu bahwa setelah luput menghantam kepala, rantai yang panjang itu ujungnya masih akan menghantam tubuh bagian lain.

Benar saja dugaannya. Ujung rantai itu melayang lantas dari pinggir menotok ke arah iganya. Sambil mengelak cepat, sabuk merah meluncur bagaikan ular merah yang hidup, gerakannya tak terduga dan berlenggang-lenggong, cepat menotok ke arah leher tokoh Go-bi-pai itu.

Bu Kek Sian kagum melihat gerakan nona yang cepat ini. Ia segera menyendal rantainya sehingga ujung rantai yang tak berhasil menotok iga, tiba-tiba tertarik kembali dan cepat menyambar ke arah sabuk merah. Bu Kek Sian sengaja mengerahkan tenaganya agar supaya sabuk merah itu akan terbetot putus oleh rantai bajanya.

Akan tetapi, sabuk merah itu bergerak memecut dan terdengarlah suara geletar dua kali seperti bunyi cambuk seorang penggembala sapi. Kemudian ujung sabuk merah yang terbentur rantai itu melayang kembali dan dengan lengkungan yang amat manis, ujung sabuk ini menotok ke arah jalan darah Im-yang-hiat yang berada di ulu hati kakek ini.

Bu Kek Sian mengeluarkan seruan kaget dan dia cepat melempar dirinya ke belakang. Bukan main hebatnya serangan itu dan alangkah ganasnya! Baru menggunakan sehelai sabuk saja, gadis ini sudah sedemikian lihainya, apa lagi gurunya, Kiu-bwe Coa-li yang mempergunakan pecut dengan sembilan ekornya! Bu Kek Sian menjadi hati-hati sekali dan kini dia memutar rantainya cepat sekali untuk mendesak Sui Ceng.

Akan tetapi, Sui Ceng merupakan murid terkasih dari Kiu-bwe Coa-li, tentu saja dalam hal kesaktian ia telah mewarisi kepandaian gurunya. Karena itu, dengan mudah ia dapat mengimbangi gerakan senjata lawan, bahkan ia kini bergerak demikian cepatnya hingga tubuhnya lenyap dan yang kelihatan hanyalah bayangannya saja yang didahului dengan berkelebatnya sinar merah dari sabuk suteranya.

Beberapa jurus kemudian, terdengar suara rantai terlepas di atas tanah dan Bu Kek Sian melompat mundur dengan muka pucat. Sambungan sikunya telah terkena totokan ujung sabuk yang menyebabkan tangannya lumpuh dan rantainya terlepas.

Kakek ini memandang kepada Sui Ceng dengan mata terbuka lebar-lebar, kemudian dia menepuk kepalanya sendiri sambil mengomel,

“Aku Bu Kek Sian sungguh manusia tidak berguna! Bagaimana masih berani menantang Lu-taihiap? Bagaimana mataku buta tidak melihat bahwa murid Kiu-bwe Coa-li demikian hebatnya?”

Melihat kekalahan Bu Kek Sian oleh nona muda yang cantik itu, Kong Seng Kak Hwesio kagum sekali. Dia melompat maju dengan tangan memegang sebatang toya hitam dan berkata gembira,

“Benar-benar menyenangkan sekali hari ini pinceng bertemu dengan orang-orang muda yang lihai. Bagus, bagus, biar pinceng menerima beberapa jurus untuk menambah bekal membasmi iblis penjajah!”

Melihat gerakan hwesio Siauw-lim-pai ini, Kwan Cu dapat menduga bahwa tentu hwesio ini berkepandaian tinggi dan tenaganya amat besar. Selain ini, juga seorang patriot yang gagah perkasa. Oleh karena itu, dia segera maju sendiri, khawatir kalau-kalau Sui Ceng kesalahan tangan melukai hwesio kosen ini.

“Losuhu, biarlah boanpwe yang menerima kehormatan ini,” katanya dan memberi tanda dengan mata agar Sui Ceng mundur.

Gadis ini pun tidak ada nafsu lagi untuk bertempur, karena demikianlah watak Sui Ceng yakni ia akan makin bersemangat kalau menghadapi lawan-lawan yang tangguh, namun sebaliknya, kepandaian Bu Kek Sian dianggapnya masih belum cukup tinggi sehingga ia pun memandang rendah hwesio muka hitam ini.

Kong Seng Kak Hwesio berseri wajahnya. “Bu Kek Sian Bengyu tak punya peruntungan baik, berbeda dengan pinceng yang kini mendapat kesempatan belajar satu dua jurus ilmu silat dari Lu-taihiap.” Sambil berkata demikian, toyanya diputar di atas kepalanya bagaikan kitiran cepatnya, akan tetapi hwesio ini tidak segera menyerang.

“Mulailah, Losuhu,” kata Kwan Cu.

Sebaliknya dari menyerang, hwesio muka hitam itu bahkan menurunkan kembali toyanya dan menggeleng-geleng kepalanya. “Taihiap harap segera mengeluarkan senjata.”

Kwan Cu semakin kagum melihat hwesio ini. Sudah terang hwesio ini sudah mendengar akan sepak terjangnya di Tai-hang-san dan juga tahu bahwa dia telah mengalahkan para tokoh besar, akan tetapi hwesio ini masih merasa tidak adil kalau menghadapi dia yang bertangan kosong. Timbul rasa sukanya dan dia mendapat kenyataan bahwa memang jago-jago Siauw-lim-pai adalah orang-orang yang gagah.

“Kita hanya hendak mencoba tenaga, berbahaya sekali apa bila bertanding mengunakan senjata. Apakah tidak lebih baik jika kita menguji tenaga dengan saling mendorong atau membetot toya itu? Masing-masing boleh berusaha dengan cara bagaimana pun juga, boleh menonjok atau memukul, pendeknya siapa yang melepaskan toya atau roboh, dia terhitung kalah.”

Kong Seng Kak Hwesio merasa girang sekali. Memang dia agak jeri menghadapi ilmu silat pemuda ini yang dikabarkan sangat lihai dan aneh, akan tetapi dalam hal tenaga gwakang mau pun lweekang, dia sudah terkenal sekali. Masa dia akan dikalahkan oleh pemuda yang kelihatannya tidak bertenaga besar itu?

Usul yang diajukan oleh pemuda itu menguntungkan dirinya dan kalau dia bisa menang, mski pun dalam cara adu tenaga yang sederhana, bukankah namanya akan terangkat tinggi sekali karena dapat mengalahkan Lu-taihiap yang demikian tersohornya? Dengan cepat dia segera menerima usul ini.

Kwan Cu memegang tongkat yang diangsurkan kepadanya. Kedua orang itu memegang ujung toya dan memasang kuda-kuda.

“Lu-taihiap, bersiaplah, pinceng mulai!” seru Kong Seng Kak Hwesio.

Dia segera mengerahkan tenaganya dan tiba-tiba mendorong toya yang dipegangnya itu dengan tenaga sepenuhnya. Kwan Cu merasa betapa tenaga hwesio ini memang hebat sekali dan tahu pula bahwa Kong Seng Kak Hwesio mempergunakan tenaga gwakang, maka dia lalu menahan dorongan itu dengan pengerahan tenaga lemas sehingga hwesio Siauw-lim-pai itu merasa seluruh lengannya gemetar.

Tiba-tiba Kong Seng Kak Hwesio melakukan gerakan membetot secara mendadak dan disentakkan untuk mencabut toya agar terlepas dari tangan Kwan Cu, atau jika pemuda itu berusaha menahan, agar tubuh Kwan Cu terbawa ke depan. Akan tetapi kembali dia kecelik karena sedikit pun pemuda itu tidak bergeming.

