25 – Malaikat Gerbang Neraka

SAAT itu matahari sudah menampakkan kekuasaannya, sinarnya yang kuning keemasan, menyirami dataran Lembah Tiga Setan. Hembusan angin bertiup keras, karena dataran lembah itu sangat lebar dan luas.

Tidak seperti biasanya, pagi ini Lembah Tiga Setan tampak dipenuhi manusia. Dari lereng saja sudah terlihat jelas banyaknya sosok tubuh yang berkelebat mendaki Gunung Kalaban,untuk kemudian menuruni Lembah Tiga Setan. Dari gerakan dan langkah kaki sosok-sosok tubuh itu, jelas kalau rata-rata terdiri dari tokoh persilatan. Apalagi di pinggang mereka tampak menyembul gagang senjata. Bisa ditebak, sosok-sosok tubuh itu merupakan kaum rimba persilatan.

Rombongan pertama yang terdiri dari dua belas orang laki-laki bertampang kasar, menghentikan langkah di tengah lembah. Laki-laki tinggi kurus dan berwajah pucat yang merupakan kepala rombongan itu melangkah berkeliling sambil mengedarkan pandangan. Sikapnya terlihat jumawa, dan meremehkan orang lain.

“Hm… Mana orang yang mengaku berjuluk Malaikat Gerbang Neraka? Mengapa batang hidungnya tidak kelihatan? Apakah ia sengaja hendak mempermainkan Tengkorak Hutan Jati?” gumam laki-laki tinggi kurus itu sambil bertolak pinggang dengan sikap jumawa.

Kesombongan yang diperlihatkan laki-laki tinggi kurus itu memang wajar. Memang, dalam rimba persilatan, julukan Tengkorak Hutan Jati sangat ditakuti. Entah sudah berapa banyak tokoh golongan putih yang tewas di tangannya. Kekejamannya yang tidak tanggung-tanggung membuat orang semakin segan berurusan dengannya. Dengan ilmunya yang bernama ‘Cakar Penghancur Tulang’. Tengkorak Hutan Jati tampak semakin sombong. Dan memang, dia belum pernah dicundangi orang. Tidak heran kalau ia cenderung memandang remeh orang lain.

Kedatangannya pagi ini ke Lembah Tiga Setan atas undangan orang yang mengaku berjuluk Malaikat Gerbang Neraka. Dan sebenarnya ia tidak tahu kapan orang aneh itu mengirimkan undangan kepadanya. Tentu saja hal ini membuatnya jadi penasaran, sehingga membawanya ke Lembah Tiga Setan.

Bukan hanya Tengkorak Hutan Jati saja yang mendapatkan undangan yang penuh teka-teki itu. Masih banyak tokoh persilatan lain yang juga mendapat undangan sama, dan dengan alasan yang juga tidak berbeda. Kebanyakan dari mereka datang hanya karena penasaran terhadap si pengirim undangan. Mereka ingin melihat, bagaimana rupa orang yang telah begitu berani mengirimkan undangan kepada mereka. Jadi tak heran kalau Lembah Tiga Setan dipenuhi manusia golongan sesat.

Mereka yang mendapatkan undangan aneh itu ternyata bukan hanya penjahat-penjahat kelas teri. Bahkan para datuk sesat di empat penjuru mata angin pun mendapat undangan yang sama. Tentu saja keadaan di lembah itu semakin semarak dan ramai.

“He he he. Tak disangka, orang yang paling berkuasa di daerah Timur pun sudi juga memenuhi undangan gila ini,” cetus seorang kakek berusia enam puluh tahun.

Wajahnya dihiasi kumis dan jenggot yang telah berwarna dua. Pakaian yang dikenakannya pun tampak lusuh dan agak kotor. Suara berat dan parau yang terdengar pelan namun cukup menggetarkan hati itu tentu saja membuat terkejut para tokoh yang hadir. Serentak mereka menoleh kearah asal suara tadi. Namun sampai lelah mata mereka mencari, tak ada seorangpun yang patut dicurigai. Tak ada yang tahu kalau kakek itu mengucapkan kata-katanya tanpa menggerakkan bibir. Padahal orang yang mengeluarkan ucapan itu sebenarnya ada diantara mereka.

“Memedi Karang Api…!” Terdengar suara mendesis lirih yang bersahut-sahutan dari beberapa orang tokoh sesat terkemuka saat ini.

Beberapa pasang mata tokoh persilatan itu tampak menyiratkan sinar kegentaran dan rasa hormat ke arah kakek berjubah putih kumal itu. Dari nada suara yang terdengar agak bergetar, jelas kalau mereka merasa tunduk terhadap kakek yang berjuluk Memedi Karang Api.

Bahkan Tengkorak Hutan Jati yang semula bersikap sangat sombong, langsung merubah sikap melihat kehadiran Memedi Karang Api. Hal itu wajar saja. Karena kakek itu merupakan raja kaum sesat di wilayah Barat. Dan karena Tengkorak Hutan Jati juga berasal dari daerah itu, maka secara tidak langsung, ikut mengangkat kakek itu sebagai raja. Namun, hal itu tanpa sepengetahuan Memedi Karang Api sendiri.

“Ini baru hebat, kalau sampai seorang datuk seperti Memedi Karang Api sampai datang memenuhi undangan. Dan tentu si pengundang memiliki keistimewaan yang membuatnya penasaran!” celetuk salah seorang tokoh sesat bertubuh gendut dan berkepala botak. Sebelah matanya yang tertutup kulit binatang, membuatnya dijuluki sebagai Garuda Mata Satu.

“Hm…. Kau benar, Garuda Mata Satu. Bukan hanya Memedi Karang Api saja yang muncul disini. Aku sempat mendengar, apa yang diucapkannya tadi. Dan kalau tidak keliru, mungkin yang dimaksud orang paling berkuasa di daerah Timur itu adalah Datuk Panglima Sesat. Siapa lagi kalau bukan dia yang di maksud Memedi Karang Api.” timpal laki-laki berwajah kekanakan.

Dia berdiri di sebelah Garuda Mata Satu. Menilik dari ucapannya, jelas kalau orang itu pun pasti bukan orang sembarangan. Buktinya, ia cukup mengenal tokoh-tokoh kelas atas dalam golongannya.

“Tapi, mengapa aku tidak melihatnya…? Apa kau melihat adanya tokoh sakti itu?” tanya Garuda Mata Satu sambil mengedarkan pandangan ke sekitar tempat itu. Namun meski sampai pegal kepalanya tetap saja tidak bisa menemukan orang yang dimaksud.

“He he he… Jangan samakan ketajaman mata dan pendengaranmu dengannya. Dan aku percaya, apa yang dikatakannya itu benar. Meskipun, aku sendiri belum melihatnya,” sahut laki-laki berwajah kekanakan itu sambil tertawa lirih.

Tak lama, selagi kedua orang itu terlibat dalam percakapan, terdengar suara langkah kaki berderap yang membuat semua orang menolehkan kepala ke arah asal suara.

“Pasukan Datuk Panglima Sesat..!? Kiranya dia juga menyempatkan diri memenuhi undangan ini? Hm… Bukan mustahil kalau kedua orang datuk lainnya akan muncul juga di Lembah Tiga Setan ini. Benar-benar sebuah peristiwa yang jarang sekali terjadi. Entah apa daya tarik yang dimiliki tokoh berjuluk Malaikat Gerbang Neraka itu? Kalau melihat dari hadirnya datuk-datuk diempat penjuru mata angin ini, jelas kalau Malaikat Gerbang Neraka memiliki kelebihan yang membuat para datuk tertarik,” gumam Tengkorak Hutan Jati dengan hati semakin ciut.

Memang, tokoh-tokoh itu merupakan pentolan-pentolan kaum sesat. Maka begitu melihat kehadiran Memedi Karang Api dan Datuk Panglima Sesat, barulah Tengkorak Hutan Jati merasa betapa dirinya masih terlalu jauh untuk dapat disejajarkan dengan kedua orang tokoh itu.

Sementara itu, rombongan orang berseragam serba putih dengan sulaman benang emas di bagian dada kiri sudah memasuki lembah dan memilih tempat teduh. Seorang laki-laki tinggi besar yang kumis dan jenggotnya tercukur rapi tampak berdiri angkuh sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling. Sikapnya terlihat menimbulkan perbawa kuat. Menilik dari pakaiannya yang mirip pakaian Panglima kerajaan, jelas sudah kalau laki-laki berusa sekitar lima puluh tahun itulah yang berjuluk Datuk Panglima Sesat. Dan orang itu pulalah yang dimaksudkan sebagai penguasa daerah Timur.

Tingkah dan cara kehidupan yang dijalani tokoh menggiriskan itu memang aneh sekali. Di tempat kediamannya, ia membangun sebuah tempat tinggal yang megah dan mirip istana. Bahkan para pembantunya yang berjumlah seratus orang, diwajibkan mengenakan pakaian prajurit bila berada ditempat kediamannya. Sedangkan ia sendiri tidak pernah melepas pakaian panglimanya itu.

Dan karena sikapnya yang tidak mirip seorang panglima, maka kalangan rimba persilatan memberi julukan Panglima Sesat kepadanya. Kepandaiannya memang hampir tanpa tandingan. Inilah yang menyebabkannya dalam waktu yang singkat dapat menempatkan dirinya sejajar dengan tiga orang datuk sesat lainnya.

Kedatangannya ke Lembah Tiga Setan adalah karena sebuah undangan yang sampai ke tempat kediamannya tanpa seorangpun mengetahuinya. Bahkan ia sendiri juga tidak tahu, kapan undangan itu dikirimkan. Dan semula dia menduga kalau si pengirim jelas bukan orang sembarangan. Maka dengan hati penasaran, Datuk Panglima Sesat pun menyempatkan diri memenuhi undangan itu.

Kepala laki-laki tinggi besar yang terlihat gagah ini terangguk kaku ketika sepasang matanya tertumbuk pada sosok tubuh tinggi kurus yang mengenakan jubah putih kumal. Jelas, tokoh sesat yang satu ini benar-benar memiliki sikap sangat angkuh. Jangankan terhadap tokoh di bawahnya, sedangkan terhadap Memedi Karang Api yang setingkat dengannya pun masih juga menunjukkan ketinggian hatinya. Dia benar-benar menganggap sebagai seorang Panglima yang patut dihormati. Dan itu sepertinya cukup wajar. Sebab selain kepandaiannya sulit diukur, datuk sesat yang satu ini memang orang terkaya didaerah Timur.

“Hm… Kiranya kau tertarik juga dengan undangan gila ini, Memedi Karang Api?” tegur Datuk Panglima Sesat. Pandangan Datuk Panglima Sesat beralih sejenak ke arah kakek berjubah putih kumal itu. Suaranya terdengar sangat angkuh. Sepertinya ia ingin membedakan kalau dirinya masih jauh lebih patut dihormati ketimbang Memedi Karang Api.

Namun Memedi Karang Api sendiri sama sekali tidak tersinggung atas teguran Datuk Panglima Sesat. Ia hanya terkekeh serak memperlihatkan gigi-giginya yang ternyata terawat baik dan sangat kuat. Meskipun urakan, jelas kalau Datuk Wilayah Barat ini sangat memelihara kebersihan. Sayangnya, semua itu seolah disembunyikan di balik pakaiannya yang lusuh dan kumal. Entah apa maksud kakek itu berbuat demikian.

“He he he… Sebenarnya hanya kita berdua saja yang begitu gila, sehingga memenuhi undangan ini. Semenjak tadi aku tidak melihat dua tokoh lain. Apakah kau melihat mereka. Datuk Panglima Sesat?” tanya Memedi Karang Api.

Datuk Panglima Sesat yang biasa dipanggil dengan sebutan ‘tuanku’, tentu saja tidak merasa keberatan atas panggilan itu. Sebab biarpun berpenampilan sangat lusuh, tapi tetap saja kakek itu dipandangnya sebagai orang yang seangkatan. Apalagi kepandaian mereka hampir-hampir tidak berselisih.

“Ya! Aku pun tidak melihat mereka. Mungkin hal ini dianggap tidak terlalu penting. Lain dengan kita yang merasa tersinggung oleh undangan itu. Bagiku, surat itu lebih tepat sebuah tantangan ketimbang undangan. Untuk itulah aku datang kemari. Bagaimana dengan kau,. Memedi Karang Api? Apa alasanmu memenuhi undangan gila ini?” tanya Datuk Panglima Sesat, tetap tidak merubah nada suara maupun sikapnya

“He he he…. Aku tidak segila dirimu, Datuk Panglima Sesat. Kehadiranku di sini hanya untuk menonton keramaian. Sebab, jarang sekali pertemuan seperti ini bisa terjadi. Sayang Datuk Selatan dan Datuk Utara tidak bisa hadir. Kalau saja mereka berada di tempat ini, mungkin hatiku akan semakin gembira,” sahut Memedi Karang Api. Dia tidak peduli, apakah ucapannya akan menyinggung perasaan lawan bicaranya atau tidak. Memang, sudah begitulah sikap dan tingkah lakunya.

Datuk Panglima Sesat pun memang sudah maklum akan sifat kawan segolongannya itu. “Ha ha ha…. Dasar jembel tua kekurangan tontonan! Kalau hanya untuk alasan seperti itu, mengapa tidak singgah saja ke tempat kediamanku? Di sana kau akan menikmati tontonan-tontonan menarik setiap saat. Bahkan wanita-wanita cantik pun tinggal pilih saja,” kata Datuk Panglima Sesat sambil tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan sahabatnya.

Apa yang dikatakan Datuk Panglima Sesat tentu saja bukan hanya omong kosong saja. Sebagai seorang datuk yang paling kaya di wilayah Timur, tentu apa yang ducapkannya tidaklah berlebihan. Bahkan tempat kediamannya masih lebih besar dan megah daripada istana kadipaten. Sehingga, Adipati Blambangan sendiri tidak berani mengusiknya. Dan jelas, hal itu hanya akan mendatangkan penyakit saja.

“Apakah ucapanmu ini merupakan undangan resmi untukku…?” ujar Memedi Karang Api. Hatinya benar-benar gembira membayangkan apa yang dijanjikan sahabatnya itu. Sepasang matanya yang kocak, berputar liar. Seolah-olah, kakek itu sudah merasa gembira walau hanya membayangkannya saja.

“Mengapa tidak? Kalau kau memang kebetulan melewati tempat kediamanku, singgahlah. Tak perlu undangan resmi segala.” sahut Datuk Panglima Sesat, kembali memperdengarkan suara tawanya yang berkepanjangan.

“Hehehe….Pasti…pasti…” sambut Memedi Karang Api sambil tersenyum-senyum bagaikan orang menang undian.

Tengah kedua orang datuk itu bercakap-cakap, tiba-tiba berhembus angin dingin yang sangat keras. Daun-daun kering beterbangan, sehingga membuat suasana disekitar Lembah Tiga Setan itu menjadi kacau. Belum lagi rasa heran orang-orang yang berada di lembah itu hilang, terdengar suara tawa berkepanjangan yang mengandung kekuatan hebat.

“Ha ha ha…!”

Suara tawa serak yang jelas mengandung kekuatan tenaga dalam tinggi itu membuat beberapa orang tokoh persilatan yang tidak kuat tenaga dalamnya, jatuh bergelimpangan. Dari mulut, hidung, dan telinga mereka, tampak mengalir darah segar. Tubuh mereka pun berkelojotan bagai seekor ikan yang diangkat dari dalam air. Untunglah tawa yang mengandung kekuatan dahsyat itu tidak berlangsung lama. Sehingga, tokoh-tokoh yang memiliki tenaga dalam pas-pasan hanya tergeletak pingsan.

“Hm… Tampaknya keramaian akan segera dimulai.. ,” gumam Memedi Karang Api. Dia tampaknya sama sekali tidak terpengaruh suara tawa itu. Hanya Memedi Karang Api saja yang mengetahui kalau ucapan kakek sakti itu dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam. Sehingga secara sekilas, kakek itu bagaikan tidak merasakan serangan yang dilontarkan melalui suara itu.

Lain halnya Datuk Panglima Sesat. Tokoh sakti penguasa wilayah Timur itu menahan napasnya untuk melindungi isi dada dari serangan tawa yang menggetarkan itu. Diam-diam tokoh yang menggiriskan ini juga merasa terkejut oleh kekuatan tenaga dalam si pengirim suara. Namun keterkejutannya hanya disimpan dalam hati. Sedangkan mulutnya terkatup rapat tanpa kata.

Bersamaan lenyapnya suara tawa yan gmenggetarkan tadi, hembusan angin dingin pun lenyap pula. Kesunyian dan ketegangan pun menyelimuti sekitar Lembah Tiga Setan. Hati mereka semua berdebar tegang menantikan munculnya si empunya suara yang diduga sebagai Malaikat Gerbang Neraka. Namun setelah agak lama menantikan, sosok yang dibayangkan para tokoh persilatan itu tak kunjung muncul. Beberapa di antaranya mencoba menggerakkan kepala memandang kesekeliling dataran lembah itu. Tapi, tanda-tanda kemunculan tokoh aneh yang jelas sangat sakti itu belum juga nampak.

“Gila! Permaian apa lagi yang akan dipertunjukkan manusia gila itu?!” umpat Garuda Mata Satu. Dia sepertinya merasa tidak enak oleh ketegangan dan kesunyian yang menyelimuti hatinya. Rasanya ia lebih suka berhadapan langsung dengan maut, dari pada dilanda ketegangan yang tak ada habisnya itu. Tapi begitu ucapannya selesai, tahu-tahu saja Garuda Mata Satu merasakan tubuhnya terbang dari tempatnya berpijak.

“Hei… hei! Apa ini..?!”

Garuda Mata Satu seorang tokoh sesat yang kejam dan tidak pernah mengenal rasa takut tiba-tiba berteriak-teriak bagai anak kecil. Hatinya benar-benar merasa ngeri atas keanehan yang terjadi pada dirinya. Sehingga tanpa sadar, ia pun berteriak-teriak ketakutan.

Laki-laki gemuk kekanakan yang berada di sebelah Garuda Mata Satu kontan terbelalak pucat. Kedua lututnya goyah, bagaikan tak sanggup lagi menahan bobot tubuhnya yang gemuk itu. Jelas, hatinya merasa ngeri oleh kejadian yang menimpa kawannya. Dan memang, ia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkannya. Tubuh Garuda Mata Satu yang tengah melayang di udara setinggi satu setengah tombak, tiba-tiba terhempas begitu saja diatas permukaan tanah berbatu.

Bruggg!

Tokoh sesat berkepala botak yang sebelah matanya tertutup kulit binatang itu berteriak ketakutan!Tubuhnya terbanting begitu saja, tanpa diketahui apa yang telah menyebabkannya.

“Kurang ajar…! Siapa yang berani main-main dengan Garuda Mata Satu?! Hayo, tunjukkan dirimu!” teriak laki- laki berkepala botak itu menantang-nantang.

Tentu saja ucapannya itu dikeluarkan hanya untuk menutupi rasa malu karena merasa dipermainkan di hadapan orang banyak. Meskipun jelas wajahnya terlihat memucat, namun dengan lagak sombong ia bertolak pinggang sambil mengedarkan pandangan berkeliling.

Para tokoh persilatan yang tidak mengetahui apa yang menyebabkan Garuda Mata Satu melayang dan kemudian terjatuh, tentu saja merasa geli melihat tingkah tokoh itu. Bahkan beberapa orang di antaranya tertawa lirih. Untuk beberapa saat lamanya, ketegangan yang semenjak tadi melanda hati mereka lenyap.

Namun tawa para tokoh persilatan itu mendadak terhenti, ketika tanpa diketahui di sebelah kanan Garuda Mata Satu telah berdiri sesosok tubuh tinggi kurus. Dia mangenakan jubah panjang berwarna hitam. Wajah sosok tubuh yang entah kapan datangnya, tertutup kerudung yang membungkus kepalanya. Hanya sepasang matanya saja yang terlihat mencorong tajam bagaikan mata seekor harimau didalam gelap. Tentu saja kehadiran orang aneh itu membuat para tokoh persilatan yang hadir merasa ngeri.

“Dia… dia pasti bukan manusia! Mana ada manusia yang datang ketempat terbuka seperti ini tanpa ada yang mengetahuinya…?” terdengar suara lirih yang bergetar karena terselubung rasa ngeri.

Sayang ucapan yang terdengar lirih itu ternyata telah menjadi suatu ancaman baginya. Buktinya, sosok tubuh tinggi kurus yang saat itu tengah berdiri disamping Garuda Mata Satu langsung menolehkan kepala ke arah orang yang mengeluarkan ucapan tadi. Sepasang matanya yang bersinar kemerahan tertuju langsung dengan pengaruh yang membuat seorang penakut menjadi lemas persendian lututnya.

