27 – Sengketa Jago-Jago Pedang

Malam semakin larut. Hembusan angin dingin sesekali bertiup keras membawa titik-titik air, yang perlahan-lahan jatuh membasahi permukaan bumi. Sang dewi malam yang biasanya selalu menghias cakrawala, kali ini lebih suka bersembunyi di balik gumpalan awan hitam. Sepertinya dia enggan untuk menampakkan sinarnya dalam suasana seperti ini.

Hanya sesekali saja dia mengintip, untuk kemudian bersembunyi lagi. Kilatan-kilatan cahaya putih yang disusul gelegar halilintar saling sambung di angkasa yang gelap gulita. Tampaknya, tidak ada lagi hujan yang akan turun membasahi bumi.

Di bawah siraman titik-titik air yang tampak semakin banyak tercurah ke bumi, tampak sesosok bayangan hitam bergerak cepat bagaikan hantu. Sesekali dia lenyap di balik gerombolan semak belukar, ataupun ketika terhalang pepohonan lebat.

Glarrr…! “Haiiit…!”

Tiba-tiba terdengar suara menggelegar yang disusul robohnya sebatang pohon besar di sebelah kanan sosok bayangan itu. Dan disertai pekikan nyaring, sosok bayangan hitam itu melenting ke depan dan langsung bersalto beberapa kali di udara. Kemudian dia turun dengan gerakan ringan, berjarak beberapa tombak dari pohon besar yang roboh hingga menimbulkan suara bergemuruh.

Sosok bayangan hitam itu tampak tidak segera melanjutkan larinya. Kepalanya menoleh ke belakang, ke arah robohnya pohon besar yang hampir menimpanya tadi. Untunglah gerakannya demikian gesit dan lincah. Kalau tidak, mungkin tubuhnya sudah tewas tergencet batang pohon besar tadi.

“Hm…” Setelah mengeluarkan dengusan kesal, sosok bayangan hitam itu kembali melanjutkan perjalanan. Tanah becek yang mulai tergenang air, sama sekali tidak mengganggu langkahnya. Sosok tubuh itu terus saja melesat cepat, sehingga tidak lumrah bagi ukuran manusia. Tak berapa lama kemudian, langkah sosok tubuh itu terhenti beberapa tombak didepan bangunan sebuah perguruan. Sepasang mata tajam di balik kerudung hitam itu, nampak berputar mengawasi sekelilingnya.

“He he he Nampaknya alam merestui rencanaku. Kalau tidak, mungkin keadaannya tidak akan sesunyi ini. Sepertinya rencanaku ini akan berjalan mulus,” gumam sosok bayangan hitam itu lega.

Setelah memastikan kalau tidak ada seorang pun yang melihatnya, sosok tubuh terbungkus pakaian hitam itu kembali bergerak menuju halaman belakang bangunan. Setibanya di bagian belakang bangunan, sosok bayangan hitam itu melambung melampaui pagar setinggi dua tombak. Tubuhnya yang melayang bagaikan seekor burung besar, tampak berputar ketika berada di atas pagar. Kemudian dengan gerakan perlahan. Telapak tangan kanannya menepak ujung pagar. Rupanya dengan berbuat demikian dia hendak membantu daya lambung tubuhnya.

Hasilnya, sosok tubuh yang tengah berjumpalitan itu kembali melayang hingga satu tombak Jauhnya. Ringan sekali ketika sepasang kakinya menjejak tanah di dekat taman belakang bangunan. Kembali sosok bayangan hitam itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Yakin keadaan di sekitarnya aman, ia melangkah sambil merapatkan tubuhnya pada sebuah dinding yang di atasnya terpancang sebuah obor. Tampak sosok tubuh itu mengeluarkan sesuatu yang tergulung rapi dari balik pakaiannya, lalu dibentangkannya perlahan.

Gulungan kulit kayu yang ternyata gambar ruangan gedung ini, ditelitinya beberapa saat. Sebentar, kepalanya tampak terangguk-angguk. Kemudian, gulungan itu kembali dimasukkan ke dalam pakaiannya. Lalu, dia terus menyelinap ke dalam melalui pintu belakang yang tidak terkunci.

“Bagus! Mereka ternyata telah mempersiapkannya dengan baik. Mudah-mudahan saja mereka tidak mendapat kesulitan,” gumam sosok bayangan hitam, dengan sinar mata berseri. Ketika tiba pada sebuah ruangan yang jelas menjadi tujuannya, kening sosok tubuh itu tampak berkerut. Tampak dua orang berseragam merah hitam tengah duduk mengelilingi meja bulat.

“Mengapa hanya ada dua orang penjaga? Bukankah menurut keterangan mereka biasanya berempat? Ah! Mudah-mudahan saja orang-orangku tidak berkhianat,” gumam sosok itu penuh harap.

Setelah menanti agak lama, sosok bayangan hitam itu melesat cepat melumpuhkan kedua orang penjaga yang langsung roboh tanpa sempat berteriak. Diambilnya kunci ruangan yang bertuliskan ‘ruang pustaka’ dari balik pakaian salah seorang penjaga. Sesaat kemudian, sosok tubuh itu pun telah lenyap di balik pintu ruangan perpustakaan itu.

Tanpa rasa ragu sedikit pun, sosok bayangan hitam yang telah berada dalam ruangan perpustakaan langsung saja melangkah ke arah sebuah patung batu berbentuk seekor kuda. Diputarnya kepala patung kuda itu disertai pengerahan tenaga dalam.

Grrrgh…!

Terdengar suara berderak perlahan ketika sebuah tembok di samping kirinya terbuka. Tanpa menanti pintu itu terkuak lebar, sosok bayangan itu bergegas melompat masuk. Wajahnya berseri seketika, sewaktu melihat sebuah peti kayu tebal yang tergeletak di atas sebuah batu pipih lebar.

“Ha ha ha…. Raja Pedang Sinar Pelangi. Ingin rasanya aku melihat, bagaimana rupamu kalau mengetahui kitab ini lenyap dari tempat penyimpanannya.” Tawa sosok tubuh itu berderai perlahan sambil mengangkat peti kayu di atas kepalanya. Selanjutnya, tubuh terbungkus pakaian hitam itu melesat meninggalkan ruang perpustakaan milik Perguruan Pedang Sinar Pelangi.

“Hei?! Siapa kau…? Berhenti…!” Terdengar bentkan keras yang disusul berkelebatnya enam sosok tubuh, mereka langsung mengepung sosok bayangan hitam yang mengepit peti kayu pada lengan kirinya.

“Hei, lihat! Apa yang dibawanya itu…?” Seru salah seorang dari enam lelaki muda itu. Keningnya yang lebar, tampak berkerut dalam. Jelas, ia merasa curiga dengan sosok bayangan hitam itu.

“He he ha… Cecunguk-cecunguk bodoh! Lebih baik menyingkirlah sebelum kesabaranku lenyap!” Ancam sosok bayangan hitam, perlahan. Dan sebelum keenam orang murid Perguruan Pedang Sinar Pelangi sempat menyahuti, tahu-tahu saja sosok di depannya telah melesat disertai serangan maut!

Wuuttt…!

Serangkum angin keras berhembus mengiringi tamparan yang cepat dan mengandung kekuatan tinggi. Keenam orang murid Perguruan Pedang Sinar Pelangi tentu saja menjadi terkejut bukan main! Cepat mereka berloncatan mundur, menghindari serangan mengandung hawa maut itu. Namun, serangan yang dilancarkan sosok bayangan hitam itu memang hebat sekali! Hingga, dua orang murid yang terlambat menghindar, terpaksa harus merelakan dirinya terkena tamparan keras!

Plakkk! Plakkk!

“Ughhh…!”

“Aaakh…!”

Hebat sekali akibat tamparan sosok bayangan hitam itu. Dua orang murid Perguruan Pedang Sinar Pelangi, langsung ambruk dan menggelepar tanpa dapat bangkit lagi. Keduanya tewas seketika. Dari mulut, hidung, dan telinga tampak mengalir darah segar. Robohnya kedua orang berseragam merah hitam itu, tentu saja membuat keempat orang lainnya menjadi marah!

Srettt… Sriiing!

Sadar kalau orang berpakaian serba hitam itu sangat berbahaya mereka bergegas mencabut senjata masing-masing. Kemudian, mereka bergerak menyebar melakukan kepungan.

“Cepat bunyikan kentongan tanda bahaya…!” ujar salah seorang murid.

Melihat dari raut wajahnya, paling tidak dia berusia sekitar tiga puluh tahun. Dan tindakannya dalam menghadapi keadaan itu memang tepat sekali. Teriakan itu, membuat ketiga orang lainnya sadar seketika. Salah seorang yang berwajah tampan dan berkumis tipis, langsung saja berlari menuju penjagaan. Bukan hanya ketiga orang itu saja yang tersentak mendengar teriakan salah seorang temannya. Sosok berpakaian hitam yang ternyata seorang pencuri itu terkejut pula karenanya. Cepat tubuhnya melesat, mencegah salah seorang yang tengah berlari menuju pos jaga itu.

“Haiiit..!”

Dibarengi teriakan nyaringnya, sosok bayangan hitam itu berjumpalitan beberapa kali. Sekejap saja, kakinya telah mendarat beberapa langkah didepan orang itu.

Wuuut..!

Tanpa banyak cakap lagi, sosok berpakaian serba hitam itu langsung mengirimkan tamparan maut ke kepala lelaki tampan berkumis tipis itu.

“Adi Sujana, awaaas…!” Seru salah seorang dari ketiga kawannya, memberi peringatan kepada lelaki berkumis tipis yang ternyata bernama Sujana.

Sujana pun bukan tidak tahu akan bahaya maut yang mengancamnya. Cepat langkahnya digeser ke kiri sambil merundukkan kepala. Gerakan mengelak itu masih dibarengi sabetan pedangnya yang langsung mengincar perut lawan!

“Bagus…!” Terdengar seruan perlahan yang bernada pujian dari orang berpakaian hitam itu. Tubuhnya ditarik ke belakang hingga doyong. Gerakan itu masih disusul uluran tangannya yang bergerak cepat menangkap pergelangan tangan Sujana.

Tappp…. Desss…!

“Hukhhh…!”

Hebat sekali memang apa yang dilakukan sosok berpakaian hitam itu! Sebelum Sujana sempat menyadari kalau pergelengannya ditangkap, sosok tubuh berpakaian hitam itu telah mengirimkan sebuah tendangan. Dalam keadaan seperti itu, Sujana tak mampu mengelak. Maka, tendangan itu telah menghantam dadanya! Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh lelaki muda berusia dua puluh lima tahun itu terjungkal keras! Sujana pun tewas akibat tendangan keras lawannya.

“Bangsat! Rasakan pembalasanku, Pembunuh Keji…!” teriak salah seorang dari ketiga kawan Sujana dengan kemarahan yang meluap-luap. Kemudian, tubuhnya langsung melompat disertai sambaran pedangnya.

Wuuut…!

Terdengar suara mendesing tajam ketika pedang di tangan lelaki pendek gemuk itu membabat dengan kecepatan tinggi. Belum lagi sambaran pedang itu tiba, dari dua arah lainnya meluncur dua bilah golok yang juga meng- ancam tubuh orang berpakaian hitam itu. Datangnya tiga buah serangan dari arah yang berbeda, sama sekali tidak membuat gugup orang berpakaian hitam itu. Dengan sikap tetap tenang, tubuhnya bergerak mundur ke belakang.

Sambil melakukan lompatan kecil, telapak kaki kanannya melancarkan serangan untuk mematahkan sambaran dua bilah golok yang datang dari samping dan belakangnya. Gerakan- gerakan itu begitu cepat, dan hampir tidak terlihat lawan-lawannya. Sehingga, ketiga orang pengeroyoknya sempat dibuat terkejut!

Plakkk! Plakkk! Desss…!

“Uhhh…!”

“Ughhh…!”

Hebat sekali gerakan yang dilakukan pencuri itu. Tepat pada waktu telapak kakinya menghajar balik dua buah serangan bilah golok lawan, kepalan tangan kanannya langsung meluncur menghajar dada lelaki pendek gemuk yang berada di depannya!

Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh pendek gemuk itu terjungkal sambil memuntahkan segumpal darah segar dari mulutnya. Setelah berkelojotan sesaat, tubuh lelaki gemuk itu terkulai. Tewas! Jelas pukulan yang dilancarkan lelaki berpakaian serba hitam itu telah mendatangkan luka dalam yang sangat parah, hingga membuatnya tak kuat bertahan hidup.

Sedangkan dua orang lain yang tertangkis sambaran telapak kaki orang berpakaian serba hitam, melintir hingga beberapa langkah ke belakang. Wajah mereka tampak meringis sambil memijat-mijat pergelangan tangan yang terasa nyeri. Mereka tidak lagi mempedulikan senjata yang terpental entah ke mana. Yang dipikirkan saat itu hanyalah, bagaimana agar rasa sakit pada pergelangan dapat segera lenyap.

Kesempatan baik itu rupanya tidak disia-siakan si pencuri. Cepat tubuhnya melesat meninggalkan kedua orang lawan yang masih sibuk mengurusi pergelengannya. Hal itu membuktikan kalau si pencuri sebenarnya tidak ingin bentrok dengan murid-murid Perguruan Pedang Sinar Pelangi. Mungkin, ia hanya berniat mencuri peti kayu tanpa bermaksud membuat kekacauan. Sayang pencuri itu tidak menyadari, kalau akibat perbuatannya jelas telah berurusan dengan pihak Perguruan Pedang Sinar Pelangi. Tapi baru saja sosok berpakaian serba hitam itu hendak melintasi pagar kayu yang menghalangi perguruan itu dengan dunia luar, dua sosok bayangan berkelebat mencegahnya sambil membentak keras!

“Keparat! Hendak lari kemana kau, Maling Hina…! Jangan harap dapat lolos demikian mudah setelah melakukan kekacauan di perguruan kami…!” sentak salah seorang dari kedua bayangan yang melesat cepat memotong jalan lari pencuri itu.

“Sial!” Maki sosok bayangan berpakaian hitam itu. Dia mengetahui betul, siapa kedua orang penghadangnya. Memang, mereka tak lain adalah dua orang murid utama Ki Giri Tantra, Ketua Perguruan Pedang Sinar Pelangi. Maka wajarlah kalau pencuri itu agak terperanjat melihat kedua orang penghadangnya.

Ki Giri Tantra memang bukan tokoh sembarangan. llmu ‘Pedang Sinar Pelangi’nya, sangat terkenal dan sangat disegani dunia persilatan. Bahkan boleh dibilang, kepandaian tokoh berusia enam puluh tahun itu tidak ada tandingannya. Dan di wilayah Selatan, Ki Giri Tantra adalah jago pedang nomor satu yang belum pernah terkalahkan. Itulah sebabnya, mengapa lelaki berpakaian serba hitam itu merasa terkejut atas munculnya dua murid utama Perguruan Pedang Sinar Pelangi itu. Sebagai murid-murid utama tokoh nomor satu wilayah Selatan, tentu kepandaian mereka tidak bisa disamakan dengan para pengeroyoknya tadi.

“Hm…. Siapa kau, Kisanak?! Mengapa begitu lancang mengacau perguruan kami? Dan benda apa yang kau bawa?” Tanya salah seorang dari kedua laki-laki gagah itu, keras. Sepasang mata mereka tampak menatap curiga ke arah peri kayu yang dikempit di sela-sela ketiak orang berbaju serba hitam itu.

Untuk beberapa saat, lelaki berjubah serba hitam itu tidak segera menjawab pertanyaan para penghadangnya. Sepasang matanya yang memancarkan ke- gelisahan, bergerak ke kiri dan ke kanan mencari jalan meloloskan diri. Kelihatan sekali kalau hatinya merasa gentar menghadapi kedua orang penghadangnya.

“Haiiit…!” Tanpa mempedulikan pertanyaan tadi, lelaki berpakaian serba hitam itu langsung saja melompat menerjang dibarengi teriakan keras menggetarkan.

“Hati-hati, Adi Wiradesa. Nampaknya orang ini cukup berisi,” bisik salah seorang penghadang.

Lelaki berwajah gagah dan bertubuh tegap yang dipanggil Wiradesa itu mengangguk-anggukkan kepala perlahan. Entah kapan tercabutnya,tahu-tahu saja di tangan kanannya telah tergenggam sebilah pedang yang mengeluarkan cahaya berkilatan. Sejenak wajahnya menoleh ke arah kakak seperguruannya.

“Kita ringkus saja pencuri tengik ini, Kakang Kinaya. Biar guru sendiri yang akan memutuskan, hukuman apa yang patut untuk maling hina seperti pengecut ini,” ajak Wiradesa sambil menggeser ke kanan dengan lompatan pendek.

Wuuut..!

Sambaran mata pedang yang tiba-tiba dilepaskan lelaki berjubah hitam itu ternyata luput, karena Wiradesa telah lebih dahulu menghindarkannya. Bahkan sebelum pencuri itu sempat menarik pulang serangannya, murid utama Ki Giri Tantra yang berusia sekitar empat puluh tahun sudah melancarkan serangan balasan yang cepat dan berbahaya!

Wuuut..! Wuuut…!

Pedang bersinar putih yang tergenggam di tangan Wiradesa bergulung-gulung membentuk bulatan-bulatan yang terkadang mengeluarkan cahaya berpendar menyilaukan mata. Melihat dari gerakannya, jelas kalau Wiradesa memiliki kepandaian tinggi.

Tranggg. Tranggg!

Terdengar benturan nyaring yang disertai pijaran bunga api ketika pedang di tangan Wiradesa bertumbukan sebanyak dua kali.

“Uhhh…!”

Benturan yang sangat keras itu ternyata telah mem- buat tubuh keduanya terpental balik sejauh setengah tombak lebih. Dari gebrakan pertama, jelas terlihat kalau tenaga keduanya berimbang!

Ternyata kenyataan ini membuat kedua belah pihak sama-sama terkejut! Sehingga untuk beberapa saat lamanya mereka hanya saling pandang penuh selidik. Tapi ketegangan itu tidak berlangsung lama, karena Kinaya telah melompat disertai teriakan lantang dan mengejutkan.

“Haaat..!”

Wunggg! Wunggg..!

Gerakan yang dilancarkan Kinaya lebih hebat lagi. Putaran pedangnya yang bergulung-gulung bagaikan angin puting beliung, bergerak turun naik dengan kecepatan menggetarkan. Sehingga, lelaki berpakaian serba hitam itu sempat menjadi gugup dibuatnya! Namun pada saat yang genting bagi keselamatan lelaki berpakaian serba hitam itu, mendadak seberkas sinar putih melesat dan langsung memotong arah pedang Kinaya!

Syuuut…! Tranggg…!

“Hai. !”

Bukan main terperanjatnya hati Kinaya ketika pedang di tangannya membentur batu sebesar kepalan tangan. Meskipun batu itu menjadi hancur berkeping-kepiig, namun tak urung kuda-kuda lelaki setengah baya itu tergempur sejauh tiga langkah! Dan kenyataan itu hampir tidak dapat dipercayanya. Sehingga, untuk beberapa saat lamanya Kinaya hanya tercenung bagai patung.

Sedangkan lelaki berpakaian serba hitam itu tahu kalau ada orang yang secara diam-diam menolongnya. Maka dia cepat melesat melewati pagar kayu setinggi dua tombak. Dan dia terus menghilang ditelan kegelapan suasana malam.

“Bangsat..!” maki Wiradesa, geram. Sadar kalau untuk melakukan pengejaran dalam suasan gelap seperti ini jelas tidak menguntungkan, maka Wiradesa hanya dapat menelan rasa kecewa.

Sedangkan, saat itu Kinaya sudah melesat mening-galkan adik seperguruannya. Rupanya tokoh utama Perguruan Pedang Sinar Pelangi itu hendak melihat, siapa gerangan orang yang telah menggagalkan serangannya tadi. Wiradesa yang semula hendak mengejar kakak seperguruannya, menahan langkahnya ketika melihat Kinaya telah melangkah lesu ke arahnya.