Ia tak menyangka bahwa hanya dengan melihat pundaknya saja, Kwan Cu sudah dapat mengetahui terlebih dulu gerakan apa yang hendak dia lakukan, maka pemuda itu dapat berjaga-jaga lebih dulu.

Mendadak hwesio itu mengeluarkan seruan keras sekali dan tubuhnya merendah. Lalu, dengan pengerahan tenaga luar biasa dia mendorong toya ke atas untuk mengangkat tubuh Kwan Cu atau untuk memaksa pemuda itu melepaskan toya.

Kwan Cu terkejut sekali. Tidak disangkanya bahwa tenaga gwakang dari lawannya ini benar-benar besar sekali. Ketika dia melirik ke arah wajah hwesio itu, tahulah dia bahwa apa bila dia melawan dengan lweekang, maka tak dapat tidak tenaga gwakang itu akan memukul kembali dan dapat mendatangkan luka pada Kong Seng Kak Hwesio.

Oleh karena itu, Kwan Cu mengambil jalan lain. Dia menyimpan tenaganya dan ketika lawannya menyontekkan toya ke atas, dia menurut saja sehingga tubuhnya terbawa ke atas! Akan tetapi, biar pun begitu, Kwan Cu masih memegangi ujung toya dan keadaan tubuhnya masih tetap dalam kuda-kuda seperti tadi.

Tidak hanya Kong Seng Kak Hwesio, juga yang lain-lain merasa kagum sekali. Hwesio itu menggerak-gerakkan toyanya dengan tenaga besar, mengobat-abitkan toya dengan maksud agar pegangan Kwan Cu terlepas, tetapi sia-sia belaka. Agaknya tubuh pemuda itu sudah menjadi satu dengan toya yang dipegangnya.

Tiba-tiba saja Kwan Cu berseru nyaring dan kedua kakinya bergerak di udara, tubuhnya melengkung dan dengan sekali menggenjotkan kaki, dia melompat dengan toya masih dipegangnya.

Kong Seng Kak Hwesio merasa betapa tenaga betotan itu luar biasa sekali. Akan tetapi dia mengerahkan tenaga dan memegangi ujung toya seeratnya. Oleh karena ini toya yang dipegangnya itu terputar dan tubuhnya ikut terputar-putar.

Kwan Cu bergerak terus. Dia mengerahkan tenaga dan ginkang-nya sehingga bagaikan seekor burung yang kakinya diikat tali yang dipegang oleh Kong Seng Kak Hwesio, dia ‘terbang’ mengelilingi hwesio itu.

Sesudah beberapa belas kali putaran, akhimya Kong Seng Kak Hwesio tidak kuat lagi menahan. Dia terpaksa melepaskan pegangan toyanya dan meramkan mata mengatur napas untuk bisa melenyapkan rasa pening di kepalanya. Kemudian dia memberi hormat kepada Kwan Cu sambil menerima kembali toyanya.

“Aduh, nama besar Lu-taihiap bukan omong kosong belaka. Pinceng mengaku kalah.”

Melihat betapa dua orang kakek itu sudah dikalahkan oleh Kwan Cu dan Sui Ceng dalam pertandingan persahabatan dan mendengar pemuda itu dipuji-puji, Lui Kong Nikouw lalu melompat ke depan Kwan Cu. Sepasang pedang yang berkilauan telah berada di kedua tangannya.

“Lu Kwan Cu, mendengar pujian-pujian itu kau menjadi makin sombong dan kepala besar saja. Marilah kau bersiap menghadapi pinni untuk menebus dosa dan kekurang ajaranmu terhadap muridku.”

“Suthai, aku tidak hendak mencari permusuhan.”

“Jadi kau bersedia minta maaf dan berjanji tak akan mengganggu muridku lagi?”

“Terhadap muridmu itu aku tidak akan mengganggu seujung rambutnya. Akan tetapi An Kai Seng suaminya adalah musuh besarku dan harus kubunuh!”

“Kau berjanji tidak akan mengganggu muridku, akan tetapi mau membunuh suaminya? Bagus! Omongan apa ini? Hayo kau keluarkan senjata!”

Walau pun berkata demikian, namun tanpa menanti orang mencabut senjata, Lui Kong Nikouw sudah menggerakkan pedangnya menyerang. Sepasang pedang itu menyerang berbareng dengan gerakan indah dan cepat dari Ilmu Pedang Thian-san Kiam-hoat, tidak memberi kesempatan pada lawan untuk melepaskan diri karena segera pedang-pedang itu mengurung dengan gulungan sinarnya yang berkilauan.

Diam-diam Sui Ceng sangat kagum melihat keindahan ilmu siang-kiam-hoat ini. Sebagai seorang wanita yang suka akan segala sesuatu yang indah, dia segera memperhatikan secara diam-diam dan ingin memetik beberapa bagian yang terindah. Akan tetapi, ia pun merasa bahwa ia sendiri sanggup menghadapi nikouw itu.

Sebaliknya, Kwan Cu tetap tidak mau mencabut senjata dan hanya melayani nikouw itu dengan kedua tangan kosong. la mengandalkan ginkang-nya untuk mengelak ke sana ke mari dan bahkan ikut berputaran mengimbangi gerakan dua pedang yang amat cepat itu. Sampai puluhan jurus kedua batang pedang itu belum mampu menyenggol badan Kwan Cu, bahkan sekarang pemuda itu mulai menggunakan Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na untuk mencoba merampas pedang lawan.

Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na memang lihai sekali dan juga belum pernah muncul di dunia kang-ouw, maka ilmu ini sama sekali tidak dikenal oleh Lui Kong Nikouw. Hanya dalam beberapa gebrakan saja, pedang di tangan kirinya sudah kena dirampas oleh Kwan Cu.

Nikouw itu hanya merasa jari tangan kirinya menggigil dan tahu-tahu pedangnya lenyap berpindah ke tangan Kwan Cu. la terkejut bukan main dan cepat berseru, “Suheng, mengapa kau tidak lekas-lekas membantuku? Marilah kita membalas sakit hati suhu!”

Kwan Cu merasa terheran-heran karena semenjak tadi dia tidak pernah melihat suheng (kakak seperguruan) dari nikouw ini. Keheranannya bertambah ketika tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan sebatang tongkat yang aneh gerakannya sudah menyerangnya dari samping.

Ketika dia menengok, ternyata olehnya bahwa yang menyerangnya dengan sebatang tongkat itu bukan lain adalah pemuda bemama Lai Siang Pok tadi. Kalau saja dia tidak sedang diancam oleh tongkat dan pedang kanan nikouw, tentu Kwan Cu akan berdiri bagaikan patung saking herannya. Bagaimana seorang pemuda yang baru berusia dua puluhan tahun disebut kakak seperguruan oleh nikouw tua ini?

Akan tetapi kenyataannya memang demikian. Seperti diketahui, Lai Siang Pok adalah murid dari Hek-i Hui-mo dan pemuda ini dapat mewarisi ilmu tongkat yang tinggi dari Hek-i Hui-mo karena dia pun ikut menghafal bunyi isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu. Kemudian gurunya itu bertemu dengan Lui Kong Nikouw dan diam-diam di antara dua orang pendeta tua ini terdapat hubungan yang tidak bersih.