“Kemari kau…” terdengar desis yang menebarkan hawa dingin dan menggetarkan jantung. Jelas, sosok tubuh itu sama sekali tidak terlihat menggerakkan bibirnya. Namun, perintah yang jelas diucapkannya ternyata menimbulkan pengaruh yang sangat hebat. Sehingga, tubuh orang yang ditatapnya kontan menggigil hebat, bagaikan orang terserang demam.

Seluruh tokoh persilatan yang hadir menjadi terkesima melihat tubuh laki-laki pendek kekar yang mengeluarkan ucapan tadi bergerak melangkah maju. Pandangan matanya tertuju lurus ke depan. Sedikit pun kepalanya tidak menoleh ke tempat lain. Jelas, orang itu sudah berada dalam pengaruh orang tinggi kurus yang berjubah hitam panjang itu.

“Hm…. Coba ulangi ucapanmu tadi!” pinta sosok berjubah hitam itu dengan suara kaku dan tetap tanpa menggerakkan bibir.

“Aku… eh! Aku…, tidak…” Rasa takut dan ngeri yang mencengkeram dan melenyapkan seluruh keberaniannya, membuat laki-laki pendek kekar itu tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Bahkan untuk mengingat kata apa yang harus diucapkan pun tidak mampu lagi.

“Hm. ,” sosok tinggi kurus itu bergumam kaku. Dia kemudian membalikkan tubuhnya seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Menilik dari sikapnya yang angker dan penuh perbawa, jelas kalau orang itu bukanlah orang sembarangan

“Sahabat-sahabat sekalian. Aku senang atas kehadiran kalian yang sudi datang memenuhi undanganku ini. Sebagaimana yong tertulis dalam setiap undangan yang kukirimkan, akulah si Malaikat Gerbang Neraka. Dan mulai saat ini, aku mengangkat diriku sebagai datuk dari segala datuk kaum rimba persilatan golongan sesat!” sosok tinggi kurus berjubah hitam itu menghentikan ucapannya sejenak untuk melihat tanggapan para tokoh yang hadir. Namun, setelah menanti sekian lama tidak juga ada yang membantah, maka setelah menarik napas sejenak, ucapannya kembali dilanjutkan.

“Aku akan membawa golongan kita kekejayaan. Tidak adalagi tokoh golongan putih yang akan menghalangi perbuatan kita. Bila hal itu masih juga terjadi, cari dan bunuh tokoh golongan putih yang sangat sombong dan memandang hina kita.” kembali tokoh yang mengaku berjuluk Malaikat Gerbang Neraka itu menghentikan kata-katanya.

Puluhan orang tokoh persilatan yang telah melihat kesaktian dan keangkeran Malaikat Gerbang Neraka serentak menyambut ucapan itu dengan sorak-sorai bergemuruh.

“Hidup Malaikat Gerbang Neraka…!”

“Hidup sang Pemimpin Agung…!”

“Hidup golongan hitam…!”

Teriakan-teriakan yang merupakan ungkapan rasa setuju terdengar saling bersahutan. Dan untuk beberapa saat lamanya, dataran Lembah Tiga Setan bagaikan tengah diadakan sebuah pesta besar yang meriah. Sebentar sinar mata di balik kerudung hitam itu berbinar-binar, lalu tiba-tiba kembali menyorot tajam. Dan memang, ia melihat belum semua yang hadir ikut menyambut gembira ucapannya itu. Sepertinya, Malaikat Gerbang Neraka masih belum merasa puas atas sambutan yang diterimanya.

Dengan gerakan perlahan dan angker, sosok tinggi kurus itu mengangkat kedua tangannya ke atas. Suara sorak-sorai yang semula bergemuruh langsung lenyap. Keheningan pun kembali menyelimuti dataran Lembah Tiga Setan. Melihat kepatuhan sebagian besar dari tokoh persilatan yang hadir, Malaikat Gerbang Neraka sepertinya belum merasa puas.

“Kalau diantara kalian masih ada yang tidak setuju dan meragukan kemampuanku, silakan maju! Jangan hanya membungkam seperti perawan pingitan,” tantang Malaikat Gerbang Neraka dengan suara masih tetap dingin dan kaku.

Datuk Panglima Sesat yang memang merasa sangat penasaran oleh si pengirim undangan aneh itu, melangkah maju dengan sikap angkuh! Jubahnya yang lebar dan hampir menyentuh lutut, dibuka dan diserahkannya ke salah seorang pengikutnya. Jelas kalau tokoh kelas satu wilayah Timur ini merasa tersinggung oleh tantangan sosok tinggi kurus itu.

“Hm… Malaikat Gerbang Neraka! Kami tidak tahu asal-usulmu. Dan kami juga belum tahu, apa maksudmu dengan mengangkat diri sebagai pimpinan seluruh tokoh sesat dinegeri ini! Satu hal yang perlu kau ketahui. Aku Datuk Panglima Sesat tidak bersedia menjadi pembantu orang sepertimu.” tegas Datuk Panglima Sesat seraya mendongakkan dagunya dengan sikap yang tidak kalah garang.

Malaikat Gerbang Neraka tentu saja tahu, siapa orang di hadapannya. Dan ia pun sadar, orang seperti Datuk Panglima Sesat sangat diperlukan. Selain kepandaian dan kekuasaannya, tokoh kelas satu wilayah Timur itu bisa dijadikan tenaga pembantu yang diandalkan. Itulah sebabnya, mengapa ia tidak menjadi marah meskipun laki-laki tinggi besar yang gagah itu telah melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati.

“Hm. Datuk Panglima Sesat. Aku telah lama mengenal dan menyelidikimu. Kalau hari ini hendak bertarung denganku, apakah yang akan kau pertaruhkan?” tantang Malaikat Gerbang Neraka.

Sikapnya memang amat cerdik. Sebab, ia tahu seorang tokoh besar seperti Datuk Panglima Sesat tidak boleh dijatuhkan begitu saja didepan orang banyak. Masalahnya, hal itu bisa menyinggung harga diri Datuk Wilayah Timur itu. Dan apabila hal itu terjadi, ia akan kehilangan seorang pembantu yang sangat langka. Oleh karena itulah, ia dengan cerdiknya menantang bertaruh.

“Ha ha ha…!” tawa Datuk Panglima Sesat berkumandang ketika mendengar pertanyaan itu. Sebagai seorang datuk persilatan yang belum pernah menemui tandingan, tentu saja ia sangat yakin akan kemampuan yang dimiliki. Jangankan Malaikat Gerbang Neraka yang baginya hanya merupakan seorang tokoh baru. Sedangkan tiga datuk penguasa wilayah lainnya pun belum tentu dapat mengalahkannya. Maka, tentu saja tantangan itu disambut suara tawa sombongnya.

“Sebutkan! Apa yang kau inginkan, Malaikat Gerbang Neraka? Jangankan hanya kekayaan. Kepalakupun boleh kau ambil asalkan bisa mengalahkanku!” tantang Datuk Panglima Sesat dengan takaburnya.

Kelihatannya, Datuk Panglima Sesat lupa akan kodrat alam. Setiap sesuatu yang tinggi, tentu masih ada yang lebih tinggi. Dan setiap ada orang pandai, maka akan selalu ada orang yang lebih pandai. Sehingga, tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa di katakan paling besar ataupun paling tinggi.

“Tidak perlu sampai sejauh itu, Datuk Panglima Sesat,” sahut Malaikat Gerbang Neraka yang menjadi girang melihat pancingannya ternyata membawa hasil. “Bila kalah, kau cukup kujadikan pembantuku. Bagaimana?”

“Terserah apa saja maumu, Malaikat Gerbang Neraka. Satu yang harus kau ingat! Kalau kau sampai kalah ditanganku, maka bukan saja tidak melanjutkan cita-citamu. Tapi, nyawamu pun akan segera pindah ke neraka!” ujar Datuk Panglima Sesat sengaja menekankan kata-kata ‘neraka’ untuk memancing kemarahan laki-laki tinggi kurus yang menjadi calon lawannya.

Namun, apa yang diharapkan Datuk Panglima Sesat ternyata sama sekali tidak menjadi kenyataan. Sosok tinggi kurus berjubah hitam itu tetap tenang dan angker. Seolah-olah ucapan yang mengandung ejekan dari tokoh sakti wilayah Timur itu sama sekali tidak didengarnya.

“Apakah kau sudah siap, Malaikat Gerbang Neraka…?” ujar Datuk Panglima Sesat mengingatkan. Sepertinya, dengan berbuat demikian hendak ditunjukkan kalau ia berada pada tempat yang lebih tinggi dari calon lawannya.

“He…. Semenjak berbicara tadi pun, aku sudah siap!” sahut Malaikat Gerbang Neraka. Suaranya dingin dan tetap tidak terpengaruh oleh ucapan calon lawannya.

Dua sosok tubuh yang sama tinggi itu berdiri tegak dan saling berhadapan dalam jarak dua tombak. Sepasang mata mereka mencorong tajam saling meneliti sikap lawan. Namun, sikap yang ditunjukkan Malaikat Gerbang Neraka sama sekali tidak menunjukkan kesiagaannya. Sepertinya, tokoh yang belum diketahui dari mana asalnya itu sama sekali tidak berhasrat bertarung. Tentu saja Datuk Panglima Sesat menjadi jengkel melihat sikap lawannya. Ia yang semenjak tadi menunggu serangan lawan, jadi tidak sabar.

“Mengapa kau tidak menyerang, Malaikat Gerbang Neraka? Apakah kau berubah pikiran?” tegur Datuk Panglima Sesat. Nada suaranya jelas menunjukkan kejengkelan hati.

“Hm… Kalau memang itu maumu, bersiaplah…” sahut laki-laki tinggi kurus itu. Nadanya tetap dingin dan tanpa amarah.

Namun, di balik semua ketenangannya, tersembunyi sifat sadis dan kejam yang bahkan melebihi kekejaman para datuk sesat sekarang ini. Semua itu dapat terlihat jelas dari pancaran sepasang matanya yang terkadang menimbulkan kilatan aneh dan mengerikan.

Hati Datuk Panglima Sesat sempat bergetar juga melihat sikap lawanyan gbagaikan tak memiliki semangat hidup itu. Namun, semua itu tertutup oleh rasa sombong di hatinya. Dan ia hanya berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang untuk menghadapi serangan lawan.

“Sambut seranganku…!”

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring yang sempat membuat Datuk Pangllma Sesat terkejut. Memang ketika bentakan itu terdengar, sosok tinggi kurus dihadapannya ternyata sudah lenyap entah kemana. Sadar kalau lawan memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat langka, maka tokoh sakti wilayah Timur itu segera mengerahkan indera pendengarannya untuk menghadapi gempuran lawan.

Wuttt!

Datangnya angin pukulan yang menimbulkan suara mencicit tajam itu, membuat Datuk Panglima Sesat menggeser kaki kanannya kesamping kiri. Gerakannya dibarengi egosan tubuh yang meliuk bagaikan seorang penari lihai. Bahkan Datuk Panglima Sesat masih sempat juga melancarkan serangan balasan yang cukup berbahaya.

Bettt! Bettt!

Dua pukulan balasan yang dilancarkan Datuk Panglima Sesat hanya mengenai angin kosong, karena saatt tutubuh lawan kembali telah lenyap dari hadapannya. Namun, kepekaan pendengaran laki-laki tinggi besar itu memang patut mendapat acungan jempol. Begitu terasa ada angin lembut disebelah kanannya, kakinya yang besar itu langsung saja melepaskan sebuah tendangan kilat yang mengejutkan.

Zebbb!

Sayang serangan yang dilancarkan Datuk Panglima Sesat kembali menghantam tempat kosong. Bahkan tubuh lawan yang mengegos itu tiba-tiba muncul di depannya. Langsung dikirimnya pukulan lurus menuju dada Datuk Timur itu. Dari suara angin pukulannya yang mencicit tajam, jelas kalau tenaga dalam yang terkandung dalam pukulan lawan sangat kuat.

Tapi memang tidak percuma Datuk Panglima Sesat menjadi tokoh kelas satu diwilayah Timur. Serangan yang sangat cepat dan tak terduga itu sama sekali tidak membuatnya gugup. Dengan sebuah gerakan mengejutkan, tubuh laki-laki tinggi besar itu roboh ke belakang. Sambil menjatuhkan diri dengan sikap telentang, dan bertumpu pada telapak tangan, sepasang kakinya melakukan tendangan beruntun ke dadaclawan.

Pada jurus yang kedua puluh lima ini, Malaikat Gerbang Neraka memperlihatkan kehebatannya. Kepalanya yang semula meluncur lurus ke dada lawan, berputar cepat. Langsung disambutnya dua tendanganclawan.

Plak! Plak!

Terdengar suara nyaring begitu dua gelombangctenaga sakti yang sama kuat beradu. Dan dengan cerdiknya, Malaikat Gerbang Neraka meminjam tenaga benturan untuk mencelat di atas tubuh lawan. Ternyata lompatan tubuhnya masih disertai sambaran telapak tangan yang meluncur deras mangancam pelipis Datuk Panglima Sesat. Sebuah serangan hebat, dan menandakan kecerdikan tokoh sesat bertubuh tinggi kurus itu.

Bresssh!

Dua gelombang tenaga sakti yang sama dahsyatnya kembali bertumbukan ketika Datuk Panglima Sesat menjatuhkan tubuh dan mendorongkan telapak tangannya untuk menyambut tamparan lawan. Hebat sekali akibat benturan dua gelombang tenaga raksasa itu. Tubuh Malaikat Gerbang Neraka melambung beberapa tombak keudara. Hal itu terjadi, karena saat berbenturan, tubuh laki-laki tinggi kurus itu tengah berada di udara. Sehingga, benturan itu tidak mendatangkan kerugian baginya.

Sebaliknya, Datuk Panglima Sesat yang keadaannya tengah telentang, merasakan tubuhnya bagai dihimpit tenaga raksasa yang membuat dadanya sesak. Untunglah kekuatan tenaga saktinya sudah sangat tinggi. Kalau tidak, kemungkinan besar tokoh kelas satu wilayah Timur itu akan menderita luka dalam yang parah.

“Haiiit..!”

Disertai sebuah bentakan nyaring, tubuh Datuk Panglima Sesat melenting ke udara. Dan begitu kedua kakinya menjejak tanah, tubuh tinggi besar itu meluncur bagai sebatang tombak ke arah lawan.

Wuttt! Wutt!

Tubuh yang meluncur lurus itu masih dibarengi putaran sepasang tangannya. Angin keras menyambar-nyambar bagaikan putaran gelombang angin puyuh!

“Hmh…!” Malaikat Gerbang Neraka hanya menggeram ketika melihat datangnya serangan lawan. Sadar kalau Datuk Panglima Sesat telah menggunakan seluruh tenaga dalamnya, maka laki-laki tinggi kurus yang menggiriskan itu pun memantek sepasang kakinya diatas tanah. Sementara sepasang tangannya menyilang didepan dada.

“Heaaat…!”

Sambil mengeluarkan bentakan keras, laki-laki bertubuh tinggi kurus itu mendorongkan sepasang telapak tangannya menyambut hantaman sepasang telapak tangan Datuk Panglima Sesat.

Wusss! Wusss!

Dua gelombang tenaga sakti yang sama-sama mengandung hawa dingin meluncur deras mengiringi dorongan telapak tangan mereka. Dan…

Blarrr..,!

“Aaakh…!”

Dataran disekitar Lembah Tiga Setan seketika bagaikan diguncang gempa ketika dua tenaga raksasa yang sangat dahsyat saling bertumbukan keras. Ledakannya bagaikan gemuruh petir. Sehingga, membuat beberapa orang tokoh sesat yang menyaksikan pertarungan maut itu bergeletakan pingsan. Bahkan beberapa orang terlemah, langsung tewas seketika! Rupanya, ledakan dahsyat itu telah membuat dada mereka terguncang keras.

Akibat yang diderita Datuk Panglima Sesat pun cukup parah. Tubuh laki-laki tinggi besar yang selalu mengenakan seragam seorang panglima kerajaan itu terpental balik dengan luncuran yang sangat deras. Pada saat tubuh tinggi besar itu meluncur hendak menabrak sebatang pohon sebesar dua pelukan orang dewasa, sesosok bayangan putih berkelebat bagai kilat menyambutnya.

Tappp!

Dengan gerakan sangat indah dan cekatan, sosok bayangan putih itu langsung menangkap tubuh Datuk Panglima Sesat. Sehingga, tubuh tinggi besar itu tidak sampai membentur pohon besar di belakangnya. Sebelum menjejakkan kakinya di atas tanah, sosok tubuh berjubah putih kumal itu berputar dua kali di udara. Memang, sosok itu tak lain adalah Memedi Karang Api. Rupanya, Datuk Wilayah Barat inilah yang telah menyelamatkan kawan seangkatannya itu.

“Ah…! Orang itu benar-benar lihai sekali, Memedi Karang Api,” aku Datuk Panglima Sesat yang sama sekali tidak mengucapkan rasa terima kasih atas pertolongan kakek itu.

“Benar. Tuanku Panglima Sesat. Nampaknya laki-laki yang berjuluk Malaikat Gerbang Neraka itu benar-benar patut dijadikan pimpinan tokoh golongan hitam,” sahut kakek berjubah putih lusuh itu seraya tersenyum gembira

“Dasar Memedi jembel! Apa kau pikir, aku bersedia menerimamu sebagai pembantu, hanya karena telah menolongku,” sergah Datuk Panglima Sesat menimpali ucapan Memedi Karang Api yang baru saja menyebutnya sebagai ‘Tuanku Panglima’. Karena kakek urakan itu hanya sekadar bergurau, maka Datuk Panglima Sesat tidak menjadi marah.

“Hm. Apakah sekarang kau masih tidak setuju dengan keinginan orang itu, Datuk Gila Pangkat?” kembali Memedi Karang Api berkelakar.

Datuk Panglima Sesat tidak segera menjawab pertanyaan Memedi Karang Api. Dihapusnya cairan merah yang saat itu masih mengalir di sudut bibirnya. Wajahnya yang saat itu masih nampak pucat, mengulas senyum dingin.

“Kau bagaimana..?” Datuk Panglima Sesat balik bertanya. Sepertinya laki-laki tinggi besar itu hendak menjajaki hati sahabatnya terlebih dahulu sebelum menjawab.

“Rasanya aku menyetujui keinginannya itu. Dan kalau kita telah mengangkatnya, lalu ia berbuat macam-macam, tinggal tebas saja batang lehernya. Beres kan?” ujar Memedi Karang Api seenak perutnya.

“Huh! Kau pikir siapa kau ini! Kalau aku saja dapat ditundukkannya dalam waktu kurang dari empat puluh jurus, bagaimana denganmu yang sudah tinggal tulang terbungkus kulit?” omel Datuk Panglima Sesat yang merasa sebal dengan ucapan takabur kakek itu.

Makian itu sama sekali tidak membuat Memedi Karang Api menjadi marah. Bahkan malah terkekeh melihat kekesalan Datuk Panglima Sesat.

“Bagaimana, Sahabat..? Apakah masih perlu diadakan perkelahian yang tidak berguna ini?” Tiba-tiba terdengar teguran parau dari Malaikat Gerbang Neraka.

Datuk Panglima Sesat dan Memedi Karang Api sama-sama menolehkan kepala mendengar pertanyaan itu. Karena jarak di antara mereka masih terpisah beberapa belas tombak, maka kedua orang datuk itu pun sadar kalau Malaikat Gerbang Neraka telah menggunakanilmu “Mengirim Suara dari Jauh’ dalam menyampaikan pertanyaannya. Dan lagi, hanya mereka bertigalah yang mengetahuinya. Kedua orang datuk sesat itu sama-sama menganggukkan kepala sebagai isyarat menyetujui pengangkatan pemimpin golongan hitam itu.

“Bagus. Kalau begitu, kita segera mengatur rencana secepatnya.” sambilt Malaikat Gerbang Neraka seraya menarik napas lega. Kegembiraan tokoh tinggi kurus yang menggiriskan itu, membuatnya melepaskan Garuda Mata Satu dan laki-laki pendek kekar yang semenjak tadi hanya berdiri kaku dalam keadaan tertotok.

“Terima kasih atas kebaikan hati Pemimpin Agung terhadap kami,” sembah kedua orang itu seraya menjatuhkan diri, langsung berlutut didepan Malaikat Gerbang Neraka.

“Hm…,” laki-laki tinggi kurus itu hanya menggeram sambil mengibaskan tangannya menyuruh keduanya bangkit. “Bagi kedua datuk yang tidak hadir, biarlah aku yang akan memberi pelajaran kepada mereka,” tegas Malaikat Gerbang Neraka. Kemudian laki-laki berjubah hitam itu segera mengajak tokoh-tokoh terkemuka untuk diajak berunding. Sedangkan yang lainnya diperbolehkan meninggalkan Lembah Tiga Setan.