“Bagaimana, Kakang? Sebenarnya apa yang telah terjadi…?” Tanya Wiradesa. Dia memang tidak sempat mengetahui kejadian yang menimpa kakak seperguruannya itu. Sehingga, hanya menatapi wajah Kinaya dengan kening berkerut.

“Hra… Ada seseorang yang secara diam-diam telah membantu lolosnya pencuri laknat itu. Entah, siapa orang itu? Yang jelas kepandaiannya tidak di bawah kepandaian kita,” sahut Kinaya.

“Jelas bangsat itu tidak datang seorang diri. Hm, siapa mereka sebenarnya? Dan apa yang dicarinya di perguruan kita ini?” gumam Wiradesa. Wajahnya jelas mengandung rasa penasaran terpendam.

“Sudahlah. Lebih baik kita laporkan saja kejadian ini kepada guru kita. Biar beliau yang akan mencari tahu, apa gerangan tujuan orang itu datang kemari,” jawab Kinaya yang segera melangkah meninggalkan tempat itu.

Wiradesa pun bergegas meninggalkan tempat itu setelah terlebih dahulu menyuruh beberapa orang murid membersihkan tempat itu, dan sekaligus mengurus mayat kawan-kawannya.


Brakkk…!

“Memalukan! Bagaimana hal ini bisa terjadi?!” Seorang lelaki gagah berusia enam puluh tahun tengah marah-marah dengan suara meledak-ledak. Jelas, ia sangat terpukul mendengar laporan kedua orang murid utamanya.

“Ampun, Guru…. Sebenarnya, pencuri laknat itu sudah dapat kami ringkus. Tapi, ternyata ada seseorang yang telah membantunya secara sembunyi-sembunyi. Itulah yang telah menyebabkan kegagalan kami, Guru,” sahut lelaki bertubuh gemuk berusia lima puluh tahun.

Orang itu tak lain adalah Kinaya, salah seorang murid tertua Perguruan Pedang Sinar Pelangi. Melihat sikapnya yang demikian penuh rasa hormat, jelas kalau saat itu Kinaya tengah berhadapan dengan guru besarnya. Memang, lelaki yang tengah marah-marah itu adalah Ki Giri Tantra, jago pedang nomor satu di wilayah Selatan.

“Alasan! Hanya karena lontaran batu sebesar kepalan tangan, kalian gagal? Hahhh! Benar-benar memalukan!” Kembali Ki Giri Tantra atau berjuluk Raja Pedang Sinar Pelangi mengumpat dengan selebar wajah memerah.

“Tahukah kalian, apa sebenarnya yang telah dicuri manusia laknat itu?!” Tanya Ki Giri Tantra yaitu guru besarnya sambil melangkah maju beberapa tindak mendekati empat orang murid utamanya yang berkumpul di tempat itu.

Selain keempat murid utama Perguruan Pedang Sinar Pelangi, tidak seorang pun murid lain yang diperbolehkan hadir dalam pertemuan itu. Karena, yang tengah dibicarakan adalah masalah yang tidak boleh diketahui murid-murid tingkat rendah. Hanya keempat orang murid utama itulah yang boleh mengetahuinya. Itu sebabnya, mengapa ruang pertemuan itu hanya dihadiri empat orang murid utama Ki Giri Tantra.

“Ampun, Guru. Kami yang bodoh ini, sama sekali tidak mengetahui,” sahut Kinaya sambil menundukkan kepala dalam-dalam.

la sama sekali tidak berani mengangkat wajah. Disadari betul, kemarahan guru besarnya kali ini benar-benar menakutkan. Padahal dalam menghadapi setiap persoalan, guru besarnya selalu tampil tenang dan tidak pernah terlihat marah. Apalagi meledak-ledak seperti itu. Benar-benar tidak diduga Kinaya. Sehingga, hatinya jadi bertanya-tanya tentang benda yang telah berhasil dicuri sosok berpakaian serba hitam itu semalam.

“Hm…. Tahukah kalian, selama lima tahun belakangan ini aku selalu bersemadi? Apa sebabnya? Tidak lain karena aku tengah menciptakan jurus-jurus tingkat terakhir dari limu ‘Pedang Sinar Pelangi’ yang memang belum sempurna secara keseluruhan. Nah, bisa kalian bayangkan, ilmu yang selama hampir lima tahun ini kutekuni tahu-tahu saja lenyap dicuri orang. Dan ini merupakan bencana besar bagi perguruan kita,” jelas Ki Giri Tantra dengan wajah penuh kekecewaan.

“Jadi…. Jadi maksud Guru, peti kayu yang dibawa orang berpakaian serba hitam itu adalah tempat penyimpanan kitab ilmu hasil ciptaan Guru Selama hampir lima tahun terakhir ini?” Tanya Kinaya, gugup. Memang keterangan Ki Giri Tantra benar-benar sangat mengejutkan bagi keempat murid utamanya. Sehingga membuat mereka menjadi menyesal karena kelalaiannya dalam menjalankan tugas.

“Benar. Dan ilmu itu pulalah yang akan kugunakan untuk menghadapi jago-jago pedang di empat penjuru. Karena, pertemuan yang berlangsung setiap lima tahun sekali, hanya tinggal beberapa bulan lagi. Menurut dugaanku, bukan tidak mungkin kalau pencuri laknat itu merupakan salah seorang suruhan sainganku. Dan kalau dugaanku ternyata benar, maka habislah harapanku untuk dapat merebut gelar jago pedang nomor satu di jagad ini. Nah, sekarang kalian mengerti, mengapa aku demikian marah mendengar adanya pencurian itu?” Kata Ki Giri Tantra sambil kembali duduk di atas kursinya. Wajah jago pedang itu tampak lesu bagaikan orang kehilangan semangat.

“Kalau begitu biarlah kami yang akan menyelidiki dan mencari pencuri keparat itu, Guru,” pinta Wiradesa ikut angkat bicara. Usul itu diajukan untuk menebus kesalahannya yang tidak berhasil menangkap pecuri kitab yang memang lihai itu.

“Betul, Guru. Izinkan kami menyelidikinya. Dan kami berjanji tidak akan kembali tanpa kitab ataupun pencuri laknat itu,” timpal Kinaya menguatkan usul adik seperguruannya.

“Tidak. Kalian tetap menjaga perguruan ini Uruslah perguruan ini sebaiknya. Biar aku sendiri yang akan pergi menyelidiki persoalan ini. Karena menurutku, pencuri kitab itu pasti mempunyai sangkut-paut dengan pertemuan yang akan berlangsung beberapa bulan lagi. Kurasa akan lebih baik kalau aku sendiri yang pergi menyelidikinya. Bukan karena tidak percaya terhadap kemampuan kalian. Selain persoalan ini sangat rumit, juga menyangkut nama baik perguruan. Dan aku tidak ingin ada orang luar yang mengetahui persoalan ini! Ingat itu baik-baik!” pesan Ki Giri Tantra menekankan kepada keempat orang murid utamanya.

“Kalau memang itu Sudah menjadi keputusan Guru, kami akan melaksanakan dengan sebaik-baiknya,” sahut Kinaya sambil membungkukkan tubuhnya, memberi hormat.

“Juga, jangan sekali-kali kalian menyinggung masalah ini kepada murid-murid lain. Cukup hanya kita berlima saja yang mengetahuinya. Kuserahkan tugas mengurus perguruan kita kepadamu, Kinaya. Sedang kalian bertiga harus membantu tugas-tugas Kinaya. Bila ada yang ingin bertemu denganku, katakan aku tengah menyepi dan tidak bisa diganggu. Kalian paham maksudku,” tegas Ki Giri Tantra dengan wajah tegang.

“Kami paham, Guru…,” sahut keempat orang murid utama itu serempak.

Keempat murid utama itu baru mengangkat kepala ketika langkah kaki guru besar mereka sudah tidak terdengar lagi. Ki Giri Tantra atau yang lebih dikenal sebagai Raja Pedang Sinar Pelangi langsung pergi mening- galkan perguruan untuk menyelidiki tentang lenyapnya kitab yang berisikan hasil ciptaannya selama lima tahun terakhir menjelang pertemuan jago-jago pedang.

Sepeninggal Ki Giri Tantra, keempat orang tokoh utama Perguruan Pedang Sinar Pelangi itu baru bergegas meninggalkan ruang pertemuan. Tidak satu pun dari mereka yang mengeluarkan kata-kata. Sepertinya keempat orang itu lebih suka berdiam diri, menyimpan berbagai pertanyaan dalam benak masing-masing.


Brakkk…!

Laki-laki gagah berusia sekitar enam puluh tahun itu melangkah tegap di bawah siraman cahaya matahari sore. Hembusan angin yang sejuk membuat jubah- nya yang berwarna merah bergaris hitam pada bagian leher, tampak membuat penampilannya semakin gagah. Dari gagang pedang yang tersembul di balik punggungnya, jelas orang tua itu adalah seorang tokoh rimba persilatan.

Senja sudah mulai menampak ketika langkah kaki orang tua itu mulai memasuki perbatasan sebuah desa. Melihat dari huruf-huruf yang tertera pada sebuah tiang batu yang terpancang di tepi jalan, tampaknya desa didepan itu bernama Desa Kemang.

“Hm…. Ada baiknya kalau aku melewatkan malam di desa yang kelihatan tenteram ini. Setelah beberapa hari menempuh perjalanan tanpa hasil dan selalu bermalam dalam hutan, membuat pikiranku menjadi tidak tenteram. Mudah-mudahan saja di desa itu pikiranku bisa tenang. Dengan pikiran jernih, aku bisa mengkaji kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perguruanku,” gumam lelaki tua itu sambil meneruskan langkahnya kembali.

Melihat ciri-ciri dan raut wajahnya, jelas kalau orang tua itu tak lain dari Raja Pedang Sinar Pelangi yang tengah dalam perjalanan menyelidiki hilangnya kitab ciptaannya. Rupanya, langkah kaki orang tua itu telah membawanya hingga ke Desa Kemang yang terletak di wilayah perbatasan antara Selatan dan Barat. Jelas, kakek itu telah menempuh perjalanan cukup jauh dan melelahkan.

Setibanya di Desa Kemang, Ki Giri Tantra segera mencari kedai makan yang juga menyediakan tempat menginap. Dipesannya sebuah kamar setelah terlebih dahuti mengisi perutnya yang semenjak pagi belum kemasukan sepotong makanan pun. Dengan diantar seorang pelayan yang usianya sebaya dengannya, Ki Giri Tantra segera merebahkan tubuh di atas balai-balai. Sepasang mata orang tua itu tertuju ke langit-langit kamar yang terbuat dari atap rumbia. Sesekali terdengar helaan napas yang berat dan berkepanjangan. Jelas, hati orang tua itu tengah dicekam keresahan yang sangat.

Malam sudah semakin larut ketika Ki Giri Tantra jatuh terlelap dengan napas teratur lembut. Keadaan pun semakin hening dan sunyi. Hanya suara jangkrik dan binatang malam saja yang saling bersahutan menyemarakan suasana malam. Namun, rupanya tidak semua orang yang ikut terlelap dengan suasana malam ini. Seperti halnya, dua sosok tubuh berpakaian serba hitam yang melangkah perlahan mendekati kamar tempat Ki Giri Tantra menginap. Melihat dari cara melangkah yang tanpa menimbulkan suara mencurigakan, jelas mereka adalah ahli-ahli silat yang terlatih baik.

Langkah kedua sosok bayangan hitam itu baru berhenti didepan jendela kamar Ki Giri Tantra. Salah seorang dari mereka yang bertubuh sedikit lebih tinggi, memberi isyarat sambil mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya. Sedangkan kawannya mencongkel daun jendela dengan sangat hati-hati.

Namun, seorang tokoh lihai seperti Ki Giri Tantra tentu saja telah memiliki indera pendengaran yang sangat terlatih dan peka terhadap bunyi-bunyi mencurigakan. Meskipun kedua orang itu telah berlaku sangat hati-hati, tetap saja telinga orang tua sakti itu dapat menangkapnya. Cepat bagai kilat, Ki Giri Tantra bergerak bangkit tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun pada balai-balai yang ditidurinya. Dengan sangat hati-hati sekali, kakinya melangkah turun dari atas pembaringan. Sedangkan di tangannya telah tergenggam pedang yang semula diletakkan diatas meja dekat tempatt idurnya.

Derrr…!

Daun jendela itu kontan jebol berantakan akibat tendangan keras yang dilakukan Ki Giri Tantra! Cepat bagai kilat, tubuh orang tua itu melesat keluar menerobos kayu yang berhamburan. Dengan gerakan indah, kedua tangan Ki Giri Tantra menahan jatuh tubuhnya. Persis seekor harimau yang terkamannya lolos tak mengenai korbannya. Sekejapan mata saja, tubuh orang tua itu telah bangkit berdiri.

“Hei, berhenti…!” cegah jago pedang wilayah Selatan itu seketika terlihat dua sosok tubuh berlarian meninggalkan tempat penginapannya itu secara berpencar.

Tanpa berpikir panjang lagi, tubuh orang tua itu melesat melakukan pengejaran terhadap salah satu dari dua orang berpakaian hitam itu. Sosok bayangan hitam yang menuju keluar desa itulah yang menjadi sasarannya. Sedangkan, sosok yang satunya lagi telah lenyap di balik rumah-rumah penduduk. Dengan mengerahkan ilmu lari cepat yang telah mencapai tingkat tinggi, Ki Giri Tantra melakukan pengejaran. Hingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, jarak di antara mereka hanya terpisah beberapa tombak saja.

Sayangnya, suasana yang gelap telah menolong sosok bayangan hitam itu. Sehingga, Ki Giri Tantra yang telah memiliki banyak pengetahuan tentang kelicikan tokoh-tokoh sesat, tidak ingin bertindak cerboh. Jarak pengejarannya tetap diatur agar tidak membahayakan dirinya. Memang, bukan tidak mungkin kalau orang yang dikejarnya akan menggunakan senjata rahasia untuk mencegahnya. Apalagi bila orang itu ternyata ahli racun. Bisa-bisa ia tewas akibat kecerobohannya.

Untunglah, meskipun remang-remang, cahaya rembulan masih menyirami permukaan bumi. Sehingga, jago pedang nomor satu di wilayah Selatan itu tidak sampai kehilangan buruannya. Setelah cukup jauh meninggalkan wilayah Desa Kemang, Ki Giri Tantra mencoba memperpendek jarak pengejarannya dengan mengambil tempat di belakang sebelah kanan lawan.

Hal itu tentu saja menyulitkan buruannya untuk melakukan serangan gelap. Kalau pun orang itu melakukan, sudah pasti akan dapat ditebak sebelumnya. Karena, apabila buruannya hendak melancarkan serangan gelap, haruslah membalikkan tubuhnya terlebih dahulu. Dan itu tentu memperlambat gerakannya. Namun, orang berseragam serba hitam itu pun bukan tidak tahu akan kejaran lawannya yang semakin cepat. Maka, larinya pun semakin dipercepat.

“Heaaat…!”

Melihat buruannya sudah hampir mencapai mulut hutan, Ki Giri Tantra berseru nyaring. Seketika itu juga, tubuhnya melesat ke depan dan langsung berjumpalitan sebanyak lima kali di udara. Memang, Ki Giri Tantra berniat hendak menjegal perlajanan lawannya itu. Sayang Ki Giri Tantra kembali harus menelan kenyataan pahit. Ternyata pada saat tubuhnya berjumpalitan di udara, buruannya melakukan hal yang sama. Sehingga, meskipun jago pedang nomor satu di wilayah Selatan itu dapat mendaratkan kakinya beberapa tombak di muka, namun buruannya telah lenyap di telah kegelapan hutan.

“Bedebah….!” maki Ki Giri Tantra sambil membanting kaki kanannya ke atas tanah. Jelas sekali dia sangat kecewa atas kegagalannya.

Ki Giri Tantra alias Raja Pedang Sinar Pelangi adalah seorang yang berhati keras. Hatinya sama sekali tidak gentar meskipun buruannya telah lenyap di balik kegelapan hutan. Dengan mengatupkan gerahamnya, tubuh orang tua sakti itu melesat masuk ke dalam hutan. Apa yang dilakukan Ki Giri Tantra sama sekali bukanlah perbuatan nekat. Hal itu memang telah diperhitungkan terlebih dahulu.

Kegelapan suasana di dalam hutan, membuat kakek itu berniat sekali mencoba ilmu yang selama lima tahun terakhir ini diperdalamnya. Memang, kegelapan maupun suara bising binatang malam, benar-benar membantu latihannya. Apalagi, jurus ilmu ‘Pedang Sinar Pelangi’ tingkat terakhir, memang mengandalkan kepekaan daya pendengaran maupun pemusatan pikiran yang hanya tertuju pada satu titik.

Ki Giri Tantra memasuki wilayah hutan lebat itu dengan langkah-langkah teratur dan perlahan. Sepasang matanya tertuju lurus ke depan, Sekilas pun orang tua itu sama sekali tidak menoleh, meski ada suara gemerisik yang didengarnya. Melihat dari cara dan sikapnya yang tenang, jelas kalau ilmu pedang yang diciptakannya telah hampir mencapai titik kesempurnaan.

Dengan tetap meningkatkan ketajaman pendengaran maupun daya pemusatan pikirannya, orang tua itu terus melangkah semakin masuk ke dalam wilayah hutan. Namun sampai sedemikian jauh Ki Giri Tantra belum juga menemukan adanya tanda-tanda sesuatu yang mencurigakan.

“Hm…. Nampaknya orang itu tidak bersembunyi di dalam hutan ini. Mungkin terus melarikan diri. Entah, apa maksud kedua orang itu menyatroni tempatku menginap? Mungkinkah mereka mempunyai hubungan dengan pencuri yang menyantroni perguruanku? Melihat mereka dapat tepat menentukan tempatku menginap, jelas mereka telah cukup lama mengikuti,” gumam Ki Giri Tantra sambil meneruskan langkahnya menerobos kegelapan hutan.

Berbagai macam dugaan berkecamuk di benak orang tua itu sambil menghubung-hubungkan satu kejadian dengan kejadian lain. Namun sampai sedemikian jauh memutar otak, tak satu pertanyaan pun yang bisa terjawab. Semuanya gelap dan penuh teka-teki.


Malam sudah beranjak pagi. Kokok ayam jantan hutan saling bersahutan, ikut menyemaraki datangnya sang fajar. Hembusan angin dingin terasa semakin merasuk tulang sum-sum. Dalam suasana fajar yang dingin, nampak sesosok tubuh gemuk melangkah perlahan menelusuri kepekatan hutan. Menilik langkahnya, jelas sosok gemuk itu tengah dalam keadaan siaga. Gerak-geriknya terlihat sigap. Tampaknya sosok tubuh itu adalah seorang ahli silat yang tidak bisa dipandang remeh. Apalagi di balik punggungnya tampak gagang pedang menyembul. Jelas, sosok bertubuh gemuk itu adalah seorang tokoh rimba persilatan.

“Siapa itu…?”

Tiba-tiba sosok bertubuh gemuk mengeluarkan bentakan nyaring yang disertai gerakannya membentuk kuda-kuda kokoh. Sedangkan tangan kanannya sudah terangkat, siap melontarkan pukulan maut.

Cukup lama sosok bertubuh gemuk itu berdiri menanti sesuatu yang dicurigainya. Tapi, setelah sampai sedemikian jauh tidak terdengar sesuatu yang mencurigakan, kepala sosok bertubuh gemuk itu menoleh berkeliling.

“Hm…. Kalau memang jantan, keluarlah! Tak perlu main sembunyi-sembunyi seperti gadis pingitan! Atau aku akan memaksamu keluar dari persembunyian?!” Sentak sosok bertubuh gemuk itu bernada mengancam. Melihat dari sikap dan gerakannya, jelas ancaman sosok bertubuh gemuk itu tidak main-main.

Namun, rupanya ancamannya tidak perlu dibuktikan. Karena, tak berapa lama kemudian, terdengarlah sambaran angin berhembus keras mengiringi sesosok tubuh tinggi kurus yang melayang turun dari atas pohon. Dan kini, sosok tubuh tinggi kurus itu berdiri tegak dalam jarak tiga tombak dari sosok pendek gemuk di depannya.