Untuk menutupi rahasia ini, Lui Kong Nikouw yang menjadi seorang tokoh Thian-san-pai yang tersesat dan tidak diakui oleh partai Thian-san lagi, diaku murid oleh Hek-i Hui-mo. Karena sebagai murid baru, tentu saja menurut peraturan dia harus menyebut suheng kepada Siang Pok.

Hal ini pun dilakukan oleh Lui Kong Nikouw dengan girang, karena dia bekas wanita genit sekali. Tentu saja dia merasa senang menyebut seorang pemuda ganteng sebagai kakak seperguruannya, walau pun pemuda itu lebih patut menjadi cucunya! Akan tetapi dasar kepandaian Lui Kong Nikouw adalah dasar ilmu silat Thian-san-pai, sedangkan dari Hek-i Hui-mo ia hanya menerima beberapa macam ilmu pukulan saja.

Lai Siang Pok adalah seorang pemuda pendiam, maka dia melakukan serangan tanpa mengeluarkan sepatah pun kata. Akan tetapi pada waktu Kwan Cu menangkis sambaran tongkat itu dengan pedang rampasannya, pemuda ini diam-diam kagum karena tenaga Siang Pok bahkan lebih besar dari pada tenaga nikouw itu.

Hal ini adalah karena Siang Pok melatih diri dengan lweekang menurut petunjuk Im-yang Bu-tek Cin-keng yang pernah didengarnya dari pujangga Tu Fu. Namun, kalau suhu-nya sendiri tidak kuat melawan Kwan Cu, apa lagi dia?

Sebentar saja, ketika Kwan Cu mengerahkan tenaga dan membabat dengan pedangnya, tongkat di tangan Siang Pok patah menjadi dua dan pedang di tangan Lui Kong Nikouw terbang entah ke mana! Dua murid Hek-i Hui-mo ini menjadi pucat dan memandang dengan tercengang.

“Lu-taihiap benar-benar tangguh. Sedikitnya siauwte harus belajar dua puluh tahun lagi baru berani mengukur tenaga kembali,” kata Siang Pok sambil menjura kepada Kwan Cu, lalu dia melompat dan pergi tanpa pamit kepada Lui Kong Nikouw.

Pemuda ini memang tidak suka kepada nikouw itu karena dia sudah dapat mengetahui hubungan antara suhu-nya dan ‘sumoi’ ini. Selain itu, juga Siang Pok tidak suka kepada suhu-nya yang dianggap jahat dan membantu penjajah. Bahkan diam-diam pemuda ini membantu perjuangan rakyat dan sebagai seorang pemuda Han bekas murid pujangga Tu Fu, darah patriot masih mengalir di tubuhnya. Kelak pemuda ini akan menjadi seorang yang berilmu tinggi dan mendapat nama besar di dunia kang-ouw.

Lui Kong Nikouw juga tidak berkata apa-apa apa lagi. Dengan muka merah dia segera menggerakkan kedua kakinya, pergi dari situ tanpa pamit.

Terdengar tertawa terbahak-bahak dan yang tertawa adalah Kong Seng Kak Hwesio. “Ha-ha-ha! Memang benar, gurunya naga muridnya tentulah naga pula. Ang-bin Sin-kai adalah seorang perkasa yang berjiwa gagah, muridnya pun demikian. Lu-taihiap, sebagai seorang pemuda yang memiliki ilmu tinggi, mengapa kau tidak mau lekas-lekas turun tangan membantu perjuangan rakyat mengusir penjajah?”

Kwan Cu menjura. “Aku yang muda dan bodoh, meski pun tidak secara terang-terangan membantu perjuangan, akan tetapi sesungguhnya aku masih harus melakukan tugasku membalas dendam atas kematian suhu dan kongkong Lu Pin. Losuhu, kau yang sering kali berada dalam peperangan, pernahkah kau mendengar nama Ngo Lian Suthai ketua dari kuil Kwan-im-bio?”

“Ahh, dia? Benar-benar dia seorang wanita gagah perkasa yang berjiwa suci. Dia dan muridnya berada di tempat pertempuran tidak jauh dari sini, setiap hari dia dan muridnya mengurus dan merawat para pejuang yang terluka.”

“Losuhu, di manakah tempat itu?” Sui Ceng ikut bertanya dengan penuh keinginan tahu.

“Di sebuah bio tua di dusun Kiang-cee sebelah barat hutan ini. Semua pejuang mengenal tempat itu baik-baik, dan setiap orang yang terluka dalam pertempuran melawan barisan kerajaan, selalu diantarkan ke tempat itu untuk dirawat.”

Mendengar ini, Sui Ceng kemudian berkata kepada Kwan Cu, “Mari kita cepat pergi ke Kiang-cee!”

“Baik,” jawab Kwan Cu.

Keduanya segera memberi hormat kepada dua orang tua yang gagah itu, lantas cepat berlari menuju ke barat. Dua orang tua dari Go-bi-pai dan Siauw-lim-pai itu memandang penuh kekaguman.


Dusun Kiang-cee sudah bukan merupakan dusun lagi karena semua penghuninya sudah pindah, meninggalkan dusun yang menjadi kosong dan sunyi. Hal ini disebabkan karena dusun itu termasuk daerah pertempuran antara para pejuang dan tentara kaisar, maka penduduk menjadi ketakutan dan lari mengungsi.

Banyak pula di antara penduduk laki-laki yang masih muda menggabungkan diri dengan para pejuang rakyat yang sebagian besar terdiri dari kaum petani yang dipimpin oleh orang-orang gagah di dunia kang-ouw yang berjiwa patriot. Dusun itu dijadikan markas kalau malam dan kalau siang menjadi kosong karena semua penghuninya maju perang. Setelah kedatangan Ngo Lian Suthai dan muridnya yang tidak lain adalah Gouw Kui Lan, sebuah kuil kuno yang besar lalu dijadikan semacam ‘hospital’.

Semenjak tinggal di kuil Ngo Lian Suthai, Kui Lan mendapat banyak petuah dan akhimya dia membuka semua rahasianya kepada wanita suci itu. Ngo Lian Suthai menghibumya dan menyatakan bahwa dosa itu hanya dapat ditebus dan dicuci dengan jalan melakukan perbuatan-perbuatan baik lahir batin sebanyak mungkin. Maka dengan suka rela Kui Lan kemudian menjadi muridnya dan turut membantu perjuangan dengan jalan merawat para pejuang yang terluka dalam peperangan.

Pada hari itu di dalam dusun kedatangan dua orang pemuda yang datang dari jurusan yang berbeda. Pemuda pertama adalah The Kun Beng. Setelah mendengar bahwa Kui Lan berada di situ, orang muda ini langsung menuju ke kuil. la merasa amat menyesal akan semua perbuatannya dan ingin minta ampun kepada Kui Lan.

Akan tetapi karena seluruh cinta kasihnya sudah dicurahkan kepada Sui Ceng, sesudah mendapat pengampunan dia akan pergi lagi bertapa. Dia tahu bahwa tidak mungkin dia menjadi suami Sui Ceng setelah rahasianya terbongkar dan dia tidak mau pula menjadi suami Kui Lan karena memang dia tidak mencinta gadis ini.

Kebetulan sekali, baru saja dia tiba di depan kuil, dari lain jurusan datang Gouw Swi Kiat, suheng-nya!

“Bagus, Kun Beng, kau datang menebus dosa! Lekas-lekas kita menemui Lan-moi dan pernikahan akan dapat dilakukan di sini juga,” kata Swi Kiat girang. Hati kakak ini tak lain hanyalah ingin menolong keadaan adiknya yang namanya tentu akan rusak apa bila tidak menjadi isteri Kun Beng.