TIGA

Saat ini, matahari baru saja menampakkan dirinya. Kokok ayam jantan saling bersahutan menyambut datangnya sang mentari pagi. Angin pagi yang segar, bersilir lembut menyapa dedaunan hingga menimbulkan bunyi gemerisik lirih. Sayangnya, suasana pagi yang begitu tenang dan indah harus terusik oleh suara derap kaki kuda bergemuruh. Kepulan debu membumbung tinggi. Udara yang semula bersih, kontan menjadi kotor dan gelap.

“Heyaaa…. Heyaaa…!”

Seorang laki-laki berkepala botak membedal kudanya disertai teriakan nyaring. Dibelakangnya tampak puluhan orang laki-laki bertampang kasar yang juga menunggang kuda. Rupanya, rombongan itulah yang telah merusak suasana pagi yang hening dan indah ini.

Rombongan berkuda yang kurang lebih berjumlah dua puluh orang itu terus memacu kudanya melewati perbatasan sebuah desa. Itu terlihat dari adanya sebuah tiang batu setinggi bahu laki-laki dewasa yang terpancang di mulut desa. Tak berapa lama kemudian, mulut Desa Karang Dadappun mulai terlihat. Beberapa orang petani yang hendak berangkat ke sawah, bergegas menyingkir. Mereka yang tidak sempat menyingkir langsung terlempar ketepi jalan, akibat tercambuk oleh orang-orang yang berkuda terdepan.

“Minggir… minggir!” bentak laki-laki berkepala botak yang sebelah matanya tertutup kulit binatang. Sambil berteriak-teriak, laki-laki itu melecutkan cambuk di tangannya dengan bengis.

Ctarrr! Ctarr!

“Aaakh…!”

“Aaa…!”

Dua orang petani yang tidak sempat menyingkir, tersengat lecutan cambuk yang keras dan menyakitkan. Tubuh mereka langsung terlempar ke tepi jalan. Darah segar mengucur pada luka memanjang akibat kerasnya sengatan cambuk itu.

Tanpa mempedulikan korban lecutan cambuknya, laki-laki berkepala botak yang tak lain adalah Garuda Mata Satu terus saja melanjutkan perjalanannya. Tak sedikitpun terlintas rasa iba dalam hatinya meskipun korban lecutan cambuk itu merintih kesaktian.

Begitu tiba di mulut Desa Karang Dadap, beberapa orang yang berada dibarisan belakang berlompatan turun. Sedangkan Garuda Mata Satu dan sebagian yang lain terus membedal kuda menyusuri jalan utama desa. Sebagian kelompok rombongan berkuda yang berlompatan turun di mulut desa langsung saja bergerak memasuki rumah-rumah penduduk. Seketika, terdengar jerit kematian yang susul-menyusul saat sepuluh orang yang ternyata anggota perampok itu menyabetkan pedang.

Brettt! Brettt!

Darah segar langsung merembes bersama robohnya penduduk desa yang hendak melakukan perlawanan. Beberapa penghuni rumah terdepan yang terletak dimulut Desa Karang Dadap langsung dibantai apabila melawan. Sedangkan harta benda mereka digondol sepuluh orang laki-laki bertampang bengis itu. Tanpa mempedulikan jerit tangis wanita dan anak-anak yang kehilangan orang tua maupun suaminya, para perampok itu berlompatan keatas punggung kuda mereka.

“Binatang kau! Dasar perampok laknat!” Seorang wanita setengah baya berlari mengejar salah seorang perampok yang telah membunuh suaminya. Tanpa rasa takut, wanita itu menarik turun kaki perampok yang bertubuh kurus. Wajahnya yang pucat telah dibasahi air mata.

“Pergi kau. Perempuan Setan…!” bentak laki-laki kurus itu sambil berusaha melepaskan kakinya dari pegangan perempuan setengah baya yang bagai kerasukan setan. Kegeraman laki-laki tinggi kurus itu bangkit ketika cengkeraman wanita itu tidak juga mau terlepas dari kakinya. Dengan luapan amarah, perampok itu menendang dada wanita malang itu sekuat tenaga.

Buggg!

“Hugkh…!” Tanpa dapat dicegah lagi tubuh wanita itu langsung jatuh terjengkang. Darah segar menyembur dari mulutnya. Belum lagi wanita malang itu sempat bangkit, perampok yang telah kalap ini melompat turun. Langsung goloknya ditusukkan kedada wanita malang itu. Darah segar pun langsung menyembur membasahi tanah lembab. Diiringi jeritan pilu, tubuh wanita setengah baya itu pun ambruk tak bergerak-gerak lagi.

“Ayo cepat berangkat..!” perintah anggota perampok yang merupakan pimpinan sepuluh orang, dengan suara lantang. Tanpa menoleh lagi, anggota perampok bertubuh kurus itu bergegas melompat keata spunggung kudanya. Sesaat kemudian, mereka membedal kudanya menyusuri jalan utama Desa Karang Dadap tanpa mempedulikan korban korbannya yang bergelimpangan ditengah jalan.


“Hei, berhenti…! Mau kemana kalian…?” seru seorang laki-laki berseragam hitam yang bertugas menjaga rumah kediaman Kepala Desa Karang Dadap. Tubuhnya berdiri tegap menghadang jalan masuk rumah kediaman sang Kepala Desa.

Namun rombongan penunggang kuda itu sama sekali tidak mempedulikannya. Mereka terus saja bergerak masuk menuju halaman depan rumah besar itu. Merasa peringatannya tidak diindahkan, laki-laki berseragam hitam itu melolos senjatanya yang berupa sebatang golok panjang. Dengan sikap gagah, goloknya dihunus untuk menghadapi kemungkinan yang bakal dihadapi.

Garuda Mata Satu yang menjadi pemimpin rombongan, tertawa terbahak-bahak. Saat itu juga, tangannya bergerak melepaskan lecutan pecut ditangannya.

Ctarrr!

“Aaakh…!”

Hebat sekali lecutan yang dilancarkan Garuda Mata Satu. Bagaikan seekor ular hidup, pecut itu langsung melibat tangan laki-laki berseragam hitam yang menggenggam senjata. Dan sebelum orang itu sempat menyadari apa yang terjadi, terdengar bentakan keras.

“Hiaaah…!”

Sambil membentak keras, Garuda Mata Satu membetot gagang cambuknya. Dan tanpa dapat ditahan lagi, tubuh laki-laki itu terjerunuk deras ke depan. Cepat bagai kilat, tangan Garuda Mata Satu bergerak cepat mencabut keluar senjatanya. Sekali mengibas saja, terdengar teriakan ngeri yang disusul robohnya tubuh laki-laki penjaga pintu gerbang Kepala Desa Karang Dadap dalam keadaan mandi darah. Setelah berkelojotan sesaat orang itu pun diam tak bergerak. Tewas, dengan luka memanjang dilehernya.

“Ayo, tunggu apa lagi..?!” seru Garuda Mata Satu sambil melompat turun dari punggung kudanya. Dari gerakannya yang lincah dan ringan, dapat ditebak kalau kepandaian Garuda Mata Satu tidak bisa dipandang ringan.

“Hei?! Siapa kalian, hah! Pembunuh keji!” seru seorang laki-laki bertubuh gendut yang mengenakan ikat kepala berwarna hitam. Wajah laki-laki yang terhias brewok itu tampak memucat melihat tubuh kawannya yang telah tergeletak mandi darah. Tanpa membuang-buang waktu lagi, orang itu pun langsung berteriak memberitahukan kawan-kawannya yang lain.

“Pembunuh…! Ada pembunuh…!” teriak laki-laki gemuk itu sekuat tenaga. Setelah berkata demikian, ia pun segera melolos keluar senjatanya yang berbentuk golok. Tanpa rasa gentar sedikit pun, dihadangnya rombongan itu dengan sikap gagah.

Teriakan laki-laki gemuk itu tentu saja membuat orang- orang yang berada didalam rumah besar berlarian keluar. Di tangan mereka tampak telah tergenggam senjata telanjang.

“Sarpan! Ada apa…?” tanya seorang laki-laki bertubuh tegap. Wajah laki-laki itu terhias kumis tebal. Di tangannya telah tergenggam sebatang tongkat dari kayu besi. Melihat dari sikapnya yang berwibawa, jelas kalau dia termasuk tokoh penting di Desa Karang Dadap.

“Jumala terbunuh, Kakang. Entah dari mana datangnya rombongan manusia liar itu,” lapor laki-laki gemuk yang bernama Sarpan itu tergesa-gesa. Tangan kanannya yang memegang golok, menuding rombongan yang tengah berlarian ke arah mereka.

“Kurang ajar…! Cegah orang-orang liar itu…!” perintah laki-laki tegap yang merupakan kepala keamanan di Desa Karang Dadap itu. Kemudian, tubuhnya segera melayang bagaikan seekor burung besar yang tengah bermain-main di angkasa. Begitu menjejakkan kakinya di atas tanah, tongkat di tangannya langsung berkelebat melancarkan serangan ke arah laki-laki terdepan. Dari sambaran tongkatnya yang menimbulkan desir angin kuat, dapat ditebak kalau tenaga sakti yang dimilikinya cukup tinggi.

Wuttt!

“Hmh…!” Orang terdepan yang tak lain adalah Garuda Mata Satu mendengus kasar. Melihat dari caranya memandang, jelas kalau Garuda Mata Satu menganggap remeh lawannya. Tubuhnya bergerak ke kiri menghindari sodokan tongkat yang mengancam perutnya. Gerakan mengelak itu ternyata masih dibarengi luncuran cambuknya yang melesat mengancam leher lawan.

Bagali, laki-laki tinggi tegap yang merupakan kepala keamanan Desa Karang Dadap ternyata bukan orang lemah. Melihat datangnya lecutan cambuk yang mengancam leher, cepat tubuhnya mengegos ke kiri sambil membabatkan tongkat secara mendatar.

Namun, Garuda Mata Satu bukanlah tokoh kemarin sore. Sepak terjangnya sebagai seorang kepala rampok yang mempunyai banyak anggota telah terkenal. Bahkan sifatnya sangat kejam, sehingga semakin ditakuti lawan- lawannya. Tidak sedikit para tokoh golongan putih yang tewas karena hendak mencegah perbuatannya.

Dalam menghadapi Bagali yang merupakan kepala keamanan desa, Garuda Mata Satu seperti tidak merasa perlu menggunakan ilmu andalannya. Selama bertarung dalam dua puluh jurus, ia hanya menggunakan cambuknya sebagai senjata. Tapi, jangan dipandang ringan cambuk ditangan tokoh sesat itu. Garuda Mata Satu terkenal sangat lihai dalam permainan cambuk. Sehingga, wajar saja kalau Bagali merasa kerepotan dalam menghadapi serangan cambuk yang dilancarkan kepala rampok itu.

“Haiittt…!”

Ketika pertarungan menginjak pada jurus yang kedua puluh tiga, Garuda Mata Satu memekik nyaring. Pekikannya yang mengejutkan masih disusul lesatan tubuhnya. Berbarengan dengan itu, cambuk ditangannya berputar membentuk lingkaran-lingkaran yang membuat lawan kebingungan. Sehingga, keadaan Bagali benar- benar terancam.

Ctarrr! Ctarrr!

Bunyi ledakan cambuk yang memekakkan telinga kontan membuyarkan perhatian Bagali. Dan sebelum laki- laki tegap itu sempat menyadari datangnya bahaya,tahu-tahu saja cambuk lawan telah membelit lehernya. Keterkejutan itu membuatnya melakukan gerakan menebas. Maksudnya, untuk memutuskan senjata lawan.

Tapi, Garuda Mata Satu tidak ingin memberi kesempatan kepada lawan untuk membebaskan diri. Dengan mengerahkan hampir seluruh tenaga dalam, laki- laki berkepala botak itu membetot cambuk yang membelit leher Bagali. Begitu tubuh Bagali terjerunuk ke depan, langsung disambutnya dengan hantaman lutut

Buggg!

“Huagkh…!” Tubuh Bagali terbungkuk akibat sodokan lutut yang telah menghantam dadanya. Darah segar seketika termuntah dari mulut laki-laki gagah itu. Belum lagi rasa sakitnya lenyap, sebuah hantaman sisi telapak tangan miring yang dilakukan Garuda Mata Satu membuatnya menggelepar sekarat. Sesaat kemudian, Bagali pun menghembuskan napas terakhirnya.


Sementara itu, pertarungan yang berlangsung antara para pengikut Garuda Mata Satu melawan para pengawal kepala desa sudah pula hampir berakhir. Anggota perampok yang berjumlah sepuluh orang ternyata memiliki kepandaian lumayan. Sehingga, dua belas orang pengawal Kepala Desa Karang Dadap harus berusaha mati-matian mempertahankan selembar nyawanya.

Darah segar sudah menggenang membasahi pelataran rumah Kepala Desa Karang Dadap. Empat sosok mayat sudah tergeletak dengan tubuh berlumuran darah segar. Mereka adalah para pengawal kepala desa yang menjadi korban keganasan para perampok. Meskipun demikian, kedua belas orang pengawal kepala desa lainnya tetap mempertaruhkan selambar nyawanya untuk ketenteraman desa mereka. Sayang, perlawanan para pengawal itu seperti sta-sia saja. Apalagi dengan terbunuhnya Bagali. Maka, keadaan mereka pun semakin kocar-kacir.

“Heaaat..!”

Brettt! Crakkk!

“Aaakh…!”

Dua orang pengawal Kepala Desa Karang Dadap kembali tumbang dengan tubuh bersimbah darah. Keduanya kontan tewas dengan luka yang sangat parah. Kenyataan itu tentu saja semakin membuat yang lain menjadi ciut nyalinya. Sehingga tanpa disadari serangan- serangan merekapun mulai tak beraturan.

Kekacauan perlawanan para pengawal kepala desa itu membuat para pengikut Garuda Mata Satu semakin bersemangat. Tanpa rasa perikemanusiaan sedikit pun, mereka segera membantai para pengawal satu persatu. Malang sekali nasib anggota keamanan Desa Karang Dadap. Satu persatu tubuh mereka berjatuhan dalam keadaan tewas. Bau anyir darah pun semakin santer, mengotori udara disekitar halaman rumah kepala desa. Selesai membantai belasan orang pengawal Kepala Desa Karang Dadap, Garuda Mata Satu mengajak para pengikutnya untuk memasuki rumah kediaman kepala desa itu.

“Hei, Kacung! Di mana kepala desamu bersembunyi? Cepat katakan, sebelum golokku menyembelih lehermu!” bentak salah seorang pengikut Garuda Mata Satu, kepada seorang pelayan berusia sekitar tiga puluh lima tahun.

“Ki…, Ki Kampala sedang menderita sakit, Tuan. Beliau… terbaring di kamarnya.” sahut laki-laki bertubuh kurus kecil itu, gemetar. Wajahnya pucat bagai tak dialiri darah. Saking kuatnya rasa takut melihat mata golok yang menempel di kuat lehernya, sehingga celananya pun basah. Dia terkencing-kencing!

“Bangsat! Huh…!” perampok berhidung besar itu menjadi berang ketika mencium bau tak sedap yang berasal dari celana kacung itu. Dengan wajah merah, ditebasnya leher pelayan tak berdosa itu. Tanpa mempedulikan tubuh pelayan yang menggelepar mandi darah, laki-laki berhidung besar itu pun bergegas mengikuti pemimpinnya memasuki kamar pribadi Ki Kampala.

Brakkk!

Daun pintu yang terbuat dari papan tebal itu kontan hancur berantakan akibat tendangan Garuda Mata Satu. Sambil memperdengarkan suara tawanya yang berkepanjangan, laki-aki berkepala botak itu bergegas memasuki kamar. Sepasang mata liar Garuda Mata Satu tertumbuk pada pembaringan. Senyum iblisnya mengembang ketika melihat dua sosok tubuh wanita yang tengah menunggui Ki Kampala. Sedangkan kepala desa itu sendiri tampak terbaring lemah dengan wajah pucat.

“Seret dan bunuh orang tua tak berguna itu!” perintah Garuda Mata Satu tanpa rasa iba sedikitpun.

“Oh…! Jangan, Tuan. Suamiku sedang sakit…,” rintih wanita berwajah manis, dan berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Sedangkan wanita yang satunya lagi, hanya dapat memandang dengan mata membelalak ketakutan!Isaknya terdengar lirih sambil memeluk tubuh wanita berwajah manis itu.

“Dan itu anakmu, bukan…? He he he…,” Garuda Mata Satu menjilati bibirnya melihat gadis remaja berusia sekitar tujuh belas tahun yang tengah memeluk tubuh ibunya

Sementara itu, dua orang anak buah Garuda Mata Satu segera melaksanakan perintah pimpinannya. Ki Kampala yang terbaring lemah segera diseret tanpa rasa belas kasihan. Tidak dipedulikannya rintih kesakitan yang keluar dari mulut laki-laki setengah baya itu. Istri Ki Kampala menjerit-jerit memohon ampun sambil memeluk kedua kaki Garuda Mata Satu.

“Dia…, dia sedang sakit, Tuan. Jangan siksa dia…. Bunuh saja aku. Atau kalau Tuan memerlukan harta, silakan Tuan bawa semuanya asalkan kami jangan diganggu.” ratap wanita berwajah manis itu, memelas.

“He he he…. Wajahmu cukup manis, nisanak,” ujar Garuda Mata Satu samba mengelus pipi wanita itu. Kemudian, ia menolehkan kepalanya ke arah para pengikutnya, “Bawa dan kurung gadis ayu itu”

“Ibuuu….” gadis itu hanya dapat menangis ketika dua orang pengikut Garuda Mata Satu membawanya keluar dari kamar.

“Kalian boleh pergi dan jaga di depan. Kalau yang lainnya sudah tiba, baru kita tinggalkan desa ini. Kelak wanita ini akan kuserahkan pada kalian,” ujar Garuda Mata Satu dengan suara rendah.

“Baik…” jawab salahcseorang pengikutnya yang segera beranjak meninggalkannya.

Sepeninggal para pengikutnya, Garuda Mata Satu mengalihkan perhatian kepada istri Ki Kampala. Seringai iblis tersirat di wajah laki-laki bermata cacat itu. “Nah! Kalau kau ingin suami dan anakmu selamat, layanilah aku dengan sebaik-baiknya. Kalau tidak, terpaksa mereka kusiksa sampai mati.” bujuk Garuda Mata Satu sambil mengelus punggung wanita itu.

“Jangan, Tuan…..! Aku…. mempunyai suami..,” rintih wanita itu dengan suara memelas. Sadar kalau laki-laki berkepala botak itu berniat tidak baik terhadap dirinya, maka iapun berusaha melarikan diri dari dalam kamar itu.

“Keparat! Dasar tidak tahu disayang orang..!” geram Garuda MatavSatu, langsungvdisambarnya tubuh mulus itu dan dilemparkan ke pembaringan. Sambil tertawa terbahak-bahak, diterkamnya tubuh wanita malang itu.

Seketika terdengar rintih memelas dari istri kepala desa itu. Namun suara itu bagi Garuda Mata Satu bagai rintihan nikmat. Laki-laki bejat itu segera melampiaskan nafsunya dengan napas memburu. Setelah beberapa lama kemudian, Garuda MatavSatu telah melepaskan hasrat bejatnya. Kini, kakinya melangkah keluar dari kamar itu.

“Kawan-kawan kita yang lain sudah tiba, Ketua.” lapor salah seorang anggota perampok, menyambut kedatangan Garuda Mata Satu.

“Hm. Ayo kita tinggalkan tempat ini. Wanita tak tahu diuntung itu terpaksa kubunuh, karena tidak menyenangkan hatiku. Bagaimana dengan kepala desa penyakitan itu?” tanya Garuda Mata Satu kemudian.

“Sudah beres, Ketua.” sahut orang itu lagi.

“Bagus. Ayo kita pergi, dan bawa serta gadis itu.” pertntah Garuda Mata Satu lagi.

“Ia…. ia telah bunuh diri, Ketua…” jawab pengikutnya takut-takut.

“Setan…!” maki Garuda Mata Satu yang segera bergegas ke luar, diikuti para pengikutnya.


EMPAT

“Batas Desa Karang Dadap,” sebut seorang gadis jelita berpakaian serba hijau, membaca tulisan yang tardapat pada tiang batu setinggi bahunya. “Apakah kita akan singgah di desa ini, Kakang?” Kepala gadis itu segera menoleh ke arah seorang pemuda tampan yang mengenakan jubah putih.

“Terserah kau? Apakah berniat ingin singgah, atau kita mengambil jalan lain saja,” sahut pemuda berjubah putih menggerakkan bahunya sambil memandang kesekeliling tempat itu yang memang terdapat dua jalan.

“Lebih baik, kita singgah saja, Kakang. Kalau desanya cukup ramai dan penduduknya ramah, kita bisa menginap barang semalam,” saran gadis jelita itu sambil menatap wajah pemuda di sampingnya lekat-lekat. Seolah-olah, ia ingin mendengar tanggapan pemuda itu tentang usul yang diajukannya.