“Apakah mataku salah lihat? Bukankah kau adalah Raja Pedang Penakluk Bumi?” Tegur sosok tinggi kurus itu agak pelan. Nada suaranya jelas mengandung kecurigaan besar.

“Tidak salah dugaanmu. Dan, aku pun rasanya tidak merasa asing dengan penampilanmu. Kau pasti Raja Pedang Sinar Pelangi, bukan? Apa yang kau lakukan di hutan sepagi ini…?”

Sosok bertubuh pendek gemuk itu pun melotarkan pertanyaan yang juga bernada penuh kecurigaan. Jelas, mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Memang keduanya merupakan jago-jago pedang wilayahnya masing-masing.

“Hm. Seharusnya akulah yang mengajukan pertanyaan itu. Mengapa kau berada di hutan ini? Apa pula yang kau kerjakan sepagi ini di dalam hutan? Apakah hendak berburu kelinci?” Tanya sosok tinggi kurus yang memang Ki Giri Tantra.

Rupanya jago pedang wilayah Selatan itu masih penasaran, hingga meneruskan pencariannya hingga fajar. Pertemuannya dengan Raja Pedang Penakluk Bumi tentu saja menimbulkan rasa curiga dihatinya. Tapi melihat sikap dan cara Raja Pedang Penakluk Bumi yang juga menatap penuh selidik, jelas dia pun merasa curiga terhadap Ki Giri Tantra. Sehingga, kedua orang jago pedang yang sama-sama mempunyai nama besar itu saling menaruh curiga satu sama lain. Apalagi waktu pertemuan itu memang dalam keadaan yang sama sekali tidak tepat. Itulah yang membuat mereka saling curiga.

“Huh! Sombong sekali kau, Ki Giri Tantra! Apakah dikiranya pertanyaanmu saja yang patut dijawab? Aku pun ingin mendengar jawabanmu! Katakanlah dengan jujur. Apa yang kau lakukan di dalam hutan sepagi ini? atau aku harus memaksamu untuk menjawab pertanyaanku?” Kembali Raja Pedang Penakluk Bumi melontarkan pertanyaan serupa yang juga mengandung kecurigaan.

Mendengar pertanyaan yang jelas bernada menuduh, panaslah hati Raja Pedang Sinar Pelangi. Wajahnya tampak semakin merah. “Hm…. Tak kusangka kalau jago pedang nomor satu di wilayah Timur telah berubah menjadi seorang pengecut besar. Rupanya kau sengaja memancingku ke dalam hutan ini dengan perantaraan murid-muridmu. Pasti kau takut kalau dalam pertemuan nanti akan dapat kukalahkan. He he he…. Sayang, aku sudah bisa menebak niat busukmu itu. Dan, sekarang akan kuselesaikan secara tuntas! Kau boleh pilih. Menyerahkan kembali kitabku yang telah kau curi, atau aku terpaksa harus menggunakan kekerasan untuk mendapatkannya?” Balas Ki Giri Tantra disertai penuh ejekan.

“Kurang ajar kau, Giri Tantra! Jangan dikira aku tertarik dengan ilmu pedang murahanmu! Huh! Dengan ilmu pedangku pun, kau dapat kubuat kalang-kabut. Mengapa pula harus mencuri ilmu pedangmu? Kalau kau memang sudah tidak sabar hendak mencoba ilmu pedang barumu, tidak usah berdalih yang tidak-tidak. Sekarang pun aku siap melayanimu,” sambut Raja Pedang Penakluk Bumi tegas.

Sebenarnya, jago pedang nomor satu di wilayah Timur itu pun tengah menghadapi persoalan yang memang serupa pelik. Tapi hal itu sengaja tidak dikemukannya, karena bisa saja disangka memutar balikan omongan untuk melindungi dirinya. Selain itu, rasa harga dirinya sebagai jago pedang terasa diinjak-injak oleh saingannya. Maka tanpa berpikir panjang lagi, tokoh ini pun bersiap menghadapi Raja Pedang Sinar Pelangi yang jelas-jelas telah menghina dirinya. Dan hal itu tidak bisa didiamkan begitu saja.

“Hm. Marilah kita buktikan! Apakah ilmu ‘Pedang Penakluk Tikus’ milikmu akan mampu bertahan dari seranganku?” Ejek Ki Giri Tantra sambil melolos pedang yang mengeluarkan sinar berwarna-warni dari balik punggungnya.

Sringgg…!

Pancaran yang tak ubahnya sinar pelangi, berpendar ketika Ki Giri Tantra mengibaskan pedangnya ke kiri dan kekanan.

Wuuut… Wuuut..!

Bagaikan pancaran pelangi di angkasa, sinar pedang yang memancarkan cahaya berwarna-warni itu bergulung-gulung sebelum akhirnya terhenti didepan wajah Ki Giri Tantra. Melihat dari gerakan sambaran pedangnya, jelas ilmu ‘Pedang Sinar Pelangi’ lebih mengutamakan keindahan dan kelincahan.

Berbeda dengan ilmu Pedang Penakluk Bumi, yang dimiliki jago pedang wilayah Timur. Gerakannya nampak mencerminkan kekuatan dan ketepatan arah. Sekali lihat saja, bisa dilihat kalau kedua ilmu yang dimiliki jago-jago pedang itu memilik perbedaan. Tapi, justru satu sama lain sebenarnya saling menunjang. Namun rasa tidak mau kalah, membuat mereka saling mengunggulkan kepandaian masing-masing. Kalau saja kedua jago pedang wilayah Timur dan Selatan ini mau bergabung, rasanya ilmu pedang mereka akan menjadi lebih sempurna. Sayang kedua tokoh sakti itu tidak menyadarinya. Atau mereka memang tidak mau menyadari hal itu.

“Haiiit…!”

Ki Giri Tantra yang merasa lebih penasaran daripada lawannya, langsung berseru nyaring disertai lompatan panjangnya. Gerakan itu dibarengi putaran pedang di tangan yang menimbulkan pancaran warna-warni dan tentu saja menyilaukan pandangan mata lawan. Memang itulah salah satu keistimewaan ilmu ‘Pedang Sinar Pelangi’ yang dimiliki Ki Giri Tantra. Sehingga, banyak lawan yang tewas akibat pancaran sinar pelangi yang berpendar dari mata pedang tokoh sakti wilayah Selatan itu.

Wuuut… Wuuut…!

Sambaran gulungan sinar pedang yang berpendar menyilaukan mata ternyata tidak membuat Raja Pedang Penakluk Bumi gugup. Cepat tubuhnya melompat ke samping sambil memurar senjatanya cepat dan kuat, hingga membentur senjata lawan.

Dalam sekejap saja, kedua gulungan sinar pedang itu terlihat saling libat dan saling tindih dengan hebatnya! Sambaran-sambaran angjn pedang yang menimbulkan suara mengaung itu, membuat beberapa dahan pohon yang terlanggar langsung bertebaran bagaikan dilanda angin topan! Bahkan beberapa batang pohon sepelukan orang dewasa yang tumbuh dekat arena pertarungan, berderak ribut dan langsung tumbang akibat sambaran pedang yang nyasar! Tentu saja keadaan yang porak-poranda di tempat itu, membuat pertarungan semakin semrawut.

“Yeaaat…!”

Ketika pertarungan menginjak pada jurus yang keempat puluh, tiba-tiba Raja Pedang Penakluk Bumi membentak keras! Berbarengan bentakan itu, tokoh Timur bertubuh pendek gemuk itu langsung melesat dan melakukan tekanan-tekanan berat pada lawannya. Sehingga bila dilihat secara sepintas, Raja Pedang Sinar Pelangi seperti terdesak hebat oleh serangan lawannya. Nyatanya tokoh wilayah Selatan itu hanya bermain mundur dan tanpa membuat serangan balasan yang berarti.

Tapi tidak demikian halnya yang dirasakan Raja Pedang Penakluk Bumi. Tekanan-tekanannya yang jelas menggunakan banyak tenaga, sama sekali tidak membuat lawan terdesak. Bahkan setelah mencecar selama sepuluh jurus, terlihat serangan tokoh bertubuh pendek gemuk itu mulai mengendur. Peluh pun mulai menitik membasahi keningnya. Jelas, serangan yang dilancarkan bertubi-tubi selama lebih kurang sepuluh jurus itu telah menguras banyak tenaga.

Ki Giri Tantra yang menyadari kalau tekanan lawannya mulai berkurang, cepat memutar senjatanya hingga membentuk gulungan sinar pelangi yang bergerak turun naik dengan kecepatan tinggi. Secara sepintas, gerakan pedang itu seperti tidak membahayakan. Bahkan hanya kelihatan indah, sehingga akan membuat orang mengeluarkan pujian-pujian kagum. Memang, serangan pedang Ki Giri Tantra tak ubahnya sebuah tarian pedang. Sehingga, terasa lebih enak untuk dinikmati ketimbang dipakai membunuh orang. Namun justru di balik keindahan gerakan itulah tersembunyi ancaman mautmengerikan!

Dan akibatnya mulai dirasakan Raja Pedang Penakluk Bumi yang menjadi sasaran serangan lawan. Pancaran sinar pelangi yang berpendar dari badan pedang, benar-benar membuatnya jengkel. Sehingga, beberapa kali tubuhnya nyaris termakan ujung senjata lawan! Tentu saja keadaan itu sama sekali tidak diinginkannya.

“Haaat…!”

Pada saat pertarungan menginjak jurus yang ke tujuh puluh, Raja Pedang Penakluk Bumi menjadi geram sekali. Cepat pedangnya diputar pada saat senjata lawan hampir menyentuh bagian lambungnya.

Tranggg…. Tranggg…!

Bunga api berpijar menandakan kerasnya benturan dua batang pedang yang sama-sama digerakkan tenaga dahsyat itu! Rupanya, Raja Pedang Penakluk Bumi yang merasa tidak tahan oleh gempuran-gempuran lawan, nekat memapak sambaran ujung pedang yang mengincar lambungnya. Sehingga tanpa dapat dicegah lagi, kedua senjata yang sama ampuh itu pun saling berbenturan menimbulkan suara berdentang nyaring!

“Uhhh…!”

“Aaah…!”

Benturan keras itu masih disusul terlemparnya tubuh masing-masing ke belakang. Namun sebagai tokoh sakti yang berpengalaman, mereka dapat mendaratkan kedua kaki di atas tanah dengan berjumpalitan beberapa kali di udara.

“Hm. Jangan merasa bangga dulu, Pedang Penakluk Tikus! Aku masih menyimpan sebuah jurus yang selama lima tahun terakhir ini kuciptakan. Dan dengan jurus pedang tingkat terakhir inilah, kau akan kupaksa menyerahkan nyawa. Sebelum semuanya terlambat, sebaiknya serahkan kitab ilmu pedangku yang kau curi beberapa hari yang lalu. Cepatlah, sebelum kesabaranku habis!” tegas Ki Giri Tantra, tetap menuduh Raja Pedang Penakluk Bumi sebagai pencuri kitabnya.

Tuduhan yang dilontarkan Ki Giri Tantra memang cukup beralasan. Buktinya tokoh wilayah Timur itu ada di hutan ini pada saat Ki Giri Tantra tengah mengejar manusia bertopeng yang melarikan diri ke sini. Apalagi, Raja Pedang Penakluk Bumi memang merupakan saingannya yang cukup kuat dalam dua kali pertemuan yang telah diadakan. Dua hal itulah yang membuatnya Ki Giri Tantra semakin mencurigai saingannya.

“Setan! Enak saja kau lontarkan tuduhan murahan itu kepadaku! Hm… Aku tahu sekarang, tuduhan rendah itu sengaja kaulontarkan kepadaku, karena kaulah yang telah mencuri kitab ilmu pedang ciptaanku seminggu yang lalu. Dan untuk mengalihkan perhatian, kau mencoba memutar balikan kenyataan. Heran, mengapa sekarang kau tiba-tiba berubah menjadi manusia licik berhati culas? Apakah hal itu karena cita-cita kosongmu untuk menjadi jago pedang nomor satu di kolong langit ini? Hhh…. Benar-benar sebuah siasat keji!” Balas Raja Pedang Penakluk Bumi. Dia terpaksa membuka rahasianya ketika mendengar tuduhan Ki Grri Tantra yang baginya sangat tidak beralasan.

“Kurang ajar! Kau kira aku akan percaya begitu saja dengan ocehanmu itu, Manusia Busuk! Setan apa yang telah merasuki jiwamu, sehingga hatimu bisa demikian licik?” geram Ki Giri Tantra. Sedangkan wajahnya semakin bertambah gelap saja. Jelas kalau ia merasa sangat marah mendengar tuduhan itu.

“Hm…. Rasanya persoalan ini memang harus diselesaikan dengan senjata,” kata Raja Pedang Penakluk Bumi. Tampaknya dia sudah kembali bersiap menghadapi pertarungan mati-matian. Sementara pedang di tangannya kembali melintang di atas kepala.

“Rasanya itu lebih baik! Aku tidak peduli lagi dengan pertemuan itu, dan harus menghajarmu sekarang juga!” Setelah ucapannya selesai, tubuh Ki Giri Tantra langsung saja melesat disertai gulungan sinar pedangnya yang kali ini jelas menggetarkan hati lawan!

Raja Pedang Penakluk Bumi pun jelas sudah siap menyambut serangan lawan. Pedang di tangannya diputar sedemikian rupa hingga membentuk gulungan sinar yang membungkus sekujur tubuhnya.

“Heaaat…!”

Disertai teriakan mengguntur, tubuh lelaki pendek gemuk itu melesat bagaikan terbang memapak sambaran senjata lawan. Jelas, kedua orang tokoh itu telah bertekad mengadu nyawa demi harga diri dan nama besar. Namun sebelum kedua sergata yang sama-sama mengandung kekuatan dahsyat itu saling gempur, tiba-tiba saja berkelebat cepat sesosok bayangan putih. Langsung dua orang siap mengadu senjata itu dipisahkan, diiringi bentakan nyaring yang menggetarkan jantung.

“Tahan…!” Sambil berseru keras, sosok bayangan putih itu langsung mengibaskan senjata bersinar keemasan di tangan disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Dan….

Tranggg…! Tranggg…!

Terdengar benturan nyaring yang disertai pijaran bunga api! Kemudian disusul, terpentalnya ketiga sosok tubuh itu ke arah yang berlainan. Dalam mematahkan tenaga benturan tadi, sosok bayangan putih yang memisahkan perkelahian itu ternyata menunjukkan kebolehannya dalam hal ilmu meringankan tubuh. Tampak sosok bayangan putih itu berjumpalitan beberapa kali di udara, kemudian mendarat ringan sejauh dua tombak dari benturan tadi. Ki Giri Tantra dan Raja Pedang Penakluk Bumi yang juga telah mendarat selamat, melepaskan pandangan ke arah sosok bayangan putih yang berdiri gagah beberapa langkah di dekat mereka. Senyum ramah tampak tersungging di wajah sosok bayangan putih yang ternyata seorang pemuda tampan dan menarik.

Namun, bukan ketampanan maupun kegagahan pemuda itu yang membuat Ki Giri Tantra dan Raja Pedang Penakluk Bumi menatap dengan kening berkerut. Tapi, lapisan kabut bersinar putih keperakan yang menyelimuti sekujur tubuh pemuda itulah penyebabnya.

“Pendekar Naga Putih…!”

Baik Ki Giri Tantra maupun Raja Pedang Penakluk Bumi, sama-sama menyembutkan sebuah julukan yang telah pula sampai di telinganya. Julukan itu ternyata telah cukup dikenal kedua jago pedang yang berdarah panas itu.

“Benar, Kisanak sekalian. Dan maaf kalau aku telah lancang mencampuri urusan kalian. Tapi, demi keadilan yang harus ditegakkan terpaksa aku terjun mencampurinya,” ucap sosok yang ternyata memang Pendekar Naga Putih. Ucapannya sangat hormat dan sopan. Sehingga, mau tidak mau ke dua orang jago pedang itu saling pandang. Bahkan wajah mereka memancarkan rasa kagum melihat kesopanan nada bicara pemuda tampan itu.

“Hm…. Apa maksudmu mencampuri urusan kami? Aku tahu sepak terjangmu. Bahkan aku kagum padamu. Tapi itu tidak berarti bebas mencampuri setiap urusan orang!” Tegur Ki Giri Tantra dengan pedang masih tetap terhunus ditangannya.

“Maaf, Raja Pedang Sinar Pelangi,” ucap Panji. Tentu saja, Pendekar Naga Putih dapat mudah mengenali tokoh sakti itu. Memang, pedang di tangan orang tua itu telah menunjukkan, siapa tokoh itu.

“Nama besar dan kebijaksanaanmu dalam mengambil tindakan, telah lama membuatku kagum. Seperti halnya dengan kejadian kali ini. Aku pun yakin, kau akan dapat menyelesaikannya dengan baik dan tanpa bantuanku yang bodoh ini. Sedangkan kehadiranku, hanya karena tertarik melihat perkelahian yang hebat dan mati-matian ini. Entah, apa yang telah menyebabkan kalian berdua saling terjang dengan serunya?” lanjut Panji sengaja memuji sikap Raja Pedang Sinar Pelangi untuk memancing kebijaksanaan orang tua itu. Apa yang diharapkan Pendekar Naga Putih mulai menampakkan hasilnya. Buktinya, raut wajah Ki Giri Tantra mulai berseri. Jelas, pujian Panji sangat mengena di hatinya. Kenyataan itu tentu saja membuatnya merasa gembira.

“Hm…. Bagus kalau kau sudah cukup mengenalku dengan baik, Pendekar Naga Putih. Dengan memandang nama besarmu sebagai pendekar yang banyak dikagumi tokoh persilatan, aku bersedia menceritakan persoalan yang membuat kami bertarung mati-matian. Marilah kita mencari tempat yang enak untuk berbicara,” ajak Ki Giri Tantra, segera melangkah ke sebatang pohon berdaun rindang.


“Persoalan itulah yang membuatku menggempurnya habis-habisan, Pendekar Naga Putih. Apalagi kemunculan Raja Pedang Penakluk Bumi tepat pada saat buruanku hilang. Maka tentu saja aku menjadi curiga kepadanya. Dan rasa, kecurigaanku cukup beralasan,” jelas Ki Giri Tantra mengakhiri ceritanya sambil mengerling ke arah Raja Pedang Penakluk Bumi.

“Bagaimana, Ki Tunggul Wulung? Apa yang telah membuatmu melayani kemarahan Ki Giri Tantra?” Tanya Pendekar Naga Putih.

Kini perhatian Panji beralih kepada jago pedang bertubuh pendek gemuk yang semenjak tadi hanya diam mendengarkan penuturan Raja Pedang Sinar Pelangi. Sedikit pun cerita saingannya itu tidak dipotong. Memang, disadari betul kalau hal itu hanya akan menambah keruh suasana saja.

Jago pedang wilayah Timur itu tidak segera menjawab pertanyaan Panji. Sejenak pandangannya dilepaskan ke arah Ki Giri Tantra, Panji, dan Kenanga yang saat itu telah berada di sebelah Pendekar Naga Putih. Ditariknya napas perlahan sebelum menceritakan pengalamannya.

“Sebenarnya aku merasa malu menceritakan persoalan ini. Tapi demi keadilan yang kita junjung tinggi, biarlah aib memalukan yang menimpa perguruanku pada beberapa hari yang lalu kuceritakan,” kata Raja Pedang Penakluk Bumi, yang ternyata bernama Ki Tunggul Wulung. Kemudian kepalanya ditengadahkan ke arah cakrawala yang mulai cerah.

“Apa yang kualami ini, hampir tidak berbeda dengan Ki Giri Tantra. Kitab ilmu pedang ciptaanku yang terbaru, lenyap dari tempat pertapaanku. Anehnya, tidak seorang murid pun yang memergoki pencuri laknat itu. Lalu, aku memutuskan untuk mencarinya sendiri. Dan pada malam tadi, dua orang berseragam hitam yang hendak mencelakaiku dengan licik.”