“Bukan itu maksud kedatanganku, Suheng. Aku memang sengaja datang untuk mohon ampun dari adikmu, akan tetapi aku tak akan menikah dengan siapa pun juga.”

Tentu saja Swi Kiat menjadi marah sekali, mukanya merah dan alisnya berdiri.

“Orang she The!” bentaknya menudingkan telunjuknya. “Apakah sampai saat ini, setelah rahasiamu diketahui oleh suhu, kau masih membandel dan tak berani mempertanggung jawabkan perbuatanmu? Kau harus mengawini adikku, apa bila tidak, terpaksa aku akan mengadu nyawa denganmu untuk menebus hinaanmu!” Dengan sangat marah Swi Kiat mencabut keluar senjatanya, yakni sepasang kipas maut yang amat lihai.

Walau pun menghadapi ancaman ini, Kun Beng sudah bulat hatinya. la menghela napas dan menjawab,

“Meski pun kau akan membunuhku, aku tak dapat memilih jalan lain, suheng. Kalau aku memaksa diri dan mengawini adikmu, aku hanya akan membikin dia menderita selama hidupnya, karena terus terang saja, aku tidak mencinta adikmu. Dahulu perbuatan kami dilakukan karena kami sudah mata gelap dan terdorong oleh nafsu jahat.”

“Keparat, jadi kau mencinta Sui Ceng?”

Pada saat pertanyaan ini diajukan, datanglah Kwan Cu dan Sui Ceng, akan tetapi Kwan Cu cepat menarik tangan Sui Ceng, diajak bersembunyi di belakang tembok kuil sambil mengintai dan mendengarkan. Hati Sui Ceng berdebar ketika mendengar percakapan yang menyangkut namanya itu.

“Benar, Suheng. Aku mencinta Sui Ceng.”

“Jahanam!”

“Mungkin aku memang jahanam, Suheng. Akan tetapi itulah suara hatiku dan aku tidak bisa melakukan sesuatu di luar suara hatiku.”

“Pengecut besar, anjing tak kenal budi, kalau begitu biarlah kita mengadu nyawa di sini!” bentak Swi Kiat yang cepat menggerakkan sepasang kipasnya dan menyerang dengan hebat.

Kun Beng tentu saja sudah tahu benar akan kelihaian suheng-nya dan akan bahayanya sepasang kipas maut itu, maka sambil melompat mundur dia pun mencabut tombaknya.

Memang Pak-lo-sian Siangkoan Hai mempunyai dua macam keahlian yang membuat namanya terkenal sekali di kalangan kang-ouw, yakni permainan sepasang kipas maut dan permainan tombak. Sesuai dengan bakat masing-masing, kakek ini menurunkan pelajaran ilmu tombak kepada Kun Beng dan ilmu kipas kepada Swi Kiat. Akan tetapi tentu saja walau pun sudah mempunyai keahlian masing-masing, kedua orang muda itu mengenal baik ilmu senjata yang dua macam itu.

Pertandingan antara kakak beradik seperguruan ini berjalan hebat luar biasa, akan tetapi masih berat sebelah. Swi Kiat menyerang secara nekat dan dengan kemarahan yang meluap-luap. Hatinya terasa sakit sekali melihat Kun Beng yang sudah merusak nama baik adiknya dan kini tidak mau bertanggung jawab untuk membersihkan nama adiknya. Tujuannya hanya satu, membunuh atau terbunuh.

Sebaliknya, Kun Beng telah merasa akan kesalahan dan dosanya sehingga hatinya amat bersedih. Oleh karena itu tidak mengherankan apa bila permainan tombaknya tak selihai biasanya, bahkan boleh dibilang agak kalut. la selalu berada di fihak yang terserang dan segera terdesak hebat.

Saat yang membuka kesempatan baik bagi Swi Kiat tidak disia-siakan dan kipas tangan kirinya telah menotok pundak Kun Beng. Baiknya pemuda ini cepat mengelak sehingga hanya tulang pundaknya saja yang putus, karena apa bila mengenai urat nadi, pasti dia akan langsung tewas.

Semenjak tadi Sui Ceng memandang pertempuran itu dengan muka pucat. Dia terharu mendengar bahwa Kun Beng amat mencintanya, cocok dengan perasaan hatinya sendiri, akan tetapi dia pun penasaran menyaksikan sifat pengecut dari bekas tunangannya itu.

Ketika pertempuran terjadi, dia hanya memandang saja. Akan tetapi melihat Kun Beng terluka, hatinya tidak tega. Betapa pun juga harus ia akui bahwa ia mencinta pemuda ini dan tanpa dapat dipertahankan lagi, pada saat melihat Kun Beng terdesak hebat, ia lalu melompat dan pedangnya sudah menangkis kipas Swi Kiat.

Pemuda ini tertegun, akan tetapi melihat bahwa yang datang adalah Sui Ceng, marahnya makin menjadi. Wanita inilah yang menjadi gara-gara sehingga Kun Beng menolak untuk mengawini adiknya. Tanpa banyak cakap lagi dia segera menyerang Sui Ceng dengan pukulan-pukulan maut dari sepasang kipasnya.

Akan tetapi sekarang dia menghadapi lawan yang amat tangguh, karena seperti juga dia, Sui Ceng amat marah dan melawan dengan sama hebatnya, tidak seperti Kun Beng tadi yang banyak mengalah.

Diam-diam Kwan Cu amat kagum melihat ilmu kipas yang dimainkan oleh Swi Kiat. Dari gerakannya, tahulah Kwan Cu bahwa sepasang kipas itu digunakan dengan dua tenaga yang berlawanan. Kipas kiri lemas dan halus gerakannya, mengandung tenaga Im yang mengandalkan lweekang tinggi, sedangkan kipas kanan kasar dan ganas, penuh tenaga Yang.

Perbedaan yang bertentangan inilah yang biasanya menyukarkan lawan, seakan-akan lawan menghadapi dua orang lawan yang berbeda kepandaian dan tenaganya. Pantas saja bahwa ilmu kipas ini disebut Im-yang Po-san dan kehebatannya tak ada keduanya dalam ilmu silat kipas pada masa itu.

Akan tetapi Sui Ceng bukanlah lawan yang empuk. Gadis ini adalah murid terkasih dari Kiu-bwe Coa-li dan ilmu pedangnya hebat serta ganas. Apa lagi kini Sui Ceng juga sudah mengeluarkan sabuk merahnya sehingga dengan sepasang senjatanya ini, ia dapat pula mengimbangi senjata lawan. Sabuknya merupakan senjata yang lemas akan tetapi dapat pula dipergunakan untuk menotok jalan darah sehingga amat tepat untuk dipergunakan menghadapi senjata kipas di tangan Swi Kiat. Maka pertempuran yang terjadi sekarang lebih seru dari pada tadi.

Kwan Cu menjadi bingung dan juga berduka sekali. Pada saat dia mendapat kenyataan betapa Sui Ceng mencinta Kun Beng sehingga kini melupakan sakit hati dan masih mau membantu ketika melihat Kun Beng terancam bahaya, dia merasa sedih sekali. Apa lagi ketika dia mendengar bahwa Kun Beng tidak mau menikah dengan Kui Lan yang berarti Sui Ceng juga tidak akan menikah selamanya, hatinya langsung tertindih perasaan duka dan kecewa yang hebat. Maka kini bingunglah dia.