“Baiklah kalau itu maumu,” jawab pemuda tampan itu seraya tersenyum.

Setelah mendapatkan jawaban, wajah jelita itu tampak berseri gembira. Kakinya kemudian melangkah mengiringi pemuda berjubah putih yang berjalan tanpa terburu-buru.

Saat itu, matahari tengah memancarkan cahayanya yang terik. Pantulan sinarnya yang menerobos rimbunan pohon tampak memecah membentuk lingkaran garis-garis berwarna-warni. Namun, semua itu sama sekail tidak menarik perhatian mereka. Langkah kaki keduanya terus saja terayun menyusuri jalan lebar yang menuju Desa Karang Dadap. Tak sepatah kata pun yang terucap dari mulut mereka. Sepertinya, kedua orang itu ikut terhanyut oleh keheningan suasana disekitarnya.

Ketika dikiri kanan jalan itu tampak membentang persawahan luas, pemuda berjubah putih itu mengerutkan keningnya. Sejenak langkahnya dihentikan, seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling menatapi sawah yang berpetak-petak itu.

“Ada apa, Kakang? Mengapa berhenti…?” tegur gadis jelita itu. Dia merasa heran melihat kerutan di wajah pemuda tampan teman seperjalanannya.

“Hm…. Perhatikanlah di sekelilingmu. Apakah kau melihat sesuatu yang ganjil…?” tanya pemuda itu seolah-olah tidak mendengar pertanyaan tadi.

Pertanyaan yang mengandung teka-teki itu tentu saja membuat gadis jelita ini mengerutkan kening. Namun, ia tetap mengikuti permintaan itu meski dengan benak dipenuhi pertanyaan. Setelah agak lama memperhatikan sekelilingnya, gadis jelita itu menolehkan kepala sambil mengangkat bahu. Jelas kalau ia tidak menemui keanehan seperti yang dimaksud pemuda itu.

“Kau tidak menemukannya, Kenanga?” tegur pemuda berjubah putih yang tak lain adalah Panji dan berjuluk Pendekar Naga Putih.

“Tidak. Apakah Kakang menemukan sesuatu yang aneh di sekitar tempat ini? Tapi, sepertinya semua dalam keadaan wajar…,” sahut gadis jelita bagai bidadari sambil menggelengkan kepala. Dan memang, gadis berpakaian serba hijau itu adalah Kenanga.

“Ah! Mengapa pertanyaan semudah itu tidak dapat kau temukan jawabannya? Coba perhatikan sawah-sawah itu. Adakah kau lihat seorang petani disana?” tanya Panji lagi dengan maksud jelas, dan mudah dimengerti.

“Oh! Mengapa aku begitu bodoh! Persoalan sepele ini seharusnya sudah dapat kuterka sejak tadi!” seru Kenanga yang baru menyadari keanehan itu.

“Hm. Ke mana saja pikiranmu sejak tadi?” ledek Panji sambil tersenyum menggoda.

Tapi Kenanga yang sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan kekasihnya, tidak menimpali ucapan itu. Keningnya tampak berkerut dalam. Jelas, pikiran gadis jelita itu tengah tenggelam oleh keanehan yang ditemukannya.

“Hei! Kau memikirkan apa?” goda Panji sambil mencubit hidung gadis jelita yang mungil dan mancung itu.

Kesadaran gadis itu baru tergugah ketika Pendekar Naga Putih mencubit hidungnya. Lamunannyapun lenyap seketika. Tapi, kali ini ia malah menatap wajah pemuda kekasihnya lekat-lekat.

“Apa dugaanmu tentang keanehan ini, Kakang?” tanya gadis itu sambil tetap memandang wajah kekasihnya. Nampaknya Kenanga telah menyerah karena tidak menemukan jawaban atas keanehan yang dilihatnya itu.

“Aku pun tidak bisa menebaknya secara pasti. Sedangkan pesta panen biasanya diadakan malam hari. Lagi pula, saat ini belum musim menuai. Tapi tidak adanya para petani di sekitar persawahan luas ini, tentu karena adanya sesuatu yang penting di dalam desa. Maka sebaiknya kita lihat saja. Ayo!” ajak Panji yang segera menarik lengan kekasihnya dan dibawanya berlari secepat terbang.

Karena Kenanga dan Pendekar Naga Putih mengerahkan ilmu lari yang amat langka, sebentar saja mereka telah tiba di mulut desa. Bau kamenyan yang terasa menyengat hidung, membuat keduanya bergegas memasuki desa itu. Pendekar Naga Putih mulai membaui sesuatu yang tidak wajar ketika kesepian yang mencekam menyambut kedatangan mereka. Tentu saja mereka menjadi heran. Sebab, bagaimana mungkin kalau persawahan yang padinya telah mulai menguning, tapi desanya tidak berpenduduk. Lalu, siapa yang telah menggarap sawah yang demikian luas itu?

Pertanyaan-pertanyaan yang mengusik hati Panji dan Kenanga mulai mendekati jawaban ketika tiba di balai desa. Bau kemenyan yang semakin menyengat, menyambut kedatangan pasangan pendekar muda itu. Apa yang terbentang di depan mata mereka, benar-benar membuat keduanya terkejut. Puluhan sosok mayat, tampak berjejer memenuhi halaman depan balai Desa Karang Dadap.

“Apa yang telah menimpa desa ini, Paman..?” tanya Panji begitu melihat dua orang laki-laki setengah baya yang muncul dari dalam balai desa. Kening pemuda itu kembali berkerut ketika melihat adanya luka memanjang pada wajah salah seorang dari mereka. Jelas kalau luka itu bukan karena kecelakaan.

“Kalian berdua siapa? Dan apa maksud kalian datang kedesa ini?” tegur laki-laki yang wajahnya terdapat luka.

Nada suara orang itu sama sekali tidak enak didengar telinga. Jelas, kedua laki-laki setengah baya itu tidak menyukai kehadiran orang asing didesa mereka. Karena suara pertanyaan orang itu cukup keras, maka tiga orang laki-laki lain, dan enam orang wanita berusia hampir separuh baya tampak berdatangan ke tempat itu. Mereka muncul begitu saja dari dalam balai desa. Dari cara memandang, jelas tersirat sinar kebencian mereka yang mendalam terhadap Pendekar Naga Putih dan Kenanga.

Panji yang memaklumi akan perasaan orang-orang itu tersenyum sabar. Dengan sikap tetap tenang dan tanpa merasa tersinggung, ia pun memperkenalkan diri. “Maaf kalau kehadiran kami berdua telah mengganggu ketenteraman Paman dan yang lainnya. Namaku Panji. Sedangkan kawanku bernama Kenanga. Kami berdua adalah perantau yang kebetulan lewat didesa ini. Karena melihat keanehan dan juga mayat-mayat yang menurut kami jelas diakibatkan senjata tajam, maka kami ingin meminta sedikit keterangan dari Paman. Siapa tahu, kami dapat membantu,” jelas Panji dengan tutur kata sopan dan wajah penuh senyum bersahabat.

Mendengar jawaban ramah itu, para penduduk Desa Karang Dadap yang masih selamat saling bertukar pandang sejenak. Kemudian, laki-laki bermuka codet yang jelas merupakan sebuah luka baru itu memandang Panji dan Kenanga penuh selidik. Sepertinya, orang itu masih ragu dan hendak menilai kedua orang asing yang singgah di desanya.

Laki-laki berwajah codet itu tertegun sejenak ketika sepasang matanya tertumbuk pada gagang senjata yang menyembul dari balik punggung Panji. Tatapan matanya kemudian beralih kepada sosok gadis jelita itu. Maka hatinya kembali tertegun. Karena, di pinggang ramping gadis itu pun tampak gagang pedang yang seperti melingkarinya.

“Kalau sekiranya kalian berdua memang bukan orang jahat, tentu merupakan orang-orang persilatan yang berjuluk pendekar? Lalu, manakah yang lebih benar?” tanya laki-laki itu dengan wajah menegang. Jelas kalau hatinya merasa tidak tenang setelah melihat Panji dan Kenanga membawa pedang.

“Kami memang disebut sebagai pendekar persilatan. Oleh karena itu, janganlah Paman dan yang lainnya merasa takut. Bahkan kalau ada persoalan, kami berdua siap membantu.” sahut Panji yang terpaksa menerangkan apa adanya. Dan memang, siapa tahu dengan pengakuannya akan lebih mudah mendapatkan keterangan dari mereka.

“Ah! Kalau begitu, marilah kita masuk dan berbicara di dalam,” ajak si muka codet dengan wajah berubah ramah. Dengan langkah agak terburu-buru, dibawanya Panji dan Kenanga ke dalam balai desa.


“Jadi gerombolan perampok yang dipimpin laki-laki berkepala botak dan bermata satu yang menyebabkan kejadian ini?” tanya Panji meminta penegasan setelah mendengarkan keterangan dari laki-laki bermuka codet, tentang musibah yang baru saja tertadi di desa itu.

“Benar, Tuan Pendekar. Seluruh keluarga kepala desa kami dan para keamanan, juga dibantai secara biadab oleh perampok berhati iblis itu. Harta-harta kami semua digondol. Beberapa orang penduduk yang mencoba melawan, dibunuh secara kejam! Entah apa yang membuat mereka begitu berani melakukan parampokan dipagi hari. Padahal setahuku, para perampok itu biasa bertindak hanya pada waktu malam saja.” lanjut laki-laki bermuka codet itu memberikan keterangan.

“Benar, Paman. Hal ini memang terdengar sangat aneh! Tapi, sudahlah. Kami berdua akan membantu menghentikan kejahatan para perampok yang tengah merajalela itu,” jelas Panji menghibur sisa penduduk Desa Karang Dadap itu dengan janji yang akan ditepatinya.

“Terimakasih, Tuan Pendekar. Kami benar-benar tidak tahu, harus bagaimana untuk menghadapi gerombolan perampok biadab itu. Dan kami pun ikut mendoakan, semoga usaha yang Tuan Pendekar jalankan bisa menghentikan kekejaman orang-orang liar itu. Lebih baik lagi, mereka semua itu dibinasakan. Agar kejadian seperti ini tidak menimpa desa-desa lain. Rasanya hati kami belum puas kalau para perampok biadab itu hanya diberi ampunan saja,” tandas laki-laki bermuka codet itu lagi, mengandung kegeraman.

“Benar, Tuan Pendekar. Orang-orang seperti mereka, rasanya tidak layak dibiarkan berkeliaran dimuka bumi ini. Habisnya, kerja mereka hanya menjadi pengacau saja,” timpal laki-laki setengah baya yang wajahnya tampak sudah mulai berkeriput. Nada suaranyapun jelas mengandung dendam yang sama besarnya dengan laki-laki bermuka codet itu.

Demikian pula para penduduk yang lainnya. Mereka yang hanya tinggal beberapa orang pun mengajukan tuntutan yang sama kepada Pendekar Naga Putih. Sehingga, suasana di dalam ruang pertemuan balai desa itu menjadi hiruk pikuk oleh seruan dendam mereka.

Panji tersenyum sabar mendengar tuntutan penduduk Desa Karang Dadap. Perlahan kedua tangannya diangkat keatas untuk menghentikan suasana gaduh itu.

“Saudara-saudara sekalian.” ucap Panji setelah suasana menjadi tenang kembali. Dirayapinya wajah-wajah sedih yang berjejer di hadapannya. “Meskipun orang-orang itu telah bertindak di luar batas kemanusiaan, tapi aku yakin mereka hanya sekedar boneka yang digerakkan orang lain. Dan kalau ternyata mereka masih bisa diajak sadar, lalu bisa kembali ke masyarakat, apa salahnya kalau kita memaafkan. Dengan demikian, bukankah kita telah melepas satu kebaikan dan melenyapkan kejahatan. Tapi kalau gerombolan perampok itu tidak mau sadar, terpaksa kita berikan pelajaran yang lebih keras”

Mendengar keterangan Panji yang panjang lebar, sisa para penduduk Desa Karang Dadap menundukkan kepala dalam-dalam. Jelas, mereka belum dapat melupakan apa yang telah menimpa saudara-saudara mereka. Sehingga, apa yang diuraikan pemuda tampan itu sama sekali tidak bisa diterima. Hanya saja mereka tidak berani membantahnya.

Panji pun bukan tidak mengetahui apa yang tengah dirasakan mereka saat itu. Dan ia pun maklum kalau perkataannya tidak dapat diterima para penduduk. Tapi biar bagaimanapun, Pendekar Naga Putih telah cukup puas dengan kata-kata berupa nasihat yang diucapkannya.

“Karena semuanya telah cukup jelas bagiku, ada baiknya kalau mayat-mayat itu dikuburkan sekarang. Setelah itu, kalian dapat beristirahat dengan tenang, atau dapat juga mengerjakan sawah yang terbengkalai,” usul Panji setelah merasa tidak ada lagi keterangan yang diperlukan.

Laki-laki bermuka codet dan yang lainnya hanya mengangguk sebagai tanda setuju atas usul pemuda tampan itu. Bergegas mereka bangkit dan mengikuti pemuda yang telah melangkah keluar bersama gadis jelita teman seperjalanannya.

Penguburan puluhan mayat itu tidak berlangsung lama. Apalagi, Panji menggunakan tenaga saktinya untuk membuat sebuah lubang besar yang kira-kira cukup untuk menguburkan mayat-mayat. Semuanya ditanam sekaligus untuk menyingkat waktu.

Setelah selesai menguburkan puluhan mayat-mayat, Panji dan Kenanga pun berpamitan. Mereka berdua berjanji untuk menghentikan kekejaman para perampok yang kini tengah mengganas itu. Para penduduk Desa Karang Dadap menyertai kepergian Panji dan Kenanga. Mereka berharap agar apa yang dilakukan pasangan pendekar itu dapat berhasil baik.


LIMA

Kekejaman dan keganasan para perampok yang semakin bertambah berani tentu saja membuat seluruh tokoh golongan putih menjadi geram. Beberapa perguruan yang merasa berkewajiban mencegah dan menghentikan keganasan para perampok, segera mengirimkan murid- murid terbaik mereka. Bahkan beberapa perguruan malah menurunkan ketuanya sendiri yang dibantu murid-murid terpandainya. Seolah-olah perbuatan para perampok itu memang sengaja hendak menantang tokoh-tokoh golongan putih.

“Hm. Hal ini memang tidak bisa berlangsung berlarut larut. Siapa lagi yang akan mencegah kalau bukan orang- orang seperti kita? Tidak ada gunanya mengharapkan tentara-tentara kerajaan ataupun kadipaten. Aku pikir, mana mungkin mereka akan menurunkan demikian banyak tentara untuk membasmi para perampok yang tempatnya berlainan. Apalagi, tempat perampok itu berpindah-pindah. Bisa-bisa hal itu hanya akan mengganggu ketenteraman rakyat saja,” kata seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun dengan berapi-api.

Sedangkan tiga orang lainnya hanya mendengarkan penuh perhatian. Melihat dari lambang yang tersulam di dada kiri pakaian yang tidak berbeda. Jelas kalau keempat orang laki-laki itu merupakan saudara satu perguruan. Pada dada kiri mereka memang terdapat sulaman bergambar ombak laut berwarna biru bercampur putih.

“Benar, apa yang kau katakan itu, Kakang Badalawa. Perbuatan para perampok itu memang telah melewati ukuran. Bayangkan saja. Dalam beberapa pekan terakhir ini, sudah banyak desa yang menjadi korban keganasan mereka. Dan yang lebih membuat geram, perampokan dan pembunuhan itu dilakukan tanpa mengenal waktu. Kalau siang maupun pagi mereka sudah berani bergerak, jelas kalau perbuatan itu memang sengaja untuk menantang orang-orang golongan putih. Dan ini tidak bisa didiamkan,” timpal laki-laki lain yang berusia sepuluh tahun lebih muda dari laki-laki yang dipanggil Badalawa. Alisnya yang tebal dan hitam tampak bergerak-gerak ketika mengucapkan kata-katanya.

“Hm. Coba kalian dengar baik-baik. Suara bergemuruh itu jelas seperti rombongan orang berkuda. Bukankah menurut kabar, para perampok itu selalu datang menunggang kuda?” kata laki-laki lain yang bertubuh tinggi namun berperawakan tegap. Sambil berkata demikian, ia memandang yang lainnya bergantian. Sepertinya ia hendak meminta pendapat dari kawannya.

“Hm. Derap kaki kuda itu jelas tengah menuju ke arah kita. Ada baiknya kalau kita bersembunyi di balik semak-semak itu untuk melihat apakah dugaan kita benar,” usul Badalawa yang merupakan orang tertua diantara mereka.

Mendengar usul yang cukup bisa diterima, ketiga orang lainnya sama-sama menganggukkan kepala tanda setuju. Sesaat kemudian, tubuh mereka lenyap dibalik rimbunan semak belukar yang banyak terdapat ditepi jalan. Tidak berapa lama setelah tubuh mereka lenyap, terdengar suara bergemuruh yang semakin dekat. Kepulan debu membumbung tinggi menandakan kalau rombongan penunggang kuda itu cukup banyak jumlahnya.

Badalawa dan kawan-kawannya menanti berlalunya rombongan berkuda itu dengan hati tegang. Memang, menilik derap kaki kuda yang bergemuruh, dapat diduga kalau jumlah mereka cukup banyak. Sehingga, ketegangan mereka pun semakin memuncak.

“Heya… Heyaaa…!”

Laki-laki tinggi kurus berwajah pucat yang berada di depan berteriak-teriak untuk mempercepat lari kudanya. Melihat dari sikap dan tingkahnya. Jelas kalau ia adalah kepala rombongan. Keempat orang yang tengah bersembunyi dibalik semak-semak di tepi jalan itu semakin menundukkan kepala ketika rombongan itu lewat di depan mereka.

“Hayo, cepat ikuti mereka…!” perintah Badalawa ketika penunggang kuda terakhir telah lewat beberapa tombak dari tempat persembunyian mereka.

Setelah menutup sebagian wajah dengan sabuk yang melilit pinggang, keempat laki-laki gagah itu bergegas melakukan pengejaran menggunakan ilmu lari mereka. Badalawa mengisyaratkan kawan-kawannya untuk mengatur jarak agar tidak terlalu dekat dengan rombongan berkuda itu. Untungnya kepulan debu yang membumbung membuat tubuh mereka agak terlindung. Sehingga, Badalawa dan kawan-kawannya yang mengikuti dalam jarak sepuluh tombak, tidak sampai terlihat rombongan itu. Apalagi terkadang keempatnya menyelinap di antara rerimbunan semak-semak.

Tidak berapa lama kemudian, rombongan orang-orang berkuda itu pun mulai memasuki sebuah mulut hutan. Badalawa dan kawan-kawannya menarik napas lega. Sebab dengan demikian, mereka akan lebih mudah dan aman dalam mengikuti rombongan itu. Pada saat rombongan penunggang kuda itu tiba pada sebuah dataran yang cukup luas dan terbuka, laki-laki tinggi kurus mengangkat tangan kanannya ke atas. Sedangkan ia sendiri sudah memperlambat lari kudanya, kemudian berhenti sama sekali.

“Kita bermalam didalam hutan ini…!” perintah laki-laki tinggi kurus itu dengan suara lantang. Lalu dengan gerakan ringan, tubuhnya meluncur turun dari atas punggung kuda.

“Tapi, Ketua… Bukankah hari masih siang,..? Mengapa perjalanan ini tidak dilanjutkan saja?” bantah salah seorang anggota rombongan yang sepertinya kurang menyetujui perintah laki-laki tinggi kurus itu.

Laki-laki tinggi kurus berwajah pucat yang tak lain Tengkorak Hutan Jati menolehkan kepala dengan kening berkerut. Jelas, ia merasa tidak senang atas bantahan salah seorang anggotanya.

“Hm. Kau tahu apa?! Kalau kuperintahkan bermalam di dalam hutan ini, turutilah. Jangan sekali-sekali membantah perintahku. Mengerti?!” ujar Tengkorak Hutan Jati sambil melangkah maju dengan sikap mengancam. Tokoh yang terkenal kejam dan bertangan dingin ini sepertinya sudah siap menjatuhkan tangan maut kepada anggotanya yang membantah itu. Untunglah, orang itu sempat menyadari kesalahannya dan cepat melompat turun dari atas punggung kuda.

“Ampun, Ketua… Aku hanya mengajukan usul,” sahut orang itu sambil menjatuhkan diri, berlutut di depan kaki Tengkorak Hutan Jati. Wajahnya tampak pucat dengan butir-butir keringat membasahi wajah dan tubuhnya.

“Bagus, kalau kau menyadari kesalahanmu. Sekarang beristirahatlah. Dan, jangan coba-coba bertingkah macam-macam lagi!” ancam Tengkorak Hutan Jati, dingin.