Sebentar Raja Pedang Penakluk Bumi terdiam. Otaknya berusaha mengingat-ingat segala peristiwa yang terjadi pada dirinya. Tampaknya, wajah Ki Tunggul Wulung sendiri kusam saja. Jelas, kemarahannya kali ini seperti tak ada ampun lagi.

“Saat itu, aku tengah melewatkan malam di tepi sungai yang letaknya tidak jauh dari wilayah hutan ini. Karena melihat kedua orang itu tidak memiliki kepandaian yang membahayakan, maka aku menduga mereka pasti mempunyai pimpinan yang sengaja menugaskan untuk mencelakaiku. Itulah sebabnya, mengapa aku tidak sungguh-sungguh mengejar mereka. Ketika kedua orang itu berpencar, salah seorang kuikuti. Kebetulan, larinya menuju ke dalam hutan ini. Sayang orang itu berhasil menyelamatkan diri dari kejaranku dengan cara menyelinap di balik pepohonan.”

Kembali Ki Tunggu Wulung menghentikan ceritanya. Kali ini dia menarik napas daiam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Dia ingin melepaskan kekesalannya dengan mengungkapkan seluruh hatinya.”Karena kehilangan jejak buruanku, maka wilayah hutan ini kutelusuri. Siapa tahu orang berpakaian hitam itu mempunyai markas di dalam hutan lebat ini. Namun yang kujumpai ternyata malah Raja Pedang Sinar Pelangi yang marah-marah dan menuduhku telah menjebaknya. Dan kemarahanku semakin bangkit ketika aku dituduh telah mencuri kitab ilmu pedangnya. Maka, kami pun bertempur sampai akhirnya kau datang memisahkan kami”.

Ki Tunggul Wulung menutup ceritanya. Hanya sepasang matanya saja yang menyiratkan kegeraman terhadap orang-orang yang telah mengadu domba antara dirinya dengan Raja Pedang Sinar Pelangi.

“Hm…. Sepertinya ada pihak ketiga yang sengaja hendak mengadu domba kalian berdua. Maksudnya memang masih belum jelas. Yang pasti, kalian berdua hendak dilenyapkan tanpa mengotori tangan sendiri. Dan hampir saja pihak ketiga itu bersorak melihat usahanya hampir berhasil. Untunglah di antara kalian belum ada yang terluka ataupun tewas. Dan bila hal itu sampai terjadi, rasanya akan sulit menghapus dendam di antara murid-murid kalian berdua,” duga Panji seraya menghela napas lega.

“Keparat! Padahal sepengetahuanku, aku sama sekali tidak mempunyai musuh. Kau tahu, selama kurang lebih hampir lima tahun ini, waktuku kuhabiskan dengan bertapa untuk menciptakan ilmu baru yang akan kupertunjukkan pada pertemuan mendatang. Entah, siapa yang telah mengatur rencana ini dengan sedemikian rapinya. Untunglah kau datang pada saat yang sangat tepat, Panji. Terlambat sedikit saja, tentu kami berdua telah tergeletak jadi mayat,” maki Ki Giri Tantra yang rupanya telah menyadari kekeliruannya.

“Ya. Rasanya kau pun tidak mempunyai musuh yang perlu ditakuti. Dan melihat dari rencananya yang telah menjebak kita berdua, jelas mereka tidak berani berhadapan langsung dengan kita,” kata Ki Giri Tantra lagi bernada menyimpan rasa penasaran.

“Hm. Menurutku, orang yang mengadu domba ini, pasti bukanlah musuh salah seorang dari kalian. Tapi yang jelas, orang itu tentu mempunyai hubungan dengan kalian berdua. Dugaanku, kalau ia memang musuh dari salah seorang dari kalian tentu tidak akan sudi bersusah payah seperti ini. Mereka cukup hanya dengan menyerbu perguruan kalian tanpa perlu mengadu domba segala,” jelas Pendekar Naga Putih, mengutarakan pendapatnya.

Raja Pedang Sinar Pelangi dan Raja Pedang Penakluk Bumi hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Pendekar Naga Putih. Rupanya, mereka sependapat dengan Panji.

“Hm…. Kalau begitu, aku harus segera kembali ke perguruan. Hhh…. Bisa saja orang-orang berseragam hitam itu telah datang selagi aku berada di sini. Maaf, aku harus pergi. Ingat Ki Giri Tantra. Waktu kita untuk bertemu hanya tinggal beberapa bulan lagi. Nah, aku harus pergi. ” Selesai berkata demikian, tubuh Ki Tunggul Wulung bergerak meninggalkan hutan. Sejekap saja, tubuh jago pedang dari wilayah Timur pun telah lenyap di balik lebatnya pepohonan hutan.

Sepeninggal Raja Pedang Penakluk Bumi, Ki Giri Tantra pun bergerak bangkit dari duduknya. “Rasanya aku pun harus segera kembali ke perguruan, Panji. Jangan-jangan apa yang diduga Ki Tunggul Wulung telah menimpa perguruanku. Hm… Kalau kau tidak merasa keberatan, aku ingin meminta pertolonganmu untuk menyelidiki orang-orang yang telah mencampuri dan mengadu domba kami,” pinta orang tua itu sebelum meninggalkan Panji dan Kenanga.

“Terima kasih, Ki. Kepercayaan yang Aki berikan merupakan suatu kehormatan besar bagiku. Hmmm…. Kalau boleh kutahu, kapankah pertemuan itu akan diadakan?” Tanya Panji. Rupanya Pendekar Naga Putih merasa tertarik juga dengan pertemuan yang diadakan jago-jago pedang di empat penjuru.

“Empat bulan mendatang. Tepat pada saat purnama,” jawab Ki Giri Tantra. Kemudian, orang tua itu melangkah cepat meninggalkan Panji dan Kenanga yang menatap kepergian orang tua itu dengan pandang mata kagum. Memang, ilmu lari yang dipertunjukkan Ki Giri Tantra hebat sekali! Jarang ada tokoh persilatan yang dapat melakukannya sesempurna orang tua itu.

“Bagaimana, Kakang? Ke mana kita sekarang?” Tanya Kenanga setelah mereka hanya tinggal berdua di tengah hutan lebat ini.

Panji tidak lekas menjawab pertanyaan kekasihnya. Kepalanya tampak menengadah cakrawala yang mulai dihias sinar matahari pagi. “Entahlah. Yang pasti, kita harus memenuhi permintaan Ki Giri Tantra untuk menyelidiki pihak ketiga itu,” sahut Pendekar Naga Putih. Kemudian, dia segera mengajak Kenanga meninggalkan hutan ini.


Matahari sudah berada di atas kepala ketika Panji dan Kenanga mulai memasuki mulut Desa Kemang. Pasangan pendekar muda itu langsung memasuki sebuah kedai makan yang terlihal ramai pengunjung. Pendekar Naga Putih memilih tempat kosong yang letaknya agak ke sudut dan tidak terlalu menarik perhatian orang. Namun, beberapa orang lelaki yang tengah menikmati hidangan sempat pula menolehkan kepala ke arah Kenanga. Pancaran mata mereka jelas menyiratkan kekaguman melihat kejelitaan dara itu.

Beberapa orang lelaki yang melihat betapa lekatnya gadis jelita itu kepada pemuda tampan yang mengenakan jubah putih, melontarkan tatapan iri yang tidak tersembunyi. Pendekar Naga Putih sendiri sama sekali tidak mempedulikan tatapan para pengunjung kedai makan itu. Bagi Panji, hal itu sudah menjadi pemandangan biasa. Pendekar Naga Putih sendiri menyadari kalau kecantikan kekasihnya memang selalu menarik perhatian setiap lelaki yang melihatnya.

Tanpa mempedulikan sekelilingnya, Panji dan Kenanga segera menikmati hidangan yang telah dipesannya. Sikap pasangan muda yang terlihat tenang, membuat beberapa pasang mata yang semula menatap iri segera memalingkan wajahnya. Apalagi ketika melihat adanya gagang pedang yang menghias pinggang wanita jelita itu. Maka seketika hati mereka menjadi ciut. Memang, mereka sadar kalau pasangan muda itu jelas dari kaum rimba persilatan. Tentu saja mereka tahu, bila mengganggu sama saja mencari penyakit.

“Ke mana tujuan kita, Kakang? Apakah kau belum mempunyai gambaran sedikit pun?” Tanya Kenanga setelah hidangan yang telah disediakan di depannya lenyap tanpa sisa.

Panji yang juga telah menyelesaikan hidangan, mengangkat wajah menatap kekasihnya. “Hm…. Menurut kabar yang pernah kudengar, saat ini ada empat orang jago pedang terkenal yang berada diempat penjuru. Dua orang pertama sudah kita kenal pagi tadi. Sedangkan dua orang lainnya, kalau tidak salah berjuluk Raja Pedang Tujuh Bintang dan Raja Pedang Angin Puyuh. Mereka belum kita kenal. Jadi menurutku, kita harus menyelidiki kedua orang jago pedang lainnya itu. Dan yang paling ingin kuketahui, apakah kedua orang jago pedang dari Barat dan Utara itu juga mengalami hal yang serupa dengan dua orang jago pedang Timur dan Selatan. Maka, kita harus melakukan perjalanan ke daerah Barat terlebih dahulu. Karena, daerah itu lebih dekat jaraknya ketimbang daerah Urara. Dan sebaiknya, kita segera pergi agar bisa mengejar waktu. Aku ingin pada saat pertemuan jago-jago pedang itu, kita sudah berada di sana,” jelas Panji dengan nada suara ditekan perlahan memang, ia tidak ingin ucapannya sampai terdengar orang lain.

Kenanga yang tentu saja maklum akan ucapan perlahan kekasihnya, bergegas melambaikan tangan kepada seorang pelayan. Pelayan laki-laki berusia empat puluh tahun itu tergopoh-gopoh mendatangi mejanya.

“Ada yang bisa kami bantu, Nisanak?” Tanya pelayan kedai makan itu, suaranya sangat hormat.

“Terima kasih, Paman. Kami sudah merasa puas atas hidangan istimewa yang Paman sediakan,” ucap Kenanga yang langsung membayar harga makanan yang telah ludes tanpa sisa. Setelah membayar harga makanan, pasangan pendekar muda itu pun bergegas melanjutkan perjalanannya.


Lelaki gagah berusia sekitar enam puluh tahun itu berdiri menatap bangunan besar di depannya. Wajahnya tampak menegang ketika kesunyian dan keheningan menyambut kedatangannya. Keningnya tampak berkerut dalam setelah mendapati suasana yang terasa sangat mencurigakan itu. Setelah agak lama memandangi bangunan dari jarak sekitar sepuluh tombak lebih, perlahan kakinya melangkah dengan sikap waspada. Sambil melangkah lambat, pandangannya beredar tanpa menggerakkan kepala.

“Hm… Kemana perginya anak-anak yang biasanya menjaga pintu gerbang? Tidak biasanya mereka membiarkan pintu gerbang depan ini tidak terjaga. Mungkinkah ada sesuatu yang telah terjadi ditempat ini…?” gumam lelaki tua yang tubuhnya masih terlihat tegap itu.

Orang tua gagah yang tak lain Ki Giri Tantra itu melanjutkan langkahnya mendekatu pintu gerbang. Namun sebelum sempat menyentuh pintu gerbang yang terbuat dari kayu bulat itu, mendadak langkahnya terhenti.

“Hm…. Keadaan ini benar-benar terasa aneh. Sebaiknya, aku menyelidiki lebih dahulu sebelum memasuki tempat ini. Mudah-mudahan saja dugaanku meleset,” desah Ki Giri Tantra harap-harap cemas.

Berpikir demikian, Ki Giri Tantra itu memutar langkahnya menuju ke arah belakang, bangunan perguruannya. Sepertinya jago pedang wilayah Selatan itu ingin memasuki tempat tinggalnya secara sembunyi-sembunyi. Memang, hatinya merasa curiga dengan keadaan yang hening menyelimuti bangunan perguruannya. Dengan melompati pagar kayu yang merupakan pintu belakang bangunan, Ki Giri Tantra terus menyelinap di balik sebatang pohon besar yang tumbuh menghiasi taman belakang bangunan Perguruan Pedang Sinar Pelangi. Kembali hati jago pedang wilayah Selatan itu dicekam kegelisahan. Ternyata, pada bagian belakang bangunan itu tampak sepi. Tak seorang murid pun yang ditemuinya di situ.

“Gila! Ke mana perginya murid-muridku? Bahkan tukang kebun yang biasanya merawat taman belakang ini pun tidak kelihatan batang hidungnya? Kurang ajar! Apakah ada sesuatu yang telah menimpa tempat ini? Atau mereka berubah menjadi pemalas setelah kepergianku?” umpat orang tua itu. Wajahnya tampak geram. Yang pasti, ia merasa tidak suka dengan keadaan tempat perguruannya itu yang terasa sangat mencekam bagi dirinya.

Ki Giri Tantra yang semula hendak bergerak menyelinap ke bagian dapur, cepat menarik tubuhnya ketika melihat seorang berpakaian serba hitam tampak berjalan melewati persembunyiannya.

“Pakaian yang dikenakan orang itu mengingatkanku pada dua orang aneh yang menyatroni kamar tempatku menginap. Mungkinkah orang ini salah satu dari mereka? Lalu, apa yang dilakukannya di dalam perguruanku?” gumam Ki Giri Tantra yang semakin tak mengerli atas keadaan yang ditemuinya ini.

Sadar kalau orang berpakaian serba hitam itu merupakan kunci jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, maka tanpa banyak cakap lagi, Ki Giri Tantra melesat. Langsung dikirimkannya pukulan sisi telapak tangan miring kebelakang leherorang itu. Pekerjaan itu bukanlah merupakan sesuatu yang sulit bagi Raja Pedang Sinar Pelangi. Sekali bergerak saja, tubuh orang itu langsung melorot pingsan. Cepat diseretnya tubuh lelaki berpakaian serba hitam itu ke dalam gerumbulan pohon-pohon yang tumbuh cukup rapat ditaman itu.

Namun apa yang dilihat orang tua itu, benar-benar membuat hatinya terkejut bukan main! Betapa tidak? Sebab tahu-tahu saja di sekitar tempat itu telah bermunculan orang-orang berseragam hitam yang langsung mengurungnya! Yang membuat wajah orang tua itu semakin geram adalah, terdapatnya Kinaya dan Wiradesa di antara pengepungnya!

“Kinaya, Wiradesa, apa maksud atas semua ini…?! Apa sebenarnya yang telah terjadi di tempat ini sepeninggalanku…?!” Bentak Ki Giri Tantra sambil bergerak bangkit Ditatapnya wajah kedua orang murid utamanya itu. Rasa curiga di hati Ki Giri Tantra semakin menjadi jadi ketika baik Kinaya maupun Wiradesa sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Padahal, orang tua itu tahu betul kalau kedua orang murid kepercayaannya sangat segan dan hormat kepadanya. Tentu saja sikap aneh itu semakin membuat hati jago pedang itu menjadi tegang! Apalagi, ketika menangkap adanya kilatan aneh yang tidak wajar dari sepasang mata kedua murid utamanya.

“Ehhh…! Tidak salahkah penglihatanku…? Benarkah mereka berdua telah terpengaruh sesuatu…?” gumam Ki Giri Tantra yang pikirannya terselimut berbagai pertanyaan. Sebagai tokoh yang banyak pengalaman, sekali pan- dang saja Ki Giri Tantra langsung dapat menebak kalau Kinaya dan Wiradesa tengah dikuasai oleh sejenis obat ‘Racun Perampas Sukma’. Karuan saja kenyataan itu menyadarkannya akan bahaya yang mengancam, terutama bagi kelanjutan Perguruan Pedang Sinar Pelangi.

“Heaaat…!”

Ki Giri Tantra langsung melesat ke belakang ketika Kinaya dan Wiradesa melompat menerjangnya. Kemudian, senjatanya langsung dicabut karena sadar akan ancaman bahaya itu. Kepandaian kedua orang murid utamanya memang telah tinggi. Bahkan hampir dapat menyamainya. Tentu saja majunya kedua orang murid utama secara berbarengan, membuat Ki Giri Tantra kerepotan! Belum lagi orang-orang berseragam hitam lainnya yang mengepung tempat itu. Sadarlah orang tua itu kalau jalan untuk lolos sangat kecil kemungkinannya.

“Yeaaat…!” Sambil berseru keras, Ki Giri Tantra segera memutar senjata untuk menghalau gempuran hebat kedua orang muridnya. Meskipun putaran pedangnya dapat menghalau serangan lawan, tapi Ki Giri Tantra tidak ingin hal itu berlanjut terus. Sambil bertahan, otaknya terus berputar mencari jalan lolos. Memang, saat itu Ia benar-benar belum siap menghadapi hal yang menurutnya sangat mengejutkan. Paling tidak, ia harus mengatur rencana untuk mengambil alih kembali perguruannya. Sekaligus menyadarkan Kinaya dan Wiradesa yang jelas tidak menyadari atas perbuatannya selama ini. Berpikir demikian, Ki Giri Tantra kembali berseru nyaring! Seketika itu juga tubuhnya langsung melesat cepat bagai kilat disertai serangan menderu-deru yang mematikan!

Wuuut! Wuuut!

Serangan hebat yang dilancarkan jago pedang dari Selatan itu untuk sementara waktu memang dapat memukul mundur Kinaya dan Wiradesa. Sehingga, orang tua itu dapat melompat mundur ke belakang dan terus melesat hendak melarikan diri. Namun ketika tubuh orang tua itu hendak melesat meninggalkan bangunan perguruan, tiba-tiba sesosok bayangan melesat dan langsung melancarkan serangan kilat ke arahnya.

Desss!

“Aaakh…!” Tubuh Ki Giri Tantra yang tidak sempat mengelak langsung terlempar bagaikan sehelai daun kering, ketika sebuah tendangan keras telak menghajar tubuhnya. Tubuh Ki Giri Tantra terus terbanting ke atas tanah di sertai keluarnya darah segar yang muncrat dari mulutnya.

Saat Ki Giri Tantra hendak bangkit berdiri, sosok berpakaian hitam yang bertubuh Jangkung itu kembali melesat dengan serangkaian serangan yang menderu tajam! Namun Ki Giri Tantra yang menyadari semua keadaan langsung melontarkan pukulan jarak jauh ke arah tubuh lawan. Maka orang tua itu langsung melesat setelah melihat lawannya berjumpalitan menghindari pukulannya. Jago pedang wilayah Selatan itu langsung menghilang dalam kegelapan malam.

“Bangsat…!” maki lelaki tinggi kurus itu sambil menghentakkan kakinya ke tanah. Jelas ia tidak berani melakukan pengejaran dalam gelap Sebab, hal itu bisa saja mendatangkan kerugian. Dengan langkah lebar, sosok bayangan jangkung itu kembali memasuki gedung perguruan. Sehingga, halaman luar bangunan perguruan itu kembali sepi.


“Heaaat…!”

“Haaat..!”

Bentakan-bentakan nyaring yang saling bersahutan, terdengar dari dalam sebuah hutan kecil. Kemudian, disusul suara dentang senjata yang saling berbenturan memekakkan telinga.

“Yeaaat..!”

Disertai bentakan, tubuh seorang lelaki tegap yang bersenjatakan sebatang pedang melesat menerjang para pengeroyoknya.

Wuettt…!

Para pengurung yang rata-rata berpakaian serba hitam, berlompatan mundur menjauhi sambaran sinar pedang yang membawa hawa maut. Sehingga, sambaran pedang lelaki tegap itu hanya mengenai angin kosong! Namun gerakan pedang lelaki tegap itu ternyata tidak berhenti sampai di situ saja. Pedang yang bergerak mendatar itu, mendadak berputar cepat. Langsung disambarnya tubuh dua orang pengeroyok yang berada disamping kanan.

Wuuut..! Brettt..! Crattt…!

Terdengar jerit kematian ketika ujung pedang lelaki bertubuh tegap itu merobek dua orang lawannya yang sama sekali tidak menduga. Mereka langsung roboh dengan tubuh mandi darah! Setelah menggelepar sesaat tubuh kedua orang berseragam hitam itu tergolek tewas!