Melihat Swi Kiat, dia amat kasihan dan kalau saja Swi Kiat tadi membunuh Kun Beng, tentu Kwan Cu takkan mau peduli. Sekarang dia melihat Swi Kiat bertempur mati-matian dengan Sui Ceng, bagaimana dia harus bertindak? Menghentikan pertempuran dengan Sui Ceng, pemuda ini tentu berkukuh hendak membunuh Kun Beng, dan Sui Ceng pasti akan melindungi Kun Beng dengan mati-matian. Apa akalnya?

Sebelum Kwan Cu yang kebingungan karena melihat pertempuran makin menghebat itu dapat mengambil keputusan, tiba-tiba berkelebat sosok bayangan dan terdengar seruan Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

“Berhenti, tahan senjata!”

Mendengar suara suhu-nya ini, Swi Kiat cepat-cepat melompat ke belakang dan segera menjatuhkan diri berlutut.

“Suhu…!”

Sui Ceng juga menahan senjatanya, tanpa menghormat namun berdiri tegak. Sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi-api dan ia sama sekali tidak merasa takut biar pun menghadapi kakek yang luar biasa itu.

“Swi Kiat, apa artinya ini? Mengapa kau bertempur melawan Bun-siocia murid Kiu-bwe Coa-li?” tanya kakek itu sambil menyapu keadaan di situ dengan matanya. Melihat Kun Beng berada di situ dan terluka pundaknya, dia makin tidak mengerti.

“Suhu, teecu bertemu dengan Sute di sini lantas teecu minta pertanggungan jawabnya terhadap Lan-moi. Ketika Sute menolak, teecu berdua lalu bertempur mati-matian.”

“Bagus, manusia macam Kun Beng memang harus dibikin mampus,” kata Pak-lo-sian, akan tetapi dalam suaranya terdengar nada sedih.

“Teecu berhasil melukainya, akan tetapi tiba-tiba muncul Bun-siocia yang membelanya dan teecu terpaksa melawannya.”

Pak-lo-sian Siangkoan Hai menoleh kepada Sui Ceng dengan pandangan mata terheran-heran, kemudian dia menarik napas panjang dan berkata, “Sungguh hebat dan patut dipuji kesetiaan nona Bun. Melihat bangsat Kun Beng mengkhianati pertunangannya, dia masih tetap mencinta. Sukar dicari cinta kasih yang demikian besar!”

Wajah Sui Ceng menjadi merah sekali sampai ke telinganya. “Locianpwe, jangan bicara sembarangan! Dia itu bekas tunanganku yang dipilih oleh mendiang ibu, maka melihat dia hendak dibunuh orang dengan alasan dipaksa menikah, tentu saja aku tidak tinggal diam!”

Pak-lo-sian mengeluarkan jengekan dari hidungnya. “Hemm, dia itu bukan tunanganmu lagi dan dia adalah muridku yang murtad. Urusan antara kami guru dan murid, kau murid Kiu-bwe Coa-li ada sangkut-paut apakah? Bila aku mau membunuh muridku sendiri yang berdosa, kau mau apa?”

Setelah berkata demikian dengan langkah lebar Pak-lo-sian menghampiri Kun Beng yang melihat gurunya demikian marah, segera berlutut dengan kepala tunduk.

“Kun Beng kau sudah tahu akan dosamu?”

“Sudah, Suhu. Teecu berdosa besar dan menanti hukuman mati di tangan Suhu.”

“Bangsat rendah! Mengapa kau tidak mau mempertanggung jawabkan kesalahanmu atas adik suheng-mu?”

“Apa bila teecu menikah dengan adik Suheng, teecu hanya akan merusak hidupnya dan hidup teecu sendiri. Di dalam dunia ini hanya dengan satu orang teecu mau menikah, yakni dengan tunangan teecu. Kalau tidak, lebih baik teecu tidak menikah. Kini terserah kepada Suhu memutuskannya.”

“Busuk… busuk sekali! Kalau begitu, mengapa kau merusak nona Gouw Kui Lan? Hayo jawab!” bentak Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan nada suaranya menunjukkan bahwa tiada pengampunan bagi Kun Beng.

Dengan kepala masih tunduk, pemuda itu menjawab lemah,

“Teecu sudah mengaku dosa, harap Suhu segera menjatuhkan hukuman.”

“Hemm, kalau begitu matilah dengan tenang.”

Pak-lo-sian Siangkoan Hai lalu mengangkat kipasnya dan hendak menjatuhkan pukulan kematian kepada muridnya.

“Tak boleh kau membunuh orang begitu saja!” tiba-tiba Sui Ceng membentak marah dan pedang serta sabuk merahnya bergerak cepat menyerang jalan darah di punggung kakek itu.

Terpaksa Pak-lo-sian menunda pukulan kepada muridnya, karena serangan Sui Ceng ini sungguh-sungguh berbahaya sekali. Sambil memutar tubuhnya, kipas yang tadi hendak dipergunakan untuk membunuh Kun Beng, bergerak cepat dan seketika itu juga pedang di tangan Sui Ceng terlempar jauh sementara sabuk suteranya putus menjadi dua!

“Pergilah dan jangan mencampuri urusan orang lain!” bentak Pak-lo-sian.

Akan tetapi, melihat kenekatan Kun Beng, Sui Ceng tidak tega untuk membiarkan saja pemuda yang dicintanya itu terbunuh. Dia menyerang kakek itu dengan pukulan tangan kanannya.

“Bukkk!”

Tangan Sui Ceng tepat membentur dada Pak-lo-sian, akan tetapi bukan Pak-lo-sian yang roboh, melainkan Sui Ceng sendiri yang terguling dan pergelangan tangannya terlepas sambungannya!

“Bun-siocia, jangan kau membelaku. Terima kasih banyak atas budimu, dan sampai mati aku orang she The tak akan melupakanmu,” kata Kun Beng terharu.

Pak-lo-sian kembali mengangkat kipasnya untuk memukul Kun Beng, akan tetapi baru sampai di tengahnya, tiba-tiba kipasnya tertahan. la terkejut sekali karena merasa bahwa ada sambaran angin dahsyat yang memukul ke arah kipas itu sehingga tertahan.

Ketika dia menoleh, ternyata bahwa Lu Kwan Cu telah berdiri di hadapannya. Pak-lo-sian terkejut dan tahulah dia bahwa pendekar sakti yang masih muda ini yang telah menahan pukulan kipasnya.

“Orang muda, biar pun kau telah memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi tidak patut kalau kau mencampuri urusanku dengan muridku sendiri. Apakah kau masih belum mengerti tentang aturan dan kepantasan sebagai seorang gagah? Apakah kau belum mengerti bahwa orang gagah tidak akan mencampuri urusan rumah tangga lain orang? Manusia jahanam ini adalah muridku sendiri, berarti dia termasuk keluargaku pula dan aku boleh melakukan apa saja terhadapnya tanpa campur tanganmu!”

“Maaf, Locianpwe. Boanpwe sudah berani turut mencampuri urusan Locianpwe karena boanpwe sangat kagum terhadap kegagahan dan sepak terjang Locianpwe yang sering kali dipuji-puji oleh mendiang suhu. Akan tetapi hari ini tanpa disengaja boanpwe akan melihat Locianpwe menurunkan tangan kejam pada murid sendiri. Locianpwe, boanpwe pernah mendengar ujar-ujar emas yang menyatakan bahwa orang yang tidak mencoba untuk memperbaiki kesalahan dalam perilaku hidupnya, dialah orang yang benar-benar salah. Kun Beng memang pernah melakukan perbuatan yang salah, akan tetapi dia telah mengakui hal itu dan benar-benar menyesal, maka tidak pantas kalau sampai dihukum mati.”