“Terima kasih, Ketua … Terima kasih. ,” ucap orang itu sambil mengangguk-anggukkan kepala berkali-kali. Kemudian tanpa banyak cakap lagl, orang itu segera menambatkan kudanya pada sebatang pohon. Kemudian segera berkumpul dengan kawan-kawannya yang lain.


Rombongan perampok yang baru saja hendak melepaskan lelah itu, tersentak bangkit ketika tiba-tiba mendengar bentakan. Dengan sigap, mereka lalu mencabut senjatanya masing-masing dan siap menghadapi segala kemungkinan.

“Perampok-perampok laknat! Kalian tidak patut dibiarkan hidup!”

Belum juga bentakan keras itu hilang gemanya, tiba- tiba berlompatan delapan sosok tubuh dari atas pohon di sekeliling tempat itu. Delapan orang laki-laki mengenakan seragam biru laut, kembali melenting ketika kaki mereka menjejak tanah. Dan sesaat saja, delapan orang laki-laki yang bersikap gagah itu telah berdiri berjajar sambil menghunus senjata.

“Tenang..!” seru Tengkorak Hutan Jati sambil merentangkan tangan kanannya ke samping. Seruannya yang cukup keras membuat para anggota perampok yang semula bersiap hendak menerjang, menghentikan langkahnya. Mereka berdiri dibelakang pimpinannya, bersikap mengancam.

Dengan langkah tenang, Tengkorak Hutan Jati mendekati delapan orang laki-laki yang jelas menantang mereka. Setelah merayapi dan meneliti lambang dua pedang yang bersulam benang perak di dada delapan orang itu, terdengar suara bernada meremehkan.

“Hm…. Rupanya Perguruan Pedang Perak telah mengirimkan tokoh-tokohnya untuk menguntitku. He he he… Bodoh sekali si tua Jalaksa itu! Mengapa ia begitu ceroboh mengirimkan murid-muridnya untuk mencegah perbuatanku? Lebih baik kalian kembali, daripada datang hanya untuk mengantarkan nyawa sia-sia. Ketahuilah! Ditengah Hutan Jelaga ini akan diadakan pertemuan. Cepatlah kalian pergi sebelum yang lainnya berdatangan.” ujar Tengkorak Hutan Jati dengan bibir mengulas senyum menyakitkan. Sikap yang ditunjukkannya juga terlihat angkuh.

Delapan laki-laki berseragam biru laut yang memang merupakan murid Perguruan Pedang Perak sejenak tertegun mendengar ucapan Tengkorak Hutan Jati. Mereka saling berpandangan sesaat untukvmengambil keputusan. Setelah mendapatkan kata sepakat dengan isyarat anggukan kepala, salah seorang yang berusia lima puluh tahun melangkah dua tindak kedepan. Dengan memasang wajah setenang mungkin, ditatapnya mata Tengkorak Hutan Jati, tidak kalah gertak.

“Hmh! Apa kau pikir kami akan percaya begitu saja oleh ucapan kosongmu itu? Tidak, Tengkorak Hutan Jati. Biarpun semua tokoh kaum sesat telah berkumpul di tempat ini, kami tetap tidak akan mundur selangkahpun!” tegas orang itu. Nada suaranya ditekan hingga terdengar mantap dan penuh ketegasan.

“Ha ha ha…!” tawa Tengkorak Hutan Jati meledak ketika mendengar ucapan orang itu. Sesaat kemudian, tawanya pun lenyap. Lalu, ditatapnya wajah orang itu lekat-lekat.

“Hm… Kau tentu yang bernama Subadil, tokoh kedua Perguruan Pedang Perak, bukan? Hm… Julukan Pedang Setan yang kau dapatkan rupanya telah membuatmu merasa hebat. Seolah-olah, tidak ada lagi yang melebihi kepandaianmu. Tapi, ketahuilah. Apa yang kukatakan tadi bukan hanya sekadar omong kosong belaka. Sayang, kau sudah membuatku muak. Jadi rasanya tidak mungkin lagi aku membiarkan kalian pergi dari tempat ini dengan kepala utuh!” sahut Tengkorak Hutan Jati dengan sinar mata penuh ancaman.

Bukan hanya Pedang Setan dan rombongannya saja yang terkejut mendengar ucapan Tengkorak Hutan Jati itu. Bahkan Badalawa dan tiga orang adik seperguruannya yang masih bersembunyi disemak-semak itupun menjadi pucat. Memang, melihat dari nada ucapan dan wajah laki-laki tinggi kurus itu, jelas kalau itu tidak hanya gertakan. Sehingga, keempat orang itupun menjadi tegang karenanya.

Sadar kalau kedelapan orang murid Perguruan Pedang Perak itu akan menghadapi bahaya, maka Badalawa dan tiga orang temannyapun segera berlompatan keluar. Tengkorak Hutan Jati dan para pengikutnya bergerak mundur ketika melihat empat sosok tubuh lain berlompatan dari balik semak-semak.

“Hehehe… Bukan main.., bukan main! Rupanya bukan hanya murid Perguruan Pedang Perak saja yang mengikutiku. Kalian orang-orang Partai Ombak Selatanpun tertarik juga dengan rombonganku ini? Bagus… bagus…!Nyawa-nyawa kalian akan sangat lebih berharga daripada harta rampokanku!” kata Tengkorak Hutan Jati sambil tertawa terbahak-bahak.

Laki-laki Tinggi kurus itu tetap saja menampakkan kegarangannya meskipun saat itu tengah berhadapan dengan dua kelompok murid perguruan terkenal sekarang ini. Sepertinya, Tengkorak Hutan Jati sangat yakin sekali akan kemampuan dirinya. Sehingga, ucapan-ucapannya pun tetap saja bernada meremehkan.

“Sahabat. Sepertinya apa yang diucapkannya bukan hanya sekadar gertakan saja. Sebaiknya, kitalekas-lekas meninggalkan tempat ini sebelum terlambat” usul Badalawa.

Laki-laki itu jelas mulai mempercayai ucapan Tengkorak Hutan Jati. Pikirnya, lebih baik berhati-hati dan tidak menuruti amarah. Bukan tidak mungkin kalau tempat itu benar-benar akan menjadi ajang pertemuan para tokoh sesat. Kalau sampal hal itu terjadi dan mereka masih tetap berada di dalam Hulan Jelaga, sudah pasti kematian dan siksaan pedihlah yang akan diterima.

Ucapan Badalawa membuat Subadil yang berjuluk Pedang Setan berpikir sejenak. Sebenarnya, iapun sudah mulai yakin kalau ucapan Tengkorak HutanbJati itu bukan hanya sekadar gertakan saja. Hal itu dapat dilihat jelas dari sikapnya yang sangat tenang.

“Rasanya, memang ada baiknya kalau kita segera meninggalkan tempat ini dulu. Biarlah kita lihat dulu perkembangan selanjutnya saja. Masih banyak waktu untuk membekuk tengkorak kering itu,” sahut Subadil yang segera saja menyetujui usul Badalawa. Memang, meskipun Subadil belum mengenal laki-laki itu sepenuhnya, namun nama Partai Ombak Selatan merupakan jaminan yang patut dipercaya.

“Hah! Mau pergi ke mana kalian…? Bukankah sudah kukatakan, kesadaran kalian terlambat sekali datangnya. Sekarang pintu keluar sudah tertutup,” kata Tengkorak Hutan Jati mencegah kepergian murid-murid dua perguruan terkenal itu. Setelah berkata demikian, laki-laki tinggi kurus itu mengibaskan tangannya ke kiri dan ke kanan disertai perintahnya.

“Kepung dan habisi mereka kecuali kedua orang itu…!” perintah Tengkorak Hutan Jati dengan lantang dan sikap bengis.

Mendengar perintah pemimpinnya, dua puluh anggota perampok itu pun bergerak mengurung kedua belas orang laki-laki yang menjadi tegang karenanya.

“Jelas, mereka tidak main-main. Kita harus segera membuka jalan darah!” ujar Badalawa yang segera mencabut keluar pedang yang terselip di pinggang.

Perbuatan Badalawa, diikuti oleh tiga orang saudara seperguruannya. Mereka segera meloloskan senjata masing-masing dan menyilangkan didepan dada, sia pmenghadapi pertarungan maut.

Si Pedang Setan pun melakukan perbuatan serupa. Sinar putih keperakan berkelebat ketika laki-laki setengah baya itu mencabut keluar senjatanya. Demikian pula tujuh orang murid Perguruan Pedang Perak. Senjata-senjata mereka pun telah tergenggam erat di tangan masing-masing.

“He he he…! Ayo, Anak-anak. Sikat habis mereka.” perintah Tengkorak Hutan Jati dengan tawanya yang mengekeh. Setelah mengeluarkan perintah demikian, Tengkorak Hutan Jati sendiri melangkah beberapa tindak kebelakang.

Perbuatan Tengkorak Hutan Jati itu tentu saja membuat Subadil mengerutkan keningnya. Dia sedikit heran melihat sikap tokoh sesat yang biasanya terkenalkejamtanpaampunitu.Diam-diam, Pedang Setan meningkatkan kewaspadaannya. Dia berjaga-jaga, kalau kalau manusia licik itu akan berbuat curang. Sayang Subadil tidak sempat lagi mengikuti gerak-gerik tokoh sesat yang amat dibencinya. Sebab pada saat itu juga, para pengikut Tengkorak Hutan Jati telah menerjang disertai teriakan-teriakan yang bersahut-sahutan.

“Heaaat…!”

Melihat para perampok sudah datang menyerbu, dua belas orang laki-laki gagah itu pun berteriak nyaring. Saat itu juga, tubuh mereka langsung meluruk maju menyambut serangan orang-orang liar itu. Dalam sekejap saja, pertarungan yang semrawut itu pun pecah. Dentang senjata yang ditingkahi teriakan-teriakan nyaring, membuat suasana Hutan Jelaga yang semula terkungkung sepi mendadak bising.

“Heaaa…!”

Badalawa berseru keras sambil menyabetkan senjata dengan gerakan berputar. Empat orang anggota perampok yang mengeroyoknya menjadi terkejut melihat datangnya desingan mata pedang yang cepat dan kuat itu.

Trang! Trang! Brettt!

“Aaakh…!”

“Aaa…!”

Dua orang anggota perampok yang sempat menangkis datangnya sambaran pedang Badalawa, terlempar sejauh satu batang tombak ke belakang dengan wajah menyeringai kesakitan. Sedangkan senjata mereka terlepas, entah kemana.

Berbeda dengan dua orang perampok lainnya. Mereka yang tidak sempat menyelamatkan diri, kontan terjerembab mandi darah. Luka menganga di perut kedua orang itu, membuat mereka terpaksa harus merelakan nyawanya.

Selesai merobohkan empat orang lawan, Badalawa terus melompat menerjang anggota perampok lain yang tengah mengeroyok kawan-kawannya. Apa yang semula diduga laki-laki gagah murid utama Partai Ombak Selatan itu ternyata meleset. Semula, dikira para anggota perampok itu hanya terdiri dari orang-orang kasar yang hanya mengandalkan kekuatan tenaga luar saja. Ternyata hampir semua anggota perampok di bawah pimpinan Tengkorak Hutan Jati, rata-rata memiliki kepandaian lumayan. Sehingga, untuk dapat merobohkan mereka diperlukan paling sedikit tiga jurus. Melihat kenyataan itu tentu saja membuatnya cemas.

“Jangan ladeni mereka! Yang penting, buka jalan darah agar kita dapat keluar dari kepungan ini…!” ujar Badalawa dengan suara lantang. Setelah berseru demikian, ia segera menerobos kepungan empat orang yang berada di sebelah kiri.

Wuttt! Wukkk!

Senjata ditangan laki-laki gagah itu berkelebatan bagai kilat, membawa hawa maut! Rupanya dalam kecemasan hatinya, Badalawa telah mengerahkan segenap kemampuan untuk bisa menerobos kepungan. Sepertinya, apa yang dilakukan Badalawa akan membawa hasil yang baik apabila sosok tinggi kurus yang ternyata adalah Tengkorak Hutan Jati tidak segera turun tangan. Kedatangan kepala rampok yang langsung melontarkan pukulan maut ke arahnya, membuat gempuran Badalawa tertahan. Maka dengan sangat terpaksa, segera dilayaninya Tengkorak Hutan Jati dengan segenap kemampuannya.

“Haiiit…!”

Setelah mengelakkan pukulan lawan, laki-laki gagah itu langsung melancarkan serangan balasan dengan tusukan lurus yang siap menghunjam belahan dada.

Siuttt!

“Heahhh…!” Tengkorak Hutan Jati membentak keras sambil memiringkan tubuhnya ke kiri. Gerakan itu dibarengi sambaran tangan kirinya yang melibat lengan Badalawa. Gerakannya sangat cepat dan bertenaga.

Akibatnya, Badalawa bergegas memutar balik mata pedangnya. Gerakan itu dilakukan sambil menarik pulang senjatanya. Maksudnya untuk merobek lengan lawan. Sadar kalau serangannya apabila diteruskan bisa membuat lengannya terluka, maka laki-laki tinggi kurus itu bergegas menarik kaki kirinya kebelakang. Gerakan itu masih disertai liukan manis tubuhnya sambil membarengi dengan sodokan jari-jari tangan lurus yang melesat mengancam perut Badalawa.

Tuggg!

“Hugkh…!” Tubuh Badalawa terhuyung-huyung beberapa langkah. Sodokan jari-jari tangan yang keras bagai besi itu telah menusuk perutnya.

Kepala rampok yang terkenal kejam itu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik yang dimilikinya. Maka, selagi tubuh lawanl imbung, segera dikirimkannya sebuah tendangan keras ke dada Badalawa.

Zebbb! Plakkk!

“Uhhh…!”

Untunglah pada saat yang sangat berbahaya, sesosok tubuh gemuk melayang dan langsung memapak tendangan Tengkorak Hutan Jati. Tangkisan telapak tangan yang mengandung tenaga kuat, membuat laki-laki kurus itu mengeluh pendek. Tubuhnya yang jangkung berputar bagai gasing.

Sosok tubuh gemuk yang tak lain Subadil, berniat hendak menyusuli serangannya. Namun, gerakannya terhenti ketika mendengar derap kaki kuda bergemuruh. Bukan hanya gerakan Subadil saja yang menjadi berhenti karenanya. Bahkan tokoh golongan putih dari dua perguruan yang berbeda serentak berlompatan mundur dengan wajah tegang.

“Celaka…! Rupanya ucapan Tengkorak Hutan Jati memang bukan sekadar gertakan kosong saja…!” seru Badalawa, perlahan. Wajah laki-laki gagah murid utama Partai Ombak Selatan itu pun berubah tegang.

“Apa lagi yang harus kita tunggu? Ayo pergi…!” ajak Subadil. Murid utama Perguruan Pedang Perak itu sudah dapat menebak, dari pihak mana rombongan berkuda yang tengah menuju ketempat itu. Memang, hanya rombongan para perampok itu saja yang biasa menggunakan kuda sebagai tunggangan. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuh laki-laki setengah baya itupun segera melesat diiringi kawan-kawannya yang lain.

“Ha ha ha… Mau lari ke mana kalian..?!” tiba-tiba terdengar seruan keras yang membuat lutut beberapa orang diantara tokoh golongan putih itu menjadi lemas. Beberapa tombak di depan mereka, tampak seorang laki-laki tinggi besar mengenakan pakaian seorang Panglima kerajaan. Sedangkan dibelakang orang itu masih terdapat sosok-sosok tubuh lain.

ENAM

“Datuk Panglima Sesat…!” desis Badalawa dan Subadil berbarengan. Wajah kedua orang tokoh persilatan yangmerupakan orang kedua dalam perguruan masing-masing menjadi pucat seketika.

“Celaka…! Rasanya hari ini kita tidak akan lolos dari kematian….” bisik Subadil dengan wajah tegang. Keringat tampak semakin mengalir deras dari tubuhnya.

Tentu saja hati kedua orang tokoh itu menjadi cemas. Kehadiran datuk sesat wilayah Timur itu membuat peluang untuk melarikan diri mendadak sirna. Siapa pula yang tidak mengenal tokoh yang menggiriskan itu? Biarpun Subadil merupakan tokoh tingkat atas di perguruannya, namun untuk dapat menandingi Datuk Panglima Sesat rasanya masih harus belajar selama tiga puluh tahun lagi. Jangankan dirinya yang hanya merupakan tokoh kedua di Perguruan Pedang Perak. Bahkan Ki Jalaksa yang menjadi ketuanya pun belum tentu dapat menandingi kesaktian tokoh luar biasa itu. Dan kenyataan itu membuat ia pasrah untuk menghadapi hingga titik darah yang penghabisan.

“Bagaimana ini, Kakang…? Apa yang harus kita lakukan…?” tanya salah seorang murid utama Perguruan Pedang Perak sambil menatap Subadil untuk meminta pertimbangan.

“Tidak ada jalan lain. Kita harus menghadapi mereka dengan sekuat tenaga.” tandas Subadil.

Belum lagi rasa terkejut mereka lenyap dengan kehadiran Datuk Panglima Sesat, terdengar derap kaki kuda yang bergemuruh mendatangi tempat itu. Badalawa, Subadil, dan sepuluh orang tokoh lainnya sama-sama menolehkan kepala ke arah rombongan berkuda itu. Dan hati mereka semakin berdebar ketika mengenali kepala rombongan berkuda itu.

“Garuda Mata Satu…?” desis Subadil yang segera saling bertukar pandang dengan Badalawa.

Kedatangan rombongan Garuda Mata Satu yang membawa dua puluh orang anggotanya membuat keadaan para tokoh golongan putih semakin terjepit. Lenyap sudah harapan untuk dapat melihat terbitnya matahari esok pagi. Sebab untuk dapat lolos dari tempat itu, jelas mustahil.

“He he he… Kasihan sekali murid-murid Pendekar Pedang Perak dan Pendekar Ombak Selatan. Ingin rasanya aku melihat wajah manusia-manusia sombong itu kalau mereka mengetahui keadaan ini,” terdengar suara kekeh serak yang seperti datang dari setiap sudut hutan. Jelas, suara itu dikirimkan menggunakan tenaga dalam tinggi.

Kembali Badalawa, Subadil, dan yang lainnya memutar kepala berkeliling. Sepertinya mereka ingin melihat, siapa orang yang telah mengirimkan suara itu. Dan hati mereka semakin berdebar ketika melihat seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih yang melenggang seenaknya. Jubah berwama putih kumal yang panjangnya mencapai lutut itu tampak berkibar tertiup angin.

Yang paling membuat Badalawa dan Subadil terbelalak tegang adalah cara kakek itu berjalan. Sebab meskipun langkah kakinya terlihat perlahan, namun seperti meluncur dengan pesatnya. Seolah-olah tubuhnya hanya merupakan segumpal kapas yang tertiup angin. Tentu saja hal itu merupakan bukti nyata akan kehebatan ilmu meringankan tubuh kakek itu.

“Gila! Kakek itu pastilah Datuk Barat yang kalau tidak salah berjuluk Memedi Karang Api. Wah! Rasanya aku sudah seperti mati sebelum bertanding,” umpat Badalawa, lirih dan menggeletar. Jelas kalau hatinya sangat gentar melihat kehadiran kakek itu

“Benar, Adi. Meskipun kakek itu terlihat dari luar sebagai seorang yang kocak dan periang, namun kekejamannya sangat mengerikan. Kudengar, ia pernah membunuh dan menguliti seorang tokoh golongan putih sambil tertawa-tawa. Padahal, kesalahan tokoh itu hanya karena menangkap seorang pencuri di wilayah Barat. Hhh. Sungguh tidak kusangka kalau hari ini ia dapat bergabung dengan Datuk Panglima Sesat,” desah Subadil. Bulu kuduknya kontan berdiri ketika teringat peristiwa itu.

Badalawa dan tokoh yang lain hanya bisa saling berpandangan mendengar cerita Subadil. Rasa tegang yang kian memuncak, membuat peluh semakin berlelehan membasahi pakaian mereka. Jelas kedua belas tokoh persilatan ini tengah dilanda ketegangan hebat.

“He he he… Biar kutangkap mereka sebagai hadiah untuk Pemimpin Agung kita. Beliau pasti akan senang dengan hadiah yang sangat berharga ini,” kata Memedi Karang Api sambil melangkah mendekati kedua belas tokoh persilatan golongan putih itu.

Badalawa, Subadil, serta sepuluh orang lainnya segera menyilangkan senjata didepan dada. Langkah kaki kakek yang tengah menghampiri, membuat hati para tokoh golongan putih itu semakin mengkerut. Memang, yang paling mereka takuti kekejamannya hanyalah Memedi Karang Api dan Datuk Panglima Sesat. Meskipun Tengkorak Hutan Jati dan Garuda Mata Satu terkenal sebagai tokoh-tokoh berhati iblis, namun dalam hal kekejaman masih kalah jauh dibanding kedua datuk sesat itu. Tentu saja hal itu semakin mendatangkan kengerian di hati Badalawa dan kawan-kawannya.