“Setan…! Kau harus menebus nyawa kedua orang teman kami, Bangsat!” Terdengar makian salah seorang lelaki gemuk. Dia juga mengenakan seragam berwarna hitam. Sepasang matanya yang bulat bagaikan hendak melompat keluar ketika melihat dua orang kawannya roboh disertai semburan darah segar.

“Yaaat…!” Dibarengi teriakan menggetarkan, tubuh lelaki gemuk itu melesat cepat ke arah lelaki tegap berpakaian merah, dengan garis hitam pada bagian lehernya.

Laki-laki bertubuh tegap yang kalau dilihat dari pakaian yang dikenakan adalah murid Perguruan Pedang Sinar Pelangi, menggeser tubuhnya dengan melompat ke samping. Berbarengan dengan itu, pedang di tangannya menyambar cepat seiring selarik sinar berpendar yang berwarna-warni. Gerakan pedangnya demikian indah dan luwes. Sehingga, sempat membuat lelaki bertubuh gemuk yang menjadi lawannya terperanjat!

Wuuut..!

“Aaah…!”

Hebat memang serangan balasan yang dilontarkan lelaki bertubuh tegap itu! Sehingga, lawannya terpaksa harus melempar tubuh ke belakang dan langsung melakukan beberapa kali putaran di udara. Namun, cahaya berpendar yang memiliki warna pelangi itu seperii mengejar. Gerakannya meliuk, dan turun naik. Bahkan kecepatannya begitu mengagumkan, sehingga benar-benar membuat lawan kalang-kabut! Maka mau tak mau lelaki bertubuh gemuk itu kembali harus berlompatan menghindari sambaran pedang lawan yang masih terus mengejarnya!

“Setan…!” Sambil memaki sejadi-jadinya, tubuh lelaki gemuk itu kembali berjumpalitan menghindari sambaran pedang lawan. Sekali lihat saja, sudah dapat dinilai kalau kepandaian lelaki tegap murid Perguruan Pedang Sinar Pelangi itu masih beberapa tingkat di atas lawannya. Maka, wajarlah kalau lawannya menjadi kelabakan dibuatnya.

“Kakang Darpa, awaaas…!”

Tengah gencar-gencarnya lelaki bertubuh tegap itu mencecar lawan, terdengar teriakan keras. Jelas, itu sebuah peringatan bagi lelaki bertubuh tegap yang dipanggil Darpa.

Darpa, yang merupakan murid utama Ki Giri Tantra cepat menolehkan kepala ke belakang. Ketika telinganya mendengar suara sambaran halus, cepat tubuhnya melenting ke udara dan melakukan beberapa kali salto dengan gerakan manis.

Syuuut…! Syuuut…!

Beberapa buah pisau terbang sepanjang satu jengkal meluncur di bawah tubuh Darpa. Untunglah, lelaki tegap itu bergerak sigap begitu mendengar peringatan lelaki jangkung yang bernama Sudira. Kalau saja adik seperguruannya itu tidak cepat memperingatkan, mungkin Darpa sudah tergeletak terkena sambaran senjata rahasia yang dilontarkan salah seorang pengeroyoknya.

“Jahanam keji, mampuslah…!” Begitu kedua kakinya menjejak tanah, saat itu pula tubuh Darpa melambung disertai bentakan amarahnya.

Wuuut…!

Brettt…!

“Aaakh…!”

Hebat dan sangat menggiriskan apa yang dilakukan Darpa! Sambaran pedangnya langsung membeset perut lelaki berpakaian hitam yang melancarkan serangan gelap terhadapnya tadi. Sehingga tanpa dapat dicegah lagi, tubuh orang itu pun langsung ambruk mandi darah! Bahkan langsung tewas seketika dengan usus memburai.

“Heaaat..!” Darpa yang baru saja menjejakkan kakinya di atas tanah, menjadi terkejut setengah mati ketika mende- ngar bentakan yang terdengar dari tempatnya berpijak. Dan sebelum lelaki tegap itu sempat menyadari, tahu-tahu tubuhnya terjungkal keras akibat tendangan yang telak menghantam dada kirinya!

Buggg…!

“Hukhhh…!” Lelaki tegap murid utama Perguruan Pedang Sinar Pelangi itu terjungkal keras disertai semburan darah segar dari mulutnya!

“Yeaaat…!” Sudira yang melihat nyawa kakak seperguruannya terancam maut, cepat melesat disertai sabetan pedang ke arah seorang lelaki tinggi besar yang melontarkan tendangan ke dada Darpa tadi.

Wuuttt…!

Sambaran pedang Sudira menerjang angin kosong, karena lelaki tinggi besar itu telah menarik tubuhnya ke belakang. Sambaran ujung senjata Sudira tadi hanya lewat sejengkal di depan tubuh orang itu. Namun, kepandaian murid-murid utama Ki Giri Tantra itu memang hebat sekali! Begitu sambaran pedangnya luput, secepat kilat Sudira memutar senjatanya mengarah ke batang leher lawan. Gerakannya memang cepat dan hebat sekali! Sehingga, lelaki tinggi besar itu mau tidak mau harus memuji kegesitan lawannya.

“Bagus…!” puji lelaki tinggi besar itu sambil memutar tubuhnya bagaikan orang menggeliat. Dan, begitu sambaran senjata lawannya lewat diatas kepala, lelaki tinggi besar itu langsung melepaskan tendangan kilat yang mengancam perut lawan Sudira.

Zebbb…!

Meskipun Sudira saat itu belum sempat menarik pulang serangannya, ternyata ia masih sempat juga memiringkan tubuh. Maka, serangan lawan pun hanya lewat di samping tubuhnya. Sayang perhitungan Sudira masih kurang tepat! Karena begitu tendangan pertama luput, tubuh lawannya langsung berputar seraya mengirimkan tendangan berputar yang cepat dan mengejutkan!

Blaggg…!

“Huaaakh…!”

Sudira terjengkang keras hingga sejauh hampir dua tombak ke belakang! Darah segar kontan menyembur dari mulut lelaki jangkung itu. Hantaman keras yang menggedor dadanya, mengakibatkan Sudira tidak mampu lagi mempertahankan kuda-kudanya. Sehingga, tubuh lelaki jangkung itu terjerembab jatuh menimbulkan suara berdebuk keras!

“Huaaakh…!”

Pemuda berbutuh jangkung itu mencoba bangkit berdiri sambil kembali memegangi dadanya. Namun belum juga sempurna berdirinya, dia telah memuntahkan gumpalan darah berwarna kecoklatan. Jelas, hantaman dahsyat itu telah mendatangkan luka dalam yang tidak ringan di tubuh Sudira.

“Adi Sudira…!”

Darpa yang saat itu sudah bangkit berdiri, bergegas memburu ke arah tubuh adik seperguruannya yang tengah tergolek lemah. Sadar kalau Sudira telah mengalami luka dalam yang parah, maka Darpa membalikkan tubuhnya menghadapi lelaki tinggi besar yang telah siap melontarkan pukulan maut untuk mengirim nyawa mereka ke akhirat.

“Bangsat keji! Apa salah kami hingga demikian tega menurunkan tangan kejam terhadap adik seperguruanku?!” Geram Darpa sambil melintangkan senjata didepan dada. Sepertinya, lelaki bertubuh tegap berusia empat puluh tahun itu siap mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan adik seperguruannya.

“Ha ha ha…! Tidak kusangka, ternyata murid Ki Giri Tantra yang terkenal gagah itu hanya bocah cengeng yang takut menghadapi kematian!” lelaki tinggi besar itu tertawa gelak ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan Darpa.

Suara tawa menggelegar itu hanya terdengar sesaat. Kemudian, si pemilik suara tawa yang menggetarkan itu telah menatap Darpa disertai sorot mata bengis! Jelas, la sangat membenci lelaki tinggi tegap itu. Darpa sempat tergetar hatinya melihat sorot mata tajam yang mengandung ancaman maut itu. Melihat pancaran sinar mata lelaki tinggi besar itu, disadari kalau kekuatan yang dimiliki lawan masih jauh lebih tinggi. Apalagi saat itu ia masih dalam keadaan terluka. Maka, ketegangan pun semakin merasuk harinya.

“Hm…” Sambil menghentikan langkah dalam jarak satu tombak, lelaki tinggi besar itu menggeram lirih. Perlahan tangannya terangkat ke atas kepala dalam bentuk bersilangan.

“Heaaah. !” Diringi suara bentakan yang menggetarkan isi dada, tubuh tinggi besar itu melayang disertai sambaran sepasang lengannya yang menimbulkan deru angin tajam!

Wuuut…! Beuuut…!

Terkejut bukan main hati Darpa merasakan sambaran angin pukulan lawan yang membuat rambutnya bekibar. Padahal, saat itu jarak di antara mereka masih terpisah cukup jauh. Jelas, kenyataan itu membayangkan betapa hebatnya tenaga dalam yang dimiliki lelaki tinggi besar itu. Cepat Darpa merundukkan kepala ketika kepala lawan meluncur deras mengarah kepalanya. Sambil menggeser kaki kanan ke samping, lelaki tegap itu menyabetkan ujung senjata yang mengancam perut lawan. Namun, serangan balasan yang dilancarkan Darpa hanya dielakkan dengan menarik mundur tubuhnya. Belum lagi Darpa sempat menyusuli serangannya, sebuah tendangan lawan telah melesat cepat bagai kilat.

Zebbb…!

Dengan memiringkan tubuhnya, murid utama Ki Giri Tantra itu berhasil menghindari tendangan kilat lawan. Kemudian kaki kanannya bergeser ke samping disertai tusukan ujung siku yang menekuk.

Wuuut..! Plakkk…Bukkk..!

Hebat dan cepat sekali gerakan yang dilakukan lelaki tinggi besar itu! Tusukan siku Darpa ke arah jantungnya ditepis dengan telapak tangan kanan. Berbarengan dengan itu, telapak tangan kirinya meluncur. Langsung dihantamnya iga kanan Darpa secara telak!

“Hukhhh…!”

Tentu saja hantaman telapak tangan yang mengandung kekuatan hebat itu kontan membuat tubuh Darpa melintir! Darah segar tampak menetes di sela-sela bibirnya Jelas, hantaman itu semakin parah!

Lelaki tinggi besar berwajah bengis itu ternyata tidak berhenti sampai di situ saja. Tanpa memberi peluang kepala lawan yang tengah terhuyung, kembali dikirimkan dua buah pukulan sekaligus yang tertuju ke arah dada kiri dan pelipis Darpa. Namun begitu serangan itu hampir menyentuh Darpa, tiba-tiba melesat bayangan putih yang langsung memapak.

Wuuut…! Beeet…!

Plakkk… Plakkk… Desss…!

“Ughhh…!” Terdengar benturan keras sebanyak tiga kali yang disusul terhuyungnya tubuh laki-laki lawan Darpa, hingga sejauh satu tombak ke belakang! Melihat raut wajahnya yang menyeringai, jelas kalau lelaki tinggi besar itu menderita rasa nyeri pada tubuhnya.

TUUH

“Pendekar Naga Putih…!”

Terdengar seruan terkejut dan gentar yang keluar dari mulut lelaki tinggi besar itu. Sepasang matanya menatap ragu ke arah sosok pemuda berjubah putih yang sekujur tubuhnya tampak terselimut lapisan kabut bersinar putih keperakan.

“Benar. Akulah Pendekar Naga Putih…,” sahut pemuda tampan berjubah putih yang tak lain adalah Panji. Rupanya pada saat keadaan Darpa tengah terancam maut, Panji datang menolongnya. Sedangkan Darpa sendiri kini tengah dipapah seorang gadis jelita berpakaian serba hijau. Yang tak lain adalah Kenanga.

“Sebaiknya beristirahatlah, Kisanak. Kulihat luka-lukamu cukup parah,” ujar Kenanga.

Gadis itu segera merebahkan tubuh Darpa di bawah sebatang pohon besar, tidak jauh dari situ. Setelah memberi sebutir obat luka kepada Darpa, Kenanga melangkah mendekati tubuh Sudira yang saat itu tengah terkapar pingsan. Diangkatnya tubuh lelaki jangkung itu, lalu direbahkan di samping tubuh Darpa. Sigap sekali cara gadis jelita itu dalam memberikan_ pertolongan kepada Sudira.

Merasa yakin kalau Darpa dan Sudira sudah tidak mengkhawafirkan, Kenanga beranjak bangkit dan mengalihkan perhafian kepada Panji. Sementara itu pertarungan lainnya yang terjadi antara kelompok orang berpakaian serba hitam melawan para murid Perguruan Pedang Sinar Pelangi, sudah berakhir. Delapan belas orang berpakaian serba hitam itu segera meninggalkan mayat-mayat kawan dan lawannya. Kemudian mereka bergabung dengan lelaki tinggi besar yang merupakan pimpinan gerombolan.

Panji yang melihat bergeletakannya puluhan mayat kedua belah pihak hanya menarik napas sedih. Ia menyesali keterlambatannya datang ke tempat itu. Kalau saja datang lebih awal, mungkin hal itu tidak perlu terjadi. Kenanga yang mendengar helaan napas berat kekasihnya, segera saja dapat menduga. Dengan langkah perlahan, dihampirinya Pendekar Naga Putih.

“Tidak perlu menyesal, Kakang. Mereka tidak mungkin dapat dihidupkan kembali. Yang penting sekarang adalah menyelamatkan kedua orang lelaki itu dari kekejaman mereka,” hibur Kenanga sambil mengerlingkan mata ke arah Darpa dan Sudira. Kini dua murid Ki Giri Tantra tengah menghimpun hawa murni sesuai anjuran Kenanga.

“Tidak, Kenanga Aku hanya merasa sedih, melihat banyaknya orang yang menjadi korban akibat nafsu serakah majikan ataupun ketua-ketua mereka Celakanya, dunia ini banyak dihuni orang seperti itu. Sehingga, korban pun tidak pernah berhenti berjatuhan. Hhh…,” Panji menghembuskan napasnya kuat-kuat seperti hendak melepaskan kegundahan hati.

Sedangkan lelaki tinggi besar dan delapan belas orang pengikutnya mulai bergerak mengepung pendekar muda itu. Melihat dari sikap dan senjata yang terhunus dalam genggaman tangan, jelas mereka hendak menghabisi nyawa Panji dan Kenanga. Sepertinya, belasan orang di bawah pimpinan lelaki tinggi besar itu sudah tidak mempedulikan Darpa dan Sudira lagi. Dan yang menjadi sasaran mereka kali ini adalah pasangan pendekar muda itu. Belasan orang berseragam hitam itu sudah mulai bergerak mengepung, namun Panji dan Kenanga tetap saja bersikap tenang. Mereka sama sekali tidak gentar meskipun pihak lawan jelas jauh lebih banyak.

“Kenanga, sebaiknya jagalah kedua orang yang tengah memulihkan tenaga itu. Rasanya, akan berbahaya sekali bila mereka dibiarkan tanpa terjaga. Biar aku saja yang mengurusi orang-orang ini,” bisik Panji sambil merapatkan tubuh kedekat gadis jelita itu.

Kenanga yang semula hendak membantah, terpaksa melangkah ke arah tempat Darpa dan Sudira tengah bersemadi. Karena sinar mata kekasihnya jelas tidak ingin dibantah, maka mau tak mau gadis itu menurutinya.

“Harm…!” Dua orang lelaki berseragam hitam yang melihat Kenanga melangkah ke arah Darpa dan Sudira, cepat melompat sambil berseru nyaring!

Wuuut…! Wuuut…!

Dua batang pedang yang menyambar dari kiri-kanannya, sama sekali tidak dihiraukan Kenanga. Gadis itu tetap saja meneruskan langkahnya bagaikan orang hendak bunuh diri. Baru pada saat mata pedang hampir menyentuh kulit tubuhnya, kaki kanannya ditarik melangkah mundur satu tindak ke belakang. Berbarengan dengan itu sepasang tangannya bergerak mengembang untuk menangkis datangnya sambaran dua batang senjata.

Dukkk! Dukkk! Buggg…. Desss…!

Dua orang lelaki berpakaian serba hitam itu mengeluh pendek ketika lengan Kenanga langsung berputar. Dan sebelum ada yang sempat menyadarinya, sebuah tamparan sisi telapak tangan miring telah menghajar belakang leher mereka secara telak! Maka tanpa dapat dicegah lagi, tubuh kedua orang Itu langsung ambruk di atas tanah. Hantaman keras itu telah membuat mereka pingsan seketika.

Setelah merobohkan dua orang penghadang, Kenanga meneruskan langkah ke arah tempat Darpa dan Sudira berada. Gadis jelita itu cepat bergerak mencegah ketika kedua orang lelaki yang dtolongnya hendak bergerak bangkit dari semadinya.

“Jangan banyak bergerak dulu. Keadaan tubuh kalian masih belum pulih seluruhnya. Lebih baik, kita lihat saja apa yang akan diperbuat Pendekar Naga Putih terhadap orang-orang itu,” ujar Kenanga sambil menjatuhkan pantatnya di atas rerumputan hijau dan tebal.

“Jadi, pemuda yang tadi menolongku itu adalah Pendekar Naga Putih? Ahhh… benar-benar beruntung aku hari ini. Rasa-rasanya aku harus berterima kasih kepada orang-orang berpakaian serba hitam itu. Buktinya, dengan perantaraan merekalah, aku dapat berjumpa pendekar besar yang sudah sering kudengar namanya dari tokoh-tokoh persilatan. Senang rasanya dapat melihat langsung pendekar muda yang sudah terkenal di dalam rimba persilatan,” kata Darpa dengan wajah berseri-seri.

Mendengar dari nada ucapannya, jelas kalau Darpa benar-benar mengagumi dan menghormati Pendekar Naga Putih. Sedangkan Sudira yang belum begitu banyak pengalamannya, hanya mengangguk-anggukkan kepala dengan sorot kekaguman. Kalaupun ia pernah mendengar orang yang berjuluk nama Pendekar Naga Putih itu pun masih dalam lingkungan bangunan perguruannya. Memang, Sudira belum pernah meninggalkan perguruan untuk meluaskan pengalaman. Hal itu karena Ki Giri Tantra yang menjadi guru besarnya memang belum memberikan izin mengembara. Dan hal itu cukup beralasan, karena Sudira memang belum mempunyai bekal cukup.

Kenanga yang juga mendengar ucapan Darpa, sempat heran juga. Dipandanginya lelaki gagah berusia sekitar empat puluh tahun itu lekat-lekat. “Mengapa kau terkejut mendengar julukan Pendekar Naga Putih disebut, Kakang Darpa? Apakah kau tidak sempat mendengar seruan yang dikeluarkan lelaki tinggi besar yang hampir menewaskanmu tadi?” Tanya Kenanga, mengingatkan kalau lawan Darpa tadi sempat menyebut Pendekar Naga Putih, setelah serangannya digagalkan.

“Eh, benarkah?” Darpa menoleh balik bertanya. “Wah, mungkin saat itu aku terlalu sibuk dengan luka-lukaku. Sehingga, aku tidak sempat mendengar seruan itu.”

“Hm…. Tampaknya pertarungan sudah dimulai…,” gumam Kenanga. Pandangannya telah kembali tertuju ke arah arena pertarungan.

Darpa dan Sudira yang semula tengah memandang ke arah Kenanga, serentak memalingkan wajah ke arena pertempuran yang memang sudah mulai berlangsung itu. Saat itu, Pendekar Naga Putih yang menghadapi keroyokan tujuh belas orang berpakaian serba hitam, berkelebat menyelinap di antara kilatan-kilatan sinar pedang pengeroyoknya. Dan setiap kali tangan pemuda tampan itu bergerak melancarkan serangan balasan, selalu saja ada tubuh lawan yang terjungkal roboh tanpa mampu bangkit lagi. Memang tamparan dan tendangan yang dilancarkan pemuda tampan itu dapat membuat lawan menggelepar pingsan seketika.

Bukan main murkanya hati lelaki tinggi besar yang menjadi pimpinan orang-orang berpakaian serba hitam. Wajahnya yang hitam tampak semakin gelap, disertai sorot mata tajam yang ditujukan kepada Pendekar Naga Putih. Sepertinya, dia ingin menelan tubuh pemuda tampan di depannya hidup-hidup.