“Kau tahu apa tentang hati manusia? Seorang manusia yang sudah mandah disesatkan oleh nafsu buruk hanyalah manusia lemah yang selalu akan mengotorkan dunia karena batinnya kurang teguh dan selalu akan menjadi korban nafsu iblis. Dia ini harus mati!”

“Boanpwe tidak bisa membiarkan saja Locianpwe melakukan pembunuhan pada seorang yang sudah bertobat, apa lagi murid Locianpwe sendiri,” bantah Kwan Cu.

Bergerak-gerak jenggot Pak-lo-sian yang panjang. “Aha, kau sungguh sombong sekali, bocah she Lu. Kau kepala batu seperti si jembel Ang-bin Sin-kai gurumu itu. Mari, mari! Kita coba-coba sebentar dan kalau kau dapat menangkan aku, biarlah aku memandang mukamu memberi ampun kepada anjing ini.”

Kwan Cu maklum bahwa dia tidak dapat mundur lagi. Dia telah bertindak terlalu jauh dan kini terpaksa dia harus melayani kakek ini yang dia tahu memiliki kepandaian tinggi sekali dan tidak boleh dibuat main-main. Akan tetapi apa boleh buat, dia melakukan semua ini sebenarnya bukan karena dia sayang kepada Kun Beng, melainkan karena dia hendak membela Sui Ceng, atau pendirian gadis ini. Dia tahu akan cinta kasih yang besar dalam hati Sui Ceng terhadap Kun Beng, maka dia merasa sangat berdosa telah memisahkan gadis ini dari tunangannya dan saat ini dia pergunakan untuk menebus dosanya.

Ketika Pak-lo-sian mengebutkan kipasnya ke arah mukanya, Kwan Cu cepat melangkah mundur dan mencabut sulingnya. Dia tidak mau mempergunakan pedang karena selain dia tidak mempunyai niat untuk bermusuhan dengan kakek ini, juga senjata kipas kakek itu lebih tepat dihadapi dengan senjata yang lebih halus dan lemas seperti sulingnya itu.

Ada pun Pak-lo-sian Siangkoan Hai, di dalam hati kecilnya memang dia tidak tega untuk menewaskan Kun Beng karena di antara dua orang muridnya Kun Beng lah yang amat disayangnya. Tetapi sebagai seorang gagah, tentu saja dia merasa kurang adil terhadap Swi Kiat kalau dia tidak berbuat seolah-olah hendak membunuh Kun Beng.

Kini melihat campur tangannya Kwan Cu, diam-diam dia merasa girang sekali. Tidak saja dia mempunyai alasan kuat untuk membatalkan niatnya membunuh Kun Beng, tapi juga idam-idaman hatinya hari ini akan tercapai. Idam-idaman hati ingin menguji kepandaian pemuda yang aneh ini.

Sejak dia menyaksikan sepak terjang Kwan Cu, melihat betapa dengan amat mudahnya pemuda ini menggulingkan tokoh-tokoh besar seperti Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong, dia merasa kagum bukan main. Ia merasa yakin bahwa pemuda ini tentu sudah mewarisi kepandaian dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang tersohor itu. Maka ingin sekali dia mengukur kepandaian dan tenaga dengan ahli waris kitab itu.

Karena tahu bahwa Kwan Cu sudah memiliki kepandaian luar biasa dan bahkan lebih tinggi tingkatnya dari pada kepandaiannya sendiri, Pak-lo-sian tidak merasa malu-malu atau sungkan-sungkan lagi. la segera melakukan serangan dengan hebat, mengeluarkan seluruh tenaganya. Maka bukan main dahsyatnya gerakan sepasang kipasnya.

Tanpa terasa pula Sui Ceng dan dua orang murid Pak-lo-sian sendiri melangkah mundur untuk menjauhi tempat pertempuran, karena hawa pukulan yang keluar dari sepasang kipas itu terasa menyakitkan kulit muka, sebentar panas lantas sebentar dingin. Yang dingin keluar dari gerakan kipas kiri, yang panas dari kipas kanan. Inilah Im-yang Po-san yang dimainkan oleh seorang ahli yang telah mencapai puncak kesempurnaan ilmu kipas ini!

Kwan Cu diam-diam terkejut bukan main. Lihai sekali Dewa Utara ini, masih lebih lihai dari pada Hek-i Hui-mo kiranya. Biar pun di dalam goa di Pulau Pek-hio-to terdapat pula lukisan-lukisan tentang orang bersilat yang hampir sama dengan gerakan kakek ini, tapi harus dia akui bahwa gerakan kakek ini jauh lebih aneh dan hebat, sehingga biar pun dia berlaku waspada serta mainkan sulingnya dengan cepat, tetap saja dia terkurung oleh angin pukulan yang bergelombang datangnya dan tidak tentu sifatnya itu!

Kalau saja Kwan Cu tidak memiliki tubuh yang sudah penuh dengan tenaga murni atau sinkang yang tinggi, serta tidak mempunyai kewaspadaan sehingga dia dapat menduga tujuan setiap gerakan lawan, tentu dia harus mengakui keunggulan lawan.

Dengan mengumpulkan semangat dan mengerahkan seluruh tenaganya, Kwan Cu cepat memainkan sulingnya secara hebat, menurutkan tipu-tipu lihai dari isi pelajaran Im-yang Bu-tek Cin-keng, sedangkan tangan kirinya lalu bergerak-gerak mainkan Pek-in Hoat-sut. Dari kaki sampai ke jidatnya mengebulkan uap putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya!

Pak-lo-sian menahan seruan tertahan saking kagum dan herannya. Kakek ini tahu bahwa pukulan kipasnya tadi disertai tenaga sepenuhnya, tenaga lweekang yang sudah dia latih berpuluh tahun. Jaranglah orang dapat menahan sambaran angin pukulan kipas ini, akan tetapi anehnya, ketika angin pukulannya menyambar ke arah jalan darah di tubuh Kwan Cu, hawa itu terpental kembali jika bertemu dengan uap putih itu.

“Hebat sungguh Im-yang Bu-tek Cin-keng!” katanya perlahan.

Akan tetapi kini Kwan Cu betul-betul memperlihatkan ‘tanduknya’! Sulingnya digerakkan dengan sepenuh kegesitannya, sehingga jangan kata baru Pak-lo-sian seorang, biar pun dia dikeroyok oleh sepuluh orang Pak-lo-sian, kiranya sepuluh orang ini kepalanya akan pening dan pandangan matanya kabur.

Tubuh pemuda ini benar-benar lenyap dari pandangan mata, yang kelihatan hanya uap putih mengebul di sekeliling Pak-lo-sian dan diselingi oleh kelebatan sinar mengkilap dari sulingnya. Tak lama kemudian terdengar suara dua kali…

“Krakkk! Krakkk!”

Pak-lo-sian melompat mundur, tubuhnya terhuyung-huyung serta keningnya penuh peluh dingin, napasnya terengah-engah. Ketika Sui Ceng, Kun Beng dan Swi Kiat memandang, kakek ltu hanya memegang gagang kipas yang sudah hancur!

Kwan Cu menjura. Pemuda ini hanya merah mukanya dan dari kepalanya masih saja mengebul uap putih, akan tetapi dia tenang dan napasnya biasa saja.

“Pak-lo-sian Locianpwe benar-benar tidak bernama kosong.”