Tubuh Memedi Karang Api melayang bagaikan tidak menjejak bumi. Begitu tiba, tangan kanannya langsung terulur mencengkeram leher Badalawa yang berdiri paling depan.

Werrr…!

Aneh dan menakutkan sekali apa yang disaksikan Badalawa dan kawan-kawannya. Buktinya, jarak yang terpisah tiga tombak diantara keduanya sama sekali tidak menjadi halangan bagi Memedi Karang Api untuk melancarkan cengkeraman maut. Lengan yang biasanya wajar, mendadak mulur hingga tiga tombak jauhnya. Tentu saja kenyataan itu membuat Badalawa menjadi kalang kabut.

“Heaaat..!”

Meskipun rasa gentar telah meresap kedalam urat-urat tubuhnya, namun Badalawa tidak sudi menyerahkan batang lehernya. Dengan sebuah bentakan keras, tubuhnya bergeser disertai langkah ke samping. Sambil mengelak, Badalawa mengirimkan bacokan pedangnya.

Wuttt!

Tebasan pedang Badalawa ternyata tidak membawa hasil! Bagaikan seekor ular hidup, tangan yang terulur itu berputar keatas dan kembali mengancam leher. Tentu saja kenyataan itu membuat Badalawa menjadi bertambah kalap. Dengan gerakan gugup, tubuhnya dilempar ke belakang dan melakukan beberapa kali salto diudara.

Walaupun Badalawa telah mati-matian berusaha menghindari cengkeraman, namun tetap saja tangan Memedi Karang Api mengikutinya. Untunglah pada saat itu Subadil melompat disertai tebasan senjatanya untuk menyelamatkan Badalawa. Subadil pun bukan tidak tahu akan kehebatan ilmu Memedi Karang Api. Meskipun beberapa kali tebasan pedangnya tidak mengenai sasaran, laki-laki berusia lima puluh tahun itu tidak menyerah begitu saja.

“Heaaat…!”

Sembil membentak keras, Subadil memutar pedangnya hingga menimbulkan angin keras menderu. Bentuk pedang di tangan tokoh itu kini lenyap. Yang tampak hanyalah gulungan sinar putih yang bergerak turun naik dengan kecepatan tinggi. Tidak percuma Subadil dijuluki sebagai Pedang Setan. Sebab, gerakan pedangnya memang sangat cepat hingga tidak terlihat mata.

Wukkk! Wukkk!

Sinar pedang yang bergulung-gulung itu berkelebat cepat mengincar lengan Memedi Karang Api. Tapi yang kali ini dihadapi Subadil bukanlah tokoh semberangan. Sehingga, serangan-serangannya yang cepat dan berbahaya kandas dan tidak pernah mengenai sasaran.

Badalawa dan yang lainnya pun tidak tinggal diam. Mereka berlompatan serentak dan langsung mengurung Memedi Karang Api. Senjata-senjata di tangan mereka bergerak kian kemari sehingga menimbulkan suara mengaung tajam.

“Yeaaa…!”

Diawali pekik nyaring yang keluar dari mulut Badalawa, serentak sebelas orang tokoh persilatan dari dua perguruan berbeda itu saling bahu-membahu. Mereka yang rata-rata berkepandaian tinggi itu melakukan gempuran hebat terhadap Memedi Karang Api.

Sayang, meskipun gempuran gempuran yang dilancarkan dua belas orang tokoh golongan putih itu demikian hebatnya, Memedi Karang Api tetap saja hanya tertawa-tawa melayaninya. Serangan-serangan dari segala penjuru mampu dielakkan dengan mudah. Bahkan serangan balasan yang dilancarkannya justru lebih berbahaya dari pada gempuran dua belas orang tokoh golongan putih itu. Sehingga, ketika pertarungan memasuki jurus yang kedua puluh, Memedi Karang Api mulai menunjukkan kehebatannya. Lengannya yang dapat mulur dan mengkerut, membuat dua belas orang tokoh golongan putih menjadi terdesak dan kocar-kacir.

“Hahhh…!”

Diiringi bentakan nyaring, tubuh Memedi Karang Api melesat cepat ke arah Subadil yang berada di sebelah kirinya. Gerakannya demikian cepat dan tak terduga, membuat lawannya menjadi terkejut setengah mati.

Brettt!

“Aaakh…!” Subadil berseru kaget ketika tahu-tahu saja cengkeraman lawan telah singgah di lehernya. Belum lagi sempat menyadari keadaannya, tubuhnya terasa melambung karena dilemparkan tangan Memedi Karang Api yang berkekuatan hebat itu.

“Aaa…!” Teriakan ngeri terdengar dan mulut Subadil yang berjuluk Pedang Setan. Tubuhnya yang tengah melayang itu dalam keadaan tertotok. Ia sendiri tidak sempat mengetahui, bagaimana cara kakek sakti itu melakukan cengkeraman yang juga sekaligus memberikan totokan yang membuat tubuhnya lumpuh. Tentu saja dalam keadaan tak berdaya itu Subadil jadi ketakutan.

Namun sebelum tubuh laki-laki berusia setengah baya itu menghantam sebatang pohon besar di depannya, sebuah cengkeraman kuat telah membuat luncuran tubuhnya terhenti. Rasa lega yang dialami Subadil berubah menjadi kengerian hebat. Betapa tidak? Sebab, cengkeraman itu ternyata berasal dari tangan Memedi Karang Api. Dan sebelum sempat menjerit, tubuhnya telah terbanting keras di atas tanah.

Brukkk!

“Ngekk…!” Terdengar keluhan lirih dari mulut Subadil yang merasakan tubuhnya remuk, akibat bantingan keras luar biasa itu. Untunglah pada saat cengkeraman itu kembali datang, dua orang kawannya menerjang Memedi Karang Api dari belakang.

Swing! Swing!

Sambaran dua batang pedang yang menimbulkan desingan tajam sama sekali tidak dipedulikan Memedi Karang Api. Sampai ketika mata pedang hampir mencium punggungnya, tiba-tiba tubuh kakek itu berbalik cepat. Gerakannya masih disertai sambaran tangan kanannya yang sekaligus memapak dan mengancam nyawa dua orang lawannya.

Wuttt!

Hebat dan mengerikan sekali akibat yang ditimbulkan sambaran tangan kakek sakti itu. Tubuh dua orang lawannya terlempar kebelakang disertai semburan darah segar. Jeritan ngeri mengiringi jatuhnya tubuh kedua orang tokoh golongan putih, sehingga menimbulkan suara berderak keras. Darah segar kontan mengalir dari mulut mereka. Sesaat kemudan, leher kedua orang itu pun terkulai. Tewas!

Badalawa dan delapan orang lainnya terkejut bukan main melihat kejadian itu. Dengan menguatkan hati, serentak mereka menerjang Memedi Karang Api yang saat itu tengah menghajar Subadil habis-habisan.

Bukkk!

“Aaakh…!” Untuk kesekian kalinya. Subadil berteriak kesakitan. Tubuhnya yang dijadikan permainan Memedi Karang Api membuatnya terasa tersiksa. Darah segar pun tampak menodai pakaiannya akibat luka-luka yang diderita. Sebelum Memedi Karang Api kembali mengangkat naik tubuh Subadil, Badalawa dan delapan orang lainnya sudah datang dengan sambaran senjata. Sehingga, kakek itu melepaskan tubuh Subadil.

Wuttt! Wukkk!

Sambaran delapan pedang pengeroyok hanya diladeni dengusan kasar Memedi Karang Api. Tubuhnya berbalik menghadapi ke arah para penyerangnya. Kedua tangan kakek sakti itu sama sekali tidak bergerak, seolah-olah hendak menyambut hantaman delapan batang senjata itu dengan tubuhnya

Trak! Trak…!

“Aaah…!”

“Uhhh…!”

Delapan batang pedang yang mampu menghancurkan batu karang itu, langsung berpatahan ketika bertemu tubuh tua yang terbungkus kulit dan daging. Bahkan kedelapan orang gagah itu, sama-sama berlompatan mundur sambil memegangi telapak tangan yang terasa panas dan perih.

“Ilmu ‘Baju Besi’…” desis Badalawa yang rupanya sudah pernah mendengar jenis ilmu yang dipergunakan Memedi Karang Api.

Datuk Wilayah Barat yang memiliki kepandaian menggiriskan itu langsung mengulur tangannya kearah delapan orang tokoh persilatan yang masih terkesima. Dari sambaran angin yang ditimbulkan. Jelas kalau sampokan tangan kakek itu mengandung kekuatan mematikan.

Werrr!

“Aaah…!”

Bukan main terkejutnya hati delapan orang tokoh golongan putih itu. Wajah mereka langsung berubah pucat karena tidak mempunyai kesempatan menghindar. Memang, kecepatan gerak lawan masih jauh berada di atas mereka. Badalawa dan delapan orang lain hanya dapat memejamkan mata menanti datangnya maut. Jelas, mereka sudah pasrah dengan kematian yang bakal menjemput mereka.

Pada saat yang gawat itu, tiba-tiba sesosok bayangan putih melesat dengan kecepatan tinggi. Begitu tiba, bayangan itu langsung mengulurkan tangan memapak sampokan Memedi Karang Api.

Wusss!

Serangkum angin dingin yang menusuk tulang, menebar seiring terulurnya tangan sosok bayangan putih itu. Dan…

Plarrr…!

Hebat sekali akibat yang ditimbulkan benturan dua telapak tangan itu. Dua arus gelombeng tenaga raksasa yang sama kuatnya berbenturan dan menimbulkan ledakan keras. Sehingga, delapan orang tokoh yang tengah terancam maut langsung roboh tanpa bisa dicegah.

Memedi Karang Api sendiri sampai mengeluarkan teriakan kaget. Datuk sesat yang selama hidupnya telah banyak bertemu lawan pandai, benar-benar tak percaya melihat kenyataan yang dihadapinya.

“Gila…!” maki Memedi Karang Api yang merasakan adanya aliran hawa dingin meresap ke dalam tubuhnya. Cepat kakek itu mengusirnya dengan pengerahan hawa murni.

“Pendekar Naga Putih…!” seru Subadil dengan wajah berseri gembira. Dengan langkah agak limbung, laki-laki setengah baya itu bergerak menghampiri pemuda tampan berjubah putih yang memang Pendekar Naga Putih.

Badalawa dan delapan orang tokoh lain yang merasakan sambaran maut Memedi Karang Api tidak juga datang mencabut nyawanya, serentak membuka mata. Apalagi, setelah mendengar disebutnya nama Pendekar Naga Putih oleh Subadil. Maka serentak mereka bangkit dan memandang sosok tubuh berjubah putih itu.


Disekitar tubuh Pendekar Naga Putih tampak terlapisi kabut bersinar putih keperakan. Memang, langkah kaki Panji yang berniat hendak mencari gerombolan perampok Garuda Mata Satu, telah membawa pemuda itu ke Hutan Jelaga. Untung kedatangannya masih belum terlambat. Kalau tidak, mungkin hanya akan menemui Subadil dan yang lain dalam keadaan menjadi mayat.

Tidak lama setelah kemunculan pemuda itu, sosok bayangan lain yang mengenakan pakaian serba hijau mendaratkan kaki disamping Pendekar Naga Putih. Siapa lagi sosok dara jelita bagaikan bidadari itu kalau bukan Kenanga yang selalu menyertai Pendekar Naga Putih.

“Nampaknya keadaan kita tidak terlalu baik, Kakang,” kata Kenanga setelah mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu. Beberapa sosok yang di kenalinya, membuat wajah Kenanga cemas.

“Ya, tapi biar bagaimana pun, kita harus bisa keluar dari tempat berbahaya ini…” sahut Panji yang tentu saja menjadi terkejut melihat banyaknya tokoh sesat tingkat atas berada ditempat itu. Otaknya berputar mencari cara untuk tiba keluar dari kepungan para tokoh sesat itu.

“Apa yang harus kita lakukan, Pendekar Naga Putih…?” tanya Subadil yang sepertinya menyerahkan keputusan pada Panji.

Namun sebelum Panji bisa menjawab pertanyaan tokoh Perguruan Pedang Perak itu, Memedi Karang Api telah melangkah mendekatinya. Sehingga, Subadil dan yang lain segera berpindah kebelakang Pendekar Naga Putih. Datuk sesat wilayah Barat yang memiliki kepandaian menggiriskan itu menghentikan langkahnya dalam jarak tiga batang tombak. Untuk beberapa saat lamanya, dia hanya membungkam sambil meneliti sosok pendekar muda itu.

“He he he…. Benarkah kau yang berjuluk Pendekar Naga Putih, murid si Malaikat Petir…?” tanya kakek itu setelah selesai menilai sosok pemuda tampan di depannya.

“Benar,” sahut Panji singkat.

“Hm…. Kepandaian yang kau miliki memang sangat hebat. Bahkan jauh lebih hebat daripada gurumu. Benar-benar seorang murid yang tidak mengecewakan. Tapi hari ini, terpaksa namamu akan kuhapus dari jajaran tokoh persilatan,” ancam Memedi Karang Api lagi sambil memperdengarkan tawanya yang berkepanjangan.

“Maaf! Hari ini aku tidak berminat bertarung. Dan kuharap, kau suka membiarkan kami pergi dari tempat ini. Untuk itu, aku akan mengucapkan terima kasih kepadamu,” sahut Pendekar Naga Putih dengan wajah tenang, meskipun sebenarnya merasa tegang. Bagaimana hati Panji tidak merasa tegang? Selain harus menyelamatkan dirinya dan Kenanga, iapun masih harus membawa sepuluh orang tokoh golongan putih untuk diselamatkan pula. Dan hal itu bukan suatu pekerjaan ringan.

“Hahaha…!” tawa Memedi Karang Api meledak ketika mendengar jawaban yang keluar daricmulut Panji. Kemudian ia menolehkan kepala kepada Datuk Panglima Sesat yang saat itu sudah berdiri disampingnya.

“Kau lihatlah, Datuk Panglima Sesat. Pendekar muda yang terkenal itu ternyata hanya merupakan seorang pemuda pengecut. Rupanya julukanku telah lama dikenalnya. Sehingga dia takut kalau-kalau namanya akan jatuh. Sayang…,” ujar Memedi Karang Api sambil menggeleng- gelengkan kepala dengan wajah pura-pura sedih.

TUJUH

“Hahaha…!” Datuk Panglima Sesat pun tertawa terbahak- bahak mendengar ucapan rekannya. Tokoh sesat penguasa wilayah Timur itupun sepertinya tidak ingin menyia-nyiakan pertemuannya dengan Pendekar Naga Putih. Hal itu jelas terlihat dan pancaran matanya yang penuh semangat.

Pendekar Naga Putih terdiam beberapa saat lamanya sambil memutar otak. Sindiran kedua orang datuk sesat itu sama sekali tidak dipedulikannya. Memang bukan saatnya dalam keadaan terancam seperti itu harus mempermasalahkan tentang harg adiri.

“Hm… Jadi, apa yang kalian inginkan dariku?” tanya Panji. Sepertinya Pendekar Naga Putih sudah menemukan satu cara untuk dapat menyelamatkan sepuluh orang tokoh golongan putih itu. Maka, ia mulai menjajaki kedua orang datuk yang tidak bisa diremehkan itu.

“Hah! Jangan berpura-pura bodoh, Pendekar Naga Putih!” umpat Memedi Karang Api tak sabar. “Sebagai seorang pendekar yang memiliki nama besar dan kepandaian tinggi, tentu sudah tahu akan sifat orang-orang seperti kami. Dan pertemuan yang menggembirakan ini akan menjadi lebih hidup dengan pertarungan kita. Nah! Apakah kami masih perlu menjelaskannya lagi?”

“Aku paham dengan maksudmu, Memedi Karang Api. Tapi, aku mempunyai satu syarat yang harus dipenuhi. Kalau tidak, biar bagaimanapun aku tidak sudi bertarung denganmu.” sahut Pendekar Naga Putih mulai menjalankan siasatnya.

Sebagai orang yang telah cukup berpengalaman dalam dunia persilatan, Pendekar Naga Putih maklum akan penyakit yang diderita tokoh-tokoh tingkat atas. Dan penyakit itulah yang justru dipergunakan untuk dapat menyelamatkan sepuluh orang tokoh golongan putih di belakangnya.

Mendengar jawaban Panji, Memedi Karang Api dan Datuk Panglima Sesat saling bertukar pandang sejenak. Sepertinya mereka tidak menyadari kalau tengah diperdayai Pendekar Naga Putih.

“Katakan, apa syarat yang kau ajukan itu?” tanya Datuk Panglima Sesat yang sepertinya belum menduga tentang siasat pemuda tampan berjubah putih itu.

“Aku akan menghadapi salah seorang dari kalian, asalkan kesepuluh orang tokoh dan gadis yang berada di belakangku dibiarkan meninggalkan Hutan Jelaga tanpa gangguan. Bagaimana? Kalau kalian setuju, aku akan meladeni walau sampai seribu jurus sekalipun!” pancing Pendekar Naga Putih. Dinantikannya jawaban kedua orang datuk itu dengan dada berdebar. Namun, wajah Pendekar Naga Putih tetap dipasang setenang mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan kedua orang tokoh sakti itu.

“Ha ha ha…! Lucu….lucu…! Seekor harimau yang sudah terperangkap masih hendak memperdayakan pemburu, dengan mengajukan syarat tidak lumrah seperti itu. Ha ha ha…!” Datuk Panglima Sesat rupanya dapat menebak maksud syarat itu. Sehingga, tawanya yang parau pun berkumandang memenuhi sekitarnya.

“He he he…! Kau pikir kami orang bodoh, Pendekar Naga Putih! Ketahuilah. Bahwa kau dan orang-orang tak berguna di belakangmu itu sangat berharga untuk kupersembahkan kepada Pemimpin Agung Malaikat Gerbang Neraka. Jadi, janganlah bermimpi akan dapat lolos dari tempai ini.” Memedi Karang Api pun memperdengarkan suara tawanya demi mendengar usul pemuda tampan itu. Jelas, kedua orang datuk sesat itu tidak dapat diperdayai.

“Terserah kalian. Kalau memang tidak setuju, akupun tidak akan sudi mengemis mohon pengampunan dari kalian,” sambut Pendekar Naga Putih yang merasa kehabisan akal untuk dapat menyelamatkan tokoh-tokoh persilatan yang bersamanya.

“He he he. Ayo kita berlomba, Datuk Panglima Sesat. Siapa yang akan lebih dulu dapat menangkap pendekar muda itu, dialah yang unggul.” tantang Memedi Karang Api sambil terkekeh gembira.

“Baik. Pemuda ini pasti akan membuat Pemimpin Agung kita menjadi gembira. Dan, akulah orang yang akan mempersembahkan pemuda itu kepada beliau,” sambut Datuk Panglima Sesat, jumawa.

Panji yang sudah dua kali mendengar sebutan ‘pemimpin agung’ yang dimaksud tokoh sesat itu, menjadi heran sekali. Meskipun dalam beberapa hari ini telah mendengar tentang munculnya seorang tokoh yang memiliki kepandaian menggiriskan, namun kabar itu belum bisa dipercayainya. Bahkan kabarnya, para datuk sesat di empat penjuru telah mengangkat tokoh berjuluk Malaikat Gerbang Neraka sebagai pimpinan mereka. Namun setelah mendengar ucapan kedua orang datuk itu, mau tak mau harus dipercayainya. Hanya yang membuatnya tidak habis pikir, sampai di mana kesaktian tokoh berjuluk Malaikat Gerbang Neraka itu. Kalau sampai para datuk di empat penjuru telah tunduk kepada tokoh itu, maka sudah pasti kepandaian yang dimilikinya sukar diukur.

Sring!

Pedang Pusaka Naga Langit yang biasanya hanya dipergunakan dalam keadaan terdesak, langsung dicabut keluar oleh Panji. Karena untuk menghadapi dua orang datuk itu, tidak mungkin akan dapat menyelamatkan diri hanya dengan ilmu tangan kosong. Maka pedang pusaka bersinar kuning keemasan itupun terpaksa dipergunakannya.

“Hm. Pendekar muda ini benar-benar sangat berharga sekali! Lihatlah, apa yang ada di tangan Pendekar Naga Putih itu?” kata Memedi Karang Api. Kakek sakti itu membelalakkan matanya melihat senjata yang mengeluarkan sinar keemasan milik Pendekar Naga Putih. Jelas, tokoh menggiriskan ini telah mengenal pedang yang tergenggam ditangan Panji.

“Hei…? Bukankah itu Pedang Naga Langit…! Hebat sekali…!” desis Datuk Panglima Sesat. Tokoh berpakaian panglima itu bagaikan seorang anak kecil yang melihat mainan kesukaannya. Menilik dari wajah dan sikapnya, jelas kalau diasangat ingin memiliki pedang yang berada di tangan lawannya.