“Mampus kau, Pendekar Naga Putih…!” teriak lelaki tinggi besar sambil melompat disertai sabetan pedangnya yang menimbulkan angin menderu tajam.

Panji yang melihat datangnya serangan segera saja memiringkan tubuh tanpa menggerakkan kaki. Begitu ujung pedang lawan lewat sejengkal didepan tubuhnya, jemari tangannya cepat melakukan cengkeraman agar senjata lawan terlepas. Gerakan pemuda itu masih dibarengi geseran kaki kanannya kedepan disertai sodokan siku yang mengancam perut lawan.

Namun lelaki bertubuh tinggi besar itu rupanya cukup cerdik. Sadar kalau untuk menarik pulang tangan jelas akan kalah cepat, mata pedangnya diputar. Sehingga, kini mata pedang itu tentu saja menjadi berbalik mengancam jemari tangan Panji. Sambil memutar senjata, lelaki tinggi besar bermuka hitam itu menggeser kaki kanan ke samping menggunakan kuda-kuda rendah. Sehingga, ia telah menghindarkan dua serangan Pendekar Naga Putih sekaligus.

“Bagus…!” puji Pendekar Naga Putih yang merasa kagum dengan kecerdikan lawannya. Belum lagi ucapannya selesai, tubuh pemuda tampan itu berputar setengah lingkaran disertai sebuah tendangan kilat sambil melompat.

Wuuuk…!

“Aaah…!” Kaget bukan main hati lelaki tinggi besar itu melihat kecepatan gerak serangan lawan. Meskipun sebelumnya telah mengetahui tentang pemuda tampan yang menjadi lawannya, tapi ia tetap saja terkejut. Maka, cepat tubuhnya berguling kesamping kanan, dan terus melenting bangkit melakukan beberapa kali puraran salto diudara.

“Fuhhh…!” Sambil menyusut peluh dingin yang membasahi kening, lelaki tinggi besar itu menghembuskan napas kuat-kuat. Benar-benar hampir tidak dipercayai kalau hanya dalam beberapa gebrakan saja pemuda tampan itu hampir dapat membuatnya terluka.

“Gila! Nama Pendekar Naga Putih ternyata bukan hanya sekadar kabar angin belaka. Untung saja aku masih sempat meloloskan diri dari serangannya. Kalau tidak, mungkin sudah menggelepar bagaikan binatang disembelih,” gumam lelaki tinggi besar bermuka hitam itu, tegang.

Sadar kalau tidak mungkin dapat menandingi kesaktian Pendekar Naga Putin, matanya pun mulai melirik mencari jalan menyelamatkan diri. Dan, kalau tetap nekat, bisa-bisa ia sendirilah yang akan menjadi korban. Selain pemuda itu sulit ditandingi, di tempat itu pun masih terdapat gadis jelita dan dua orang murid Perguruan Pedang Sinar Pelangi yang mungkin saja akan mengeroyok dan menangkapnya. Menyadari keadaan itu, cepat-cepat melesat pergi meninggalkan tempat itu.

“Anak-anak, lariii…!” seru lelaki tinggi besar yang sudah mendahului para pengikutnya meninggalkan tempat itu.

Para pengikut lelaki bertubuh tinggi besar yang jumlahnya hanya tinggal enam orang itu langsung saja berhamburan ke segala arah! Jelas, mereka bermaksud membingungkan lawan dengan cara berpencar seperti itu. Panji sendiri tidak berusaha mengejar ketika melihat para pengeroyoknya berlarian meninggalkan tempat itu. Dan bila Pendekar Naga Putih memerlukan keterangan tentang mereka, itu masih ada didapat dari lawan-lawannya yang terpukul pingsan tadi.

Sepeninggal lawan-lawannya, Pendekar Naga Putih melangkah mendekati tubuh salah seorang lawan yang masih tergeletak pingsan. Namun baru saja tubuhnya membungkuk hendak menyadarkan orang itu, mendadak telinganya yang tajam mendengar suara mendesis di belakangnya.

“Kakang, Awaaas…!” Kenanga yang melihat adanya sebuah benda bulat melayang ke arah tubuh kekasihnya, cepat memperingatkan!

Tanpa peringatan dari Kenanga pun, sebenarnya Pendekar Naga Putih memang sudah dengar. Kening pemuda tampan itu sempat berkerut ketika kepalanya menoleh melihat benda bulat itu. Merasa curiga kalau- kalau senjata itu mengandung racun jahat, maka Panji tidak mau bertindak ceroboh. Cepat tubuhnya dilempar menjauhi tempat itu!

Daaarrr…!”

Terdengar ledakan keras yang bagaikan mengguncang daerah hutan kecil itu. Gumpalan-gumpalan tanah besar kecil beterbangan ke sekitar daerah itu, disusul kepulan asap putih yang bergulung-gulung memenuhi sekitarnya.

“Asap beracun…?!” Desis Pendekar Naga Putih ketika mendapatkan bagian dalam dadanya terasa nyeri akibat menghisap asap putih itu. Sadar akan bahaya yang mengancam ketiga orang lainnya yang berada tidak terlalu jauh dari tempat itu, tubuh Panji pun melambung dan bersalto beberapa kali di udara.

“Kenanga! Bawa mereka menyingkir! Asap ini mengandung racun jahat yang mematikan…!” Seru Panji begitu kakinya menjejak tanah di dekat Kenanga, Darpa, dan Sudira. Dan, sebelum gema suaranya lenyap, tubuh pemuda tampan itu kembali menjauhi kepululan asap yang semakin menyebar.

Kenanga, Darpa, dan Sudira pun Bdak mau membuang-buang waktu lagi. Mereka memang sempat menghirup asap putih. Bahkan juga merasa nyeri pada bagian dalam dadanya. Maka ketika mendengar seruan Panji, serentak mereka berlomba meninggalkan daerah yang telah dicemari gumpalan asap putih itu. Setelah merasa cukup jauh meninggalkan tempat celaka itu, barulah mereka menghentikan larinya. Tampak mereka terbatuk-batuk akibat asap yang telah memasuki tubuh.

“Cepat telan obat ini…,” ujar Panji. Pendekar Naga Putih segera menyodorkan sebutir obat berwarna merah darah kepada Kenanga dan dua orang lainnya. Sedangkan ia sendiri telah lebih dahulu menelannya.

Kenanga yang sudah mengetahui khasiat pil berwarna merah darah itu, cepat menelannya tanpa banyak tanya. Lain halnya dengan Darpa dan Sudira yang baru pertama kali melihat pil itu. Rasa heran bercampur takjub jelas tergambar di wajah keduanya. Memang terasa ada hawa hangat yang berputar di pusat tenaga mereka, untuk kemudian bergerak naik hingga hampir mencapai kerongkongan.

“Hebat sekali pengaruh obat itu, Pendekar Naga Putih. Kalau boleh tahu, apa sajakah khasiatnya?” Tanya Darpa yang merasa heran ketika merasakan kemukjizatan pil merah darah pemberian Panji.

“Khasiat pil itu sebenarnya cukup banyak. Tapi yang paling utama, dapat melancarkan peredaran jalan darah yang tersumbat dan memusnahkan sisa pengaruh racun yang mengeram dalam tubuh. Karena asap beracun yang kita hisap tadi tidak terlalu banyak, tentu saja dapat lenyap hanya dengan penggunaan pil itu,” jelas Panji.

Darpa dan Sudira mengangguk-anggukkan kepala ketika mendengar penjelasan itu. Diam-diam rasa kagum dan hormat mereka semakin bertambah terhadap Pendekar Naga Putih.

“Hm…. Sekarang hendak ke mana tujuan kalian?” Tanya Pendekar Naga Putih menatap kedua orang lelaki gagah itu.

“Kami hendak mencari guru kami yang bernama Ki Giri Tantra atau yang lebih dikenal berjuluk Raja Pedang Sinar Pelangi,” sahut Darpa. Ada sedikit kesan kebanggaan ketika menyebutkan julukan gurunya.

“Aaah…. Pantas permainan pedang kalian memiliki dasar-dasar yang serupa dengan ilmu pedang yang dimiliki orang tua sakti itu. Kalau begitu, biarlah kita berpisah di sini. Karena, aku mempunyai tugas lain yang harus segera kuselesaikan. Sayang tadi kita diserang asap beracun, sehingga orang-orang yang pingsan tadi menjadi mati. Sebenarnya aku memerlukan keterangan dari mereka. Tapi biar bagaimanapun, aku akan tetap menyelidiki di mana markas mereka berada,” janji Panji, perlahan. Setelah berpamitan kepada Darpa dan Sudira, pasangan pendekar muda itu pun melanjutkan perjalanan.

“Kakang, mengapa kau tidak menceritakan persoalan kita kepadanya? Aku yakin, pendekar muda itu tentu akan bersedia membantu kesulitan yang tengah kita hadapi ini,” tegur Sudira. Dia memang merasa heran melihat kakak seperguruannya tidak meminta pertolongan Pendekar Naga Putih.

“Hhh…. Kau seperti tidak tahu sifat Ki Giri Tantra saja. Beliau paling tidak suka kalau urusannya dicampuri orang lain. Apalagi kita belum melaporkan kejadian ini kepada guru. Bisa-bisa kita kena damprat kalau menceritakannya kepada orang lain sebelum guru sendiri mengetahuinya dari kita,” sahut Darpa mengingatkan. “Lebih baik sekarang kita cari dulu beliau. Ayolah.”


Matahari sudah memancarkan sinarnya ke seluruh permukaan bumi. Saat itu, delapan sosok tubuh tampak melangkah tegap memasuki Lembah Kepala Naga. Menilik langkah kaki yang rata-rata ringan dan mantap, jelas mereka bukanlah orang sembarangan. Jalanan mendaki yang berlapiskan batu-batu cadas licin yang dilalui sama sekali tidak menghambat langkah mereka. Bahkan ketika jalan yang ditempuh semakin sulit, kedelapan orang itu malah berlari ringan.

Namun sebelum rombongan kecil itu tiba di tempat tujuan, lelaki yang berjalan paling depan tampak menghentikan langkahnya. Pandangannya langsung beredar ke sekeliling. Keningnya tampak berkerut, meskipun di sekelilingnya hanya terlihat gerombolan semak belukar dan pohoh-pohon besar. Tampaknya, lelaki berkumis lebat itu membaui sesuatu yang mencurigakan!

“Ada apa, Kakang Bartawa? Mengapa berhenti di sini? Bukankah Lembah Kepala Naga masih belasan tombak didepan?” Tanya salah seorang anggota rombongan kecil itu ikut mengedarkan pandangannya.

“Hm…. Kau tidak merasakan sesuatu yang aneh, Adik Randika…?” Tanya yang ternyata bemama Bartawa, perlahan.

“Tidak, Kakang. Perasaanku wajar saja, dan tidak melihat adanya sesuatu yang aneh di tempat ini,” sahut orang yang dipanggil Randika itu sambil mengedarkan pandangannya berkeliling dengan mata menyorot tajam. Meskipun demikian, tetap saja ia tidak menemukan keanehan yang dimaksud kakak seperguruannya.

“Hm…. Mungkin perasaanku saja yang salah. Sudahlah. Ayo kita lanjutkan perjalanan,” ajak Bartawa meskipun harinya masih merasa tidak tenang. Namun baru beberapa langkah kaki mereka menindak, terdengar suara berdesing nyaring yang saling bersahutan. Tentu saja hal itu membuat mereka serentak menolehkan kepala ke arah asal suara tadi.

“Awaaas…!”

Bartawa yang merupakan pimpinan rombongan kecil itu berseru memperingatkan kawan-kawannya. Memang, ketika menoleh tampak belasan batang anak panah tengah meluncur mengancam keselamatan mereka. Sedangkan ia sendiri, sudah melompat disertai putaran pedangnya yang membentuk gulungan sinar menyelimuti sekujur tubuhnya.

Tranggg,..! Tranggg…!

Terdengar suara berdentang nyaring ketika beberapa batang anak panah yang mengincar tubuh Bartawa terpukul runtuh oleh putaran gulungan sinar pedangnya. Demikian pula ketujuh orang lainnya. Anak-anak panah yang tertuju ke tubuh mereka pun dapat dipukul roboh. Sehingga, mereka sama sekali tidak terkena sambaran anak panah yang puluhan banyaknya.

“Keparat! Siapa gerangan yang berani melakukan perbuatan sepengecut ini?!” umpat Randika, geram. Sedang pedang di tangannya telah melintang didepan dada, siap menghadapi serangan gelap berikutnya.

“Hm…. Tenanglah, Adi Randika. Rupanya inilah, keanehan yang semenjak tadi mengganggu pikiranku. Rupanya ada orang-orang tolol yang hendak berbuat curang kepada kita,” ujar lelaki berkumis lebat juga dengan suara perlahan.

“Ini tidak bisa kita maafkan, Kakang Bartawa. Penyerang-penyerang gelap itu harus diberi pelajaran, agar lain kali bisa melihat-lihat orang yang diserangnya,” tegas Randika yang jelas merasa marah atas kecurangan itu.

Sedangkan Bartawa tetap bersikap tenang sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun sepanjang matanya memandang, yang dilihat hanyalah gerombolan semak belukar dan pepohonan besar. Tak satu bayangan pun yang tertangkap matanya. Sehingga, Bartawa kembali melemaskan urat-urat tubuhnya yang menegang.

“Hm.Siapa pun adanya para penyerang gelap itu, kita harus lebih berhati-hati. Bukan tidak mungkin kalau mereka adalah murid-murid saingan guru besar kita. Hanya yang tidak kumengerti, mengapa mereka bertindak demikian pengecutnya,” ujar Bartawa yang siap hendak menyimpan pedangnya kembali.

Namun belum juga pedangnya tersarung kembali, bergegas Bartawa melompat mundur ketika mendengar adanya sambaran angin kuat yang tertangkap pendengarannya. Cepat lelaki berusia empat puluh tahun itu mengibaskan senjatanya, memukul runtuh beberapa batang paku hitam yang meluncur ke arahnya. Tengah sibuknya Bartawa dan rekan-rekannya memukul runtuh senjata-senjata gelap itu, terdengar teriakan-teriakan nyaring. Kemudian, disusul berlompa- tannya belasan sosok tubuh dari balik semak belukar dan pohon-pohon besar di sekeliling tempat itu.

“Bunuh mereka semua. !”

Terdengar suara perintah tanpa ujud yang membuat delapan orang lelaki gagah itu menjadi terkejut. Dengan gerakan ringan dan mantap, Bartawa memutar senjatanya dengan kecepatan tinggi.

Wunggg…! Wunggg. !

Bentuk pedang di tangan Bartawa lenyap menjadi gundukan sinar yang bergulung-gulung menyelimuti sekujur tubuhnya. Hebatnya, di dalam gulungan sinar pedang lelaki berkumis tebal itu terkadang muncut kilatan-kilatan cahaya yang bagaikan gemerlap bintang di angkasa.

Sementara itu, tampak lelaki bertubuh gemuk yang berusia sekitar lima puluh tahun memberi isyarat kepada belasan orang berpakaian serba hitam untuk segera mengepung rombongan kecil itu. Sedangkan ia sendiri telah melompat maju menghadapi Bartawa yang sudah dapat dipastikan adalah salah seorang tokoh Perguruan Pedang Tujuh Bintang. Lompatan lelaki gemuk itu dibarengi putaran pedang yang gerakannya tidak kalah cepat dengan gerakan Bartawa. Gulungan sinar pedang lelaki itu bahkan jauh lebih indah daiipada gerakanlawan.

Wuuuk…! Wuuuk…!

Terdengar suara mengaung tajam ketika sinar pedang lelaki gemuk itu berkeredep bagaikan garis-garis pelangi yang berwarna-warni. Kemudian, bergerak cepat meluncur ke arah tubuh lawan. Melihat gerakan pedang lawan, tentu saja hati Bartawa menjadi tercekat. Memang, ia kenal betul dengan gaya permainan pedang lelaki gemuk itu. Sehingga, untuk beberapa saat lamanya gerakan pedangnya terhenti sambil menatap tajam ke arah lawannya.

“Ilmu Pedang Sinar Pelangi..?!” Desis lelaki gagah berkumis tebal itu dengan kening berkerut. “Katakan, apa hubunganmu dengan Raja Pedang Sinar Pelangi.” Bartawa kontan bergerak mundur menjauhi lawannya. Memang, ia tidak ingin kalau perkelahian itu terjadi hanya karena salah paham saja.

“Huh! Tidak perlu banyak cakap! Aku memang salah tokoh Perguruan Pedang Sinar Pelangi. Dan Ki Giri Tantra menugaskanku untuk menghabisi nyawa kalian. Kalian harus tahu, guru kalian adalah salah satu penghalang guru kami untuk menjadi seorang jago pedang nomor satu di kolong langit ini. Itulah sebabnya, mengapa aku harus melenyapkan kalian yang merupakan penerus Raja Pedang Tujuh Bintang,” sahut lelaki gemuk yang ternyata adalah Kinaya, salah satu murid utama Ki Giri Tantra.

“Keparat!” maki Bartawa setelah mendengar ucapan lawannya yang jelas-jelas hendak mencelakakan ia dan kawan-kawannya. Maka tanpa banyak cakap lagi, lelaki gagah berkumis tebal itu memutar senjatanya sekuat tenaga. Memang, disadari betul, lawannya kali ini tidak bisa dipandang ringan.

“Heaaat…!” Dengan dibarengi sebuah teriakan nyaring yang menggetarkan, tubuh Bartawa melesat disertai putaran pedangnya.

“Yeaaat..!” Kinaya yang memang berniat hendak melenyapkan kedelapan orang murid Perguruan Pedang Tujuh Bintang, segera berseru menyambut serangan Bartawa. Pedang di tangannya bergulung-gulung naik-turun diiringi suara menderu-deru. Jelas, lelaki gemuk itu pun telah mengerahkan kekuatannya untuk menggempur Bartawa.

Pertarungan sengit pun tidak dapat dihindari lagi. Dua orang tokoh dari aliran berbeda itu, saling gempur mengandalkan ilmu pedang andalan masing-masing. Sehingga, dalam sekejap saja suasana yang semula sepi itu pun berubah bising! Hebat dan menarik sekali pertarungan yang berlangsung antara dua orang murid jago pedang itu. Gu- lungan sinar, berwarna-warni bergerak saling libat dengan gulungan sinar pedang yang terkadang menimbulkan kilatan-kilatan sinar bagai taburan bintang diangkasa. Sehingga, pertarungan kedua orang tokoh itu menjadi ramai dan menarik!

Di bagian lain, Randika yang juga salah seorang murid utama Raja Pedang Tujuh Bintang, berhadapan dengan seorang lelaki bertubuh sedang. Usianya sekitar empat puluh lima tahun. Orang itu tak lain adalah Wiradesa yang merupakan adik seperguruan Kinaya. Rupanya, ia pun telah pula bertarung sengit melawan Randika. Sehingga, suasana di sekitar tempat itu semakin ramai oleh suara dentang senjata beradu.

“Haiiit..!”

Tengah kedua orang tokoh itu bertarung sengit, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. Dan belum juga gema suara itu hilang, tubuh berpakaian serba hitam yang langsung terjun ke dalam arena pertarungan Wiradesa dan Randika.

“Kita tidak perlu membuang-buang waktu dalam menghadapi keroco-keroco ini. Lebih baik cepat selesaikan sebelum yang lain berdatangan,” sent sosok tubuh gemuk berwajah brewok yang langsung membantu Wiradesa.

Wuuuk…!

Dengan gerakan cepat dan kuat, pedang di tangan lelaki gemuk itu meluruk ke arah lambung Randika yang saat itu tengah mengegos ke samping menghindari tusukan pedang Wiradesa. Sehingga keadaan tokoh Perguruan Pedang Tujuh Bintang itu benar-benar terjepit!