“Cukup,” Pak-lo-sian terengah-engah, “tak perlu kau merendahkan diri lagi. Benar-benar hebat! Selama hidupku baru kali ini aku menghadapi lawan seperti kau. Sungguh hebat! Kalau saja yang mengalahkan serta merusak kipas-kipasku ini bukan seorang ahli waris Im-yang Bu-tek Cin-keng, tentu aku si tua Pak-lo-sian ini akan langsung menghancurkan kepala sendiri.”

“Locianpwe telah berlaku mengalah…,” kata Kwan Cu.

Pada saat itu, dari jauh terdengar bunyi bergeletar dan hampir berbareng Pak-lo-sian dan Kwan Cu berkata,

“Kiu-bwe Coa-li datang “

Benar saja, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu wanita sakti itu telah berada di situ dengan cambuknya yang menggemparkan dunia kang-ouw, terayun-ayun di telapak tangannya. Dia melirik ke arah Kwan Cu, lalu berkata kepada Pak-lo-sian,

“Tua bangka utara, apa yang terjadi dengan kedua kipas mautmu?”

Terang sekali ucapan ini merupakan ejekan, akan tetapi Pak-lo-sian tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, Kiu-bwe Coa-li. Sudah berpuluh tahun kau tidak berhasil mengalahkan kedua kipasku, sebaliknya aku pun tidak berhasil mengalahkan cambukmu. Akan tetapi, hari ini aku mengaku bahwa ilmu kipasku masih amat rendah dan perlu diperbaiki lagi.”

Kiu-bwe Coa-li melirik ke arah Kwan Cu dan tiba-tiba ia melihat Sui Ceng ada di situ. la tertegun. Tadi ia melihat pertandingan dari jauh dan saking tertariknya ia sampai tidak melihat kehadiran Sui Ceng.

“Sui Ceng, ada apa kau di tempat ini?” la melirik pula ke arah Kun Beng dengan mata marah.

“Kiu-bwe Coa-li, muridmu itulah yang sudah menjadi gara-gara. Aku hendak membunuh muridku yang murtad, namun dia menghalangi sampai-sampai dia berani menyerangku. Akhimya kejadian itu memancing datangnya Lu-siauwhiap dan rusaknya kedua kipasku.”

“Sui Ceng, ke manakah mukamu? Tidak tahu malu, urusan orang lain kau berani turut bercampur tangan. Tua bangka utara mau membunuh muridnya, biarlah jangan kita ikut campur. Hayo, sekarang kau harus pergi bersamaku!”

“Tidak, Suthai. Sebelum Pak-lo-sian Locianpwe berjanji tak akan membunuh orang yang sudah menderita batinnya, teecu tidak akan pergi dari sini.”

Pak-lo-sian kembali tertawa bergelak, dan Kiu-bwe Coa-li marah dan malu bukan main. la menggerakkan pecutnya dan pecut yang berekor sembilan itu serentak melayang lantas memukul ke arah sembilan jalan darah di tubuh Sui Ceng.

“Kau pergi atau tidak?” bentak wanita sakti itu dengan suara menyeramkan.

“Suthai, jangan bunuh dia!” Tiba-tiba Kun Beng berseru keras dan meloncat ke depan, menghadang antara cambuk dan tubuh Sui Ceng.

Oieh karena itu, cambuk ini tidak jadi menuju di tubuh Sui Ceng, melainkan menghantam tubuh Kun Beng. Pemuda ini lantas terpental dan bergulingan sampai lima tombak lebih. Baiknya Kiu-bwe Coa-li tidak mau membunuh murid orang lain dan hanya ingin memberi hajaran saja, maka walau pun tubuhnya sakit-sakit dan terlempar jauh, Kun Beng tidak sampai terluka hebat.

“Sui Ceng, hayo kita pergi!” bentak pula Kiu-bwe Coa-li.

Sekarang suaranya lebih menyeramkan lagi karena nenek tua ini sudah hampir tak dapat menahan kesabaran hatinya lagi. Dibantah dan dibangkang oleh muridnya di hadapan orang lain benar-benar merupakan hal yang amat tidak enak dan memalukan.

Kwan Cu berkata, “Sui Ceng, kau pergilah. Pak-lo-sian Locianpwe sudah berjanji takkan membunuh Kun Beng…”

Kata-kata ini adalah untuk membujuk supaya Sui Ceng mau pergi karena Kwan Cu tahu benar bahwa sekali lagi menolak, Sui Ceng pasti akan menerima pukulan yang mungkin akan merenggut nyawanya oleh Kiu-bwe Coa-li.

Akan tetapi Sui Ceng benar-benar menggelengkan kepala lagi!

“Sebelum bertemu dengan Kui Lan, aku belum mau pergi.”

Baru saja kata-kata ini selesai diucapkan, terdengar bunyi cambuk menyakitkan telinga. Kwan Cu melompat dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai berseru kaget.

Ternyata bahwa sembilan ekor ujung cambuk dari Kiu-bwe Coa-li telah menyambar tepat ketika Sui Ceng menyatakan penolakannya untuk pergi tadi, akan tetapi Kwan Cu cepat melompat menghadang di jalan hingga ujung-ujung cambuk itu bukan menyambar pada Sui Ceng, melainkan ke tubuhnya seperti yang telah dilakukan oleh Kun Beng tadi.

Akan tetapi kalau gerakan Kun Beng tadi masih bisa dilihat oleh Kiu-bwe Coa-li sehingga nenek ini keburu mengubah arah cambuknya, adalah gerakan Kwan Cu sekarang begitu cepatnya, maka nenek itu tidak keburu lagi menahan pukulannya. Sembilan cambuk itu melayang dan menghajar sembilan jalan darah kematian di tubuh Kwan Cu.

Karena inilah Pak-lo-sian Siangkoan Hai berseru kaget. la maklum bahwa pukulan yang dilakukan oleh Kiu-bwe Coa-li ini adalah jurus yang paling berbahaya dari ilmu pecutnya dan tidak seorang pun tokoh persilatan di dunia ini yang berani menerima serangan jurus ini yang dia kenal sebagai jurus Kiu-coa Toat-beng (Sembilan Ular Pencabut Nyawa).

Bahkan Kiu-bwe Coa-li sendiri juga terkejut. Akan tetapi dia tidak dapat menarik kembali sambaran sembilan ujung cambuk itu, dia hanya dapat mengurangi tenaganya sehingga hanya dua pertiga tenaganya saja yang tersalur di ujung senjatanya yang lihai.

Akan tetapi seruan kaget Pak-lo-sian berubah menjadi seruan tertahan saking herannya, demikian pula Kiu-bwe Coa-li menjadi pucat setelah sembilan ujung cambuk itu tiba di tubuh Kwan Cu, ternyata tidak berakibat apa-apa!

Kwan Cu tetap tersenyum saja seakan-akan serangan hebat ini tidak terasa sama sekali olehnya. Padahal, secara diam-diam Kwan Cu tadi sudah mengerahkan seluruh tenaga dan sinkang-nya yang telah menjadi satu dengan perasaannya, otomatis menolak tenaga pukulan ini dan dia menambah perisai tubuhnya dengan pengerahan ilmu menutup jalan darah dan mengumpulkan hawa murni yang terasa hangat mengelilingi seluruh tubuh secara cepat sekali. Namun, tetap saja dia merasa kulit tubuh di mana cambuk itu tiba, panas-panas!

“Terima kasih atas petunjuk Suthai,” kata Kwan Cu sambil menjura dan membungkukkan tubuhnya.

Gerakan ini amat diperlukan karena dengan membungkuk, dia bisa menggerakkan tubuh dan sinkang-nya berjalan lebih cepat untuk mengusir bekas-bekas pukulan yang betapa pun juga akan mendatangkan bahaya kalau tidak segera dilenyapkan.