“He he he… Kau boleh ambil pemuda itu untuk dihadiahkan kepada pemimpink ita. Tapi mengenai Pedang Naga Langit, biarlah aku yang akan mengurusnya,” sergah Memedi Karang Api yang sepertinya juga sangat tergiur dengan pusaka itu.

“Tidak bisa, Kakek Gila! Akulah yang harus memiliki pedang pusaka itu, dan kau boleh urus pemiliknya.” bantah Datuk Panglima Sesat, tak mau kalah.

“Hm… Kalau begitu, lebih baik kita berlomba saja. Siapa yang paling dulu dapat merebut pedang pusaka itu, maka dialah yang berhak memilikinya. Bagaimana?” usul Memedi Karang Api ketika melihat hasrat Datuk Panglima Sesat sangat menggebu untuk memiliki pusaka ampuh itu.

“Baik. Ayo, segera kita mulai…,” tantang Datuk Panglima Sesat yang segera melangkah beberapa tindak kedepan.

Panji yang melihat kedua orang lawan telah bersiap melancarkan serangan, segera menyilangkan Pedang Naga Langit di depan dada. Kemudian kaki kanannya ditarik ke belakang sambil mengangkat pedangnya di atas kepala dalam sikap memanjang. Sedangkan tangan kirinya menuding kearah lawan dengan menggunakan dua jari.

“Heaaat…!” Memedi Karang Api berteriak parau sambil melancarkan serangannya dengan jurus-jurus maut. Sambaran angin pukulannya terdengar mencicit tajam. Jelas, tenaga dalam yang dimiliki kakek itu telah mencapai taraf kesempurnaan.

Demikian pula halnya Datuk Panglima Sesat. Karena tidak ingin didahului rekannya, maka tubuhnya yang tinggi besar segera melambung kearah Panji.

“Yeaaat…!”

Bettt!Bettt!

Angin tajam berkesiutan mengiringi datangnya pukulan berantai yang dilancarkan Datuk Panglima Sesat. Cepat bagai kilat pukulan-pukulan dua tokoh sesat itu langsung mengancam tubuh lawan.

Pendekar Naga Putih tentu saja tidak sudi menerima pukulan pada tubuhnya. Cepat langkahnya bergeser sambil mengibaskan Pedang Naga Langit dengan kecepatan kilat.

Swing!

Sinar kuning keemasan berkeredep mengiringi ayunan senjata ampuh itu. Datuk Panglima Sesat yang selama ini selalu mengagungkan kepandaiannya, tentu saja menjadi terkejut melihat kecepatan gerak lawan. Namun sebagai seorang datuk yang telah berpengalaman, ia tidak gugup. Dengan penuh ketenangan dan kematangan perhitungan, tokoh tinggi besar itu menarik pulang pukulannya. Lalu, secepat kilat kakinya mencelat melepaskan tendangan yang amat kuat.

Meskipun tendangan itu datangnya sangat cepat dan tak terduga, namun Panji masih sempat mengelakkannya dengan menarik tubuh ke belakang. Tapi pemuda itu menjadi terkejut ketika merasakan sambaran angin pukulan yang amat kuat datang dari belakangnya. Sadar kalau serangan itu datang dari Memedi Karang Api, Panji segera memutar tubuh setengah lingkaran. Gerakan yang dilakukan Pendekar Naga Putih dengan sikap tubuh yang sangat rendah, telah menyelamatkan nyawanya dari sambaran pukulan Memedi Karang Api.

Namun karena harus menghadapi kedua orang datuk sesat secara bersamaan, maka Panji pun tidak dapat lagi menyelamatkan iganya dari hantaman telapak tangan Datuk Panglima Sesat selagi tubuhnya merendah.

Buggg!

“Hugkh…!” Tanpa dapat ditahan lagi, tubuh pemuda itu pun terjajar mundur beberapa langkah kebelakang. Pendekar Naga Putih yang masih saja terhuyung sejauh dua tombak, langsung mendapat serangan dari Memedi Karang Api berupa sebuah pukulan yang telak menghajar dadanya.

Bukkk!

“Ough…!” Tubuh Pendekar Naga Putih kontan terjengkang akibat pukulan telak Memedi Karang Api itu. Meskipun tulang dada dan iganya terasa berpatahan, namun pemuda itu bergegas menggulingkan tubuhnya hingga beberapa tombak. Hal itu dilakukan, karena kedua orang datuk itu tidak mungkin akan membiarkan kesempatan selagi tubuhnya terjatuh untuk menyerang kembali.

“Haiiit…!” Sambil menghentak keras disertai kibasan pedang, tubuh pendekar muda itu melenting bangkit dengan kuda-kuda kokoh!Cepat dikerahkannya ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ untuk mengusir rasa sesak yang mengganggu pernapasan. Tidak dipedulikannya lagi cairan merah di sudut bibirnya.

Memedi Karang Api dan Datuk Panglima Sesat kembali berlompatan saling mendahului untuk mendekati Pendekar Naga Putih. Mereka kembali melancarkan serangan- serangan untuk segera merobohkan lawan.

Panji yang sadar kehebatan kedua orang tokoh sesat itu, cepat-cepat memutar pedangnya. Segera dikerahkannya ilmu ‘Naga Sakti’ dengan penggunaan senjata.

“Heaaat..!”

Deru angin dingin yang menusuk tulang, menebar ketika pemuda itu melompat dengan serangan dahsyat! Pedang di tangannya berubah menjadi gundukan sinar keemasan yang bergulung-gulung bagaikan seekornaga yang tengah mengamuk. Hebat dan menggiriskan sekali serangan yang kali ini dilancarkan Pendekar Naga Putih. Sehingga, kedua orang datuk sesat yang telah banyak bertarung itu menjadi tercekat dibuatnya.

Memedi Karang Api dan Datuk Panglima Sesat baru merasakan kehebatan Pendekar Naga Putih ketika melihat serangan yang mengerikan itu. Serangan-serangan mereka pun cepat ditarik pulang, karena tidak sudi lengan mereka terbabat oleh sambaran pedang pusaka lawan yang ampuh.

Wuttt! Wukkk!

“Akh…!”

“Ahhh…!”

Datuk sesat dari Barat dan Timur itu terpekik kaget ketika hampir saja ujung pedang lawan yang bergulung- gulung itu merobek perut mereka secara berbarengan. Untung keduanya masih sempat melompat dan melempar tubuh kebelakang.

“Gila! Pemuda ini benar-benar tidak bisa dibuat main- main!” umpat Memedi Karang Api, berang. Kakek yang biasanya periang itu bergegas mencabut keluar senjatanya berupa sepasang trisula emas.

Wutt! Wuttt!

Sepasang senjata ditangan Memedi Karang Api yang panjangnya sekitar dua jengkal itu langsung digerakkan sehingga terdengar decitan tajam yang membelah udara. Secepat sambaran kilat diangkasa, secepat itu pula tubuh kurus Memedi Karang Api melesat menerjang Pendekar Naga Putih. Datuk Panglima Sesatpun tidak mau kalah. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu saja di tangan laki-laki tinggi besar itu telah tergenggam sebatang tongkat terbuat dan emas murni.

Werrr…! werrr…!

Putaran angin dahsyat yang bagaikan gelombang angin puyuh berputaran ketika Datuk Panglima Sesat menggerakkan tongkat diatas kepala. Debu dan batu-batu kecil beterbangan, menandakan betapa hebatnya tenaga yang terkandung di dalam gerakan itu.

“Heaaat…!”

Dengan sebuah lesatan kilat, tubuh tokoh tinggi besar itu melayang disertai putaran tongkat yang menimbulkan angin ribut! Pertarungan yang berlangsung antara tiga tokoh sakt iitupun membuat daerah disekitarnya bagaikan tengah terjadi angin puting beliung yan gmenyeramkan. Seluruh tokoh persilatan yang menyaksikan pertarungan langka itu, sama-sama mengalami perasaan ngeri! Maka serentak mereka menyingkir menjauhi arena pertarungan berhawa maut itu.

Kenanga, Subadil, Badalawa, dan delapan orang tokoh lainnya, bergerak mundur menjauhi arena pertarungan itu. Namun mereka tidak sempat lagi untuk menyaksikan pertarungan tokoh-tokoh tingkat tinggi itu, karena saat itu juga telah dikurung gerombolan perampok yang dipimpin Tengkorak Hutan Jati dan Garuda Mata Satu.

Tengkorak Hutan Jati dan Garuda Mata Satu sama-sama menelan ludah ketika melihat kejelitaan dan keindahan bentuk tubuh Kenanga. Dengan penuh nafsu, mereka menjilati sekujur tubuh gadis jelita itu dengan pandangan mata yang bagai mata harimau lapar. Tentu saja tatapan mata kedua orang tokoh sesat itu membuat wajah Kenanga menjadi merah. Rasa jengahnya berubah menjadi kemarahan, sehingga membuat mata indahnya berkilat.

“He he he…. Ayo, kita tangkap bidadari itu, Garuda Mata Satu. Siapa yang lebih dahulu mendapatkannya, maka boleh memilikinya untuk beberapa malam,” tantang Tengkorak Hutan Jati tanpa melepaskan pandangannya dari gadis jelita yang penuh pesona itu.

Garuda Mata Satu hanya mengangguk sambil menelan ludah. Rupanya, tokoh sesat yang gila wanita cantik itu benar-benar terbangkit birahinya melihat kecantikan Kenanga. Sehingga, usul yang diajukan rekannya tidak sempat dijawab. Tanpa mempedulikan yang lain, Garuda Mata Satu bergegas melompat. Langsung diterkamnya gadis berpakaian serba hijau itu. Gerakannya yang ringan, membuat tubuhnya melayang bagaikan seekor burung besar yang terbang bermain-main di angkasa.

Tengkorak Hutan Jatipun tidak kalah dengan rekannya. Tubuh tinggi kurus itu pun segera melesat tidak kalah sigapnya. Langsung dikirimkan serangan menggunakan cengkeraman tangan. Tentu saja serangan itu mempunyai maksud-maksud kurang ajar. Apalagi, serangan sepasang tangannya hanya tertuju ke bagian-bagian tubuh yang sangat terlarang. Sudah pasti hal itu semakin membangkitkan kemarahan di hati Kenanga.

“Jahanam…!” maki Kenanga sambil mengegoskan tubuh menghindari jamahan-jamahan tangan kedua orang lawannya. Dan dengan sengit, gadis jelita itu segera melancarkan serangan-serangan balasan menggunakan Pedang Sinar Rembulan yang telah dicabut dari pinggangnya.

Wuttt! Wuttt!

Sambaran pedang bersinar putih keperakan itu sempat membuat kedua orang lawan menjadi terkejut. Mereka yang sebelumnya tidak menduga akan kelihaian gadis jelita itu, segera melempar tubuh ke belakang. Langsung dilakukan beberapa kali putaran salto di udara, lalu kaki mereka mendarat beberapa tombak ditanah.

Namun Kenanga yang kemarahannya telah mencapai ubun-ubun, segera melesat mengejar. Pedang Sinar Rembulan yang berada di tangannya telah lenyap bentuknya. Yang tampak hanyalah gulungan sinar keperakan yang bergerak naik turun bagaikan gelombang samudera.

Wuttt! Wukkk!

Terjangan yang dilancarkan Kenanga benar-benar membuat kedua orang kepala rampok menjadi gelagapan. Keduanya cepat mencabut senjata masing-masing untuk memapak serangan dara jelita yang digdaya itu.

Trang! Trang!

Terdengar benturan keras yang menimbulkan pijaran bunga api ketika senjata-senjata itu beradu. Tangkisan kedua orang lawan, membuat tubuh Kenanga terjajar mundur sejauh setengah tombak lebih. Sedangkan kedua orang lawan hanya merasakan telapak tangan yang kesemutan. Namun, hal itu ternyata telah membuat Tengkorak Hutan Jati dan Garuda Mata Satu menjadi terbuka matanya.

“Gila! Gadis jelita itu ternyata bukan sasaran empuk. Dia benar-benar seperti seorang dewi yang turun dan langit. Hm…. Kalau saja dia dapat kujadikan istri, tentu akan menjadi seorang pendamping yang sangat baik,” desah Garuda Mata Satu yang semakin bertambah kagum setelah mengetahui kelihaian Kenanga.

“Hm. Alangkah beruntungnya bila bisa memiliki gadis jelita yang lihai itu.” gumam Tengkorak Hutan Jati yang rupanya memiliki pikiran serupa dengan Garuda Mata Satu. Hanya saja, mereka tidak mengetahui perasaan masing-masing.

DELAPAN

Sementara itu pertarungan Panji dan dua orang datuk sesat tampak semakin seru dan mendebarkan! Ketiga orang sakti yang telah sama-sama menggunakan jurus- jurus ampuh, membuat arena pertandingan porak-poranda bagaikan diamuk badai. Gempuran-gempuran yang dilancarkan Datuk Panglima Sesat dan Memedi Karang Api tampak semakin dahsyat.

Setelah mengetahui kehebatan Pendekar Naga Putih, mereka tidak lagi hanya sekadar hendak merebut Pedang Naga Langit. Bahkan kini berniat menghabisi nyawa pemuda itu sekaligus. Memang mereka khawatir kalau-kalau rencana yang telah disusun Malaikat Gerbang Neraka akan terhalang Pendekar Naga Putih. Itulah yang menyebabkan kedua orang datuk sesat menggiriskan hati itu merubah niatnya semula.

Pendekar Naga Putih yang meskipun telah menggunakan ‘Ilmu Pedang Naga Sakti’, tetap saja menjadi sibuk menghadapi gempuran kedua orang tokoh sesat itu. Kalau saja dua orang datuk itu tidak maju berbarengan, mungkin masih bisa ditundukkan. Walaupun disadari harus memakan waktu yang cukup lama, tapi Pendekar Naga Putih yakin akan mampu menundukkan mereka. Tapi karena mereka maju bersama, maka kesempatan untuk memperoleh kemenangan pun menjadi tipis.

“Yeaaat..!” Sadar kalau pertarungan berlarut-larut akan bisa menguras tenaganya, maka ketika pertarungan memasuki jurus yang kesembilan puluh dua, pemuda itu mengeluarkan ‘Pekikan Naga Marah’. Hebat sekali raungan dahsyat yang keluar dari mulut pendekar muda itu. Hutan Jelaga langsung bergetar bagai dilanda angin topan yang sangat mengerikan. Bahkan gema suara yang diciptakannya sampat melewati perbatasan hutan lebat itu!

Baik Datuk Panglima Sesat maupun Memedi Karang Api kontan melangkah mundur mendengar pekikan yang menggetarkan hutan itu. Cepat mereka memejamkan mata, dan mengerahkan tenaga sakti untuk melindungi isi dada yang terguncang. Untunglah, mereka telah memiliki tenaga dalam yang telah hampir mencapai titik kesempurnaan. Kalau tidak, bukan mustahil akan menderita luka dalam akibat ‘Pekikan Naga Marah’ yang dikerahkan Pendekar Naga Putih tadi.

Kesempatan yang sangat baik itu tentu saja tidak dilewatkan begitu saja oleh Pendekar Naga Putih. Cepat matanya melirik kearah Kenanga dan para tokoh persilatan lain yang tengah dikeroyok gerombolan Tengkorak Hutan Jati dan Garuda Mata Satu. Ketika melihat pertempuran sengit itu buyar akibat pengaruh teriakannya, tubuh pemuda itu berkelebat secepat kilat kearah mereka.

“Ayo, cepat tinggalkan tempat ini…!” seru Panji begitu kakinya mendarat di antara mereka.

Kenanga, Subadil, Badalawa, dan para tokoh yang lain serentak menoleh ke arah Pendekar Naga Putih. Mereka sempat terperanjat melihat keadaan pendekar muda yang dibeberapa bagian jubahnya tampak bernoda darah.

“Kakang, kau tidak apa-apa…?” Kenanga yang melihat keadaan kekasihnya, tentu saja menjadi cemas. Cepat gadis jelita itu berlari menghampiri Panji, sehingga lupa kalau saat itu keadaan masih dalam ancaman bahaya.

“Aku tidak apa-apa, Kenanga. Sebaiknya segera bergegas meninggalkan tempat ini. Biar aku saja yang akan mencegah, apabila mereka hendak melakukan pengejaran. Cepatlah! Waktu kita tidak banyak!” ujar Panji, segera memerintahkan kekasihnya untuk memimpin sepuluh orang tokoh itu meninggalkan Hutan Jelaga.

“Tapi…”

“Cepatlah, Kenanga. Jangan membuang-buang waktu lagi. Percayalah, aku segera menyusul kalian. Tunggulah di desa terdekat. Aku akan segera menjemputmu.” ujar Pendekar Naga Putih Panji segera melompat ke depan, karena saat itu dua orang datuk sesat yang ditinggalkannya telahm engejar.

“Jagalah dirimu baik-baik, Kakang…” pesan Kenanga dengan wajah cemas. Wajar saja kalau gadis itu mencemaskan keselamatan kekasihnya. Sebab, ia tahu kalau yang kali ini dihadapi Panji bukanlah tokoh sembarangan. Sehingga, hatinya ragu terhadap kekasihnya. Apakah Pendekar Naga Putih dapat terbebas dari datuk-datuk sesat yang berkepandaian sangat tinggi itu.

Panji tidak sempat lagimenyahut iucapan kekasihnya. Tubuh pemuda berjubah putih itu telah melesat menyambut kedatangan Datuk Panglima Sesat dan Memedi Karang Api. Dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki, diterjangnya kedua orang datuk sesat itu.

“Heaaat…!”

Hebat sekali serangan yang dilakukan Pendekar Naga Putih. Deru angin dingin yang bagaikan badai salju, menerjang deras tubuh kedua orang datuk sesat itu. Sehingga, mereka berdua terpaksa menghentikan langkah, dan menyambut serangan Pendekar Naga Putih.

Sementara itu, gerombolan para perampok yang dipimpin Tengkorak Hutan Jati dan Garuda Mata Satu tersentak mundur sambil menggigil kedinginan. Wajah mereka pucat kebiruan karena hawa dingin luar biasa yang menebar memenuhi tempat itu. Hingga, untuk beberapa saat lamanya, gerombolan perampok itu tertahan mundur dan tak sempat mengejar rombongan Kenanga.

Sayang, lawan yang kali ini dihadapi Panji adalah tokoh- tokoh sesat kelas satu. Sehingga, meskipun telah mengerahkan ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ sekuatnya, tetap saja kedua orang itu belum bisa ditaklukkannya. Bahkan kedua orang datuk itu masih bisa melancarkan serangan balasan yang tidak kalah berbahaya.

“Heaaa…!”

Werrr… werrr…!

Datuk Panglima Sesat yang telah membebaskan diri dari kungkungan hawa dingin menusuk tulang, melompat disertai putaran tongkatnya. Putaran angin keras yang bagaikan hendak merobohkan hutan, menyambar-nyambar mengancam seluruh tubuh Pendekar Naga Putih.

Belum lagi pemuda bertuhah putih ini sempat mengatasi terjangan dahsyat itu, serangan Memedi Karang Api telah tiba menyusuli. Maka dapat dibayangkan, betapa repotnya pemuda itu saat menghalau terjangan kedua lawan. Namun tekadnya yang telah bulat untuk menyelamatkan rombongan yang dipimpin Kenanga, membuat Pendekar Naga Putih tidak mudah menyerah begitu saja. Dibalasnya gempuran kedua orang datuk sesat itu dengan sambaran Pedang Naga Langit yang bagaikan kilatan maut. Sehingga meskipun kedua orang lawan mencoba mengatasi Panji secepatnya, tetap saja harus bekerja keras.

Memang, untuk mencegah amukan Pendekar Naga Putih, tentu saja bukan merupakan hal mudah. Meskipun Panji terlihat sibuk menghadapi gempuran dua orang lawan, namun masih sempat melirik ke arah rombongan Tengkorak Hutan Jati dan Garuda Mata Satu. Ketika melihat kedua rombongan itu hendak melakukan pengejaran, tubuh pemuda tampan itupun cepat melesat meninggalkan kedua orang lawan.

“Haiiit…!”

Wusss… blarr…!

“Aaah…!”

Lontaran pukulan jarak Jauh yang dikerahkan Panji, meluncur deras menimbulkan ledakan menggetarkan. Beberapa sosok tubuh anggota perampok yang terlanggar angin pukulan berhawa dingin luar blasa itu terlempar bagaikan daun-daun kering. Tubuh mereka langsung terbujur dengan kulit tubuh kebiruan. Mereka kontan tewas akibat hantaman pukulan jarak jauh amat dahsyat yang dilepaskan Pendekar Naga Putih.