“Hiaaah…!” Karena tidak ada waktu untuk menghindari, Randika mengayunkan pedangnya memapak tusukan lelaki gemuk berwajah brewok itu. Kekuatannya pun juga ditambah dalam melakukan tangkisan mendadak itu.

Wuuut… Tranggg…!

Pijaran bunga api memercik diiringi suara berdentang nyaring yang menulikan telinga. Kemudian disusul terpentalnya tubuh mereka beberapa langkah ke belakang. Jelas, tenaga Randika dan lelaki brewok itu masih seimbang!

Wiradesa yang melihat tubuh Randika terjajar mundur, cepat mengibaskan pedang secara mendatar. Gerakannya cepat dan tak terduga. Sehingga, tentu saja membuat lawan terperangah pucat! Dan….

Wuuut…! Brettt…!

“Aaakh. !” Randika menjerit ngeri ketika ujung pedang lawan merobek perutnya. Matanya terbelalak melihat semburan darah segar yang mengalir dari luka menganga di bagian perutnya. Belum lagi keadaan dirinya sempat disadari, sebuah tendangan keras dari lelaki berwajah brewok, membuat tubuhnya terjungkal sejauh satu setengah tombak ke belakang!

Brughhh..!

“Uuugh. !” Bagaikan binatang disembelih, tubuh Randika menegang menahan sakit yang tak terhingga. Matanya melotot bagaikan hendak melompat keluar dari tempatnya. Sesaat kemudian, kepala lelaki gagah itu pun terkulai karena napasnya telah putus!

“Adi Randika. !” Bartawa yang saat itu tengah bertarung sengit melawan Kinaya, tentu saja menjadi terkejut ketika mendengar jerit kematian adik seperguruannya. Maka ia cepat melompat meninggalkan lawannya ketika melihat tubuh Randika roboh bermandikan darah segar! Namun Kinaya tidak sudi membiarkan lawannya pergi begitu saja. Cepat ia melesat mengejar disertai kibasan pedang yang langsung merobek punggung Bartawa.

“Yeaaat…!”

Wuuut..! Brettt..!

“Aaakh…!” Sambaran mata pedang yang merobek punggung, membuat Bartawa menjerit kesakitan! Tubuhnya yang semula tengah meluncur ke arah Randika langsung terhuyung limbung akibat tebasan pedang Kinaya.

“Bangsat licik! Tak kusangka kalau murid-murid Perguruan Pedang Sinar Pelangi merupakan orang-orang berhati busuk!” Maki Bartawa dengan gerakan terhuyung. Sepasang matanya tampak menatap Kinaya penuh dendam. Namun baik Kinaya, Wiradesa maupun lelaki berwajah brewok itu benar-benar telah berubah menjadi iblis. Melihat darah yang mengucur melalui luka di punggung lawan, seolah-olah semakin memancing hasrat mereka untuk membunuh.

“Heaaat..!” Didahuiui bentakan nyaring, tubuh ketiga orang lelaki haus darah itu melesat disertai tebasan senjata bagai hendak merencah hancur tubuh Bartawa.

“Yeaaah…!” Sadar kalau untuk menyelamatkan diri dari kekejaman ketiga orang itu jelas tidak mungkin, Bartawa pun membentak keras sambil memutar senjatanya sekuat tenaga. Sayang, meskipun Bartawa telah mengerahkan seluruh sisa kekuatannya, tetap saja tidak mampu membendung gempuran ketiga orang lihai itu. Sehingga, beberapa kali tusukan senjata lawan mulai melukai tubuhnya.

“Aaakh…!” Kembali tubuh Bartawa terhuyung untuk yang ke- sekian kalinya. Pakaiannya yang semula bersih sudah dipenuhi noda darah. Belum lagi sempat mengatur keadaan tubuhnya, ketiga orang iblis haus darah itu kembali menyarangkan ujung-ujung senjata!

“Heaaat..!”

Brettt…! Crasss…! Brettt…!

“Aaargh…!” Bagaikan binatang terluka, Bartawa meraung setinggi langit ketika tiga buah senjata lawan kembali mengoyak beberapa bagian tubuhnya. Sehingga, tubuh lelaki gagah berkumis tebal itu terjengkang ke belakang dan terbanting menimbulkan suara berdebuk nyaring!

“He he he…. Pergilah ke neraka, Manusia Dungu…!” kata Kinaya sambil mengkelebatkan pedang ke arah batang leher Bartawa yang tengah sekarat.

Wuuut…

“Crakkk…!”

Darah segar kembali menyembur dari leher Bartawa yang telah terpisah dari kepala. Kejam sekali apa yang dilakukan Kinaya. Bahkan tatapan matanya begitu dingin ketika selesai menebas putus leher Bartawa. Sehingga, lelaki gagah murid utama Perguruan Pedang Tujuh Bintang itu pun tewas tanpa sempat berteriak lagi.

“Anak-anak pergi…! Tinggalkan kedua orang cecunguk itu, biar dia melapor kepada guru besarnya. Ha ha ha…!”

Setelah berkata demikian, Kinaya, Wiradesa, dan lelaki brewok itu bergerak meninggalkan tempat itu diiringi para pengikutnya yang berjumlah enam belas orang. Tinggal sisa murid Perguruan Pedang Tujuh Bintang yang hanya dua orang. Mereka kini berdiri bagaikan orang linglung. Jelas, mereka sangat terpukul atas kejadian yang bagai mimpi buruk itu.

“Kita kuburkan dulu mayat Kakang Bartawa dan Randika. Baru kejadian ini kita laporkan kepada guru,” ajak salah seorang dari kedua lelaki itu dengan suara parau. Tanpa banyak cakap lagi, kakinya pun mulai melangkah ke arah mayat kedua orang kakak seperguruan mereka yang terbaring kaku.

“Tenanglah kau di dalam sana, Kakang. Kami berjanji akan membalas kekejaman ini…,” ucap salah seorang dari mereka dengan suara kering dan menyiratkan dendam. Tak lama kemudian, mereka berangkat meninggalkan tempat itu. Hanya hembusan angin gunung yang menyertai langkah lesu mereka.


Angin pegunungan bertiup silir-silir menyegarkan tubuh. Kicauan burung-burung pagi yang menyambut kehangatan sinar matahari, terdengar saling bersahutan. Sehingga, menambah keindahan suasana pagi di Pegunungan Kelambat. Namun, keindahan alam Gunung Kelambat itu sama sekali tidak menarik perhatian seorang lelaki tua bertubuh kurus. Langkahnya tampak terburu-buru ketika mulai mendaki lereng gunung. Pakaiannya yang berwarna putih dan panjang hingga ke lutut, tampak berkibar tertiup angin pegunungan.

Sepasang mata kakek berusia sekitar tujuh puluh tahun itu, tertuju lurus ke depan. Menilik dari pancaran wajahnya, jelas dia tengah dilanda kemarahan hebat! Tidak berapa lama kemudian, langkah kaki kakek tua itu mulai bergerak memasuki dataran yang cukup luas. Rupanya, dataran lebar Lembah Kepala Naga itulah yang menjadi tujuannya. Terbukti langkahnya terhenti pada dataran yang agak tinggi. Tatapan matanya berputar merayapi daerah sekitarnya.

Wajah Ki Ageng Semplak atau yang lebih dikenal sebagai Raja Pedang Angin Puyuh tampak semakin gelap ketika melihat sesosok tubuh pendek gemuk tengah melangkah menuju tempatnya. Melihat dari tatapan matanya yang menyiratkan kegusaran, jelas ia telah mengenal sosok yang tengah melangkah itu.

“Hm. Percepatlah langkahmu, Ki Tunggul Wulung. Aku sudah tidak sabar menanti kedatanganmu,” desis Raja Pedang Angin Puyuh bemada ancaman. Tidak berapa lama kemudian, tibalah lelaki pendek gemuk itu di tempat Ki Ageng Semplak menanti.

“Ha ha ha…! Rupanya kau tidak sabar menanti hingga purnama muncul, Ki Ageng Semplak. Pagi sekali kau tiba di tempat pertemuan ini,” kata lelaki pendek gemuk yang tak lain adalah Raja Pedang Penakluk Bumi. Kalau mendengar ucapan yang keluar dari mulut Ki Tunggul Wulung, jelas kalau hari itu merupakan hari pertemuan yang telah ditentukan para jago-jago pedang di empat penjuru.

“Hm. Aku memang sudah tidak sabar menanti kedatanganmu, Manusia Cebol berhati culas!” sahut Ki Ageng Semplak. Nada suaranya dingin, dan tak bersahabat Sehingga, Ki Tunggul Wulung sempat tertegun dibuatnya.

“Hei?! Ada apa ini, Ki Ageng Semplak? Mengapa datang-datang langsung melontarkan ucapan yang tidak enak di telingaku? Apakah ada sesuatu yang tidak berkenan di hatimu?” Tanya Ki Tunggul Wulung dengan wajah tak berdosa.

“Hm… jangan berpura-pura suci, Tunggul Wulung! Akuilah dosa-dosamu sebelum kupaksa dengan kekerasan!” kembali kakek tua itu menghardik disertai tatapan penuh dendam.

“Kau jangan bergurau, Ki Ageng Semplak. Lagi pula, tidak semestinya pertemuan yang hanya terjadi pada setiap lima tahun sekali ini diawali dengan pertengkaran tak beralasan. Sudahlah. Lebih baik kita membicarakan hal lain sambil menanti yang lainnya,” kilah Ki Tunggul Wulung. Sepertinya dia tidak mau meladeni ucapan-ucapan kasar sahabatnya. Kemudian lelaki pedek gemuk itu menjatuhkan tubuhnya di atas rerumputan tebal yang terhampar hijau.

“Hm…. Setelah apa yang dilakukan murid-muridmu terhadap sepuluh orang murid perguruanku, rasanya aku sudah tidak dapat lagi bersikap ramah terhadapmu. Beberapa orang murid perguruanku yang sengaja kutugaskan meninjau tempat ini pada dua hari yang lalu, hanya kembali dua orang. Itu pun dengan luka-luka di tubuhnya. Kau tahu, apa yang dilaporkan mereka?” Tanya Ki Angeng Semplak yang masih belum reda amarahnya.

“Apa maksudmu, Ki Angeng Semplak? Aku benar-benar tidak mengerti ucapanmu?” sahut Ki Tunggul Wulung tetap bersabar.

“Kau minta penjelasan? Baik. Nah, terimalah keteranganku ini! Hiaaat…!”

Apa yang dilakukan Ki Ageng Semplak benar-benar membuat Ki Tunggul Wulung terkejut. Bahkan sebelum ucapannya selesai, tubuh kakek tua itu telah meluncur ke arahnya disertai putaran pedang yang menimbulkan deru angin ribut. Tentu saja Ki Tunggul Wulung tidak bisa mendiamkannya begitu saja. Cepat tubuhnya digeser dengan lompatan panjang kebelakang.

“Sabar dulu, Semplak. Bukankah kalau ada persoalan dapat diselesaikan dengan kepala dingin?” Bujuk Ki Tunggul Wulung berusaha untuk tidak terpancing amarah lawannya.

“Tidak perlu banyak cakap, Wulung! Delapan orang nyawa muridku tidak akan pernah tenang kalau belum kubalaskan!” seru Raja Pedang Angin Puyuh. Lalu, tubuh orang tua itu kembali melesat disertai putaran pedangnya.

Wuuuk..! Wuuuk…!

Gulungan sinar pedang di tangan Ki Ageng Semplak benar-benar dahsyat! Angin keras bertiup menerbangkan apa saja yang terlanda olehnya. Sehingga dalam sekejap saja, tempat itu telah dipenuhi sampah daun-daun pohon yang berguguran akibat hebatnya putaran pedang yang dilakukan kakek tua itu.

Ki Tunggul Wulung tentu saja tidak ingin tubuhnya dijadikan korban senjata lawan. Maka dengan tangkas, tokoh pendek gemuk itu pun bergegas mencabut keluar senjatanya.

“Yeaaat..!”

Dibarengi sebuah teriakan lantang, tubuh pendek itu melayang memapak serangan lawan. Jelas, kemarahan Ki Ageng Semplak yang menurutnya tanpa alasan telah membuat hati Ki Tunggul Wulung menjadi terbakar. Apalagi ketika mendengar murid-murid kakek itu telah dibunuh murid-murid perguruannya. Tentu saja hatinya semakin mengkelap. Tengah seru-serunya pertarungan kedua jago pedang itu berlangsung, tiba-tiba melesat sesosok bayangan yang langsung memisahkan perkelahian sengit itu.

“Berhenti…!” seru sosok bayangan itu yang langsung mendaratkan tubuh di dekat arena pertarungan. Seruan yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi itu tentu saja membuat perkelahian terhenti seketika. Mereka langsung melompat mundur hingga hampir dua tombak jauhnya, agar mempunyai kesempatan apabila lawan bermain curang.

“Hm…. Rupanya kalian berdua yang tengah bertarung? Lalu, ke mana perginya Raja Pedang Sinar Pelangi? Apakah belum datang, atau sengaja tidak mau datang,” kata lelaki tinggi gagah yang mengenakan pakaian terbuat dari kulit ular. Siapa lagi orang itu kalau bukan Raja Pedang Tujuh Bintang, yang merupakan jago pedang nomor satu di daerah Barat. Kedatangannya ke tempat itu pun mempunyai alasan yang sama. Tujuannya, menghadiri pertempuan raja-raja pedang!

SEMBILAN

“Raja Pedang Tujuh Bintang! Kuharap kau menyingkir dulu, dan jangan mencampuri urusan kami! Apabila persoalan ini telah selesai, barulah kita membicarakan yang lainnya!” sentak Raja Pedang Angin Puyuh. Sementara, tatapan matanya tetap tertuju kepada Ki Tunggul Wulung si Pedang Penakluk Bumi.

“Hm. Ketahuilah, Ki Ageng Semplak. Bukan hanya kau saja yang mempunyai persoalan. Aku pun tengah menghadapi suatu masalah yang sangat membuat penasaran! Delapan orang muridku yang pada beberapa hari lalu kutugaskan melihat dan merapikan tempat ini, ternyata telah dibantai murid-murid Raja Pedang Sinar Pelangi. Hal itu kutahui dari dua orang muridku yang selamat dan melaporkannya kepadaku. Maka, ini tidak bisa kubiarkan. Dan aku akan membuat perhitungan dengan Raja Pedang Sinar Pelangi. Tapi dia belum tentu hadir pertemuan kali ini,” jelas Raja Pedang Tujuh Bintang yang rupanya juga mempunyai persoalan hampir serupa dengan apa yang tengah dihadapi Raja Pedang Angin Puyuh.

“Siapa pula yang tidak hadir! Dan mengapa aku harus takut menghadapi Raja Pedang Tujuh Bintang?”

Tiba-tiba terdengar suara lantang menggetarkan. Belum lagi gema suara itu lenyap, sesosok tubuh kurus telah melayang dan mendaratkan kakinya di arena pertarungan yang terhenu itu. Dan sosok tubuh itu tak lain adalah Raja Pedang Sinar Pelangi! Kedatangan Raja Pedang Sinar Pelangi membuat Raja Pedang Tujuh Bintang berpaling kepadanya. Sorot matanya jelas mengandung pertanyaan yang menuntut jawaban.

“Tuduhanmu sama sekali tidak benar, Branta Sula. Aku sama sekali tidak pernah menyuruh murid-muridku berbuat curang. Tapi, apa yang kau tuduhkan itu mungkin saja terjadi. Apalagi, saat ini perguruan yang kumpimpin telah direbut kedua orang murid-murid utamaku. Jadi, mungkin saja mereka melakukan perbuatan keji itu untuk mengadu domba sesama kita,” jawab Ki Giri Tantra dengan wajah sedih. Jelas, apa yang dituduhkan Raja Pedang Tujung Bintang membuat hatinya terpukul.

“Ha ha ha…!” Ki Branta Sula atau yang lebih dikenal sebagai Raja Pedang Tujuh Bintang tertawa bergelak-gelak mendengar jawaban yang keluar dari mulut lelaki kurus itu.

“Giri Tantra! Apa kau kira aku akan mempercayai ucapanmu begitu saja? Ha ha ha…. Siapa pun tentu tidak akan mempercayai omongan orang bodoh. Mustahil!” sahut Raja Pedang Tujuh Bintang dengan wajah menghina sekali.

“Apa yang diucapan Ki Giri Tantra itu bisa saja terjadi, Branta Sula. Buktinya aku pun mengalami hal serupa. Kedua orang murid utamaku yang sangat kupercaya, telah merubah peraturan-peraturan yang kubuat. Dan mereka menguasai seluruh muridku pada waktu aku pergi menyelidiki lenyapnya kitab ilmu pe-dang ciptaanku yang baru. Jadi, ucapan Ki Giri Tantra bisa kupercaya.”

Tiba-tiba saja Raja Pedang Penakluk Bumi ikut menimpali. Sepertinya, ia hendak menyadarkan kedua orang kawannya dengan ucapannya itu.

“Ha ha ha…!” Terdengar suara tawa menggelegar ketika Raja Pedang Penakluk Bumi menyelesaikan ucapannya. Dan orang yang mengeluarkan suara tawa itu tak lain adalah Ki Ageng Semplak si Raja Pedang Angin Puyuh.

Mendengar suara tawa yang menghina, membuat Ki Tunggul Wulung menoleh tak senang. Sepasang matanya menyorot tajam mengandung teguran. “Hm. Kau boleh tidak mempercayai ucapanku ini, Ki Ageng Semplak. Tapi, kenyataan yang kuhadapi memang demikian. Itulah sebabnya, mengapa aku mempercayai ucapan Ki Giri Tantra. Karena apa yang dialaminya persis dengan kejadian yang kualami,” kilah Raja Pedang Penakluk Bumi, mencoba tetap bersikap tenang.

“Hmh…! Kau dengar keterangan dusta manusia licik ini, Ki Branta Sula. Jelas, kedua orang manusia berhati busuk ini telah bersekongkol untuk menjatuhkan kita berdua. Sepertinya, mereka sudah memimpikan untuk menjadi jago pedang nomor satu di negeri ini. Tapi, kelicikan itu ternyata telah dapat kita ketahui. Dan untuk itu mereka harus mempertanggungjawabkannya!” kata Ki Ageng Semplak. Usai berkata demikian, Raja Pedang Angin Puyuh kembali bersiap menghadapi Raja Pedang Penakluk Bumi yang dianggap telah membantai murid-muridnya.

Wuuut…! Wuuut..!

Hembusan angin bertiup keras dan berputaran bagaikan angin puyuh ketika Ki Ageng Semplak memutar pedangnya. “Bersiaplah menerima pembalasanku, Ki Tunggul Wulung! Kalau kau masih ingin tetap hidup, sebaiknya serahkan murid-muridmu yang telah berbuat keji itu. Kalau tidak, terpaksa aku melupakan persahabatan kita yang telah bertahun-tahun,” ancam Raja Pedang Angin Puyuh.

“Hm…. Semuanya sudah kujelaskan secara tuntas, Ki Ageng Semplak. Dan kalau kau masih tidak mempercayainya, apa boleh buat!” Sahut Ki Tunggul Wulung sambil menyilangkan pedang didepan dada.

“Huh…! Kalau begitu, terimalah hukumanmu! Heaaat…!” Dibarengi bentakan nyaring, tubuh tinggi kurus itu melesat cepat disertai putaran pedangnya yang meng- giriskan!

Raja Pedang Penakluk Bumi tentu saja tidak sudi membiarkan tubuhnya menjadi sasaran pedang lawan. Maka dengan menggeser kaki kanannya ke samping, pedang di tangannya diputar sedemikian rupa.

Wuuunggg…! Wuuunggg…!

Sekejap saja, lenyaplah sekujur tubuh Ki Tunggul Wulung terbungkus gulungan sinar pedangnya. Hanya suara mengaung tajam saja yang terdengar ketika mata pedang Ki Tunggul Wulung meluncur dengan kecepa- tan tinggi. Tak bisa dicegah lagi. Terjadilah pertarungan mati- matian antara kedua orang jago pedang yang semula merupakan sahabat baik itu. Sekejap saja, arena pertarungan itu telah berubah dan terselimut debu tipis yang ditimbulkan putaran pedang di tangan kedua jago tua itu.