Sampai lama Kiu-bwe Coa-li membelalakkan matanya. Belum pernah dia mengalami hal sehebat ini. Pukulan dengan jurus Kiu-coa Toat-beng diterima tanpa berkejap mata oleh pemuda ini!

“Sudahlah, aku sudah tua dan tak tahu malu! Lu-sicu, lain kali bila aku masih hidup, aku hendak mencoba kelihaianmu sekali lagi!” katanya sambil menggerakkan kedua kaki dan lenyaplah wanita sakti itu dari situ.

Kwan Cu menarik napas panjang. “Hemm, apakah artinya semua keributan ini? Orang yang dicurangi dan yang paling menderita dalam urusan ini adalah nona Gouw Kui Lan. Orang-orang berlancang hendak mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya padanya. Benar-benar tidak adil!”

Kata-kata ini menyadarkan Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Memang tepat sekali ucapan ini. Mereka ribut-ribut karena Kun Beng telah melakukan hal yang amat tidak baik terhadap diri Gouw Kui Lan dan kini orang ramai-ramai datang untuk menghukum Kun Beng tanpa bertanya kepada nona Kui Lan sama sekali!

“Mari kita temui dia di dalam!” kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Semua orang mengikutinya masuk ke dalam kuil yang amat besar itu. Keadaan kuil sunyi saja dan pintu depan yang amat kuat dan tebal itu sukar sekali dibuka, agaknya dipalangi dari dalam. Tapi, dengan sekali dorong saja Pak-lo-sian berhasil mematahkan palangnya di sebelah dalam sehingga pintu pun terbuka!

Semua orang tertegun dan berdiri di ambang pintu, tidak bergerak seperti patung. Kalau di luarnya sunyi saja, di sebelah dalam kuil itu penuh orang. Sedikitnya ada tiga ratus orang terbaring di situ, orang-orang yang terluka dalam peperangan melawan penjajah.

Beberapa orang perawat sibuk sekali melayani mereka ini, dan di antara mereka yang paling sibuk adalah Ngo Lian Suthai dan… Gouw Kui Lan. Akan tetapi, ketika melihat Kui Lan, terdengar seruan dari mulut Swi Kiat.

“Lan-moi …!”

Nona itu menengok. Dia telah menjadi seorang nikouw muda (pendeta wanita) berkepala gundul. Melihat kakaknya, dia tersenyum. Akan tetapi mukanya berubah ketika ia melihat Kun Beng berada pula di situ.

“Kui Lan, mengapa kau telah menjadi nikouw…? Apa maksudmu?” teriak Swi Kiat sambil berlari menghampiri adiknya. “Aku datang untuk mengusahakan pernikahanmu dengan Kun Beng “

Merah wajah nikouw muda itu, akan tetapi bibirnya tetap tersenyum penuh kesabaran dan ketenangan.

“Hushhh… Kiat-ko, omongan apa yang kau ucapkan itu? Lihatlah baik-baik, aku adalah seorang nikouw, bagaimana kau bisa bicara tentang pernikahan?”

Swi Kiat merasa ditampar mukanya, dia tak dapat menjawab dan menjadi bingung. Juga Kun Beng merasa terharu sekali. Penglihatan ini menikam ulu hatinya dan dia merasa betapa dosanya makin besar. Ia tahu bahwa masuknya Kui Lan menjadi nikouw adalah karena perbuatannya. Dua titik air mata tak terasa lagi turun membasahi pipinya.

Sui Ceng berdebar. Kemarahannya terhadap Kui Lan lenyap seketika, terganti oleh rasa kasihan. Ada pun Kwan Cu memandang dengan penuh kekaguman.

Di dalam kesunyian ini, terdengar Kui Lan berkata, suaranya lantang dan biasa saja, penuh kesabaran.

“Kiat-ko, Kui Lan yang dahulu sudah mati. Yang ada sekarang adalah Kui Lan Nikouw murid Ngo Lian Suthai. Tidak ada urusan sesuatu antara pinni (aku) dengan The-taihiap atau siapa pun juga.”

“Adikku!” teriak Swi Kiat.

“Kiat-ko, aku sudah bersumpah menjadi orang beribadat, aku melupakan kehidupan lalu. Sudahlah, harap Cu-wi sekalian suka keluar dan jangan mengganggu orang-orang yang menderita luka, mereka ini adalah para pejuang rakyat, dan …”

Tiba-tiba dari luar menerobos masuk beberapa orang laki-laki yang membawa senjata. Mereka ini adalah para prajurit pejuang rakyat yang cepat berkata,

“Ngo Lian Suthai, celaka. Pasukan kita terpukul hancur dan sebarisan musuh menuju ke sini. Mereka sudah mendengar bahwa kawan-kawan yang terluka berada di sini!”

Seorang di antara mereka menyambung. “Kita harus segera membawa kawan-kawan ini pergi dari sini, pertahanan sudah bobol dan kawan-kawan ini tentu akan menjadi korban semua!”

Tiba-tiba Kwan Cu berkata nyaring, “Pak-lo-sian Locianpwe! Kun Beng! Swi Kiat dan Sui Ceng. Kita semua harus malu! Rakyat berjuang melawan penjajah, bahkan nona Gouw sendiri membaktikan diri untuk membantu bangsa yang tertindas, sebaliknya kita semua ribut-ribut urusan tetek bengek! Dalam menghadapi bahaya bagi bangsa, urusan pribadi harus dilupakan, hayo kita gempur musuh!”

Kata-kata ini bagai aliran listrik menggetarkan jiwa kepahlawanan dalam diri orang-orang gagah itu. Pak-lo-sian berseru nyaring. “Mana musuh?! Akan kuhancurkan kepalanya!”

Beramai-ramai mereka lalu lari bersama para prajurit pejuang itu yang menjadi petunjuk jalan.

Benar saja, di tengah jalan mereka bertemu dengan puluhan pejuang yang melarikan diri, dikejar oleh barisan musuh yang lebih besar jumlahnya. Banyak di antara mereka yang terluka.

Pak-lo-sian segera memimpin mereka dan mengatur pertahanan. Teriakan disertai sorak sorai musuh sudah terdengar dekat. Pak-lo-sian mengatur kawan-kawan pejuang supaya bersembunyi di balik pohon-pohon, menghadang di dalam hutan.

Ketika barisan musuh yang terdiri dari dua ratus orang lebih itu tiba, Pak-lo-sian memberi aba-aba dan menyerbulah mereka, menghantam musuh. Kwan Cu, Kun Beng, Swi Kiat dan Sui Ceng mengamuk hebat! Tiap kali senjata mereka bergerak, tentu ada seorang serdadu penjajah roboh tak bemyawa lagi.

Biar pun kepandaian Kwan Cu lebih tinggi dari pada Pak-lo-sian, namun sepak terang pemuda ini tidak sehebat Pak-lo-sian, karena di dalam hatinya Kwan Cu penuh welas asih dan dia tidak tega menyebarkan maut, biar pun kepada musuh bangsanya. Maka dia hanya menotok dan merobohkan mereka tanpa merampas nyawanya.

Sebaliknya, Pak-lo-sian benar-benar hebat. Sepasang kipasnya sudah rusak oleh Kwan Cu dan kini ujung lengan bajunya menyambar laksana sepasang kupu-kupu. Akan tetapi jangankan sampai terkena ujung lengan baju ini, baru terkena sambaran anginnya saja, para musuh terlempar dengan mata mendelik dan napas putus!

You may also like...