Melihat kejadian yang mengerikan itu, tentu saja para anggota perampok yang lain menjadi gentar. Mereka yang semula hendak melakukan pengejaran, segera berlompatan mundur dengan wajah membayangkan kengerian. Meskipun Pendekar Naga Putih berhasil membuat pengejaran tertunda, namun ia sendiri harus menerima kenyataan pahit akibat perbuatannya. Memang, begitu berhasil memukul tewas beberapa orang perampok, sebuah hantaman tongkat Datuk Panglima Sesat menghajar telak bagian belakang tubuhnya.

Buggg!

“Akh..!” Bagai dilemparkan sebuah tendangan raksasa yang tak tampak, tubuh pemuda berjubah putih itu terlempar deras hingga tiga tombak jauhnya. Segumpal darah segar yang mengental terlompat keluar dan mulutnya. Jelas, hantaman dahsyat itu telah membuat tubuhnya terluka dalam. Satu keuntungan yang masih membuatnya dapat bertahan adalah adanya lapisan kabut bersinar putih keperakan yang melindunginya dari pukulan dahsyat itu. Kalau saja ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ yang dimilikinya tidak sering dilatih dan disempurnakan, sudah pasti pemuda itu tak akan sanggup menerima hantaman tongkat Datuk Panglima Sesat.

Walaupun hantaman keras itu telah membuat tubuhnya terlempar, namun Pendekar Naga Putih masih juga dapat membuat kedua orang lawannya menggeleng kagum. Memang, tubuh yang tengah melayang itu masih mampu diselamatkan agar tidak sampai terbanting. Dengan beberapa kali putaran salto indah dan manis, tubuh pemuda itu dapat mendarat selamat.

“Uhhh..!” Panji mengeluh dengan kuda-kuda limbung! Darah segar kembali menetes keluar dari sudut bibirnya. Dadanya yang terasa sesak, membuat berdirinya agak limbung sambil menekap dada dengan telapak tangan kiri. Jelas kalau luka dalam yang dialami Panji cukup parah.

Memedi Karang Api yang menyusuli pemuda itu dengan lesatan tubuh, langsung menerjang dengan tusukan kedua senjatanya.

Bettt! Bettt!

Luncuran dua batang senjata yang menyiratkan sinar keemasan membuat Pendekar Naga Putih agak terkejut. Keadaannya yang jelas belum siap, membuatnya harus terpaksa menyelamatkan diri mati-matian dari ancaman maut itu.

“Heaaah…!” Dengan gerakan mulai melemah, tangan kanan pemuda itu bergerak menyambar ke depan. Sambaran mendatar Pedang Naga Langitnya seketika berkelebat cepat memapak serangan senjata Memedi Karang Api.

Trang! Trang!

“Uhhh…!” Sayang, tangkisan yang dilakukan sepenuh tenaga itu terhambat rasa nyeri di dadanya. Sehingga akibat tangkisan itu, tubuh Pendekar Naga Putih kembali terdorong beberapa langkah kebelakang.

Rupanya, Memedi Karang Api yang mengetahui kalau lawan telah mengalami luka dalam, tetap saja meneruskan serangan tanpa mempedulikan tangkisan. Memang, ia yakin kalau kali ini akan dapat menekan tenaga lawan. Melihat apa yang diduga tidak meleset, Memedi Karang Api kembali metompat menyusuli tubuh Panji yang tengah terhuyung mundur. Tusukan sepasang trisulanya kembali meluncur deras mengancam bagian terlemah di tubuh Pendekar Naga Putih.

Crasss! Crasss!

“Akh…!” Tusukan dua batang senjata lawan itu hampir berhasil melukai tubuh Panji. Untunglah pada saat-saat terakhir, tubuhnya masih sempat dimiringkan ke samping. Sehingga, tusukan trisula Memedi Karang Api hanya menyerempet iga dan lambungnya saja.

Panji yang merasa tidak bakal unggul melawan kedua orang datuk sesat yang lihal itu, mulai melirik jalan selamat, Pendekar Naga Putih telah cukup lama membuat pengejaran lawan terhambat. Dan menurut perhitungannya, saat itu rombongan yang dipimpin Kenanga pasti sudah cukup jauh meninggalkan wilayah hutan. Maka, Panji pun berniat meloloskan diri dari kedua orang datuk sesat itu.

Keluhan pendek kembali terdengar dan mulut Pendekar Naga Putih. Tidak dipedulikan lagi luka-lukanya yang terasa nyeri dan linu. Satu tekadnya, ia harus bisa menyelamatkan diri dari hutan itu. Kalau tidak mau mati sia-sia. Memang harus dengan siasat untuk menghadapi dua tokoh sesat ini. Namun yang pasti, dunia persilatan akan terancam bahaya dengan bersatunya seluruh tokoh sesat. Maka pemuda yang cerdik dan telah banyak pengalaman itu harus mengatur siasat. Karena, sudah dapat ditebak, apa maksud para tokoh sesat berkumpul dan melakukan keonaran-keonaran. Jelas, mereka ingin menguasai dunia persilatan!

“He he he… Menyerahlah, Pendekar Naga Putih. Tidak ada gunanya keras kepala hendak melawan kami.” ujar Datuk Panglima Sesat sambil memperdengarkan gelak tawanya yang menggelegar. Jelas kalau tokoh itu sudah merasa yakin akan dapat menundukkan Pendekar Naga Putih. Apalagi keadaan pemuda itu memang sudah cukup parah. Maka, keyakinan tokoh tinggi besar itupun semakin bertambah.

Memedi Karang Api dan Datuk Panglima Sesat sama-sama melangkah ke arah Pendekar Naga Putih. Mereka terkekeh melihat pemuda itu hanya menatap tanpa bergerak sedikitpun. Sehingga, kedua orang itu menduga kalau Pendekar Naga Putih sudah menyerah pasrah terhadap nasib yang akan diterima.

Namun, apa yang diduga kedua orang datuk sesat itu sama sekali tidak dipedulikan Panji Pendekar Naga Putih lalu menelan obat pulung dari balik bajunya, seraya menghimpun tenaganya. Hawa hangat akibat obat luka dalam yang ditelan segera menyebar, dibantu pengerahan tenaga murni. Meskipun pemuda itu telah merasakan keadaannya semakin membaik, tetap saja tercekam menanti kesempatan untuk bisa selamat dari kedua orang datuk itu.

“He he he… Apalagi yang kau pikirkan, Pendekar Naga Putih? Apakah para bidadari surga tengah melambaikan tangan kepadamu?” ejek Datuk Panglima Sesat sambil tertawa-tawa parau. Langkah kakinya pun semakin dekat dengan tempat Panji berdiri.

“Enak saja kau bicara, Datuk Panglima Sesat. Terlalu enak kalau rohnya disambut para bidadari surga. Kalau aku, lebih suka pendekar muda ini dipanggang dalam api neraka. Biar merasakan, betapa nikmatnya apabila api telah menjilati tubuhnya,” bantah Memedi Karang Api. Dari ucapannya, jelas betapa kejamnya sifat yang dimiliki kakek berjubah Putih lusuh itu.

Panji sama sekali tidak mempedulikan ejekan lawan- lawannya. Tubuhnya yang terasa sudah semakin membaik, membuat pemuda itu bangkit semangatnya. Maka ketika jarak kedua orang datuk sesat itu hanya tinggal satu tombak di depannya, tubuh Pendekar Naga Putih segera berbalik dan melesat cepat meninggalkan tempat itu.

“Hei…!”

Tentu saja apa yang dilakukan Panji membuat kedua orang datuk sesat itu menjadi terkejut. Sungguh tidak diduga sama sekali kalau pemuda itu masih mempunyai kemampuan melarikan diri. Padahal mereka melihat jelas betapa keadaan pemuda itu telah sangat parah tadi. Sehingga, mereka jadi terkesima untuk beberapa saat.

Memedi Karang Api yang lebih dulu tersadar dari rasa keheranannya, cepat melesat disertai uluran tangannya yang memanjang hingga dua tombak jauhnya. Tangan yang terulur itu langsung melakukan tusukan ke punggung Pendekar Naga Putih.

Wuttt!

Panji yang merasakan desir angin keras menerpa belakang tubuhnya, cepat-cepat berbalik dan mengibaskan tangan yang menggenggam Pedang Naga Langit.

Wuttt… Trang…!

Tangkisan kuat yang dilakukan Pendekar Naga Putih dengan menggunakan Pedang Naga Langit, membuat tangan lawan yang semula memanjang mengkerut seperti sedia kala.

“Edan…!” maki Memedi Karang Api yang merasakan lengannya linu akibat tangkisan pemuda itu. “Heran! Bagaimana mungkin pemuda itu bisa memulihkan tenaganya kembali…?”

“Hm… Dasar kita saja yang bodoh, sehingga bisa dikelabuinya. Kita lupa, pemuda itu pernah bersahabat dengan tokoh sakti yang berjuluk Raja Obat. Tentu saja lukanya bisa disembuhkan tanpa mengalami kesulitan,” sahut Datuk Panglima Sesat yang baru teringat akan berita yang pernah didengarnya.

“Hhh…. Hebat sekali pemuda itu. Dalam usia yang masih sangat muda telah bisa mengumpulkan berbagai kepandaian yang sangat diperlukan bagi kaum rimba persilatan. Hm… Lain kali aku tidak akan sudi dikelabui begitu saja,” geram Memedi Karang Api.

Kedua orang datuk sesat itu sama sekali tidak berniat mengejar Pendekar Naga Putih. Memang, saat itu tubuh lawan telah jauh. Melihat gerakannya yang demikian lincah dan cepat, merekapun ragu untuk dapat mengejar.


Pendekar Naga Putih terus melarikan diri menuju mulut Hutan Jelaga sebelah Barat. Tubuh pemuda itu berkelebat cepat bagaikan bayangan hantu yang terkadang lenyap di balik rimbunan pepohonan. Sepertinya, hatinya sudah tidak sabar untuk segera dapat mengejar Kenanga dan para tokoh persilatan yang telah terbebas dari kepungan para tokoh sesat.

Karena mengejar menggunakan ilmu lari cepat yang hampir mencapai tingkat kesempurnaan, maka tidak berapa lama kemudian, Pendekar Naga Putih hampir tiba di mulut hutan. Pepohonan yang tumbuh tidak terlalu rapat itu membuat cahaya matahari bebas menerobos dan menerangi jalan yang dilewati Pendekar Naga Putih.

Beberapa belas tombak sebelum mencapal mulut hutan, Pendekar Naga Putih mengerutkan kaning ketika melihat beberapa sosok tubuh tampak bergeletakan dalam keadaan tewas. Tentu saja pemandangan itu membuat hatinya berdebar tegang. Dengan menambah kecepatan larinya, maka sekejap saja tubuh pemuda itu tiba di tempat mayat-mayat yang bergeletakan mandi darah.

“Ah…?!” Hati Pendekar Naga Putih semakin berdebar ketika mengenali lima sosok mayat itu. Mereka tak lain adalah para tokoh persilatan yang melarikan diri bersama Kenanga.

“Hm. Tampaknya mereka belum lama tewas.” gumam Pendekar Naga Putih setelah melihat darah yang menempel di tubuh mayat masih basah.

Menduga demikian, tubuh pemuda itu pun berkelebat cepat melewati mulut Hutan Jelaga. Dia terus berlari melintasi jalan berdebu. Sambil mengerahkan ilmu lari cepat, Pendekar Naga Putih memasang indera pendengarannya tajam-tajam. Ketika secara lapat-lapat mendengar suara pertempuran, pemuda itu pun kembali melesat setelaah memastikan asal suara itu.

Pendekar Naga Putih mengerutkan keningnya ketika beberapa belas tombak di depannya tampak dua sosok tubuh tengah bertempur sengit. Sekali lihat saja, dia sudah dapat menilai kalau sosok berjubah hitam yang bertubuh tinggi kurus akan dapat mengalahkan lawannya dalam waktu yang tidak begitu lama. Ketika Panji semakin dekat dengan pertarungan yang hebat dan membuatnya terkagum-kagum, dadanya kontan berdebar tegang. Memang, lawan orang berjubah hitam yang wajahnya tersembunyi di balik kerudung itu adalah seorang kakek renta yang mengenakan pakaian berwarna putih. Dari bentuk tongkat yang sempat dilihatnya, Panji segera dapat menebak, siapa kakek renta itu.

“Eyang Raja Obat…!” gumam Panji semakin bertambah heran.

Belum lagi Pendekar Naga Putih dapat mengungkapkan teka-teki pembunuhan atas lima orang tokoh persilatan yang ditemukannya di dekat mulut hutan, kini tahu-tahu muncul Raja Obat yang telah lama dikenalnya dalam keadaan terancam (Untuk dapat mengetahui hubungan Panji dengan Raja Obat lihat episode Bunga Abadi di Gunung Kembaran)

Panji yang melihat Raja Obat terdesak hebat oleh laki- laki tinggi kurus itu segera melesat memasuki arena.

“Heaaat…!” Begitu tiba di tengah arena pertarungan, Pendekar Naga Putih langsung menyambut sebuah pukulan orang berjubah hitam itu. Hal itu dilakukan untuk menyelamatkan Raja Obat yang saat itu keadaannya sangat terancam.

Plarrr…!

“Akh…!” Pendekar Naga Putih memekik kaget ketika benturan keras itu membuat tubuhnya terlontar balik sejauh hampir dua batang tombak!Tentu saja kenyataan itu membuatnya terkejut setengah mati. Meskipun tadi tidak mengerahkan sepenuh tenaga, namun hal yang seperti itu hampir tidak pernah dialaminya.

“Gila! Pantas saja Eyang Raja Obat dapat dibuatnya kelabakan. Kepandaian orang ini benar-benar luar biasa! Entah siapa tokoh sakti ini? Mungkinkah ia ada hubungannya dengan pertemuan para tokoh sesat di Hutan Jelaga? Atau jangan-jangan…?” hati Pendekar Naga Putih berdebar tegang ketika teringat akan ucapan Datuk Panglima Sesat dan Memedi Karang Api.

Mereka berdua memang pernah menyebut-nyebut tentang Pemimpin Agung. Laki-laki tinggi kurus yang wajahnya tersembunyi di balik kerudung itu tampaknya menatap tajam ke arah Panji. Sepasang matanya yang hanya berbentuk cahaya kemerahan itu benar-benar membuat hati Pendekar Naga Putih berdebartegang.

Panji mengusap tengkuknya yang terasa meremang akibat tatapan mata orang berkerudung itu. Otot-otot tubuhnya serentak menegang, karena disadari sepenuhnya kalau tenaga sakti yang dimiliki orang itu sudah sedemikian sempurna. Buktinya, ia mampu membuat hatinya bergetar.

“Panji.., orang inilah yang berjuluk Malaikat Gerbang Neraka. Kepandaiannya hebat sekali. Sampai-sampai aku hampir tewas dibuatnya. Untunglah kau segera datang. Kalau tidak, mungkin hanya mayatku saja yang akan kau temukan,” bisik Raja Obat yang segera menghampiri Panji, begitu mengenali siapa pemuda yang telah menolongnya.

“Eyang. Apakah kau bertemu Kenanga ?” tanya Panji. Memang, pikiran Pendekar Naga Putih hanya dipenuhi bayangan gadis jelita itu. Hatinya benar-benar merasa khawatir sekali akan keselamatan kekasihnya.

“Ya! Aku telah bertemu dengannya. Dia membawa rombongan tokoh persilatan golongan putih. Saat itu, mereka tengah melarikan diri karena dikejar-kejar beberapa tokoh sesat,” sahut Raja Obat sambil menggerakkan kepala kearah Malaikat Gerbang Neraka. “Mereka kusuruh pergi terlebih dahulu, dan aku mencoba menghadang laki-laki tinggi kurus itu.”

Panji dan Raja Obat menolehkan kepala ketika mendengar suara menggeram yang menggetarkan! Keduanya bersiap ketika melihat tokoh menggiriskan yang berjuluk Malaikat Gerbang Neraka tengah bersiap melancarkan serangan.

“Hm…Kita harus meninggalkan tempat ini secepatnya. Panji. Kurasa, tidak lama lagi tokoh sesat lainnya akan berdatangan ketempat ini. Mereka yang sekarang berada di bawah pimpinan laki-laki tinggi kurus tni hendak mengadakan pertemuan. Sepertinya, merekam empunyai rencana besar yang belum kita ketahui.” ujar Raja Obat sambil tetap memandang Malaikat Gerbang Neraka dengan sikap waspada.

“Tapi, bukankah para tokoh sesat itu masih berada di dalam Hutan Jelaga, Eyang. Dan kalau tidak salah dengar, justru tempat itulah yang akan dijadika najang perternuan.” sahut Panji Pendekar Naga Putih sama sekali tidak merasa heran apabila Raja Obat mengetahui tentang hal itu. Kakek sakti yang merupakan seorang perantau itu sepertinya memang banyak tahu tentang kejadian-kejadian dalam rimba persilatan.

“Hm…. Masih banyak yang belum hadir, Cucuku. Dan menurut dugaanku, mereka akan melewati tempat ini. Maka kita harus cepat pergi.” tegas Raja Obat yang membuat Panji semakin terperangah.

“Gila! Apa sebenarnya tujuan Malaikat Gerbang Neraka mengumpulkan demikian banyak tokoh golongan sesat. Tidak mungkin kalau hanya sekadar ingin menguasai dunia persilatan! Sebab dengan kepandaiannya yang sangat dahsyat, ia dapat dengan mudah menaklukkan tokoh-tokoh rimba persilatan tanpa bantuan tokoh lain.” gumam Panji dalam hati. Dan memang, ucapan itu tidak dikeluarkan.

“Kita gempur dulu orang ini. Setelah itu, baru tempat ini kita tinggalkan. Agar kita bisa mengatur langkah selanjutnya,” bisik Raja Obat sambil mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki.

Panji hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab. Dikerahkannya ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ sepenuhnya untuk menghadapi serangan Malaikat Gerbang Neraka. Lapisan kabut bersinar putih keperakan yang menyelubungi sekujur tubuh Pendekar Naga Putih, membuat Malaikat Gerbang Neraka mengerutkan keningnya. Dari sinar matanya, jelas tergambar kalau ia tengah menilai kekuatan calon lawannya.

“Heaah…!” Tlba-tiba, tubuh tinggi kurus itu meluncur bagai kilat disertai teriakan mengguntur.

Wusss…!

Sambaran angin keras yang bagaikan hendak merobohkan gunung meluncur mengiringi dorongan sepasang telapak tangan Malaikat Gerbang Neraka. Menilik kekuatan yang dikerahkannya, jelas kalau tokoh itu hendak menghabisi kedua orang lawan sekaligus!

“Yeaaat..!”

“Heaaat…!”

Pendekar Naga Putih dan Raja Obat pun tidak tinggal diam. Tubuh kedua tokoh kelas satu itu melesat berbarengan sambil mendorongkan telapak tangan untuk menyambut serangan lawan.

Wusss… Blarrr…!

Terdengar dentuman keras, bagai terjadi ribuan guntur di angkasa. Bumi di sekitar tempat itu terguncang hebat bagaikan dilanda gempa! Beberapa batang pohon yang tumbuh dalam jarak sepuluh tombak, langsung roboh menimbulkan suara hiruk-pikuk yang bersahut-sahutan. Debu tebal membumbung tinggi, membuat suasana di sekitar arena menjadi gelap.

“Aaah…!”

Tubuh Panji dan Raja Obat terlempar deras hingga beberapa tombak ke belakang. Namun dengan sebuah gerakan indah, tubuh mereka dapat bersalto di udara beberapa kali.

“Ayo kita pergi…!” ajak Raja Obat begitu kedua kakinya menjejak tanah. Tanpa menunggu jawaban Panji, tubuh kakek itu langsung melesat meninggalkan arena pertarungan yang tertutup debu.

Pendekar Naga Putih yang mendengar seruan Raja Obat bergegas menyusul, setelah kakinya mendarat di atas tanah. Tubuh pemuda itu langsung melayang mengikuti kakek renta yang melesat beberapa tombak didepannya. Melihat wajah mereka yang tampak menyeringai, jelas kalau Panji dan Raja Obat cukup menderita akibat benturan yang luar biasa dahsyatnya tadi.

“Keparat..!” maki Malaikat Gerbang Neraka, marah. Memang, saat kepulan debu mulai menipis, Malaikat Gerbang Neraka tidak menemukan kedua orang lawannya lagi. Dengan wajah keruh, tokoh sakti itu membanting kakinya di atas tanah. Ia mengomel, sebelum meninggalkan tempat itu.

Siapakah sebenarnya tokoh sakti yang menggiriskan itu? Dan apa rencana Malaikat Gerbang Neraka mengumpulkan tokoh sesat dunia persilatan? Dapatkah dia mengajak dua orang datuk sesat lainnya untuk bersekutu?Untuk mengetahui jawabannya, silakan mengikuti lanjutan cerita ini yang berjudul Rahasia Pedang Naga Langit

You may also like...