Melihat Ki Ageng Semplak dan Ki Tunggul Wulung memulai pertarungan, Ki Branta Sula segera berpaling ke arah Ki Giri Tantra. Tanpa banyak cakap lagi, pedang yang tersampir di punggungnya diloloskan. “Bersiaplah, Ki Giri Tantra! Hutang nyawa di antara kita harus segera dilunasi,” ucap Ki Branta Sula mengingatkan.

“Hm. Apa boleh buat, Sahabat. Kalau memang ini yang kau inginkan, aku pun tidak kuasa menolaknya,” sambut Raja Pedang Sinar Pelangi.

Kemudian pedangnya dihunuskan dan diangkat tinggi-tinggi di atas kepala. Melihat dari gerakannya, jelas Ki Giri Tantra telah menyiapkan ilmu pedang terbarunya untuk menghadapi gempuran Ki Branta Sula. Apalagi dia sadarinya kalau lawan pasti juga akan menggunakan ilmu pedang terbaru. Maka untuk menjaga kemungkinan itu, Raja Pedang Sinar Pelangi segera memutar pedangnya dengan kecepatan tinggi.

Wuuuk…! Wuuuk…!

Gulungan sinar pedang yang menimbulkan warna-warni seperti pelangi bergerak turun-naik. Kecepatan dan keindahannya begitu mengagumkan.

“Aaat..!” Raja Pedang Tujuh Bintang tidak ingin menunggu lama. Saat itu juga tubuhnya melayang disertai sambaran pedangnya yang mengaung bagaikan ribuan ekor lebah murka!

Ki Giri Tantra pun tidak mau tinggal diam. Pedang di tangannya berkelebat cepat dengan perubahan-perubahan tak terduga. Sehingga dalam sekejapan mata saja kedua jago pedang itu sudah saling menggempur dahsyat!

Jurus demi jurus berlalu tanpa terasa. Hingga tanpa disadari, pertarungan jago-jago pedang itu telah berlangsung selama lebih kurang empat puluh jurus. Meskipun demikian, pertarungan tetap berjalan seru! Namun belum terlihat seorang pun yang terdesak. Sedangkan suasana di sekitar arena pertarungan sudah porak-poranda bagaikan diamuk badai dahsyat!

“Yeaaat..!”

Wuuuk…. Wuuuk…. Wuuuk…!

Ketika pertarungan menginjak jurus yang keenam puluh, tiba-tiba Raja Pedang Tujuh Bintang berseru nyaring dan mengejutkan! Sinar pedang yang bergulung-gulung di tangannya, berkeredep dan memecah menjadi tujuh buah sinar kebiruan yang berpendar menyilaukan mata. Sehingga, Raja Pedang Sinar Pelangi sendiri sempat terperanjat dibuatnya! Sadar kalau serangan lawan kali ini benar-benar berbahaya, maka Ki Giri Tantra berseru nyaring bagai hendak menggetarkan Lembah Kepala Naga.

“Haaat..!” Disertai putaran pedangnya yang menimbulkan sinar wama pelangi, jago pedang dari Selatan itu memutar senjatanya, langsung dipapaknya tusukan pedang lawan! Maka….

“Aaah. !”

“Uhhh. !”

Terdengar benturan yang memekakkan telinga ketika kedua batang senjata bertenaga dahsyat saling bertumbukan di udara! Kemudian, disusul seruan-seruan tertahan! Baik tubuh Raja Pedang Sinar Pelangi maupun Raja Pedang Tujuh Bintang terlempar keras hingga dua tombak ke belakang! Kedua tokoh itu bertindak cepat, melakukan beberapa kali putaran di udara untuk mematahkan daya luncur akibat bentrokan dahsyat itu. Meskipun ketika mendaratkan kakinya di atas tanah dalam keadaan goyah, namun kedua jago pedang itu jelas tidak mengalami luka sedikitpun.

Raja Pedang Sinar Pelangi dan Raja Pedang Tujuh Bintang saling menatap dalam jarak lima tombak, bagaikan dua ekor ayam jago yang tengah berlagak Kedua jago pedang itu saling bergerak memutar sambil meneliti kelemahan lawan masing-masing.

“Hentikan pertempuran…!”

Selagi jago-jago pedang di empat penjuru angin itu saling bergerak hendak melanjutkan pertarungan, terdengar bentakan menggelegar laksana hendak merobohkan lembah! Tentu saja bentakan yang mengandung kekuatan raksasa itu membuat pertempuran terhenti.

“Pendekar Naga Putih…?!”

Terdengar seruan yang bersahut-sahutan dari keempat jago pedang itu. Mereka sama-sama menolehkan kepala ke arah sesosok tubuh yang mengenakan jubah berwarna putih. Sedangkan di belakang sosok tubuh itu, tampak seorang gadis berbaju hijau dan dua bayangan lain menyertainya.

“Darpa…. Sudira…!” Raja Pedang Sinar Pelangi berseru gembira ketika melihat dua sosok yang menyertai kehadiran Pendekar Naga Putih dan Kenanga. Memang kedua orang itu tak lain adalah murid-murid utamanya yang masih setia.

“Guru…!”

Baik Darpa maupun Sudira, cepat menjatuhkan diri berlutut di hadapan Ki Giri Tantra. Suara kedua orang lelaki gagah itu terdengar serak, terselimut keharuan yang terasa menyesakkan rongga dada.

Bagi Raja Pedang Sinar Pelangi dan Raja Pedang Penakluk Bumi, tentu saja kehadiran Pendekar Naga Putih membuat hati menjadi lega. Memang, kebenaran pendekar muda itu dapat membuat suasana yang semula panas, lenyap seketika. Maka, kedua jago pedang itu pun memandang Panji dengan sinar mata penuh rasa terimakasih. Lain halnya Raja Pedang Angin Puyuh dan Raja Pedang Tujuh Bintang. Mereka menganggap kehadiran pemuda itu sebagai suatu gangguan yang semakin membuat hati terbakar.

“Pendakar Naga Putih!” tegur Ki Ageng Semplak yang kemarahannya semakin menggelegak. “Apa maksud kehadiranmu di tempat ini? Pergilah! Kami tidak ingin kau mencampuri urusan ini!”

“Benar, Pendekar Naga Putih. Meskipun kau terkenal sebagai seorang pendekar yang suka menolong orang lain, namun kami di sini tidak membutuhkan kehadiranmu. Maka, lebih baik kau angkat kaki dari tempat ini. Dan biarkan persoalan ini kami urus sendiri,” Bmpal Raja Pedang Tujuh Bintang yang jelas-jelas tidak menyukai kehadiran Pendekar Naga Putih di tempat itu.

Meskipun ucapan-ucapan yang dikeluarkan kedua orang jago pedang itu sangat menyakitkan, namun Pendekar Naga Putih sama sekali tidak marah. Dengan langkah perlahan disertai senyum bersahabat, pemuda itu menghampiri Ki Ageng Semplak dan Ki Branta Sula.

“Maaf, Ki. Sebenarnya persoalan ini bukan lagi hnya sekadar persoalan kalian. Tapi, sudah menjadi pesoalan semua kaum persilatan yang menganggap dirinya sebagai pendekar. Perlu kalian ketahui, ada pihak ketiga yang sengaja hendak mengadu domba raja-raja pedang di empat penjuru mata angin.Keadaan inilah yang mau tidak mau memaksaku harus mencampurnya. Dan kedatanganku ketempat inipun karena hendak menceritakan duduk perkara yang sebenarnya,” sahut Pendekar Naga Putih, panjang lebar. Sehingga, mau tidak mau kedua orang raja pedang itu sama mengerutkan keningnya.

“Apa maksudmu dengan pihak ketiga itu, Pendekar Naga Putih? Sedangkan orang-orang yang telah membantai murid-muridku, sudah jelas dari pihak Perguruan Pedang Sinar Pelangi. Buktinya, Ki Giri Tantra pun tidak bisa membantah. Nah, apa lagi yang harus dijelaskan?” Sergah Ki Branta Sula yang sepertinya masih belum bisa menerima keterangan Pendekar Naga Putih itu.

“Benar. Demikian pula halnya dengan kematian murid-muridku. Jelas, yang melakukannya adalah murid-murid utama Perguruan Pedang Penakluk Bumi. Maka, kuharap kau menyingkir, Pendekar Naga Putih. Biarkan kami menyelesaikan persoalan ini. Tapi kalau kau memang ingin membela, aku pun tidak keberatan. Asal kau tahu saja, kami tidak akan segan-segan berlaku kasar!” Tegas Ki Ageng Semplak yang jelas-jelas menantang Pendekar Naga Putih.

“Hm…. Di sini ada dua orang murid utama Ki Giri Tantra yang secara langsung telah mengalami peristiwa itu. Dan secara kebetulan, aku bersama kawanku ini sempat menyaksikannya. Bahkan sempat pula bentrok dengan orang-orang berseragam hitam itu. Kuduga, merekalah yang telah mengadu domba sesama kalian,” bujuk Panji kembali.

Meskipun Raja Pedang Angin Puyuh dan Raja Pedang Tujuh Bintang mulai mempercayai keterangan Pendekar Naga Putih, namun sepertinya mereka belum puas.

“Hm…. Keteranganmu memang cukup masuk akal, Pendekar Naga Putih. Tapi untuk membicarakannya, aku terus terang belum bisa menerimanya. Kecuali, bila kau bersedia meluluskan satu permintaan kami. Kalau tidak, maka kami kembali akan menagih hutang nyawa kepada Ki Giri Tantra,” ujar Raja Pedang Tujuh Bintang dengan bibir menyunggingkan senyum licik.

Panji pun bukanlah orang bodoh. Dimakluminya sifat tokoh-tokoh rimba persilatan yang selalu haus akan ilmu silat. Dan apa yang dimaksud dengan ‘permintaan’ itu pun, telah dapat diduga. “Ki Branta Sula. Demi tegaknya keadilan dan rasa persaudaraan di antara kita, aku bersedia memenuhi permintaanmu. Dan semoga saja kau tidak menarik janjimu untuk menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan. Bagaimana?” tegas Panji.

“Hm…. Jangan membuatku marah, Pendekar Naga Putih. Sekali kata-kataku terucap, tak akan mungkin ditarik kembali. Meskipun, untuk itu aku harus mati!” sahut Ki Branta Sula. Rupanya, dia merasa tidak suka atas ketidak percayaan pemuda tampan itu.

“Kalau begitu, baiklah. Aku bersedia,” tegas Panji sambil melangkah ke tempat yang lebih luas.

“Cabut senjatamu, Pendekar Naga Putih. Aku tidak suka menghadapi lawan yang bertangan kosong,” ujar Ki Branta Sula ketika mereka telah berdiri berhadapan dalam jarak dua tombak.

“Baiklah, Ki…,” sahut Panji.

Pendekar Naga Putih segera memejamkan matanya untuk memusatkan pikiran. Memang, Pedang Naga langit yang biasa tersampir di punggung, kini telah tersimpan dan menyatu dalam tubuhnya. Hal itu dilakukan untuk tidak menarik perhatian orang. Karena, pedang yang besar dan berat itu terlalu menyolok apabila disampirkan di punggungnya. (Untuk lebih jelasnya, silakan lihat episode Rahasia Pedang Naga Langit).

“Heaaah…!”

Didahului oleh sebuah bentakan keras, Pendekar Naga putih membuka kedua matanya. Dan entah dari mana datangnya, tahu-tahu saja di dalam genggaman tangan pemuda itu tergenggam sebilah pedang yang mengeluarkan sinar kuning keemasan. Itulah Pedang Naga Langit!

Adanya sebilah pedang yang tahu-tahu telah tergenggam di tangan Pendekar Naga Putih, tentu saja membuat raja-raja pedang itu menjadi terbelalak takjub! Hanya Kenanga saja yang tidak merasa heran, karena Panji telah menceritakan pengalaman itu kepadanya. Namun, Raja Pedang Tujuh Bintang tentu saja tidak sudi memperlihatkan rasa kagumnya terhadap perbuatan Pendekar Naga Putih. Baginya, hal itu hanya akan menurunkan derajat sebagai jago pedang. Maka meskipun hatinya memuji, tapi wajah tokoh itu tetap dingin tanpa gambaran perasaan apapun.

“Sambut seranganku, Pendekar Naga Putih…! Heaaat..!”

Setelah melihat lawannya mengambil sikap, Ki Branta Sula segera melompat disertai putaran pedangnya yang memercikan butiran-butiran sinar kebiruan. Jelas, jago pedang wilayah Barat itu telah langsung menggunakan ilmu pedang andalannya. Hebat sekali serangan yang dilancarkan Raja Pedang dari Barat itu. Sambaran sinar pedangnya bergulung-gulung disertai percikan sinar kebiruan yang berpendar. Sehingga, apabila lawan tidak memiliki pendengaran tajam, sudah pasti akan sulit menghadapi serangan Ki Branta Sula.

Wuuut..! Wuuut..!

Dua kali tusukan pedang lawan yang mengancam lambung dan lehernya berhasil dielakkan Panji. Setelah menggeser tubuh dengan kuda-kuda rendah, pedang di tangannya dikibaskan secara mendatar.

Beuuut…!

Cepat dan tak terduga sama sekali serangan balasan yang dilancarkan Pendekar Naga Putih. Sehingga, Ki Branta Sula sempat terperanjat dibuatnya. Namun dengan gerakan ringan dan gesit, tokoh sakti berusia sekitar enam puluh lima tahun itu bergerak ke kiri sambil memutar pedangnya untuk melakukan tangkisan.

Tapi serangan yang dilancarkan Panji ternyata hanya gerak tipu. Pada saat pedang lawan bergerak hendak memapak, tahu-tahu saja pedang di tangan Pendekar Naga Putih bergerak berputar setengah lingkaran. Kemudian dengan gerakan menyamping, pedang pemuda tampan menusuk cepat mengincar lambung Ki Branta Sula.

“Haiitt..!”

Sadar kalau tusukan pedang pemuda tampan itu sangat berbahaya dan sulit dihindari, Ki Branta Sula membentak keras dan langsung melempar tubuhnya berjumpalitan ke belakang. Barulah ia dapat menyelamatkan diri dari tusukan pedang yang cepatnya melebihi sambaran kilat!

“Hiaaat…!”

Begitu kakinya menjejak tanah, secepat itu pula tubuh Ki Branta Sula meluncur cepat disertai putaran pedangnya yang menimbulkan gulungan sinar berpendar. Dari lingkaran gulungan sinar pedang itu tampak tujuh buah sinar kebiruan yang membentuk bulatanbulatan kecil memercik menyilaukan mata.

Kagum dan terkejut juga hati Pendekar Naga Putih melihat kedahsyatan serangan lawan. Namun Panji pun maklum kalau sebagai seorang jago pedang yang jarang ada duanya, Ki Branta Sula memang patut memiliki ilmu pedang yang hebat dan berbahaya.

“Haiiit..!” Melihat serangan bahaya yang dilancarkan lawan, Panji pun memekik nyaring disertai lompatan tubuhnya ke kanan. Lalu, dia membarenginya dengan tusukan kilat yang mengancam lambung kiri lawan.

Wueeet..!

Serangkum hawa dingin bersinar keemasan, berhembus mengiringi tusukan pedang Pendekar Naga Putih.

Tranggg…. Tranggg…! Desss…!

“Ughhk…!”

Bunga api memercik menandai hebatnya benturan kedua bilah pedang pusaka yang telah dilapisi tenaga dahsyat itu. Dan sesaat setelah benturan itu terjadi, Pendekar Naga Putih bertindak cepat begitu melihat bagian tubuh lawan yang lowong. Sebuah tendangan kilat yang keras, sehingga membuat tubuh Ki Branta Sula terjengkang hingga sejauh dua tombak ke belakang!

“Huaaakh…!” Gumpalan darah segar terlompat keluar dari mulut jago pedang wilayah Barat itu. Tubuhnya yang terbanting cukup keras di atas tanah berumput kering, berusaha susah payah bergerak bangkit.

“Kau… kau hebat, Pendekar Naga Putih. Aku benar- benar merasa kagum dengan ilmu ‘Pedang Naga Sakti’ yang kau miliki itu. Aku terima kalah,” aku Ki Branta Sula tanpa malu-malu lagi.

Itulah perbedaan yang menyolok antara tokoh golongan putih dan golongan sesat. Kaum rimba persilatan golongan putih akan mengaku secara jujur apabila dikalahkan lawan. Namun berbeda dengan kaum golongan hitam. Mereka tidak sudi menerima kekalahan, meski dalam sebuah pertandingan yang bersih sekalipun. Hal itu pulalah yang membuat Panji semakin menaruh hormat kepada Raja Pedang Tujuh Bintang.

“Nah! Sekarang, ceritakanlah. Apa yang kau ketahui dari hasil penyelidikanmu mengenai persoalan ini?” Tanya Ki Ageng Semplak. Nada suaranya seperti menyiratkan persahabatan.

Rupanya jago pedang wilayah Utara itu pun tidak lagi memperpanjang urusan. Kepercayaan kakek itu semakin menebal setelah melihat betapa pemuda itu tidak menurunkan tangan kejam dalam mengalahkan Ki Branta Sula. Hal itu cukup baginya untuk mempercayai kebersihan hati Pendekar Naga Putih.

Dan kini, keempat orang jago pedang termasuk Darpa, Sudira, dan Kenanga, duduk melingkar di bawah sebatang pohon rindang. Mereka memandang Pendekar Naga Putih yang tampak terdiam untuk mengatur kata-kata yang akan disampaikannya kepada jago-jago pedang itu.

“Hm…. Jadi, yang menjadi biang keladi dari persoalan ini, adalah sekelompok orang-orang berseragam hitam?” Tanya Ki Ageng Semplak setelah mendengar penuturan Pendekar Naga Putih.

“Benar, Ki. Dan menurut apa yang kudengar dari Darpa maupun Sudira, orang-orang yang berdiri di belakang kedua orang murid utama Ki Giri Tantra adalah orang-orang berseragam hitam yang juga memiliki ilmu pedang cukup hebat” sahut Panji kembali memberi keterangan.

“Benar, Ki Ageng Semplak dan Ki Branta Sula. Orang-orang yang menguasai perguruanku pun adalah orang-orang berseragam hitam. Entah, bagaimana caranya hingga mereka dapat menundukkan murid-murid utamaku yang bernama Umbara dan Jantika. Sedang tiga orang murid utamaku lainnya, dibunuh tanpa ampun. Benar-benar biadab orang-orang aneh itu,” timpal Ki Tunggul Wulung.

Kedua orang jago pedang wilayah Utara dan Barat itu sama-sama mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya, mereka telah percaya penuh akan semua keterangan itu.

“Kalau begitu, sekarang kita harus berpencar untuk menyelidiki markas orang-orang berseragam hitam itu, dan siapa yang menjadi dalang dari semua kejadian ini,” usul Panji seraya bergerak bangkit dari tempatnya.

“Baiklah. Dan kita berkumpul di tempat ini pada bulan kelima hari ke delapan. Bagaimana?” usul Ki Giri Tantra.

Setelah semua menyetujui usul itu, maka para tokoh persilatan itu berpencar untuk menyelidiki orang-orang berseragam hitam yang telah mengacaukan pertemuan mereka.

“Ingat! Kita tidak boleh bertindak sendiri-sendiri. Tugas kita hanya menyelidiki kekuatan lawan,” sebelum berpisah Pendekar Naga Putih mengingatkan para tokoh itu.

Tak berapa lama kemudian, Lembah Kepala Naga pun kembali dicekam kebisuan. Kini, para tokoh persilatan itu telah meninggalkan lembah untuk melaksanakan tugasnya masing-masing.

Nah siapakah sesungguhnya dalang yang menyebabkan sengketa tersebut? Apa yang menjadi penyebab mereka ingjn menguasai perguruan raja-raja pedang itu? Dan bagaimana akhir dari kisah sengketa jago-jago pedang ini? Silakan ikuti serial Pendekar Naga Putih dalam episode selanjutnya yaitu Laba-laba Hitam.

You may also like...